CHAPTER 4
***
Tatapan iri dan menilai langsung menuju ke Allisya. Semua karyawan menatap Allisya iri, menilai apakah Allisya cocok dengan CEO tampan dan tegas mereka. Bahkan, ada yang mencibirnya walaupun dibelakang. Bagaimanapun juga, Allisya seorang sekretaris dan asisten pribadi Kenzie. Mereka harus bicara yang baik atau pekerjaan mereka terancam hilang.
Allisya mencoba menulikan pendengarannya. Dia terus berjalan dengan pandangan kedepan menuju lift khusus yang akan sampai dilantai teratas gedung ini. Setelah masuk kedalam lift dan pintu itu tertutup, Allisya bisa bernafas lega karena bisa terhindar dari bisikan karyawan Kenzie.
Pintu lift kembali terbuka saat dia sudah berada dilantai teratas. Allisya berjalan menuju ruangan CEO lalu membukanya. Terlihat Kenzie yang sudah duduk dikursi kebesarannya. Tidak biasanya Kenzie datang sepagi ini? Biasanya dia yang datang lebih dulu dari padanya.
"Mr-"
"Kenzie marah sama Allisya" potong Kenzie cepat tanpa menoleh kearah Allisya. Laki laki itu masih menatap berkas berkas yang ada diatas mejanya.
Allisya menghela nafas, Kenzie memang sangat tidak menyukai saat dia memanggilnumya dengan sebutan Mr. Keenan. Menurutnya, itu seperti atasan dan bawahan. Allisya kekasihnya, dan sudah seharusnya Allisya memanggilnya dengan sebutan nama saja. Tidak perlu embel ember Mr. atau apapun itu.
Wanita itu tersenyum tipis, berjalan mendekati Kenzie. Meletakkan berkas yang tadi ia pegang kedepan Kenzie membuat laki laki itu terpaksa harus mendongak.
"Ada berkas yang harus kamu tanda tangani dengan segera" suruh Allisya, dia berjalan menuju ruangannya saat Kenzie sudah menyelesaikan tanda tangannya.
Allisya mulai berkutat dengan pekerjaannya, membiarkan Kenzie yang tengah merasa kesal dengannya karena diabaikan. Laki laki itu menggenggam pulpen yang ia pegang dengan erat. Kenzie kesal dengan Allisya yang mendiamkannya.
"Biarin. Nanti Kenzie diemin balik" gumamnya lirih, dia bertekad akan ikut mendiami Allisya juga.
Berjam jam mereka menjalani pekerjaan mereka dalam diam. Allisya hanya akan mendekati Kenzie jika harus ada berkas yang akan ditanda tangani, selain itu tidak ada. Dia akan duduk tenang dikursinya, menatap layar laptop untuk kembali mengerjakan tugas tugasnya.
Sedangkan Kenzie, laki laki itu tidak berhenti menggerutu dalam hati. Dia tidak bisa di diamkan seperti ini oleh Allisya. Rasanya, hidupnya akan kurang jika Allisya tidak menyapanya atau tidak mengobrol dengannya.
Jam menunjukan pukul dua belas siang, itu artinya jam makan siang dimulai. Tangan Kenzie berhenti mengetik dikeyboard laptopnya. Dia melirik Allisya yang masih saja berkutat dengan pekerjaannya.
Ingin rasanya Kenzie bangkit, lalu mendekati Allisya. Mengajaknya makan siang bersama. Tapi, karena rasa gengsinya yang terkadang besar tidak membuatnya bangkit dari kursi kebesarannya.
"Kenzie, harus ngapain?" gumamnya bingung, dia melirik Allisya yang tampak biasa saja tidak seperti dirinya yang tengah bingung.
Sedangkan Allisya tidak setenang yang Kenzie lihat. Dia tengah mati matian menahan amarahnya karena notifikasi yang muncul dari ponselnya tidak berhenti keluar. Walaupun sudah dalam mode silent, tapi tetap saja layar ponselnya akan menyala. Dan disitulah notifikasi dari i********:, twitter, bahkan hampir semua media sosia yang dia punya muncul. Pembahasaan merrka tidak jauh jauh dari kabar tentangnya dan Kenzie yang menjadi sepasang kekasih.
"s**t!" makinya dalam hati, dia tidak bisa berdiam diri terus. Hidupnya terasa diteror oleh wanita wanita yang mengagumi kekasiihnya. Mereka berkomentar diakun sosial media Allisya dengan kata kata pedas.
Wanita itu bangkit, tidak lupa dia mematikan laptopnya terlebih dahulu. Tangannya mengambil ponselnya, berjalan mendekati meja Kenzie. Dia harus berbuat sesuatu agar para netizen itu tidak berkata kata pedas lagi padanya.
Kenzie yang melihat Allisya berjalan menuju kearahnya menahan senyumnya. Dia yakin kalau Allisya juga tidak akan tahan didiamkan olehnya.
"Al-"
"Aku mau kamu bisa buat berhenti para netizen itu buat ngga hujat aku. Aku lelah diteror dari dua hari lalu" potong Allisya membuat Kenzie mengernyit bingung.
"Allisya dihujat?" Allisya hanya mengangguk mendengar pertanyaan Kenzie. Dia duduk dikursi depan meja Kenzie, memijat pangkal hidungnya karena dia sudah mulai merasa pusing.
Kenzie merasa bersalah pasa Allisya, sekarang. Dia fikir Allisya mendiamkannya karena banyak pekerjaan. Namun, dia salah, ternyata kekasihnya itu tengah dihujat dengan kata kata pedasnya oleh para netizen. Kenzie menghela nafas, dia mecondongkan tubuhnya, mengambil tangan Allisya yang memijat pangkal hidungnya.
Tangan Kenzie yang besar memegang tangan Allisya erat. Laki laki itu menatap Allisya bersalah karena hanya Allisya saja yang dihujat sedangkan dia tidak.
"Maafin, Kenzie, ya" ujarnya lembut, dia mengelus punggung tangan Allisya yang ia genggam.
Allisya menatap wajah Kenzie yang penuh penyesalan. Gara gara ucapan Kenzie membuat seluruh dunia tau kalau Allisya adalah kekasihnya. Hampir semua orang tidak mendukungnya, walau ada juga yang mendukungnya. Mereka lebih menyukai Kenzie dengan artis artis yang terkenal dari oada dengannya. Mereka bilang kalau Kenzie dan Allisya tidak cocok sama sekali. Derajat mereka tidak sama.
"Kam-"
"Ngga, Lisya, Kenzie salah. Kenzie udah buat Lisya dihujat." tatapan Kenzie meredup, ada tatapan kesedihan disana.
"Kenzie ngga salah kok" bantah Allisya, dia menggeleng sambil tersenyum.
"Ngga, Lisya! Kenzie salah, kalau Kenzie ngga bilang waktu itu, pasti Allisya ngga bakal dihujat begini" bantahnya lagi, dia mengeratkan genggamannya pada tangan Allisya.
"Ken-"
"Kenzie minta maaf udah buat Allisya dihujat. Kenzie ngga mikir sampai kesini. Kenzie ngga mau Allisya sampai jadi milik orang lain. Maafin Kenzie, ya. Kenzie ngaku Kenzie salah, tapi Allisya jangan diemin Kenzie terus. Kenzie ngga bis-"
"KENZIE!" bentak Allisya karena Kenzie tidak berhenti bicara. Laki laki itu langsung diam dengan kepala menunduk.
Allisya menghela nafas, dia kelepasan sampai membentak Kenzie. Padahal laki laki itu paling tidak bisa dibentak. Dia bangkit, berjalan mendekati Kenzie. Berdiri telat disebelah kiri Kenzie.
"Maaf" Allisya memeluk kepala Kenzie, menenggelamkannya diperut Allisya. Hanya seperti ini kalau Kenzie berhenti merasa sedih.
"Maaf, aku kelepasan karena kamu ngga biarin aku bicara dulu" Allisya mengelus rambut Kenzie penuh sayang. Dia merasakan kalau tangan Kenzie mulai memeluk pingganya dengan erat.
"Allisya ngga salah. Kenzie yang salah" ujar Kenzie tidak terlalu jelas. Pelukan Kenzie semakin erat dipinggangnya.
Sekali lagi Allisya menghela nafas. Walaupun Kenzie seperti anak anak, tapi jika dia sudah merasa bersalah Kenzie akan semakin manja padanya. Aneh, tapi Allisya menyukainya.
"Aku udah maafin kamu kok" ujar Allisya sambil tersenyum, dia juga merasa bersalah karena waktu itu dia tidak menghindari Hans. Alhasil seperti inilah hasilnya.
"Beneran Allisya udah maafin Kenzie?" tanya Kenzie tidak percaya karena Allisya begitu mudah memaafkannya.
Allisya tersenyum, dia tidak mungkin betah berlama lama membuat Kenzie bersedih. Bahkan mata laki laki itu sudah terlihat memerah karena menahan tangis.
"Beneran" Allisya nengangguk, dia tersenyum manis membuat hati Kenzie sedikit tenang.
"Jangan sedih lagi, oke" Allisya menunduk, mengecup kedua mata Kenzie secara bergantian.
Senyum Kenzie terukir, walaupun hatinya belum sepenuhnya lega karena Allisya masih saja dihujat. Dia akan melakukan sesuatu agar hujatan itu berubah jadi decakan kagum pada Allisya.
"Kenzie ngga mau kehilangan, Allisya" ujarnya possesive, dia kembali menenggelamkan wajahnya diperut Allisya.
Wanita itu terkekeh mendengar nada possesive Kenzie. Dia mengacak acak rambut Kenzie gemas. Jika Kenzie sudah possesive, menurutnya Kenzie akan sangat lucu.
***