Riska mendongak menatap Ryan setelah kalimat 'I love you' terlontar dari mulutnya. Ia tak terkejut karena tahu jika Ryan masih memendam perasaan itu dan mungkin selamanya. Tapi hatinya merasa sedih Laura tak bisa menggeser dirinya di hati Ryan, tak seperti harapannya dulu.
Ryan masih menatap lekat Riska, seperti menanti jawaban.
"Aku tak perlu menjawabnya, Yan. Kau sudah tahu jawabanku." Riska membalas dan yakin Ryan sudah mengetahui.
Saling mencintai walau tak bisa bersatu. Itulah takdir yang harus mereka jalani sampai nanti.
"Aku tunggu di lobi sekarang," ucap Riska melepaskan pelukan lalu berbalik dan beranjak meninggalkan Ryan yang terdiam.
Riska berhenti melangkah saat berada di ujung lorong. Tubuhnya bersandar di dinding, wajahnya tertunduk dan air matanya menetes mengingat Ryan yang tak bisa move on dan masih mengharapkan kebersamaan seperti beberapa tahun yang lalu. Kisahnya bersama Ryan memang tak happy ending, tapi melihat keadaan Ryan yang tak bahagia membuat hatinya sakit. Karena ia pun masih mencintainya dan menginginkan kebahagiaan bisa Ryan rasakan seperti yang ia rasakan sekarang.
"Riska? Ada apa?"
Riska terkejut melihat Nick didepannya dengan wajah terheran. Ia mengusap air matanya lalu memeluk Nick erat. "Akhirnya kau pulang, Nick."
Nick membalas pelukan lalu mencium dahi. "Tentu, Sayang. Karena aku meminjam pintu ajaib dari Doraemon," guraunya yang spontan membuat Riska tertawa pelan.
Riska menggeleng lalu menatap Nick yang terkekeh. "Bukan Nicholas namanya jika tak membuat kejutan. Dan kau berhasil mengejutkanku, Nick," serunya tersenyum lebar.
"Tentu. Aku senang membuatmu terkejut, Ris." Nick meraih kedua pipi Riska lalu mengulum bibirnya lembut.
Ryan menutup pintu melihat adegan kissing mereka. Ia mengepalkan tangan dan hatinya menjadi sakit lalu berbisik, "Harusnya aku yang menciummu. Harusnya kau milikku dan kita bahagia, Ris." Air matanya menetes. "Seperti dulu."
❤❤❤
Nick membuang abu rokok di asbak lalu tertawa kecil memandang Ryan yang duduk didepan. "Jika saja Riska tak memberitahuku, mungkin sampai nanti aku tak mengenalimu, Yan," ucapnya melihat wajah baru Ryan yang mirip dengan aktor tampan dari China, Song Weilong. Terlihat lebih muda dari biasanya.
Ryan tertawa kecil. "Kau berlebihan, Nick. Aku masih Ryan Saputra yang dulu." Ia menepis sambil mengembuskan rokok.
"Ya, tapi tidak dengan wajahmu." Balas Nick tak terima. "By the way, mana Laura? Sudah lama aku tak melihatnya?"
Ryan dan Riska saling berpandangan.
"Dia sedang sibuk. Jika ada waktu luang, aku akan mengajaknya kesini." Ryan membalas lalu mematikan rokok.
Nick menyipitkan mata tak percaya. "Sepertinya hubungan kalian sedang bermasalah? Selama kami melihatmu di rawat di Rumah Sakit aku tak melihat Laura sama sekali disana?" Ia menelisik jawaban dari kedua mata Ryan walau pria itu mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Kenapa Mario tak bersamamu, Nick?" Tanya Riska mengalihkan pembicaraan. "Bukankah rencananya dia mau membawakanku sebotol wine?"
Nick melirik Riska yang duduk disamping lalu menggeleng. "Dia menggantikanku untuk menemui Anwar besok dan menyeleksi asisten pribadi untukku, Sayang?" Ia membalas dan membuat Riska dan Ryan terkejut.
"Asisten pribadi?" Tanya Riska dan Ryan bersamaan.
"Untuk apa?" Tanya Riska lagi, kali ini meminta penjelasan.
Nick menyandarkan punggung di sofa. "Membagi tugas agar aku punya banyak waktu bersamamu dan anak-anak, Ris. Selama ini frekuensi pertemuan kita hanya beberapa kali dalam seminggu dan aku tak mau kehilangan quality time bersama kalian. Bagiku keluarga nomor satu," terangnya dan membuat Riska menggenggam tangan Nick. Bahagia, mendengar kalimat itu terlontar dari suami yang mencintainya.
"Mengapa kau tak menceritakan itu padaku, Nick? Mungkin aku bisa membantumu?" Tanya Riska berniat meringankan beban pekerjaan Nick selama ini yang memang ia akui supersibuk. Hanya 3 atau 4 hari frekuensi pertemuan mereka.
Nick menggeleng. "Tidak, Ris. Tugasmu cukup mengurus resort bersama Jeff dan membesarkan anak-anak. Aku tak mau anak-anak kehilangan figur seorang ibu hanya karena kau sibuk." Ia melirik ke arah Ryan. "Bukan begitu, Yan?" Meminta pendapat.
Ryan mengangguk setuju. "Aku setuju denganmu. Tapi apa kau sudah mendapatkannya, Nick? Jika belum aku bisa merekomendasikan seseorang untukmu." Tawar Ryan.
"Belum, Yan. Mario akan menyeleksi mereka lalu memilihnya besok siang. Jika dia tak mendapat sesuai kriteriaku, pertemukan aku dengan kawanmu itu." Pinta Nick. "Tak perlu tampan dan cantik, asalkan dia profesional dan bertanggung jawab, itu sudah lebih dari cukup," sambungnya lagi.
Riska tercengang mendengar kalimat 'cantik' tadi. "Kau menerima wanita untuk asistenmu?"
"Ya, kenapa?"
Riska terdiam sebentar lalu menggeleng dan bangkit dari sofa. "Aku ke kamar sebelah dulu. Memastikan anak-anak sudah tidur atau belum." Ia mengalihkan pembicaraan lalu melirik ke arah Ryan. "Aku tinggal dulu, Yan," pamitnya lalu bergegas meninggalkan mereka.
Nick menunjuk ke arah pintu yang baru saja tertutup. "Kau lihat? Dia cemburu padaku. Padahal dengan jelas Mario belum menerima siapa yang menjadi asistenku. Entah itu wanita atau pria." Ia tertawa kecil mengingat raut wajah Riska yang cemburu.
"Sebaiknya kau terima yang pria untuk kau jadikan asistenmu, Nick." Ryan menyarankan lalu memandangnya lekat. "Demi keutuhan rumah tangga kalian."
❤❤❤
Riska berdiri di balkon, menghirup udara pagi dan menjemurkan tubuhnya dibawah sinar matahari yang hangat. Pandangannya tertuju ke arah makam Aldi. Entah mengapa hatinya tiba-tiba menjadi sedih dan merindukan Aldi, walau setiap hari ia selalu memandang dan mengunjungi makamnya. Kali ini ada hasrat untuk memeluknya lalu mengatakan, "Aku Merindukanmu, Al. Sangat merindukanmu." Tapi sayangnya itu tak bisa, yang ia bisa hanya merindukan, memandang foto dan menangisinya seperti sekarang. Tangannya memegang kalung pemberian Aldi dan menangis. Aldi yang selalu setia, yang mencintai tanpa batas dan membuat nyaman, memang ia dapatkan dari sosok Nick. Tapi setelah mendengar Nick akan mempunyai asisten pribadi walau tak tahu entah pria atau wanita, tapi membayangkan asistennya wanita, hatinya menjadi campur aduk. Marah, cemburu dan sedih.
Riska terkejut ketika merasakan Nick memeluknya dari belakang. Ia mengusap pipinya yang basah dan menahan isak tangis agar Nick tak mengetahui.
Nick membalikkan tubuh Riska dan terkejut. "Kau menangis? Ada apa, Ris? Katakan padaku ada apa?!" tanyanya sedikit memaksa.
Riska tertunduk dan menggeleng. "Tidak apa-apa, Nick," jawabnya lalu mengangkat wajah dan tersenyum tipis. "Aku hanya merindukan Aldi."
Nick memeluk dan mencium dahi mendengar nama Aldi disebut. "Kita akan mengunjunginya setelah sarapan bersama Ryan. Aku mandi dulu, ok?!"
Riska mengangguk, "Baiklah. Aku menunggumu."
Setelah menyelesaikan sarapan Riska, Nick dan Ryan mengunjungi pemakaman Aldi yang letaknya tak jauh dari museum.
Riska menaruh mawar jingga lalu menyapa. "Kami datang, Al," sapanya tersenyum melihat batu nisan dan foto Aldi disana. "Ryan baru saja kembali dari Seoul setelah melakukan operasi. Dia sedikit berubah tapi aku yakin kau mengenalinya." Ia duduk sambil mencabuti rumput liar yang menghijau, tak banyak tapi cukup menganggu penglihatan. "Entah kenapa aku merindukanmu, Al. Aku.." Air mata Riska menetes tapi dengan cepat Nick mendekati lalu menepuk bahunya pelan.
"Kuharap kau tenang dan bahagia disana, Al." Potong Nick. "Sesuai janjiku dulu, jika aku akan membahagiakan Riska seumur hidupku. Kau tak perlu khawatir, aku takkan menyia-nyiakan Riska. Baik sebagai ibu dari ketiga anakku dan sebagai istri. Jika aku mengingkari janji, aku bersedia Ryan menghajarku. Seperti yang kau tahu aku dan Ryan mencintai Riska. Tidak. Kita bertiga mencintainya."
Ryan melirik ke arah Nick.
"Kau tak perlu cemaskan Riska. Kami akan membuatnya bahagia. Seperti janjimu." Sambung Nick lagi membuat Riska bangkit lalu memeluk dan menangis.
Riska mengusap air mata lalu memandang langit dan terkejut seperti melihat gambar lengkungan bibir tersenyum. Dan ia yakin jika Aldi melihat mereka dan sudah bahagia disana. Melepasnya pada pria yang tepat. Pria yang bisa mencintai seumur hidup
sama seperti Aldi. Pria yang pernah menjadi stupid mistake walau kini hatinya merasakan sebuah firasat.
Sebuah firasat buruk.
❤❤❤
"Ada apa? Kau tak banyak bicara setelah mendengar Nick akan mencari asisten pribadi? Apa kau takut jika dia mempunyai asisten wanita?" Tanya Ryan melihat Riska duduk cemas didepannya lalu mengangguk lemah.
"Aku menyukai Mario yang membantunya dari pada asisten yang belum aku kenal. Tapi entah kenapa.." Riska menepuk dadanya pelan. "Perasaanku tak enak, Yan." Ia menatap Ryan serius walau mengakui hanya sebuah firasat saja.
Ryan meneguk kopi lalu menatapnya sambil menghela nafas. "Jangan kau pikirkan sesuatu yang belum terjadi, Ris. Seperti yang tadi Nick ucapkan didepan makam Aldi, jika dia menyia-nyiakanmu aku akan menghajarnya. So, berhentilah kau memikirkan yang hanya membuatmu sedih lagi pula aku.." Ryan menghentikan ucapan karena yakin Riska sudah mengetahui maksud hatinya yang tak berubah.
"Aku pastikan semua baik-baik saja." Sambung Ryan lagi.
Riska berusaha tenang walau tak bisa menutupi kecemasannya yang berlebihan. "Ya. Semoga ini cuma kecemasan aku saja, Yan. Tidak lebih," ucapnya dengan suara pelan dan ragu.
Ryan bangkit. "Jangan khawatir, Ris. Kau masih punya aku. Maksudku, banyak orang yang menyanyangimu." Ia menatap serius. "Contohnya aku," sambungnya yang tak lama Riska tersenyum lalu tertawa kecil.
"Aku percaya itu, Yan." Riska bangkit. "Kau jadi pulang sekarang?" Tanyanya melihat Ryan mengangguk.
"Ya, aku mau singgah ke Bekasi. Ada sesuatu yang harus ku ambil disana." Ryan melangkah menuju pintu dan Riska mengikuti.
"Aku tunggu kabar baik tentangmu dengan Laura. Kau dengar?"
Ryan menoleh kebelakang lalu mengangguk. "Ya, aku mendengarmu, Ris. Terima kasih untuk semua."
Riska membuka pintu lalu melangkah bersama. "Datanglah kesini kapanpun kau suka, Yan. Karena Richie selalu merindukanmu," ujarnya membuka pintu kamar sebelah lalu bergegas mengambil Richie lalu menggendongnya.
"Tentu saja. Karena aku juga merindukan kalian." Ryan membalas lalu mencium pipi dan dahi Richie. "Apa kau ingin aku cium?" tawarnya lalu terkekeh.
Riska mendaratkan sebuah cubitan ke perut Ryan yang seketika membuatnya meringis. "Kau selalu memulainya," cibirnya lalu tertawa. "Mari kuantar kau sampai depan lobi. Richie harus mengetahui jika ayahnya harus pergi mencari uang yang banyak dan kau harus menengoknya seminggu sekali." Pinta Riska sedikit memaksa sambil berjalan menuju pintu bersama Ryan.
Langkah Ryan terhenti didepan pintu. "Tentu, karena aku juga merindukan ibunya. Hahahaha.." Ia tertawa melihat Riska mencibir sambil bergumam. "Berikan Richie padaku, aku akan menggendongnya."
Riska memberikan Richie lalu melanjutkan langkah keluar dari kamar lalu menuju lobi.
"Bukankah kita seperti keluarga Cemara?" Goda Ryan terkekeh lagi.
Riska menggeleng lalu tertawa. "Aku hobi membaca novel, jadi aku tak tahu sinetron itu dan jarang menonton."
"Benarkah?"
"Iya itu benar."
"Bukankah kau juga menyukai film Fifty shade of grey?"
"Ryan?!"
"Hahahaha."
❤❤❤
Riska mengerang ketika tangan Nick masuk kedalam blouse lalu meremas lembut p******a sementara bibirnya mencium leher dari belakang. Hembusan hangat nafas Nick yang menerpa kulit membuat Riska berhasrat di sore hari dan mendambakan sentuhan Nick yang perlahan menjadi choka-choka. Tapi Riska tak menginginkan melakukan choka-choka di tempat yang tak nyaman. Seperti sekarang, berada di balkon. Ia tak mau dirinya menjadi trending topic di kalangan karyawannya yang mengatakan manajer sekaligus pemilik resort bercinta di atas balkon. Baginya hubungan intim mereka tak perlu di umbar atau melakukan di tempat selain di ranjang, sofa atau tempat ternyaman, walau terkadang Nick memaksa karena tak sanggup menahan hasrat.
Nick berbisik dengan deru nafas yang melaju cepat. "Kau ingin kita melakukannya disini?" tanyanya yang tak lama Riska menggeleng.
"No, Nick. Take me to the bed now." Riska meminta.
Dari balkon Nick membawa Riska ke ranjang. Mengangkat b****g Riska dengan kedua kaki melingkar di pinggangnya. Sementara bibir mereka menyatu. Saling melumat dan menarik penuh hasrat.
Nick menjatuhkan Riska diatas ranjang. Mengeluarkan blouse, melepaskan kait bra lalu beralih pada dirinya.
Setelah menanggalkan semua pakaian yang melekat ditubuh mereka, Nick memulai lagi cumbuannya.
Dada Riska membusung, tangannya meremas sprei dan erangan terlontar dari mulutnya ketika bibir Nick berjalan pelan dari betis menuju pahanya yang sudah terbuka lebar dan mendarat pada miliknya.
Nick menjilat rakus miliknya dengan nafas tersengal-sengal seperti binatang buas yang baru dikeluarkan dari kerangkeng. Sementara Riska hanya mengerang, memanggil namanya dan meracau.
Setelah memastikan Riska mendapatkan klimaks, ia menindih tubuhnya dan memasukkan junior yang selalu ia banggakan lalu menghentak pinggulnya diawali gerakan pelan.
Setiap hentakan membuat tubuh Riska terdorong ke atas. Matanya terpejam dengan bibir terbuka yang tak lama Nick menutupnya dengan kuluman lembut, selembut sebelah tangannya yang meremas p******a dan sesekali memilin p****g.
Tubuh Nick berada di bawah setelah Riska berhasil menggulingkan dan memegang kendali permainan sore ini. Setelah memastikan junior memasukinya penuh, ia mengayunkan tubuhnya maju mundur seperti kedua payudaranya yang mengayun bebas sebelum Nick mencengkram dan meremasnya lagi.
Kepala Riska mendongak setelah merasakan klimaks untuk kedua kalinya. Erangan kenikmatan memenuhi kamar yang tak lama terlontar dari mulut Nick setelah menyerangnya dengan gaya bercinta yang ia sukai.
Tubuh mereka bermandikan keringat dan kembali berpelukan sambil berbaring dan tersenyum penuh kemenangan.
Nick mencium dahi Riska lalu menatapnya serius. "I love you, Ris," ucapnya mendekapnya lagi.
Riska menaruh wajah didadanya hingga bisa mendengar jelas detak jantung Nick yang berdetak normal. Ia mengangguk dan untuk kesekian kalinya menjawab, "I love you too, Nick."
Nick menghentikan usapan di punggung Riska setelah mendengar handphonenya berdering. Dan ia tahu seseorang yang sedang menghubunginya sekarang.
"Biar ku ambilkan." Tawar Riska bangkit mengenakan kimono lalu melangkah menuju sofa dan kembali ke ranjang memberikan handphone.
"Ada apa?" Tanya Nick bicara dengan bahasa Indonesia pada Mario dan memang sengaja agar Riska mengetahui pembicaraan mereka, bahkan ia menekan tombol speaker.
Mario yang paham, membalas dengan bahasa yang sama. "Aku sudah menerima orang yang akan menjadi asistenmu. Dan besok aku akan membawanya kesana, memperkenalkan padamu."
Nick mengangguk. "Baiklah aku menunggumu besok. By the way, siapa namanya?" Ia menanti jawaban, begitu juga Riska yang duduk di bibir ranjang menyimak pembicaraan mereka.
"Andri." Jawab Mario singkat.
Dahi Nick mengerut. "Andri apa?"
"Andriana Sarah." Mario menjawab lalu melanjutkannya lagi.
"Dia wanita, Nick."