CHAPTER 5
***
"Baiklah, kita akhiri meeting ini." ucapan Kenzie membuat semua karyawannya mengangguk. Mereka mulai merapikan berkas berkas yang tadi mereka gunakan untuk bahan meeting.
Satu persatu, karyawannya keluar dari ruang meeting. Seperti biasa, pandangan karyawan perempuan untuk Allisya tajam dan tidak bersahabat. Mereka jadi membenci Allisya karena sudah merebut calon suami masa depan mereka.
Allisya sadar kalau dia ditatap tajam oleh karyawati Kenzie. Dia mencoba tidak peduli dengan tatapan mereka. Allisya mematikan laptop nya setelah dia menyimpan data penting saat meeting tadi. Dia menyandarkan tubuhnya dikursi tempat ia duduk, memijat pelipisnya sendiri karena merasa pusing akibat semua cibiran dan tatapan tajam orang lain.
Sebenarnya, Allisya berusaha tidak peduli pada semuanya. Tapi, ia tidak bisa. Semua kata kata pedas mereka selalu terekam diotaknya. Ingin rasanya Allisya menangis sejadi jadinya karena sudah tidak tahan dengan cibiran yang mereka lontarkan setiap jam, bahkan menit. Bahkan, Allisya harus memprivate akun sosial medianya agar dia tidak mendapat cibiran lagi. Tapi, hasilnya tetap sama.
Allisya membuka matanya saat merasakan hembusan nafas hangat tepat didepan wajahnya. Dia melihat Kenzie yang tengah tersenyum, wajahnya sangat dekat dengannya. Bergerak sedikit saja, bibir mereka bersentuhan.
"Kenzie tau, Allisya, sedih. Tapi, jangan sampai jadi beban pikiran Allisya" ujar Kenzie trpat didepan bibir Allisya. "Allisya jangan merasa sendiri. Ada Kenzie. Buat apa Allisya punya pacar tapi ngga digunain"
Allisya tersenyum mendengar ucapan Kenzie. Benar juga. Buat apa dia punya pacar jika bukan untuk bertukar keluh kesah? Wanita itu mengangguk. "Maafin aku"
Kenzie menggeleng, dia menjauhkan wajahnya. Mengelus pipi Allisya pelan. "Allisya ngga salah kok. Kenzie yang salah." sekali lagi Allisya tersenyum mendengar ucapan Kenzie. "Ikut Kenzie yuk. Kenzie yakin, Allisya pasti seneng"
Allisya mengernyit bingung mendengar ucapan Kenzie. "Mau kemana?" tanyanya.
"Allisya ikut aja. Nanti juga tau" Kenzie menarik tangan Allisya lalu membawanya krluar dari ruangan meeting.
"Tapi, kita masih punya banyak pekerjaan, Kenzie" Allisya mencoba mengingatkan tapi Kenzie tidak peduli. Dia tetap menarik tangan Allisya menuju parkiran tempat mobilnya berada.
Kenzie membuka pintu mobilnya lalu menyuruh Allisya masuk. Tanpa bantahan, Allisya duduk dikursi sebelah kemudi. Walaupun bingung, dia tetap menurut.
Kenzie memutari mobilnya, lalu duduk dikursi kemudi. Dia menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran kantornya. Allisya masih menerka nerka kemana Kenzie akan membawanya.
Setelah empat puluh lima menit perjalanan, Allisya tau kemana arah mobil Kenzie berjalan. Ternyata kerumah laki laki itu sendiri.
"Ngapain sih pulang?" tanya Allisya sesaat setelah dia keluar dari mobil Kenzie. Laki laki itu hanya tersenyum.
"Kenzie pengen makan masakan Allisya sekarang" Allisya menganga mendengar ucapan Kenzie. Kalau ingin makan masakannya, dikantor kan bisa tidak perlu pulang juga.
"Mulutnya!" Kenzie mengangkat dagu Allisya membuat mulutnya tertutup. Wanita itu menggeleng, lalu menatap Kenzie kesal tapi laki laki itu malah terkekeh.
"Ayo" Kenzie menggandeng tangan Allisya, membawa wanita itu masuk kedalam rumahnya.
"Mau dibuatin apa?" tanya Allisya saat mereka berdua berada didapur.
"Terserah Allisya aja. Kenzie pasti makan kok" wanita itu mengangguk lalu mulai menyiapkan bahan bahan untuk membuat makanan kesukaan Kenzie, ah sebenarnya Kenzie menyukai semua masakan Allisya. "Kenzie tunggu ditaman belakang ya"
Allisya hanya membalas seadanya, Kenzie berjalan menuju belakang rumahnya. Dia duduk di gazebo yang ada ditaman belakang rumahnya. Menunggu Allisya selesai memasak.
Dua jam berlalu, Allista terlihat dari pintu belakang rumahnya membawa nampan berisi makanan. Wanita itu berjalan anggun menuju kearah Kenzie, senyum diwajahnya terlihat sangat cantik.
"Ini makananmu, Mr. Keenan" Kenzie tersenyum mendengar ucapan Allisya. Wanita itu duduk tepat didepannya. Mereka hanya terhalang meja kecil yang berisi makanan Kenzie.
"Dan Allisya yang bakal jadi Mrs. Keenan" Allisya mengerjap mendengar ucapan Kenzie, wajahnya sedikit bersemu merah dan senyum senyum malu terlihat diwajahnya.
Kenzie terkekeh melihat wajah Allisya. Dia mulai memakan makanan yanng dibuat oleh Allisya. Rasanya sangat pas untuk lidahnya, dan hanya makanan buatan Allisya saja yang akan jadi favoritenya.
"Lisya" Allisya mendongak, menatap Kenzie yang tadi memanggilnya. "Mau jadi milik, Kenzie?"
Allisya mengernyit mendengar ucapan Kenzie. Bukankah Allisya milik Kenzie? "Kan aku emang milik kamu, Kenzie"
Kenzie menggeleng. "Bukan gitu, maksud Kenzie. Allisya mau ngga jadi istri Kenzie?"
Pertanyaan Kenzie membuat jantung Allisya berpacu cepat. Dia tidak menyangka Kenzie akan melamarnya sekarang. "Jangan bercanda, Kenzie! Ini ngga lucu"
"Apa wajah Kenzie keliatan bercanda?" tanya Kenzie. Allisya menggeleng, Kenzie tidak terlihat sama sekali sedang bercanda. Wajah Kenzie sekarang seperti sedang mengatakan meeting, sangat tegas dan tidak ada keraguan.
"Tapi..kenapa tiba tiba?" tanya Allisya bingung. Bukan. Bukannya Allisya menolak Kenzie, tapi ini terlalu mendadak.
Kenzie bangkit, berjalan menuju Allisya yang tengah kebingungan. Dia memutar kursi yang diduduki Allisya agar berhadapan dengannya. Laki laki itu berjongkok didepan Allisya. Meletakkan kedua tangannya dipaha Allisya.
"Allisya ngga mau jadi istri, Kenzie?" tanya Kenzie, wajahnya terlihat murung dan matanya berkaca kaca. Laki laki itu akan menangis.
Dengan cepat Allisya menggeleng. Dia menangkup wajah wajah Kenzie dengan kedua tangannya. "Aku ngga nolak. Aku cuman kaget kamu bisa ngelakuin ini"
Tanpa mendung bahkan gerimis, hujan turun dengan deras. Hujan itu seolah menggambarkan suasana hati Kenzie yang tengah merasa sedih karena secara tidak langsung Allisya menolak untuk jadi istrinya. Untunglah ada atap yang membuat mereka tidak kehujanan.
"Tapi secara ngga langsung Allisya nolak Kenzie" ujar Kenzie sedikit berteriak karena suara hujan yang deras. "Allisya udah ngga sayang lagi sama Kenzie jadi Allisya nolak Kenzie"
Kenzie mengerucutkan bibirya lucu, wajahnya terlihat memerah karena sedih. Matanya juga berkaca kaca. Melihat Kenzie yang akan menangis, membuat Allisya merasa bersalah.
"Aku sayang kam-"
"Ngga! Allisya ngga sayang Kenzie. Buktinya Allisya nolak Kenzie. Apa namanya kalo ngga sayang?" tanya Kenzie, dia bangkit berdiri tepat didepan Allisya. Wajahnya terlihat kecewa bercampur sedih.
"Ngga! Aku sayang kamu kok. Jangan berfikir se-"
"Bohong! Allisya bohong kan? Kalo Allisya sayang Kenzie, Allisya ngga bakal nolak Kenzie!" bantahnya, Kenzie berbalik. Berjalan keluar gazebo. Laki laki itu berdiri tepat ditengah tengah taman, membiarkan tubuhnya terguyur air hujan.
Melihat kelakuan Kenzie membuat Allisya khawatir. Kenzie bisa sakit karena dia tidak bisa melawan hawa dingin. Dia akan demam. Tanpa banyak pikir, Allisya berlari menuju Kenzie. Menarik tangan Kenzie agar masuk kedalam rumah. Tapi, tubuh Kenzie tetap bergeming ditempatnya.
"Kenzie jangan hujan hujanan. Nanti kamu sakit" Allisya masih mencoba menarik tangan Kenzie. Nihil. Laki laki itu masih berdiri kokoh ditempatnya.
"Kenzie ngga peduli!" jawab Kenzie ketus. Dia melipat kedua tangannya didepan d**a. Menatap Allisya tajam.
Allisya semakin kalut saat melihat bibir Kenzie mulai berubah pucat. Astaga, Kenzie pasti sudah kedingin sekarang.
"Iya iya, aku mau jadi istri kamu" senyum Kenzie perlahan terlihat. "Sekarang kamu ikut--aaa"
Teriakan Allisya terdengar saat tiba tiba saja Kenzie mengangkatnya. Membawa gadis itu berputar putar dibawah guyuran hujan.
"Allisya ngga bohong kan?" tanya Kenzie memastikan. Dia masih berplutar putar.
Allisya menggeleng. "Ngga. Aku ngga bohong" Allisya memeluk leher Kenzie erat. "Turunin aku, Kenzie"
Laki laki itu menurut. Dia menurunkan Allisya, tangan wanita itu masih memeluk lehernya walaupun kakinya sudah menapak ditanah. Jantungnya masih berpacy cepat karena dia merasa kaget.
Kenzie menunduk, menempelkan keningnya di kening Allisya. Menghalangi wajah Allisya dari guyuran air hujan. Laki laki itu mengecup bibir Allisya sebentar.
"Kenzie bahagia banget hari ini" ujarnya senang membuat senyum Allisya terbit.
***