Seminggu berlalu, tidak ada hal yang berarti terjadi. Selain Dean yang memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Dean terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara berisik. Dean merasa suara tersebut ada dikamar seberang kamarnya. Dean keluar dari kamar nya dan langsung membuka pintu kamar seberang.
“Lo ngapain disini!!” tanya Dean saat melihat wujud yang sama sekali tidak pernah diundangnya untuk datang ke Apartement nya, dia adalah Chika.
Chika menoleh pada Dean dengan wajah cerah dan senyum yang sangat manis. “Kak Dean.” Panggil Chika bersemangat.
“Gak usah senyum-senyum Lo!” ujar Dean mematahkan senyum yang cerah itu. “Jawab pertanyaan gua. Ngapain disini?” tanya Dean mengulang pertanyaannya.
“Chika bosen dirumah.” Ujar Chika dengan bibir yang dimajukan beberapa centi ke depan.
“Jadi kalau Lo bosen?”
“Chika mau main kesini.” Ujar Chika denagn senyum yang kembali terbit di bibirnya.
Dean menyatukan alisnya.
“Kata kak---.”
“Jangan sebut kakek di apartemen gua.” Ujar Dean memotong Chika yang hendak mengatakan kata-kata yang keluar dari mulut Kakek, bekingannya.
“Kenapa?” tanya Chika dengan muka polos.
“Ikutin aja kalau gak mau diusir.” Ujar Dean malas untuk berdebat mengapa hal itu tidak boleh pada Chika.
“Kenapa kakek gak boleh?” tanya seoarang laki-laki dibelakang Dean.
Dean menolehhkan pandangannya ke belakanganya. “Ka-kakek.” Panggil Dean dengan nada gugup.
“Kenapa?” tanay Kakek dingin.
“Gak ada.” Ujar Dean lalu pergi meninggalkan kedua orang tersebut untuk pergi ke dapur.
“Chika, kakek pulang dulu ya.” Pamit Kakek pada Chika.
“Yah kok cepat kek.” Ujar Chika sedih.
“Karna Dean udah bangun, jadi kakek gak khawatir sama kamu.” Ujar Kakek tulus.
Chika memanyunkan bibirnya beberapa centi kedepan. Chika sangat benci dikhawatirkan seperti ini. Baginya dia bukan anak kecil yang harus dikhawatirkan. Namun bagi semua orang kecuali Dean tentunya, Chika adalah anak kecil yang selalu di khawatirkan setiap gerak-geriknya.
“Kakek hati-hati.” Ujar Chika tulus.
“Iya, kalau ada apa-apa----.”
“Chika bilang sama kak Dean.” Ujar Chika memotong ucapan kakek sambil nyengir.
Kakek buyut tersenyum pada Chika. “Anak pintar.” Ujar Kakek sambil mengelus rambut Chika.
“Iya dong, Chika gitu.” Bangga Chika dengan senyum cerahnya.
“Yaudah kakek pergi ya.” Ujar Kakek.
“Iya kakek.” Jawab Chika sambil melambaikan tangannya pada Kakek yang kini sudah berada di ambang pintu.
Setelah menutup pintu kamar Chika, Kakek pergi menghampiri Dean yang sedang berada di dapur.
“Dean.” Panggil Kakek.
“Iya, Dean jaga.” Ujar Dean seakan tau apa yang akan di perintahkan Kakeknya pada dirinya.
“Hmm?”
“Mau nyuruh buat jagain Chika kan?” tanya Dean sambil emantap Kakeknya dingin.
Kakek hanya diam seakan mengiyakan itu adalah hal yang ingin di ucapkannya.
“Iya Dean jagain. Kakek tenang aja.” Sambung Dean lagi.
“Chika akan nginap disini seminggu.” Ujar Kakek dnegan naada santai.
“Iya----.” Dean memeotong kalimatnya dan menatap Kakek dnegan mata yang membelalak lebar.
“Haa?” tanya Dean tak sanggup berkata-kata.
“Orang tua Chika sedang keluar negri. Dan Chika bosan dirumah nya, jadi dia minta kesini.” Jelas Kakek membuat Dean menggelengkan kepalanya.
“Kek.”
“Kakek pikir ada baiknya kalau dia disini.” Ujar Kakek mengabaikan panggilan Dean.
“Satu kalian bisa pendekatan. Yang kedua, kamu gak perlu bolak balik kalau dia hilang.” Sambung Kakek menjelaskan.
“Biar hilang sekalian aja.” Ujar Dean dengan nada pelan.
“Dean!” tegur Kakek tegas.
“Iya iya!”
“Jaga Chika yang benar.”
“Hmm.”
“Dean!”
“Iya kek iya.” Ujar Dean dengan nada jengah.
“Jangan kasar sama Chika.” Ujar Kakek membuat Dean memutar matanya malas.
“Tau.”
“Yaudah kakek pulang.” Pamit Kakek.
“Dean malas ngantar.” Ujar Dean dengan wajah malasnya.
“Cucu durkaha.”
“Kalau Dean durkaha, kakek mana ada sampai sekarang.” Ujar Dean menjawab cercaan Kakeknya.
“Dean.”
“Pintu keluar disebelah situ.” Ujar Dean sambil menunjuk pintu keluar Apartementnya.
“Hati-hati.” Ujar Dean singkat lalu pergi ke kamarnya lagi.
Kakek hanya tersenyum melihat punggung Dean. “Sok dingin. Padahal hang----.” Ucapan Kakek terpotong dan senyum itu mendadak hilang. Karna seseorang yang menghampiri nya.
“Ada apa?” tanya Kakek dengan nada dingin.
“Tolong, tolong, tolong Dean.” Ujar orang yang hanya bisa dilihat Kakek saat ini, dia adalah Lauren.
Kakek mengernyitkan dahinya. “Apa maksud kamu?” tanya Kakek bingung.
“Pembunuh itu. Dia datang lagi. Kali ini dia mengincar C----.”
Ucapan Lauren terpotong karna kedatangan Dean.
“Belum pergi?” tanya Dean saat menatap Kakeknya menatap lurus kearahnya, namun bukan menatap dirinya.
Kakek langsung mengalihkan pandangan nya pada Dean. Bersamaan dengan menghilangnya Lauren.
“Hmm?” gumam Kakek.
“Katanya mau pulang.” Ujar Dean sambil menatap
“Iya ini mau pulang.” Ujar Kakek setelah berdehem pelan.
“Hmm.” Gumam Dean.
“Kakek pulang dulu.” Pamit Kakek lagi, Dean kembali bergumam menjawab Kakaeknya.
Kakek mengarahkan kakinya keluar dari apartemen Dean. Suara Lauren masih terngiang-ngiang oleh nya. Otaknya memikirkan banyak hal, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi kedepannya.
“Siapa yang diincarnya? Aku harus segera bertindak. Aku tidak akan membiarkan Dean kehilangan lagi kali ini.” Batin Kakek sembari menatap pintu Apartement dean.
=====
Disisi Dean, Dean masuk lagi kekamar yang ada Chika.
“Lo udah sarapan.” Tanya Dean begitu dia masuk kedalam kamar yang kini menjadi kamar sementara Chika.
“Hmm?” gumam Dean sambil menoleh pada Dean dan menatap Dean lurus.
“Apa Lo ngeliatin gua kayak gitu?” tanya Dean malas menjadi bahan tontonan Dean.
“Sini deh kak.” Panggil Chika sambil melambaikan tangannya meminta Dean mendekat padanya.
“Enggak!” ujar Dean cepat.
“Kenapa?” tanya Chika bingung.
“Gua udah bilang kan. Gua sama sekali gak percaya sama kemurnian otak Lo. Gua yakin kalau gua kesana, Lo bakal grepe-grepe gua.” Ujar Dean mengutarakan pemikirannya pada Chika.
“Ihhh enggak kok.” Ujar Chika tak terima di fitnah oleh Dean.
“Gak percaya gua. Mending Lo jawab aja pertanyaan gua.” Ujar Dean.
“Apa?” tanya Chika kesal.
“Lo udah sarapan?” tanya Dean mengulang pertanyaannya saat pertama kali masuk kedalam kamar ini.
“Belum. Chika sengaja gak sarapan tadi. Biar sarapan bareng kakak.” Ujar Chika sambil tersenyum cerah.
“Mau sarapan apa Lo?” tanya Dean mengabaikan ucapan bucin yang ada di akhir kalimat Chika.
“Hmm. Chika mau salad aja.” Ujar Chika sambil menatap Dean. “Tapi 2 ya.” Lanjut Chika membuat Dean mengernyitkan dahinya.
“Untuk apa 2?” tanya Dean.
“Rahasia.”
“Gak jelas Lo.” Ujar Dean.
“Biarin.”
Dean yang mals harus berdebat dengan Chika langsung pergi dari kamar tersebut dan kembali ke dapur. Dean memanggang roti untuknya dan membuat salad untuk Chika.
30 menit kemudian. Dean melihat sekelilingnya.
“Gini nih kalau dapatnya bocah. Gua yang ngurus, bukan gua yang diurusin. Gua buat sarapan, bukannya ikut malah tidur-tidur dikamar.” Ujar Dean ngedumel panjang lebar.
Setelah puas ngedumel. Dean memanggil Chika kekamar itu. Tapi Dean berhenti dan memperhatikan Chika dari pintu. Chika sedang bicara dengan seseorang. Tapi hanya Chika yang melihat lawan bicaranya.
“Chika bingung deh. Chika udah berusaha terlihat sexy, tapi kak Dean masih belum mau liat Chika.” Ujar Chika degnan wajah manyun.
“Kira-kira kenapa ya, kamu tau gak?” lanjut Chika bertanya.
“Nanya langsung sama gua biar dapat jawabannya. Bukan sama hantu.” Ujar Dean yang sedari tadi sudah berdirri diambang pintu sambil bersedepak.
Chika yang sedang fokus menatap Sica, makhluk kecil yang menjadi temannya sejak dirinya masih kecil terperanjat kaget mendengar suara Dean.
“Kak Dean!” pekik Chika dengan nada yang lucu.
Dean menaikkan alisnya. “Apa?” tanya Dean.
“Kak Dean udah dari kapan disana?” tanya Chika dnegan wajah malunya.
Dean jalan mendekat pada Chika dan berhenti di depan Chika.
“Dari Lo curhat sama hantu.” Ujar Dean begitu dirinya sampai di hadapan Chika.
“Ihh kak Dean gak sopan!” ujar Chika terpekik lucu.
Dean menatap Chika yang sedang menatapnya dengan tatapan kesal, dengan rambut yang tidak tersusun rapi memberi kesan sexy pada wanita berumur 19 tahun tersebut.
Dean merapikan rambut Chika, kemudian mengikatnya keatas. Chika hanya diam menatap Dean melakukan hal yang baru bagi dirinya.
“Ayok sarapan.” Ajak Dean.
“Kok kakak jadi lembut sama Chika?” tanya Chika dengan wajah polos.
“Gua lagi good mood. Lagi malas marah-marah.” Ujar Dean yang sepertinya benar-benar sedang good mood.
“Hmm, padahal tadi baru marah-marah.” Ujar Chika yang tidak paham akan situasi.
“Chika.” Tegur Dean.
Chika menatap Dean dengan wajah cerahnya dan tersenyum memamerkan gigi rapinya. “Ayok sarapan.” Ujar Chika sembari berdiri dan langsung mengandeng tangan Dean.
“Gak pake gandeng tangan.” Ujar Dean melepaskan tangan Chika dari apitannya.
“Chika pinjem tangannya bentar!” ujar Chika menagmbil lagi tangan besar milik Dean dan mengapitnya erat.
Dean tersenyum singkat melihat Chika, lalu berdehem pelan. “Yaudah, karna gua lagi good mood, gua pinjemin.” Ujar Dean dengan nada sok tegas.
“Yeeey.” Girang Chika kesenangan mendengar persetujuan Dean.
“Lucu.” Ujar Dean dalam hatinya.
Keduanya pergi kemeja makan sambil gandengan tangan. Mau pergi makan ala nyebrang ceunah.
Dimeja makan, Chika melepas tangan Dean dengan sendiri nya. Chika meletakkan salad yang satu didepannya dan yang salad satunya lagi dikursi sebelahnya. Dean hanya melihat sambil mengernyit bingung.
“Tuh salad buat kamu.” Ujar Chika saat meletakkan salsd di sebelahnya, di meja tanpa penghuninya.
“Kak Dean baik kan?” lanjut Chika tanpa memperdulikan Dean yang tengah kebingungan akan situasi saat ini.
“Ngomong sama siapa Lo?” tanya Dean mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
“Sica.” Jawab Dean sambil menatap Dean.
“Sica?” tanya dean bingung.
“Iya namanya Sica.” Ujar Dean.
“Chika, lihat gua.” Pinta Dean yang langsung dituruti oleh Chika.
“Kenapa kak?” tanya Chika lembut.
“Lo nyuruh gua buat 2 salad untuk hantu satunya?” tanya Dean dengan wajah yang sangat hati-hati, takut menyingung perasaan hantu yang akan memakan salad buatannya itu.
“Ihh Sica bukan hantu.” Ujar Chika tak terima.
“Kalau bukan hantu mana wujudnya?” tanya Dean membuat Chika kesal.
“Nih disebelah aku.” Ujar Chika menunjuk kursi dimana Sica berada.
“Gak ada siapa-siapa disitu.” Ujar Dean tak mau kalah.
Chika diam, Dean benar, Sica adalah hantu. Dean tidak bisa melihat Sica seperti dirinya.
“Lain kali jangan bawa hantu kesini!” ujar Dean memanfaatkan waktu saat Chika terdiam tak bisa berkutik melawan Dean.
“Ihhh Chika bilang Sica bukan hantu kak Dean!” ujar Chika yang masih berusaha meyakinkan Dean bahwa Sica bukan hantu. Meski dia sadar jika Sica adalah hantu.
“Jadi apa kalau bukan hantu?”
“Kakak cuman gak bisa lihat aja.”
“Itu namanya hantu!”
“Enggak! Kalau hantu wujudnya jelek! Sica enggak.” Ujar Chika dengan nada yang sangat percaya diri.
Dean menaikkan alisnya.
“Sica temen aku. Satu-satunya teman yang aku punya. Dia juga yang ngejaga aku dari dulu, sebelum ketemu kakak.” Ujar Chika dengan nada yang terdegar sangat melankolis.
Dean melipat tangannya di dadanya. “Kenapa gak minta jagain sama dia terus aja Lo?” ujar Dean menyindir Chika.
“Dia sekarang sering main sama temen-teman seusia dia. Jadi dia jarang jaga aku.” Ujar Chika.
“Berapa umurnya?” tanya Dean.
“5 tahun.”
“Seumuran Lo berarti?” ujar Dean bertanya.
Chika menganggukkan kepalanya.“Tapi dia gak mau ngaku Chika 5 tahun. Karna Chika udah besar.” Ujar Chika murung.
“Jadi kenapa Lo bawa dia kerumah gua?” tanya Dean.
“Karna dia gak percaya kalau kakak orang baik. Dia gak mau Chika sama kakak, kalau kakak orang jahat.” Ujar Chika memberi penjelasan.
“Jadi kalau gua jahat?”
“Dia bakal gangguin kakak.
“Sialan.” Batin Dean.
“Itu sekarang dia suka sama gua gak?” tanya Dean mulai takut dengan keberadaan hantu kecil bernama Sica tersebut.
Chika melihat Sica sejenak dan kembali menoleh pada Dean. “Lumayan katanya.” Ujar Chika.
“Cuman lumayan?” batin Dean tidak terima.
“Katanya saladnya enak.” Sambung Chika namun tidak membuat suasana hati nya membaik seperti sebelumnya.
Dean melihat salad yang disebut Chika untuk Sica.
“Dia udah makan salad nya?” tanya Dean bingung..
“Udah, udah mau habis.” Ujar Chika sambil mengunyah salad miliknya juga.
“Kenapa gua liatnya masih banyak?” tanya Dean sambil emnatap Salad yang ada di piring tersebut.
“Karna kakak gak liat Sica. Dimata kakak saladnya masih penuh, tapi sebenarnya udah dimakan Sica.” Ujar Chika menjelaskan.
“Cara buktiinnya?” tanya Dean yang mulai penasaran akan dunia hantu Chika.
“Rasa saladnya jadi gak hambar.” Ujar Chika.
“Oohh..”
“Obrolan gua jadi aneh kalau sama nih bocah. Dan begonya gua, kenapa malah gua ladenin.” Batin Dean.
“Kak Dean.” Panggil Chika.
“Hmm.” Gumam Dean.
“Sica bilang makasih.” Ujar Chika membuat Dean kembali mengalami syok.
“Haa? Gua harus jawab?” tanya Dean kembali tersearak syok dadakan.
Chika mengangguk pelan.
“b**o gua.” Batin Dean.
“Kak Dean.” Panggil Chika.
“Iya, sama-sama.” Ujar Dean sambil tersenyum canggung.
Chika mengalihkan pandangannya pada Dean. Tak lupa sambil mengeluarkan senyum lebar seperti biasa.
“Kenapa Lo senyum-senyum?” tanya Dean mulai curiga pada Chika.
“Gak papa.”
“Chika!”
“Chika cuman senang.”
“Senang apa?” tanya Dean heran.
“Kakak percaya sama Chika.” Ujar Chika dengan senyum cerahnya.
“Jangan bilang yang tadi ngarang bebas Lo?” tanya Dean mulai curiga.
“Enggak kok kak. Chika beneran soal Sica.” Ujar Chika dnegan nada seirus.
Dean hanya diam.
“Nanti deh, kapan-kapan Chika ceritain soal Sica.” Sambung Chika.
“Gak mau dengar gua.” Tolak Dean cpeat.
“Kok gitu?!” tanya Dhika.
“Makan salad Lo. Gua mau keluar.” Perintah Dean.
“Kemana?”
“Kerumah temen gua.”
“Ikut.” Pinta Chika dengan puppy eye.
“Karna Lo ada makanya gua mau kesana.” Ujar Dean.
“Kenapa ada Chika?” tanya Chika bingung.
“Temen gua pengen kenalan sama Lo.” Ujar Dean malas.
“Siapa?”
“Liat aja nanti.”
“Cewek atau cowok?” tanay Chika membuat Dean menatap Chika dengana tatapan tajam.
“Kalau cowok kenapa? Lo mau sama dia?” tanya Dean dengan tatapa yang mengintimidasi.
“Enggak. Chika mau sama kakak aja.” Ujar Chika tersneyum lebar pada Dean.
“Bucin!” batin Dean kencang.
“Makan Lo. Habis itu ganti baju.” Perintah Dean. “ Gua gak mau Lo pergi baju kayak gitu.” Sambung Dean lagi.
“Iya, Chika tau. Chika cuman boleh pake baju yang kayak gini didepan kakak aja. Gak boleh didepan orang lain.” ujar Chika sambil mengunyah sayuran yang ada didepannya.
“Pinter.”
Chika tersenyum senang mendapatkan puian dari Dean. Setelahnya Chika dan Dean makan dengan tenang..
=====
3 jam kemudian, Dean dan Chika sudah dirumah Ken.
“Kak Dean.” Panggil Chika.
“Hmm.”
“Ini rumah siapa?” tanay Chika sambil memperhatikan rumah yang ada di depannya.
“Kenapa?” tanya Dean. “Ada hantu?” tanya Dean asal.
“Ada.”
“Sumpah Lo? Dimana nya?” tanya Dean seirus. Berharap jika ini akan jadi bahan yang pas untuk menakut-nakuti Clara atau Dheera.
Chika menunjuk Dean, lebih tepatnya menunjuk belakang Dean. Tepatnya lagi, Chika menunjuk Lauren. Dean menatap Chika dnegan tatapan datar tanpa ekspresi.
“Gua udah serius juga.” Ujar Dean kesal.
Chika tersneyum lebar menunjukkan deretan giginya. “Chika lebih serius padahal. Tapi Chika dilarang buat ngomongin kak Lauren sama kakek.” Ujar Chika dalam hati.
“Ayok masuk.” Ajak Dean.
Chika hanya mengangguk mengiyakan. Keduanya pun masuk kedalam. Didalam sudah lengkap, mereka sudah menunggu kehadiran Dean.
“Ngapain Lo pada udah duduk rapi gitu?” tanya Dean dengan kedua alis yang menyatu.
“Menyambut tamu.” Ujar Clara dnegan nada yang lembut, tak seperti biasanya saat Dean datang.
“Gua?” tanay Dean sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Yaenggak lah.” Jujur Darel dan mendapatkan anggukan dari Clara, Dheera dan Ken yang berada disana. “Calon istri Lo.” Sambung Darel lagi.
“Rel.” Tegur Dean dengan tatapan tajam.
“Sumpah gua. Tanya dheera.” Ujar Darel yang langusng mendapat anggukan dari Dheera.
“Iya dheera minta mereka duduk rapi, buat menyambut tamu.” Ujar Dheera semangat.
“Istri Lo Ken?” tanya Dean mencoba menjatuhakan Dheera.
“Iya istri gua.” Ujar Ken yang tidak mengerti maksud Dean.
“Langsung ngakuin.” Ujar Dean kecewa.
“Apapun bentuk dheera gua ngakuin, mau dia alay, lebay dia tetap istri gua.” Ujar Ken yang mengerti maksud Dean sebelumnya apa.
“Ken.” Oanggil Dheera dengan tatapan berbinar-binar.
“Biasa aja dhee.” Ujar Ken menjatuhkan Dheera yang sedang senang di bela oleh dirinya.
Dheera mengendus kesal dan menatap tajam orang yang menjadi suaminya tersebut.
“Bucin Lo!” ujar Dean mencerca Ken.
“Bucin keorang yang tepat gak papa.” Ujar Ken tak mau disalahkan.
“Serah Lo dah.” Ujar Dean pasrah. Selanjutnya mata Dean beralih pada Clara yang tidak seperti biasanya. “Tumben Lo diam Cla.” Tanya Dean to the point.
“Hmm.” Gumam Clara. “Gua lagi mikir.” Ujar Clara setelahnya.
“Sok bisa mikir lo?”
“Gua bisa yan!”
“Mikir apa sih bumil?” tanya Dean dnegan nada lembut.
“Kok dia gak Sexy hari ini.” Ujar Clara sembari menunjuk Chika. “Putus asa dia buat dapatin Lo?” sambung Clara.
“Cla.”
“Chika?” tanya Chika yang merasa menjadi obrolan sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Hmm, Lo.” Ujar Clara.
“Kak Dean gak bolehin Chika pake baju sexy.” Ujar Chika jujur dnegan polosnya.
Darel dan Ken mengangkat sebelah alisnya, begitu juga dnegan Clara. “Kesambet apa Lo yan?” tanya Clara.
“Gak ada. Gak suka aja.” Ujar Dean jujur.
Darel dan Ken saling tatap-tatapan. Pasalnya baru kali ini Dean melakukan hal itu lagi. Melarang pasangannya berpakaian sexy. Dean hanya melakukan hal itu pada Lauren dan sekarang Dean melakukan nya lagi.
“Hmm gitu ya.” Ujar Clara.
“Hmm.”
“Btw Lo gak mau ngenalin calon istri Lo ke kita?” tanya Darel mengalihkan pembicaraan.
“Pengen banget Lo?” tanya Dean ingin memancing keributan rumah tangga temannya.
“Enggak. Gunanya Lo kesini apa kalau bukan itu?” tanya Dean yang tidak paham jika ada jebakan dibalik pertanyaan Dean padanya.
“Alasannya sempurna bapak Darel.” Ujar Dean melempar umpan.
“Gak usah memancing pertengkaran rumah tangga Dean!” ujar Clara menghentikan perperangan sebelum berperang.
“Siap bumil siap.” Ujar Dean patuh.
Dean melihat Chika belum berdehem.
“Kenalin gaes ini Chika calon istri gua.” Ujar Dean dnegan nada yang terbilang sangat santai.
Chika menoleh pada Dean dnegan tatapan aneh.
“Hmm Chik, kenalin ini temen-temen gua.” Ujar Dean mengenalkan teman-temannya pada Chika.
Chika hanya diam.
“Yang itu dheera.” Ujar Dean sambil menunjuk dheera.
“Halo Chika.” Sapa Dheera sambil tersenyum pada Chika.
“Hai kak dheera.” Sapa Chika balik.
“Yang, dheera dipanggil kak.” Bisik Dheera kegirangan karna dipanggil kakak.
“Iya aku dengar.” Ujar Ken pelan.
“Yang sebelahnya Ken, suami nya dheera.”
“Hai kak Ken.” Sapa Chika sambil tersneyum, Ken hanya tersneyum singkat membalas spaan Chika.
“Yang sebelahnya lagi darel.” Ujar Dean menunjuk Darel yang tangannya tengah digenggam oleh Clara.
“Hai kak darel.” Sapa Chika. Darel hanya tersenyum singkat membalas spaaan tersbut, sama seperti Ken.
“Kalau yang terakhir kak Clara.” Ujar Chika sambil tersenyum.
“Iya, itu Clara.”
“Kok Lo tau?” tanya Clara kaget.
“Kan kakak udah pernah kerumah Chika.” Ujar Chika sambil tersneyum.
“Tapi kita gak kenalan.”
“Hmm, Chika dengar nama kakak dari kak Dean waktu itu.” Alibi Chika.
“Hmm. Jadi gua perlu bilang hai gak?” tanya Clara pada Chika.
“Hmm, hai kak Clara.” Sapa Chika canggung.
“Dean.” Panggil Clara yang hanya dibalas gumaman kecil oleh Dean.
“Lo ngapain dikehidupan sebelumnya?” tanya Clara random.
“Mana gua tau Cla. Kenapa?” tanay Dean sambil menatap temannya itu.
“Kenapa Lo bisa dapat istri gemes kayak dia.” Ujar Clara yang sangat bersemangat. “Halo juga Chika.” Sapa Clara setelahnya.
“Gua kira apaan.” Ujar Dean sambil mengehela nafas lega.
Clara hanya tertawa melihat ketegangan Dean.
“Duduk Chika.” Ujar Clara menawarkan pada Chika.
“Dia doang Cla? “Gua?” tanay Dean.
“Lo berdiri aja.” Ujar Clara dingin. “Duduk disini Chik.” Ujar Clara lagi.
Chika duduk sambil melihat kearah Dean. “Duduk aja.” Ujar Dean.
“Iya Chika duduk aja. Gak ada yang makan orang kok disini, kecuali Dean.” Ujar Dheera yang mendapat anggukan dari Clara..
“Gak usah fitnah gua dhee.” Ujar Dean.
“Dheera gak lagi hamil, jadi gpp ngehina Dean.” Ujar Dheera sambil tersenyum senang.
“Motivasi Lo aneh.” Cerca Dean.
“Biarin.”
“Kak Clara.” Panggil Chika.
“Iya?”
“Kakak udah berapa bulan?” tanya Chika sambil menunjuk perutnya.
“Hmm 5 jalan 6. Kenapa?” tanya Clara.
“Gpp, Chika pengen tau aja. Chika mau datang nanti buat liat dedek bayinya.” Ujar Chika dengan nada lembut.
“Hmm harus datang emang.” Ujar Clara sambil menatap Dean.
“Nanti Chika mau beliin mobil-mobilan buat dedeknya.” Ujar Chika membuat Clara menoleh pada Darel dnegan wjah takutnya .
“Emang bayi nya cowok?” tanya Darel memancing Chika.
“Iya, kakak belum tau?” tanya Chika dengan nada polos.
Darel melihat Clara meminta jawaban tentang tau atau tidaknya dia jenis kelamin calion anak mereka. Clara menggelengkan kepalanya, meereka belum memeriksa tentang jenis kelamin calon anak mereka.
“Belum.” Ujar Darel.
Dean mengernyit heran melihat Clara.
“Hmm, dedeknya cowok kok.” Ujar Chika sangat yakin akan ucapannya..
“Hmm.” Gumam Darel sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka berbincang-bincang banyak hal. Sampai Chika memanggil Dean dengan wajah menagntuknya.
“Kak Dean.” Panggil Chika.
“Hmm.”
“Chika ngantuk.” Ujar Chika sembari mengucek-ngucek matanya pelan. Menandakan bahklwa dia sudah mengantuk berat.
“Ayok tidur.” Ajak Dean.
“Ambigu sekali bapak Dean.” Ujar Clara yang tak sengaja mendengar ucapan ambigu Dean.
“Maksud gua itu.”
“Yayaya.” Ujar Clara memotong Dean yang hendak menjelaskan maksud perkataannya sebelumnya. “Gua percaya.” Sambung Clara.
“Sana bawa kekamar dulu. Kasihan itu.” Ujar Ken yang pahamm seberapa sulitnya berhubungan special dnegan wnaita yang memiliki sifat anak-anak.
Dean mengajak Chika kekamar yang sebelumnya dipakainya.
“Tidur disini aja. Nant----.”
“Chika mau ditemenin.” Ujar Chika memotong ucapan Dean sambil menatap Dean dnegan mata sendunya.
“Chika.”
“Sampai Chika tidur aja.” Ujar Chika membuat penawaran. “Kakak temenin ya?” tanya Chika.
“Iya.”
“Mau pinjem tangan.” Inta Chika sambil tersenyum.
“Banyak mau Lo!” kesal Dean.
“kakak.” Panggil Chika dengan nada manja.
Dean mengulurkan tangannya menggenggam tangan Chika. “Tutup mata, tidur.” Ujar Dean tegas.
Chika mengangguk pelan, lalu menutup mata rapat. Setelah Chika benar-benar tidur, Dean melepaskan tangannya dan keluar dari kamar tersebut.
“Udah tidur anaknya pak Dean?” tanay Clara mengejek Dean.
“Jangan ngeledek Cla.”
“Peace Dean. Udah tidur?” tanya Clara sungguh-sungguh.
“Udah.”
“Hmm.”
“Itu anak 19 tahun?” tanya Darel menyelidiki kebenaran.
“Iya.” Uajr Dean sambil menganggukkan kepalanya.
“Usia sebenarnya 5 tahun yang.” Ujar Clra membenarkan.
“Nah tuh.”
“p*****l dong Lo.” Ujar Ken.
“Makanya itu. Gila gak tuh kakek gua.” Ujar Dean mengerutiui kakeknya.
“Lo yang gila.” Ujar Darel dan Ken bersamaan.
“Kok gua?” tanya Dean tak teriima.
“Emang Lo aja gila. Gak ada alasan apa-apa.” Ujar Clara dan langsung diangguki oleh teman-temannya.
“Teman apaan kalian?” kesal Dean. “Btw Arga gak pernah main kesini?” tanay Dean mengalihkan pembicaraan.
“Dia stay di Jepang setahun kedepan.” Ujar Ken menjawab pertanyaan Dean.
“Ngapain?” tanya Dean bingung.
“Teman macam apa Lo.” Tnaya Ken membuat Dean berdecak kesal.
“Gak usah balikin kata-kata gua.” Ujar Dean tak terima.
“Sama kayak Lo.” Ujar Darel menjawab pertanyaan Dean sebelumnya.
“Apa yang sama kayak gua?” tanya Dean bingung.
“Arga.”
“Sama apaan?”
“Kan Lo nanya tuh "Arga ngapain ke Jepang?".” Jawab Darel menjelaskan.
“Hmm, terus.”
“Ya itu jawabannya "sama kayak Lo".” Ujar Darel lagi.
“Gua apa?” tanya Dean semakin bingung.
“Pengasuh.” Ujar Darel.
“Haa?” bingung Dean.
“Arga ke Jepang buat jadi pengasuh.” Ujar Darel.
“Bangkrut dia?” tanya Dean.
“Otak Lo Pentium berapa sih? Tanya darel kesal.
“Snapdragon otak gua.”
“Kok lemot?” tanya Darel.
“Sialan!” kesal Dean.
“Jadi gini Dean. Arga di Jepang sama kayak Lo disini, saat ini.” Ujar Clara mengambil alih menjelaskan pada Dean.
“Hmm. Apa?”
“Sama-sama jadi pengasuh. Lo jadi pengasuh Chika. Arga jadi pengasuh Jennie. Udah ngerti bapak Dean?” jelas Clara dnegan sangat rinci.
Dean diam sambil berfikir maksud dari semuanya. “Sialan Lo pada! Gua dibilang pengasuh!” uajr Dean tak terima.
“Harus bumil yang turun tangan buat ngasih penjelasan baru ngerti.” Ujar Clara sambil menggelengkan kepalanya.
“Gua bukan pengasuh!” ujar Dean tak terima.
“Jadi apa? Babysitter?” tanya Darel.
“Sialan Lo pada! Penjebakan ini.” Ujar Dean.
“Kita gak ngerasa jebak.” Uajr Clara tanpa rasa bersalah.
Dean hanay diam sambil mengomel dalam hati.
“Gua penasaran.” Ujar Clara membuat Darel menutup matanya singkat. Ini mode bahaya bagi diirinya atau bagi Dean.
“Mati Lo yan, bumil udah penasaran.” Uajr Darel melimpahkan pada Dean.
“Gak usah penasaran Lo!” uajr Dean memerintah.
“Tapi Uda terlanjur.” Ujar Clara dengan wajah memelas.
“Sok imut Lo! Mual gua liatnya!” kesal Dean.
“Kalau bukan pengasuh Lo siapa nya yan?” tanya Clara dnegan wajah polos.
“Calon suaminya! Puas Lo!” tanya Dean dengan nada yang menggebu-gebu.
===
==
=
Bersambung.