CHAPTER 6
***
"Kan aku sudah bilang. Kau itu tidak tahan dengan hujan, malah hujan hujan. Jadinya begini kan" omel Allisya saat Kenzie jatuh sakit.
Malamnya setelah Kenzie melamar Allisya, laki laki tampan itu jtuh sakit. Walaupun ada dokter pribadi keluarga Keenan, tapi Kenzie hanya mau dirawat oleh Allisya. Bahkan, Allisya yang awalnya sudah pulang ke apartemennya terpaksa harus kembali lagi kerumah mewah Kenzie hanya untuk merawat laki laki manja itu.
Kenzie mengecutkan bibirnya mendengar omelan Allisya. Dia juga terpaksa melakukan itu agar Allisya mau menjadi istrinya, tapi dia malah menjadi demam seperti ini. Jika Allisya tidak lama menjawab, Kenzie juga tidak akan terkena demam seperti ini.
"Sebentar lagi Dokter Vian dat-"
Ceklek
Pintu kamar Kenzie terbuka, menghentikan ucapan Allisya. Terlihat Dokter Vian datang dengan setelan jas dokternya. Dia tersenyum kearah Allisya. Kenzie yang melihat Allisya membalas senyuman itu merasa kesal. Senyuman Allisya hanya miliknya.
"All-"
"Kau sedang sakit. Jadi, aku sarankan jangan terlalu possesive" Kenzie memberenggut, menatap Allisya kesal. Wanita itu menggeleng, lalu mempersilahkan Dokter Vian agar memeriksa Kenzie.
Tatapan tajam Kenzie ia lemparkan ke Dokter Vian. Pandangan Dokter Vian ke Allisya berbeda, jelas saja sang Dokter tertarik dengan Allisya.
Dokter Vian jelas mengerti tatapan Kenzie. Tatapan yang mengisyaratkan kalau Allisya hanya milik Kenzie. Tapi, Dokter Vian mencoba mengabaikan tatapan itu. Dia memeriksa Kenzie dengan telaten, tatapan tajam Kenzie ia hiraukan.
Selesai memeriksa Kenzie, Dokter Vian merapikan peralatan dokternya. Dia menuliskan resep obat yang harus ditebus oleh Allisya.
"Aku sudah menuliskan resepnya. Kau bisa mengambilnya di apotek" jelas Dokter Vian, dia memberikan secarik kertas ke Allisya.
"Baiklah. Nanti aku akan mengambilnya" ujar Allisya sambil menerima kertas itu. Dia menatap kertas itu sebentar lalu tersenyum kearah Dokter Vian.
"Baiklah, aku pergi dulu" Dokter Vian berjalan menuju pinty.
"Akan aku antar" jelas Allisya yang mendapat tatapan tajam dari Kenzie. "Astaga, aku hanya sebentar Kenzie"
Tanpa memperdulikan tatapan tajam itu, dia mengantar Doker Vian keluar dari rumah Kenzie. Setelah mengantar Dokter Vian, dia menyuruh salah satu asisten Kenzie untuk membeli obat sesuai resep yang ditulis Dokter Vian.
"Kenzie marah ke Allisya!" ujar Kenzie saat Allisya kembali kekamarnya. Laki laki itu menutup seluruh tubuhnya, bahkan kepalanya dengan selimutnya.
Allisya menghela nafas, dia menutup pintu kamar Kenzie. Dia berjalan pelan kearah tempat tidur Kenzie, duduk disebelah laki laki itu dengan perlahan.
"Maafkan aku" Allisya membuka selimut yang menutupi tubuh Kenzie. Dia mengangkat kepala Kenzie agar tidur dipangkuannya.
"Allisya galak" dengus Kenzie, dia memeluk pinggang Allisya erat. Walaupun tengah kesal dengan Allisya, tapi sifat manjanya saat sakit malah bertambah parah.
Allisya mengelus rambut Kenzie perlahan. "Maaf. Aku ngga bakal lakuin itu lagi"
Kenzie hanya bergumam tidak jelas. Kepalanya terasa pusing dan berat, ditambah hidungnya juga pilek. Tubuhnya panas dan dingin secara bersamaan. Membuatnya tidak nyaman.
Allisya mengelus kening Kenzie, mengelusnya pelan dan penuh kasih sayang. Kepalanya ia tundukan untuk mengecup kening Kenzie.
Kecupan cukup lama Allisya berikan untuk kening Kenzie. Suhu tubuh Kenzie cukup tinggi sampai bibirnya terasa panas. Kecupan Allisya berpindah ke mata kiri Kenzie.
"Cepat sembuh, sayang" gumam Allisya tepat disebelah telinga kiri Kenzie membuat laki laki itu tersenyum.
Allisya terus mengelus rambut Kenzie sampai laki laki itu terlelap. Jika Kenzie sudah sakit, dia tidak akan bisa pulang keapartemennya sampai laki laki itu sembuh total.
Lama lama, mata Allista memberat. Dia tertidur dengan posisi duduk. Tangannya masih mengelus kepala Kenzie secara perlahan.
***
Pukul lima pagi Kenzie terbangun dari tidurnya. Pusing dan panas ditubuhnya belum hilang. Dia mendongak, menatap Allisya yang masih tertidur. Pasti Allisya tidak tidur dengan nyaman dengan posisi duduk.
Perlahan, Kenzie bangkit. Dia melawan rasa pusing yang menyerang kepalanya. Perlahan, dia merubah posisi tidur Allisya agar berbaring. Kenzie mengecup kening Allisya, lalu iktu berbaring disebelah Allisya. Menutup tubuh mereka dengan selimut sampai sebatas leher.
Kenzie tidak tidur lagi, dia memperhatikan wajah cantik Allisya yang tidak dilapisi oleh make up sama sekali. Kecantikan alami Allisya sangat terpancar. Tangan laki laki itu terulur, mengelus rambut Allisya dengan perlahan.
Allisya merasa terganggu dalam tidurnya, tapi ia tidak terbangun. Wanita cantik itu mendekati tubuh Kenzie, mencari kehangatan ditubuh atletis kekasihnya. Wajah Allisya tepat didepan d**a Kenzie.
Laki laki itu diam beberapa saat sampai Allisya kembali terlelap dalam tidurnya. Kenzie tersenyum, dia bahagia mendapatkan kekasih seperti Allisya. Wanita itu tidak terlalu sering meminta sesuatu pada Kenzie. Allisya gadis yang mandiri dan kuat. Dia selalu sabar menghadapi sifat Kenzie yang selalu berubah ubah.
Kenzie tersenyum tipis saat memikirkan kenangan indahnya bersama Allisya. Disaat Kenzie menyukai Allisya saat pandangan pertama, disaat Kenzie berjuang untuk mendapatkan hati Allisya. Untuk pertama dan terakhir kalinya Kenzie mencintai seorang wanita. Kenzie sangat bodoh dalam hal cinta, bahkan dia tidak pernah berpacaran selain pada Allisya. Jadi, Allisya adalah wanita asing pertama dihatinya. Dia sangat mencintai Allisya seperti dia mencintai Mamanya.
Kenzie memeluk kepala Allisya, meletakkan dagunya diatas kepala Allisya. Matanya kembali tertutup, rasanya semakin pusing saja sekarang. Tapi, dia senang karena ada Allisya disampingnya.
"Kenzie cinta sama Allisya" gumam Kenzie lirih, lalu laki laki itu kembali tertarik kedalam dunia mimpi.
***
Allisya menggeliat dalam tidurnya. Dia merasakan ada tangan yang memeluknya, perlahan mata wanita itu terbuka. Dia melihat wajah Kenzie yang sangat dekat dengannya. Allisya tersenyum, dia melirik jam yang ada diatas nakas dibelakang tubuh Kenzie. Jam sembilan pagi.
Mata Allisya membulat, dia langsung bangkit. Jam sembilan pagi? Astaga! Dia terlambat untuk datang ke kantor. Baru saja dia akan bangkit, tangan Kenzie menahan perutnya lalu menariknya agar kembali berbaring.
"Allisya jangan pergi" gumam Kenzie, matanya masih terpejam erat.
"Aku harus ke kantor, Kenzie. Kau tidak masuk, jadi sekarang aku harus masuk" Allisya mencoba menyingkirkan tangan Kenzie, tapi laki laki itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Nanti Kenzie nyuruh Damian untuk mengantarkan pekerjaan kita kesini" ujar Kenzie, dia membuka matanya perlahan. Melihat Allisya yang tengah menatapnya kesal.
"Astaga, Kenzie! Nanti semakin banyak rumor tentang kita" dengus Allisya, dia masih mencoba melepaskan pelukan Kenzie.
"Pokoknya nanti Kenzie nyuruh Damian." Kenzie menyembunyikan wajahnya dileher Allisya. "Lagian, kalo Allisya takut semakin banyak rumor. Kenzie yakin, rumornya ngga bakal buat Allisya sakit hati lagi"
Allisya mengernyit, dia tidak paham dengan maksud Kenzie. "Maksudnya?"
"Coba Allisya liat tivi!" suruh Kenzie, perlahan dia melepaskan pelukannya. Dia masih lemas, dan kepalanya masih terasa pusing.
Allisya hanya menurut, dia bangkit lalu menyalakan televisi yang ada didepan tempat tidur Kenzie. Saluran pertama yang terlihat dilayar televisi adalah tentang dirinya dan Kenzie.
Mata dan mulut Allisya membulat, itu adalah kejadian kemarin saat dia dilamar oleh Kenzie. Kenapa kejadian itu bisa menyebar? Apa Kenzie sengaja merekamnya lalu menyebarkannya, atau Kenzie sengaja mengundang wartawan untuk meliputnya? Astaga, tapi Allisya tidak melihat satupun wartas saat ditaman.
"Kenzie" panggil Allisya, dia menengok kebelakang, melihat Kenzie yang menatapnya sayu. "Bagaimana bisa?"
Kenzie tersenyum tipis. "Kenzie ngga mau Allisya sakit hati lagi. Yaudah, Kenzie manggil wartawan buat ngeliput kita. Mereka harus menyebar berita yang sebenarnya, jangan hoax lagi. Kenzie ngga mau liat Allisya sedih dan banyak pikiran lagi. Kenzie nyuruh mereka buat sembunyi, karena Kenzie yakin Allisya ngga bakal mau sampai hubungan kita diketahui banyak orang. Ya udah Kenzie lakuin diam diam"
Nafas Kenzie sedikit memburu, dia memejamkan matanya. Semoga saja tindakannya tidak salah.
"Wahh..mereka romantis sekali bukan? Mr. Keenan dan Nona Allisya memang sangat serasi. Mr. Keenan juga bilang, jangan pernah menuliskan komentar pedas pada akun media kekasihnya lagi. Mr. Keenan mengancam akan membawa mereka ke hukum jika melakukan hal itu lagi. Hm..bagaimana? Mr. Keenan benar benar suami masa depan"
Allisya berlari kearah Kenzie saat mendengar suara pengacara ditivi itu. Dia memeluk Kenzie dari belakang. Dia terus begumam terima kasih pada Kenzie karena sudah mau melakukan ini sampai laki laki itu jatuh sakit.
"Makasih. Kau memang sempurna" gumam Allisya yang mendapatkan senyum dari Kenzie.
***