Panic !

1450 Words
Segurat kekecewaan terlihat dari wajah Riska setelah mendengar nama wanita yang akan menjadi asisten Nick. Ia memang tidak mengetahui rupa wanita itu, tapi setelah mendengar nama seorang wanita spontan membuatnya tak bersemangat. Yang ia bisa sekarang, melihat Nick melanjutkan percakapan dengan Mario walau pikirannya melayang entah kemana. Riska meninggalkan Nick yang terlihat santai dan sama sekali tak peduli apa yang menjadi kecemasannya sekarang. Mungkin karena Nick sudah terbiasa dikelilingi wanita cantik, ia bersikap biasa saja tapi tidak dengan Riska yang menjadi cemburu. Bukan Aldi tidak pernah dikelilingi wanita cantik, tapi Aldi selalu bisa menjaga jarak pada wanita, berbeda dengan Nick yang pernah menyandang status Bastard alias b******n. Jangan tanyakan masalah meniduri wanita cantik, Nick jago dalam hal itu walau ia melakukannya sebelum mengenal Riska dan menikah. Riska memang mengakui kesetian Nick setelah menikahi dan menjadi ayah dari ketiga anak mereka, tapi kali ini membayangkan mempunyai asisten pribadi yang mungkin tak jauh beda dengan seorang istri, mempunyai waktu banyak dengan Nick, membuat pikiran Riska berkecamuk hebat. Saking ia memikirkan Nick, Riska tak mendengar panggilannya. "Sayang?" Sekali lagi Nick memanggilnya. "Riska kau dimana?" Kali ini Nick setengah berteriak. Tak ada sahutan tapi yakin Riska berada didalam kamar mandi. "Riska?" Nick membuka kamar mandi dan melihatnya duduk didalam bathtub lalu menoleh ke belakang. "Ya, ada apa, Nick?" Ia memaksa tersenyum. Nick mendekati tanpa mengenakan kimono pada tubuhnya lalu masuk kedalam bathtub dan duduk di sisi berlawanan. "Kau tak mengajakku mandi bersama. Apa kau tak mau ku gosokkan punggungmu?" tanyanya penasaran. Riska mendekat lalu berbalik memberikan punggung. "Lakukan pelan-pelan, Nick," pintanya dengan  sebelah tangan menyodori spons.  Nick menggosok pelan punggungnya sambil berkata, "Apa kau marah? Mendengar asistenku wanita?" tanyanya yang tahu sikap Riska yang berubah menjadi diam. Riska terdiam sebentar lalu menggeleng pelan. "Tidak, Nick. Selama kau memegang janji saat menikahiku di Sagrada, aku tak marah kecuali..?" "Apa?" potong Nick cepat. Riska berbalik menatap kedua bola mata Nick yang sama persis dengan Aldi. "Kau mengingkari janjimu," balasnya sambil mengusap pipi Nick. "Seperti yang kau ucapkan di depan makam Aldi. Ryan akan menghajarmu jika kau melakukan itu, Nick. Dan aku pasti--" "Kau akan kembali pada Ryan?" tebak Nick. Riska menggeleng cepat. "Itu tak mungkin, Nick. Status kita tidak seperti dulu, setelah putus dengannya aku bisa memilihmu, tapi sekarang berbeda. Aku hanya memilikimu. Jadi, peganglah janjimu selamanya karena aku.." Ia memeluk Nick dan tanpa terasa air matanya menetes. "Mencintaimu.." Nick mengeratkan pelukan. "Tentu, Sayang. Aku takkan mengingkari janji yang sudah kubuat. Karena aku.." Ia menatap wajah Riska, wajah yang selalu ada di setiap doanya dari dulu hingga sekarang. "Sangat mencintaimu." Nick mencium bibirnya lembut seperti pertama kali mereka membalas cium di Paris. Ciuman itu tak berubah sama halnya dengan perasaannya sekarang. Mencintai Riska. ❤❤❤ Ryan merebahkan tubuhnya yang lelah di sofa setelah beberapa jam mengendarai mobil dari Bogor. Itu pertama kalinya setelah kecelakaan membawa mobil menghabiskan berjam-jam di jalan. Walaupun lelah, ia bahagia sudah menemui Richie dan Riska yang hampir sebulan lamanya tak bertemu, seperti jauh dari anak dan istri. Lamunan Ryan buyar setelah melihat seseorang membuka pintu apartemen. Ia spontan bangkit dan berdiri karena terkejut melihat tamunya malam ini. "Laura? Akhirnya kau pulang," sapa Ryan tersenyum lebar dan mendekati Laura bermaksud untuk memeluk tapi Laura menepis. "Aku mau mengambil barangku di kamar," Laura membalas dan langsung masuk kedalam kamar. Ryan mengikuti. "Apa kau masih marah padaku sampai kau tak menanyakan kabarku sama sekali?" Meminta penjelasan dari Laura, tapi wanita itu memasukkan beberapa helai baju kedalam koper yang ia ambil dari samping lemari dan menaruhnya di atas ranjang. "Aku tak perlu menjawabnya, Yan." Setelah menyisakan sekitar lima helai baju pemberian Ryan didalam lemari, Laura menutup koper lalu menatap Ryan serius. "Aku sudah memastikan keadaanmu di Seoul lima hari yang lalu dan sekarang yang aku butuhkan adalah ruang." Laura menaruh koper di bawah ranjang dan menarik gagangnya. "Kita harus menjaga jarak untuk introspeksi diri, Yan. Untuk menyadari kesalahan kita berdua." Kedua mata Laura mengembang. Mengatakan kalimat itu memang sudah beratus kali ia pikirkan dan bersedia menerima semua konsekuensinya, termasuk berpisah sementara dengan Ryan. Semua itu ia lakukan karena tak ada cara yang lain walau batinnya menangis. Ryan mendekati lalu menggenggam tangannya. "Kumohon tetaplah berada disampingku," pintanya dengan wajah memelas. "Ku tarik semua ucapanku yang dulu jika kau tak menginginkan kehamilan. Aku akan menunggu sampai kau siap untuk hamil. Tapi kumohon.." Ryan memeluknya. "Jangan pergi. Aku membutuhkanmu, Laura." "Maaf Ryan." Laura mendorong Ryan pelan. "Ini sudah keputusanku demi kebaikan kita," tolaknya sambil membuang wajah. "Laura, jika kau pergi dariku itu sama saja menghindar dari masalah. Come on, bersikaplah dewasa," "Aku berusaha sedewasa mungkin, Ryan." Laura berkata dengan nada tinggi dan tatapan kesal pada Ryan. "Saat ini hanya itu yang aku inginkan. Jaga jarak denganmu!" "Laura?!" Dahi Ryan mengerut tak mengerti sikap Laura menjadi kasar. "Aku tak menyangka kau semarah ini walau aku sudah meminta maaf." Ryan menyipitkan mata mencari jawaban dari kedua matanya. "Apa kau menyembunyikan sesuatu?"  Laura menggeleng cepat. "Ti--tidak! Tak ada sesuatu yang kusembunyikan. Aku--aku," Wajahnya memucat dan menjadi gelagapan walau tangannya spontan menarik koper untuk beranjak dari kamar. "Aku harus pergi." "Laura!" Ryan menarik tangannya. "Please, don't go," Sekali lagi Ryan memohon tapi untuk hal yang sama Laura lakukan lagi. "Aku akan kembali jika pikiranku sudah tenang. Maafkan aku," Laura menolak dengan air mata mengembang lalu berlari kecil meninggalkan Ryan yang terdiam mengepalkan tangan kesal dan kecewa. ❤❤❤ "Aku prihatin mendengarnya, Yan. Apa perlu aku bicara empat mata dengan Laura?" Riska membalas panggilan Ryan di pagi hari setelah ia menyelesaikan sarapan bersama Nick yang langsung bergegas menuju lantai bawah untuk menemui seseorang. Ryan mengembus nafas berat sementara tangan kanannya memijat pelan dahi. "Untuk sekarang sebaiknya tidak, Ris. Ini bukan waktu yang tepat," tolaknya yang tahu Laura sulit untuk dihubungi. "Are you okay?" Riska cemas mengetahui keadaan Ryan yang terpuruk. Baru saja pria itu mengalami musibah dan kini wanita yang ia cintai harus meninggalkan karena membutuhkan ruang. Ia tahu Ryan butuh seseorang sekarang yang bisa membangkitkan moodnya lagi, setidaknya memeluk sambil mengatakan, "Everything gonna be okay." "Ya. Walau aku membutuhkanmu sekarang." Hanya kalimat itu yang Ryan lontarkan, dan tahu Riska mengetahui perasaannya.  "Sabarlah, Yan. Aku yakin kalian bersama lagi dan dia kembali padamu. Karena kalian saling mencintai." Riska menguatkan agar Ryan tak sedih meratapi kesendiriannya sekarang. Kehidupan rumah tangga memang tak seindah masa pacaran. Seperti kapal yang berada di lautan lepas, terkadang air pasang atau surut, itulah yang sedang Ryan rasakan. Hubungannya sedang mengalami cobaan. "Ya, Ris. Walau aku tak tahu kapan ia pulang." Ryan menjawab walau sedikit pesimis. "By the way, apa asisten Nick sudah tiba?" "Belum." Riska menjawab lemah dan tak semangat membahas asisten Nick yang tak lama lagi tiba. "Seperti yang aku cemaskan, Yan. Mario mengatakan jika asistennya seorang wanita," sambungnya lagi. Ryan tertawa mendengar jawaban Riska yang dibarengi helaan nafas berat. "Sudahlah, Ris. Dia hanya seorang asisten. Lagi pula aku percaya Nick setia kok." Kali ini Ryan gantian menguatkannya. "Jika dia menyakitimu, aku takkan segan-segan menghajarnya. Kau paham?" Riska mengangguk teringat ucapan Nick didepan Ryan dan makam Aldi. "Ya, aku paham, Yan." Sebisa mungkin ia bersikap kuat untuk menghadapi cobaan bersama Nick dan untuk mempercayai penuh Nick juga. "Seperti yang aku bilang kemarin, jangan kau pikirkan hal yang belum terjadi, Ris. Aku bersamamu, sampai kapanpun bersamamu. Kita bersahabat bukan?" "Ya." "So, don't be panic. Kau masih mempunyai aku yang siap untuk menolongmu. Jangan sungkan-sungkan untuk menceritakan masalahmu. Karena itulah takdir kita sekarang. Saling membantu sebagai--" "Sahabat." Potong Riska cepat. Ryan mengangguk. "Ya. Sahabat."  Riska menoleh ke arah pintu yang terbuka dan Nick masuk menghampirinya.  "Apa kau melihat kertas yang aku bawa dari Jakarta kemarin?" Tanya Nick. "Ya." Riska menjawab lalu bicara dengan Ryan lagi. "Yan, maaf aku harus menutup panggilanmu. Nick membutuhkan bantuanku sekarang. Aku akan meneleponmu nanti, okay?" Ia pamit dan tak lama mematikan panggilan Ryan setelah pria itu menjawab. Riska menuju meja kerjanya dan membuka laci lalu memberikan dua lembar kertas pada Nick. "Ini maksudmu?" tanyanya memastikan. Sebuah jadwal meeting dengan klien dan waktunya bentrok dengan acara temu Aldinov Lovers. Nick meraih dan membacanya sebentar. "Ya." 'Tok tok tok tok' "Masuklah," Riska setengah berteriak ke arah pintu dan melihat Mario menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Boleh aku masuk?" Mario meminta izin tidak seperti biasanya. "Tumben kau sopan, biasanya kau nyelonong masuk, Sahabatku," sahut Nick dengan nada mengejek lalu pandangannya kembali ke arah kertas yang berada di depan wajahnya. Mario masuk kedalam sambil senyam senyum menatap mereka berdua. "Aku membawa asisten pribadimu, Nick," ucapnya mengejutkan mereka terutama Riska. Mario menoleh keluar tepatnya pada seseorang yang berdiri dibalik pintu yang terbuka sebagian. "Masuklah," pintanya. Seorang wanita cantik berambut panjang masuk kedalam kamar dan melebarkan senyum ke arah Nick yang tiba-tiba terdiam menatapnya.  "Selamat pagi, Pak Nicholas. Saya Andriana Sarah." Ia memperkenalkan diri. "Asisten Bapak yang baru." 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD