JALAN JALAN

1030 Words
CHAPTER 3 *** "Diketahui kalau Billionaire muda kita, Mr. Keenan sudah mempunyai kekasih. Yaitu sekretarisnya sendiri. Masih belum jelas karena Mr. Keenan hanya me-" Allisya mematikan televisinya saat semua tayangan berita mengenai Kenzie dan dirinya. Dia tidak ingin hubungannya diketahui banyak orang. Bukannya dia malu memiliki kekasih seperti Kenzie, tapi dia menyukainya, bahkan sangat. Tapi, kqlau sudah begini dia akan selalu dikejar kejar wartawan. Dia tidak akan tenang mulai sekarang. Allisya mendesah pelan, dia menyenderkan punggungnya disofa. Hari ini hari minggu, dan dia libur. Beruntunglah karena dia tidak mempunyai pekerjaan yang belum ia selesaikan. Jadi, dia bisa bersantai diapartemennya. Pandangan Allisya jatuh pada bingkai foto yang ada disebelah televisi. Itu foto dirinya bersama Kenzie saat baru berpacaran. Dia ingat betul bagaimana perjuangan Kenzie dulu untuk mendapatkannya. Childish tapi bisa jadi tegas secara bersamaan. Itulah Kenzie. Allisya mengerjap saat tiba tiba saja Kenzie datang dan menjentikkan jarinya didepan wajahnya. Dia melirik laki laki yang sekarang duduk disebelahnya dengan wajah tanpa dosa dan tenang. Padahal pikiran Allisya sedang bingung, bagaimana caranya untuk menghindari wartawan? "Kapan kamu, masuk?" tanya Allisya, dia tidak mendengar pintu apartemennya terbuka. "Allisya kebanyakan melamun, jadi ngga denger Kenzie masuk" jelas Kenzie, dia bersandar dibahu Allisya lalu mengambil tangan kanan Allisya dan meletakkannya di kepalanya. Allisya yang paham dengan maksud Kenzie mulai menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut laki laki itu. Mengelusnya pelan. "Allisya ngelamunin apa, sih? Keknya asik banget, sampe Kenzie masuk aja ngga denger" tanya Kenzie, nada bicaranya terdengar sedikit merajuk. "Mikirin wartawan" jawab Allisya sekenanya, dan itu membuat Kenzie mengernyit bingung. "Buat apa mikirin wartawan? Mikirin Kenzie lebih baik" ujarnya, dia menumpu dagunya dipundak kanan Allisya, menatap kekasihnya dari samping. "Aku mikirin wartawan karena mereka bakal cari aku terus. Gara gara kamu sih semalem" dengus Allisya, dia memijat pangkal hidungnya. Hidupnya tidak akan tenang lagi. "Kok Allisya salahin Kenzie, sih? Gara gara Hans yang udah buat Kenzie cemburu" Kenzie memeluk Allisya erat seolah Allisya akan meninggalkannya jika dia melepas pelukannya. "Ya, tapi kan ak-" "Ssttt..udah, lebih baik kita keluar. Kenzie bosen disini" potong Kenzie, dia melepaskan pelukannya. "Allisya siap siap dulu. Kenzie nunggu disini" Wanita itu menghela nafas, lalu dia mengangguk dan bangkit. Berjalan menuju kamarnya untuk bersiap siap. Setengah jam kemudian, Allisya sudah siap. Dia melihat Kenzie yang tengah memainkan ponselnya. Berdeham pelan sambil menatap Kenzie datar. Laki laki itu mendongak, tersenyum lalu memasukkan ponselnya kesaku. Kenzie bangkit, berjalan mendekat kearah Allisya. Berdiri tepat didepan wanita yang begitu ia cintai. "Allisya cantik" puji Kenzie membuat pipi Allisya memerah. Wanita itu memalingkan mukanya, dia malu. "Ayo" Kenzie mengganggam tangan kirii Allisya. Berjalan keluar apartemen Allisya. Wanita itu berada disampingnya, dengan senyum mengembang. Kenzie membuka pintu mobil Lamborghini berwarna hitamnya untum Allisya. Wanita itu tersenyum, mengucapkan terima kasih lalu masuk kedalam mobil. Kenzie menutup pintu sebelah Allisya, lalu memutari mobil. Membuka pintu kemudia lalu duduk dikursi kemudi. "Mau kemana kita?" tanya Allisya saat Kenzie mulai menjalankan mobilnya meninggalkan area gedung apartemen Allisya. "Terserah, Allisya, saja. Kenzie cuman ikut" jawabnya. Dia melirik Allisya sekilas lalu kembali fokus dengan jalanan. Allisya tampak tengah berfikir. Apa yang mengasyikkan di hari libur seperti ini? Semua tempat berlibur pasti ramai, dan Allisya sedikit tidak suka keramaian. Dia lebih suka tempat yang damai dan sepi karena bisa membuatnya tenang. "Aku ngga tau. Semua tempat pasti ramai" jawabnya, dia menatap Kenzie sepenuhnya. Laki laki itu tampak dewasa, berbanding dengan sifatnya yang seperti anak anak. Kenapa ada laki laki seperti Kenzie? "Kenzie juga ngga tau. Awalnya Kenzie cuman niatnya diapartemen Allisya aja. Tapi, karena bosan pengen jalan jalan" jawabnya, dia tersenyum kearah Allisya. "Kita ke pantai aja yuk. Aku pengen habisin waktu disana" ujar Allisya, Kenzie mengangguk lalu menambah kecepatan mobilnya kepantai terdekat. Setelah menempuh waktu hampir dua jam karena tiba tiba saja jalanan macet, akhirnya Kenzie dan Allisya sampai dipantai. Terlihat ramai oleh orang orang karena hari libur. Kenzie keluar mobil terlebih dahulu, lalu memutari mobil. Membuka pintu sebelah Allisya, mengulurkan tangannya dan dengan senang hati Allisya menerima uluran tangan Kenzie. Mereka berdua berjalan beriringan, dengan tangan Kenzie yang memeluk pinggang Allisya possesive. Menatap tajam siapa saja yang menatap Allisya penuh minat. Kenzie tidak mau Allisya jadi bahan tontonan. "Panas. Kita datengnya siang sih" ujar Kenzie, dia memeluk Allisya untuk menutupi wanita itu. Dia tidak mau Allisya merasa kepanasan. "Kita jalan kesana aja. Disana sepi" ujar Allisya, Kenzie mengangguk. Mereka berjalan kearah barat. Tempat yang lumayan sepi. Allisya meletakkan sling bag yang dia gunakan diatas meja yang ada dibawah pohon. Allisya melepaskan pelukan Kenzie, berlari kearah pantai. Dia tidak peduli jika baju yang dia pakai basah atau kulitnya yang terbakar akibat kena paparan sinar matahari. Air laut langsung menyambut kaki Allisya dan menenggelamkannya. Dia terkekeh pelan karena sensasi dingin langsung menyapa kakinya. "Kenzie sini!" teriak Allisya saat mellihat Kenzie hanya berdiri tidak jauh dari tempatnya. Kenzie tersenyum, dia berlari kearah Allisya lalu langsung memeluknya. Mengangkat tubuh mungil Allisya dan membawanya berputar putar. Wanita itu terkekeh, memegangi tangan Kenzie yang memeluknya erat. Byur Kenzie menjatuhkan tubuhnya keair dengan Allisya yang ada diatasnya. Allisya yang kaget langsung berteriak. Dia mengusap wajahnya yang basah, ah tidak seluruh tubuhnya basah. Dia melirik Kenzie tajam yang dibalas kekehan khas Kenzie. "Kenzie, aku ngga bawa baju ganti!" omel Allisya, dia bangkit menatap Kenzie murka. Kenzie ikut bangkit, dia berdiri didepan Allisya. Mengelus pipi Allisya, tidak peduli kalau wanita itu sedang marah padanya. "Nanti Kenzie telfon anak buah Kenzie biar bawa baju ganti buat Kenzie sama Allisya" ujarnya lembut, Allisya meliriknya malas. Berjalan menjauh dan tanpa diduga, dia mencipratkan air pada Kenzie. Mereka berdua berkekeh bersama, menikmati hari hari seperti ini yang jarang mereka lakukan. Hal sederhana, namun bisa membuat mereka bahagia dan melupakan sejenak masalah mereka. Matahari mulai terbenam, Kenzie mengajak Allisya duduk dipasir. Menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga. Menikmati matahari terbenam yang akan datang sebentar lagi. "Kenzie sayang Allisya" ujarnya lembut, dia menatap Allisya yang tengah menatap matahari. Wanita itu menoleh, menatap wajah tampan Kenzie yang tengah tersenyum. Dia menggeser tubuhnya lebih dekat kearah Kenzie. "Aku juga sayang sama kamu" balasnya, Kenzie tersenyum. Matahari tenggelam, menampilkan warna jingga yang indah. Disana, Kenzie dan Allisya menikmati sore hari mereka bersama. Tidak peduli pada pengunjung lain. Berdua lebih menyenangkan. *** Jangan lupa follow IG ku  (at)lisatrihardiyati Nanti aku followback:'*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD