CHAPTER 7
***
Kenzie sudah sembuh dari demamnya, dan tentu saja selama satu minggu Kenzie tidak mau jauh jauh dari Allisya. Wanita itu harus ada disebelahnya, kapan dan dimanapun. Bahkan, Allisya terpaksa membawa pekerjaannya ke rumah mewah Kenzie. Segala meeting penting bahkan harus Allisya batalkan karena dia tidak boleh datang ke kantor untuk menggantikan Kenzie.
Laki laki itu akan merengek manja jika Allisya berjarak satu meter didekatnya. Kenzie akan tiba tiba sedih, bahkan matanya sampai berkaca kaca jika Allisya mendiamkannya. Dia tidak mau Allisya sampai pergi dari hidupnya.
Dan disinilah mereka, didalam pesawat pribadi milik keluarga Keenan. Mereka akan berkunjung ke Indonesia untuk melakukan kunjungan bisnis dengan salah satu perusahaan sukses disana.
"Allisya, tidur. Perjalanan kita masih panjang" Kenzie menarik kepala Allisya agar bersandar dibahunya.
"Aku tak nyaman" balas Allisya, dia memeluk lengan kiri Kenzie dengan erat. Benar, tidur sambil duduk memang tidak nyaman. Dia tidak bebas.
Kenzie yang mendengar itu tersenyun, dia bangkit lalu mengangkat tubuh Allisya. Wanita itu merasa lelah karena satu minggu menjaga Kenzie dan sekarang mereka harus langsung pergi ke Indonesia yang jaraknya tidak dekat.
Karyawannya yang ikut pergi ke Indonesia, tersenyum melihat bos mereka yang sangat perhatian ke Allisya. Wanita itu hanya diam saja saat Kenzie mengangkat tubuhnya, dia lelah. Ingin tidur.
Kenzie membawa Allisya ke ksmar yang ada dipesawat itu. Dia membaringkan Allisya ke kasur yang ada dikamar itu. Wajah Allisya sedikit pucat membuktikan kalau wanita itu sedang lelah. Kenzie melepaskan flat shoes yang dipakai Allisya, wanita itu memang tidak menyukai sepatu wanita yang hak nya tinggi. Katanya membuat kakinya sakit. Alhasil Allisya hanya memakai flat shoes atau tidak yang menggunakan sepatu yang haknya tidak terlalu tinggi.
Kenzie melepas sepatu dan jas nya lalu ia lemparkan kesofa yang ada dikamar itu. Dia ikut berbaring disebelah Allisya. Memeluknya erat layaknya bantal guling. Allisya merasa nyaman didalam pelukan Kenzie, dia semakin merapatkan tubuhnya pada Kenzie.
"Aku mencintaimu" gumam Allisya lirih, dia mulai masuk kedalam alam mimpinya.
***
"Senang berbisnis dengan, Anda. Saya harap kita bisa menjalin kerja sama dengan baik" ujar Kenzie dengan bahasa Indonesia yang fasih. Dia memang menyukai Indonesia, dulu waktu kecil dia sering datang ke Indonesia bersama orang tuanya dan kakaknya. Jadilah dia fasih berbahasa Indonesia.
"Tentu saja. Saya sangat senang bekerja sama dengan perusahaan Anda" balas Andi, pemilik perusahaan Wijaya corp, yang bekerja sama dengan Kenzie.
Allisya hanya tersenyum, dia tidak tau bahasa apa yang mereka gunakan. Karena, Allisya hanya baru dua kali datang ke Indonesia. Dia hanya tau arti dari 'terima kasih' yang lainnya dia tidak tau. Kenzie saja yang tidak pernah mengajarkannya bahasa Indonesia.
"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu. Terima kasih atas kerja samanya" Kenzie menjabat tangan Andi yang diterima langsung oleh laki laki berkepala tiga itu.
Allisya mengikuti apa yang dilakukan oleh Kenzie. Selesai dengan urusan bisnisnya, Kenzie membawa Allisya beserta lima karyawannya keluar dari cafe yang tadi ia gunakan untuk meeting bersama.
Kenzie menyuruh Allisya masuk kedalam mobil yang terparkir didepan cafe. Lalu dia masuk kedalam mobil itu. Sedangkan kelima karyawannya masuk kedalam mobil yang berbeda.
Sebenarnya Kenzie harus dua hari di Indonesia, tapi karena dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, alhasil dia sudah selesai. Sekarang dia akan mengajak Allisya ke Bali. Tempat favorite nya saat di Indonesia.
"Kenzie mau ajak Allisya ke Bali, mau?" tanya Kenzie.
Allisya mengernyit, kenapa tiba tiba Kenzie mengajaknya ke Bali? Bukankah mereka harus pulang ke Inggris dan kembali bekerja?
"Kita harus pulang Kenzie. Banyak pekerjaan menumpuk" Kenzie mengerucutkan bibirnya mendengar penolakan Allisya.
"Ngga mau tau! Intinya Kenzie mau ke Bali sama Allisya" Kenzie melipat tangannya didepan d**a, wajahnya terlihat kesal tapi matanya berkaca kaca.
Allisya menghela nafas, dia hanya bisa mengangguk. "Baiklah"
Wajah Kenzie berubah senang, senyumnya terlihat sangat senang. Dia memeluk Allisya lalu menghujami wajah wanita itu dengan kecupannya. Tidak peduli oada supir mobil yang mereka tumpangi bisa melihat kelakuan mereka.
"Kenzie makin sayang sama Allisya" ujar Kenzie senang membuat Allisya tersenyum.
Dan disinilah mereka, berada di Bali setelah melakukan perbangan yang tidak mencapai waktu sehari. Allisya berada dipantai yang tidak tau pantai apa. Dia hanya mengikuti Kenzie.
Walaupun keadaan sudah sore, pantai masih sangat ramai. Kenzie mengajak Allisya duduk dikursi yang ada disana. Dia memperhatikan Allisya yang tengah fokus dengan pantai yang sangat indah.
Wajah Allisya yang cantik ditambah pemandangan pantai yang indah, membuat Kenzie semakin cinta dengan Allisya. Dia tersenyum, betapa beruntungnya dia memiliki kekasih secantik dan sebaik Allisya.
"Cantik" Allisya menengok ke Kenzie, dia tidak mengerti dengan ucapan Kenzie yang menggunakan bahasa Indonesia.
"Jangan pakai bahasa Indonesia! Aku tidak tau!" omel Allisya yang membuat Kenzie terkekeh.
Kenzie bamgkit, dia menarik tangan Allisya agar ikut bangkit. Sekarang mereka berdiri ditepi pantai, Kenzie membawa Allisya lebih dekat dengan bibir pantai. Membiarkan kaki mereka terkena air laut.
"Allisya, Kenzie mau minta maaf jika Kenzie selalu buat Allisya kesal. Maaf karena selalu buat Allisya lelah karena harus ngerawat Kenzie kalo Kenzie sakit. Tapi, Allisya tau. Kenzie ngelakuin itu supaya Kenzie ngga kehilangan Allisya. Kenzie sayang banget sama Allisya." laki laki itu mengelus pipi Allisya. "Kenzie sedetik pun ngga mau kehilangan Allisya. Ngga mau!"
Langit mulai berwarna jingga, menandakan matahari sebentar lagi akan tenggelam. Kenzie semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Allisya. Bahkan sekarang tidak ada jarak sama sekali dalam tubuh mereka.
"Kenzie tanya lagi, Allisya bener bener mau jadi milik Kenzie sepenuhnya? Allisya beneran mau sama Kenzie yang childish gini? Apa Allisya hanya kasihan sama Kenzie?" pertanyaan beruntut itu Kenzie lontarkan. Dia tidak mau memaksa Allisya untuk bersamanya atau wanita itu akan merasa tersiksa. "Kenzie ngga mau maksa Allisya lagi. Kenzie takut kalau Kenzie maksa Allisya nanti Allisya ngga bahagia sama Kenzie. Biar All-"
"Aku ngga terpaksa buat jadi milik kamu Kenzie. Aku bahagia sama, bahkan aku sangat bahagia. Kamu ngga maksa aku, aku yang mau jadi milik kamu" ucapan Allisya membuat Kenzie tersenyum.
Kenzie mengeluarkan kotak beludru berwarna merah dari sakunya. Dia membukanya lalu memperlihatkannya pada Allisya. Jantung Allisya langsung berpacu cepat saat melihat isi kotak beludru itu. Sebuah cincin dengan ukiran nama Kenzie.
Kenzie tersenyum, dia mundur selangkah. Berjongkok didepan Allisya. Dia mendongak. "Allisya mau kan jadi tunangan Kenzie?"
Allisya mengerjap, wajahnya berubah merah dan jantungnya berpacy cepat. Dia membalas tatapan penuh harap Kenzie. Perlahan, dia mengangguk. "Aku mau"
Kenzie tersenyum lebar, dia memasngkan cincin itu dijari Allisya. Terlihat sangat indah jika Allisya yang memakainya. Laki laki itu bangkit, lalu mencium bibir Allisya telat saat matahari benar benar tenggelam.
Allisya yang awalnya kaget langsung membalas ciuman Kenzie. Mengalungkan tangannya dileher Kenzie. Mereka tidak peduli kalau banyak yang memperhatikan mereka dengan perasaan iri.
Walaupun sederhana, tapi Allisya sangat bahagia. Allisya tidak perlu yang terlalu wah, yang jelas disaat Kenzie disebelahnya saja Allisya sudah sangat bahagia. Wanita itu melepaskan ciumannya, nafas mereka memburu. Tatapan mereka saling mengunci.
Kenzie menempelkan keningnya pada kening Allisya. Senyumnya tidak hilang sama sekali. Dia memeluk pinggang Allisya erat, bahkan sangat erat seolah jika Kenzie melepaskan pelukannya Allisya akan pergi dari hidupnya.
"Ngga ada yang lebih bahagia dari hari ini" gumam Kenzie. Lalu dia kembali menempelkan bibirnya lada bibir Allisya.
Allisya tersenyum tipis disela sela ciuman Kenzie. Dia bahagia bersama Kenzie. Walaupun kadang kadang sifat Kenzie menjengkelkan, tapi rasa cinta dan sayangnya pada Kenzie sangat besar. Dia bahagia. Bahkan sangat.
***