Beberapa hari kemudian, hari ini adalah hari sabtu atau yang lebih dikenal dengan malam Minggu. Hari ini adalah hari dimana Dean dan Sherin janjian untuk ketemuan. Tapi semua tidak sesuai dnegan rencana..
“Fak!!” teriak Dean kencang saat membaca pesan yang ada di ponselnya.
Clara yang berada didekatnya sambat terperanjat kaget karna kerasanya suara Dean. “Dean!!” pekik Clara kesal sambil mengelus dadanya.
“Apa?” tanya Dean dengan mata yang beralih dari hp kini melihat Clara. Lalu beralih pada yang lain.
“Kenapa pada ngeliatin gua?” tanya Dean dengan wajah bingung.
“Dean habis bangunin singa.” Ujar Dheera dnegan senyum akwardnya diakhir.
“Hmm?” gumam Dean bingung denggan mata yang kembali menoleh pada Clara yang sudah seperti banteng yang siap menyerang lawannya.
“Kenapa Lo Cla? Muka Lo merah gitu.” Tanya Dean masih tak mengerti situasi bahayanya.
“Gua lagi marah Dean. Lo ngerti gak?!” tanya Clara dengan nada berapi-api.
“Enggak.” Ujar Dean polos sambil menggelengkan kepalanya. “Kenapa Lo tiba-tiba marah?” tanya Dean lagi.
“Lo ngomong kasar sambil teriak.” Ujar Darel memberi tahu Dean apa yang sedang terjadi.
“Masa?” tanya dean tak percaya apa yang dikatakan oleh Darel.
“Pake gak ngaku lagi!!” kesal Clara.
“Beneran?” tanya Dean sambil tertawa lepas. “Sorry sorry.” Ujar Dean setelahnya.
“Gak lucu Dean!” kesal Clara.
“Lucu kalau liat muka Lo.” Ujar Dean masih tidak mengerti situasi bahaya.
“Darel.” Rengek Clara..
“Yan.”
“Sorry Cla, janji gak ngulangin lagi.” Ujar Dean setelah berhenti tertawa.
“Lo sebenarnya pengusaha atau caleg sih?!” tanya Clara kesal mengabaikan janji Dean barusan.
“Haa?”
“Kebanyakan ngumbar janji Lo!” kesal Clara.
“Kali ini gua beneran.” Ujar Dean kembali mengumbar janji pada Clara.
“Gua udah dengar itu dari gua hamil 2 bulan. Dan sekarang gua udah 5 bulan. Dan Lo masih ngumbar janji!” kesal Clara.
“Kok Lo jadi baper?” tanya Dean dengan wajah bingung.
“Itu namanya mood swing Dean.” Ujar Dheera menjelaskan.
“Aahh yayaya.”
“Kenapa Lo maki sambil teriak?” tanya Darel.
Dean diam tak menjawab.
“Gak usah kayak cewek Lo, ditanya diam dulu.” Ujar Darel.
“Hmm ini gua janjian sama Sherin.” Ujar Dean mulai angkat bicara.
“Siapa Sherin?” tanya Clara sambil menatap Dean menyelidik.
“Selamat dean, anda berhasil memancing kekepoan bumil.” Ujar Dheera sambil tepuk tangan.
“Sherin pacar gua Cla.” Ujar Dean akhirnya.
“Bukan yang hilang timbul kan?” tanya Clara lagi.
“Bukan. Kan gua udah bilang kalau gua punya pacar waktu itu.” Ujar Dean.
“Ohh jadi namanya Sherin?”
“Hmm.”
“Sampai ngirim undangan gak?” tanya Clara membuat Dean terdiam. Dean sudah tau jawabannya tidak, namun Dean masih enggan memberitahu hal itu pada Clara.
“Enggak kayaknya.” Tebak Clara tepat, Dean hanya mencetak smirk di bibirnya.
“Baru aja ada kendala buat gua ngirim undangan ke Lo.” Ujar Dean bermain tea-teki.
“Kenapa?” tanya Clara bingung.
“Si bocah aneh.”
“Cewek hilang timbul?” tanya Clara tepat.
“Hmm.” Gumam Dean mengiyakan tebakan Clara.
“Kenapa dia? Hilang lagi?” tanya Calra sudah mulai akan kesal.
“Bukan.”
“Jadi apa?” tanya Clara.
“Ngajak ketemu.” Ujar Dean membuat Clara, Dheera dan Darel mengernyit bingung.
“Kenapa dia ngajak Lo ketemu?” tanya Darel dengan alis menyatu.
“Iya, kan pacar Dean Sherin.” Ujar Dheera ikut nimbrung dalam obrolan.
“Ada yang kita Miss ya?” tanya Clara membuat Dean lagi-lagi menunjukkan smirk kahasnya.
“Enggak.”
“Jadi kenapa?” tanya Clara tak percaya pada ucapan Dean.
“Ken, gua minta kunci.” Minta Dean mengabaikan pertanyaan Clara.
“Laci.” Ujar Ken singkat.
Dean berdiri mengambil kuncinya dilaci yang dimaksud Ken.
“Dean pertanyaan gua belum Lo jawab.” Ujar Clara dengan mata yang mengikuti kemana arah Dean pergi.
“Yang mana?”
“Kenapa dia harus ngajak ketemu Lo? Jangan bilang Lo main 2?!” tanya Clara mencurigai Dean.
“Pengen sih.” Ujar Dean dengan tatapan yang ingin sekali Clara lempar jauh-jauh keluar angkasa.
“Dean!” kesal Clara.
“Gua pergi dulu.” Pamit Dean.
“Mau kemana Lo?” tanya Darel.
“Malam mingguan.”
“Sama siapa yan!” tanya Clara.
Dean berhenti dan berbalik menatap Calra dan teman-temannya yang lain.
“Menurut Lo pada, gua jemput yang mana? Sherin pacar gua, atau Chika?” tanya Dean membuat semua orang menatap Dean dengan bertanya-tanya.
“Chika itu siapa?” tanya Dheera mewakili kebingungan yang lain.
“Calon istri gua.” Batin Dean sambil menatap Clara.
“Calon istri Dean.” Batin Ken sambil menatap Dean.
“Si cewek hilang timbul dhee.” Jawab Dean.
“Ohh itu namanya.”
“Jemput cewek Lo lah!” ujar Darel mantap.
“Hmm..”
“Gak usah gak jelas yan!” ujar Darel mengamati tingkah Dean yang aneh.
“Oke. Gua jalan dulu.” Ujar Dean pamit pada semuanya.
Dean keluar tanpa mendengar jawaban dari yang lain.
“Ken.” Panggil Dheera.
“Hmm.”
“Dean pergi sama siapa jadinya?” tanya Dheera sambil menatap Ken menanti jawaban.
Ken mengangkat kedua bahunya.
“Menurut gua nih. Dean bakal pergi sama Chika.” Ujar Clara.
“Kok Chika? Kan pacar nya Sherin?” tanya Dheera bingung.
Ken menoleh pada Clara dnegan tatapan datar.
“Feeling ibu hamil.” Ujar Clara.
“Clara gak jelas.” Cerca Dheera.
“Lo yang gak jelas.”
“Kok dheera?” tanya Dheera.
“Urus anak Lo sana.” Perintah Clara.
“Kan ada babysitternya.”
“Dhee.”
“Gantian Clara. Lagian mereka lagi pada tidur.” Ujar Dheera.
“Alasan Lo. Bilang aja mau malam mingguan Lo berdua.” Ujar Clara sambil mengendus kesal.
“Feeling ibu hamil emang gak perlu diragukan.” Ujar Ken menatap takjub Clara.
Clara mengendus kesal. “Pergi aja semuanya!” kesal Clara.
“Clara gak boleh iri. Ingat dheera dulu gak dibolehin kemana-mana sama Ken dulu pas lagi hamil.” Ujar Dheera sambil tersenyum manis.
“Lo hamil kembar. Gua enggak dhee.” Ujar Clara tak terima.
“Ingat kata dokter, kalau Clara mau babymoon jangan pecicilan. Istirahat aja, biar babymoonnya lancar.” Ujar Dheera menasehati Clara.
“Iya iya. Gak usah ceramah. Sana pergi Lo pacaran.” Usir Clara.
“Bye Clara.” Ujar Dheera seakan memanas-manasin Clra yang tak bisa kemana-mana.
Setelah berdrama ria. Akhirnya Ken dan Dheera pergi. Darel yang paham kekesalan Clara karna tak bisa keluar disaat semua orang keluar menoleh pada Clara.
“Mau keluar?” tanya Darel sambil mengelus pipi Clara.
“Enggak.” Ujar Clara singkat.
“Kalau enggak, kenapa manyun gitu bibirnya?” ujar Darel lembut.
Clara menoleh pada Darel dan tersenyum tipis.
“Gak ikhlas gitu senyum nya.” Ujar Darel menggoda Clara.
“Ikhlas kok.” Ujar Clara. “Aku lebih pengen babymoon dari pada malam Minggu.” Sambung Clara.
Darel tertawa singkat, wanita yang menjadi istrinya sejak 6 bulan lalu itu memang sangat kekeh untuk pergi babymoon sampai dia rela tidak pergi kemana-mana dan istrirahat dirumah sejak beberapa minggu ini.
“Iya iya.” Uajr Darel mengiyakan Clara.
“Tapi aku mau delivery makanan.” Ujar Clara dengan nada manja pada Darel.
“Mau apa sayang? Asal gak yang mentah, aku izinin.” Ujar Darel.
“Beneran?” tanay Clara bersemangat.
“Iya.”
“Yeeey.” Ujar Clara kegirangan hanya karna makanan.
“Aku mau sambil nonton.” Ujar Clara lagi.
“Pilih film yang kamu mau. Apapun itu asal gak keluar rumah dan makanan mentah aku izinin.” Ujar Darel mengelus rambut Clara.
“Makasih sayang.” Ujar Clara mencium Darel singkat.
“Iya sama-sama.” Ujar Darel lembut.
Begitu lah malam Minggu Clara
=====
Setelah berjalan lumayan jauh dari rumah Ken. Dean menghentikan mobilnya dan mengeluarkan hpnya. Dean membaca ulang chat dari Chika.
30 menit sebelum Dean pergi keluar.
Personal chat, Chika-Dean.
Jessica Aurelie : Kak.
Jessica Aurelie : Kak Dean.
Jessica Aurelie : Ihh kok gak balas sih.
Jessica Aurelie : Chika nungguin nih.
Deandra Wally : Kenapa bocah?!
Jessica Aurelie : Ini malam Minggu.
Deandra Wally : Tau.
Jessica Aurelie : Gak mau ngajak Chika jalan?
Deandra Wally : Enggak.
Deandra Wally : Emang Lo siapa?
Jessica Aurelie : Calon istri kakak.
Deandra Wally : Kayak gua mau aja sama Lo!
Jessica Aurelie : Kata kakek, kakak harus mau.
Deandra Wally : Gak usah percaya kakek.
Jessica Aurelie : Chika lebih percaya kakek dari pada kak Dean.
Deandra Wally : Nikah aja Lo sama kakek.
Jessica Aurelie : Kok kakak bilang gitu?
Jessica Aurelie : Chika bilang kakek nih ya!
Deandra Wally : Gak usah ngadu-ngadu.
Jessica Aurelie : Chika pengen keluar kak.
Jessica Aurelie : Katanya kalau malam Minggu banyak pasangan yang keluar.
Deandra Wally : Tapi kita bukan pasangan.
Deandra Wally : Dan Lo, kalau mau keluar ya keluar aja.
Deandra Wally : Gua belum jadi suami Lo, jadi gua gak akan ngelarang Lo.
Jessica Aurelie :Kan Chika gak boleh keluar rumah
Deandra Wally :Yaudah dirumah aja.
Jessica Aurelie :Tapi Chika pengen keluar.
Deandra Wally typing.
Jessica Aurelie : Kata kakek, Chika boleh keluar kalau sama kakak.
“Mulai nyebelin nih kakek sebijik.” Kesal Dean dalam hati.
Jessica Aurelie : Kakak mau ya keluar sama Chika.
Jessica Aurelie : Chika pengen liat dunia luar.
Deandra Wally : Gua gak bisa.
Deandra Wally : Ntar aja kalau udah nikah, gua ajak Lo keluar.
Jessica Aurelie : Chika pengen sekarang
Dean baru membaca chat dari Chika tersebut, belum sempat membalas chat tersebut. Ada pesan masuk dari kakek nya. Dean langsung membuka chat tersebut.
Personal chat, Kakek-Dean.
Kakek buyut : Jemput Chika sekarang.
Kakek buyut :Hitung-hitung pendekatan sebelum menikah.
Deandra Wally hanya membaca chat tersebut.
Kakek buyut : Kakek gak mau dengar alasan sibuk.
Kakek buyut :Kakek tau kamu gak sibuk.
Kakek buyut : Jadi jemput Chika sekarang, tanpa alasan apapun.
Chat ini yang membuat Dean berteriak "Fak" diawal cerita.
Switch chat.Personal chat, Dean-Sherin.
Deandra Wally : Beb, Sorry aku gak bisa ketemu malam ini. Karna aku ada urusan mendadak, penting lagi. Next time ya kita ketemu, sorry.
Switch chat. Personal chat, Chika-Dean.
Jessica Aurelie : Tapi Chika pengen sekarang
Jessica Aurelie : Kok gak dibalas
Jessica Aurelie : Kakak
Deandra Wally : Siap-siap, gua jemput.
Deandra Wally : Gua sampai Lo belum siap.
Deandra Wally : Liat aja Lo, gua tinggal pergi.
Jessica Aurelie : Oke kak.
Jessica Aurelie : Chika tinggal ganti baju kok.
Deandra Wally :Pake baju yang bener Lo!
Jessica Aurelie : Iya.
Jessica Aurelie : Chika pake baju baru.
Deandra Wally :Gak penting.
Jessica Aurelie : Baju yang Chika beli, khusus buat pergi sama kakak.
Deandra Wally hanya membalas chat
“Gak penting banget nih bocah. Cuman mau pergi aja, harus beli baju baru? Efek gak ada pergaulan kayaknya.” Batin Dean.
Jessica Aurelie : Ihh kok cuman read aja?
Jessica Aurelie : Lagi nyetir ya?
Jessica Aurelie : Yaudah deh.
Jessica Aurelie : Hati-hati kakak.
Deandra Wally hanya membaca pesan dari Chika.
“Lucu.” Ujar Dean dengan smirk yang tercetak dibibirnya.
===
==
=
Sesampai di rumah Chika, Dean langsung kekamar Chika. Bukan inisiatif sendiri, tapi disuruh oleh mama Chika. Saat membuka pintu kamar tersebut. Dean dibuat kaget dengan bentuk baju Chika.
“Chika.” Panggil Dean
“Ehh kak Dean.”
“Baju Lo!” ujar Dean dengan mata yang menatap tajam Chika.
“Kenapa baju Chika?” tanya Chika sambil menatap bajunya di depan kaca lemarinya.
Baju yang dipakai Chika adalah mini dress pink kotak-kotak. Bukan hanya mini dress, tapi baju bertali satu dan belahan d**a yang cukup rendah.
“Gak ada yang lebih pendek lagi?” tanya Dean sarkasme.
“Ada.” Jawab Chika polos tak mengerti jika barusan dia sedang di sindir.
Mata Dean membelalak mendengar jawaban Chika. “Ada?” tanya Dean dengan nada sarkasme.
“Iya kak, ada. Tapi Chika gak pede pake nya. Kakak mau lihat bajunya gak?” tanya Chika membuat Dean menatap tak percaya pada Chika.
“Gak! Ganti baju Lo!” kesal Dean.
“Sama yang lebih pendek?” tanya Chika memastikan.
“Sama yang nutupin mata kaki Lo!” kesal Dean.
“Hmm ada sih, tapi Chika gak mau pake itu.” Ujar Chika membuat Dean mengelus d**a.
“Astaga tuhan. Dosa apa gua punya calon istri bocah kayak gini?” batin Dean menangis.
“Chika pake ini aja deh.” Ujar Chika sambil menunjuk bajunya.
“Gua gak mau kalau Lo gitu!” ujar Dean tegas.
“Tapi Chika gak mau pake yang semata kaki.” Ujar Chika dengan nada lucu namun tidak bagi Dean.
Dean memutar matanya malas. “Ya enggak semata kaki juga maksud gua!” kesal Dean.
“Tad---.”
“Lo punya jaket gak?” tanya Dean memotong ucapan Chika agat tak mendengar alasan yang panjang dari bibir Chika.
“Hmm.”
“Pake jaket!”
“Bentar Chika cari dulu.” Ujar Chika hendak membuka lemarinya.
“Gak usah,lama. Pake punya gua aja nanti dimobil. Ayok jalan.” Ajak Dean.
“Gak mau. Kalau Chika pakai nanti bahaya. Lagian Chika punya jaket kok.” Ujar Chika menolak tawaran Dean.
Dean menyatukan alisnya. “Kenapa bahaya?” tanya Dean bingung.
“Nanti Chika gak mau balikin jaket kakak. Karn----.”
“Astaga, selain polos nih bocah bucin ternyata.” Batin Dean kaget.
“Yaudah ambil jaket Lo buru.” Ujar Dean.
“Hmm? Iya, bentar.” Ujar Chika membuka lemarinya guna mengambil jaketnya. “Ayok.” Ajak Chika sambil mengandeng tangan Dean.
“Gak pakai pegang-pegang gini.” Ujar Dean mencoba melepaskan tangan nya dari apitan Chika. Chika melepaskan tangannya sambil mengendus kesal.
“Liat aja nanti. Chika yakin kakak yang bakal megang tangan Chika nantinya.” Ujar Chika percaya diri.
“Gak usah sok yakin Lo.” Ujar Dean membuyarkan kepercayaan diri Chika.
“Kita liat aja nanti.”
“Siapa takut!”
“Yaudah ayok jalan! Nanti keburu Chika ngantuk.” Ujar Chika.
“Ngantuk aja Lo. Gua lebih senang malah.” Ujar Dean sambil menatap Chika.
“Chika gak bakal ngantuk kayaknya.” Ujar Chika meralat ucapannya.
“Gua gak mau nanya kenapa. Gua tau ini pasti akan berakhir dengan kata-kata bucin.” Batin Dean.
“Gak perduli gua.” Ujar Dean tak perduli.
Chika mengendus kesal. “Buruan jalan!” ujar Chika kesal.
Dean lalu jalan tanpa aba-aba. Diikuti Chika dibelakang nya.
====
Dimobil, Dean dan Chika diam tanpa bicara apapun. Sepanjang jalan, Chika hanya melihat pada Dean.
“Mau kemana Lo?” tanya Dean tanpa menoleh pada Chika.
“Gak tau. Kan Chika udah bil----.”
“Nonton aja.” Ujar Dean memotong ucapan Chika.
“Nonton apa? Kalau mau nonton kenapa harus keluar. Bagus dirumah aja.” Ujar Chika tak mengerti nonton apa yang dimaksud Dean.
“Jadi Lo mau kemana?!” tanya Dean.
“Hmm. Chika mau pergi makan makanan enak. Terus Chika pengen keliling kota aja. Tapi-----.”
“Tapi?”
“Chika mau kakak pegang tangan Chika.” Ujar Chika berharap.
“Biar apa kayak gitu?” tanya Dean dengan wajah datar.
“Biar Chika foto terus dijadiin feed joystagram.” Ujar Chika sambil tersnyum lebar.
“Biar gak ngeliat berbagai jenis hantu dijalan nanti.” Sambung Chika dalam hati.
“Gak penting.” Ujar Dean.
“Tapi Chika pengen.” Ujar Chika dengan nada murung.
“Chika butuh.” Sambung Chika dalam hati.
“Ya kak?” ujar Chika lagi.
“Hmm..” gumam Dean.
“Kak Dean.” Panggil Chika.
“Iya!” kesal Dean.
“Beneran ya. Pegang tangan Chika mulai dari sekarang sampai pulang.” Ujar Chika dengan nada senang.
“Iya bocah! Banyak mau Lo.” Kesal Dean sambil menatap tajam Chika dari ekor matanya.
“Bagus Chika gak minta dinikahin sekarang.” Ujar Chika asal.
“Gak lucu Lo!”
“Chika gak lagi ngelawak.”
“Bodo!”
“Buruan kak, pegang tangan Chika.” Ujar Chika sambil mengulurkan tangannya kearah Dean.
Dean mengenggam tangan Chika dengan malasnya. Mau tidak mau Dean harus menuruti permintaan Chika. Dari pada Chika ngebacot terus dan membuat nya pusing. Chika senang kegirangan saat Dean menggengam tangannya.
“Seneng Lo?” tanya Dean sambil menatap Chika sekilas.
“Seneng. Makasih kakak.” Ujar Chika dengan senyum yang sangat cerah.
“Hmm.” Gumam Dean singkat.
“Kita mau kemana sekarang?” tanya Chika dengan bersemangat.
“Lo udah lapar?” tanya Dean.
“Udah.”
“Yaudah, kita cari makan aja dulu, baru keliling kota.” Ujar Dean yang langsung diangguki oleh Dean.
Dean melajukan mobilnya kearah Cafenya.Yap, cafe milik Dean.
====
Cafe DW
“Mau diatas apa dibawah?” tanya Dean saat mereka sudah sampai di caffe milik Dean.
“Hmm.” Gumam Chika menunjukkan wajah berfikirnya.
“Atas aja.” Ujar Dean mengabaikan Chika yang baru mulai berfikir.
“Kok.”
“Nunggu Lo mikir lama.” Ujar Dean sambil menarik tangan Chika untuk naik keatas. Chika tersenyum sambil menatap tangannya yang digenggam Dean.
“Chika suka kakak pegang tangan Chika. Chika jadi gak bisa lihat makhluk lain selain manusia.”batin Chika dengan nada senang.
Dean langsung berjalan ke kursi yang biasa dipakai olehnya dan teman-temannya jika datang ketempat itu.
“Duduk.” Ujar Dean sambil melepaskan tangannya yang menggenggam Chika.
“Chika mau disebelah kakak.” Ujar Chika yang melihat Dean duduk di kursi seberangnya.
“Gak mau gua.” Tolak Dean.
“Kenapa?” tanya Chika murung.
“Nanti Lo grepe grepe gua lagi. Saat ini gua sangat meragukan kemurnian otak Lo.” Ujar Dean jujur.
Chika mengendus kesal lalu duduk diseberang Dean. “Tapi Chika mau pegang tangan kakak.” Ujar Chika sambil tersnyum pada Dean.
“Centil Lo.”
“Biarin. Boleh kan?” tanya Chika.
“Kalau gua bilang enggak, Lo bakal dengar?” tanya Dean
“Enggak.”
“Yaudah. Ngapain nanya lagi.” Ujar Dean.
“Berarti Chika boleh pegang?” tanya Chika sambil menarik tagnan Dean dan menggengamnya..
Dean bergedik ngeri melihat keagresifan Chika.
“Kakak harus ikhlas.” Ujar Chika saat melihat Dean yang bergedik ngeri.
“Nah nah Lo ambil tangan gua. Tapi please, tolong, mohon jangan ribut.” Ujar Dean malas mendengar ocehan Chika.
“Oke kak.” Ujar Chika bicara dengan nada semangat.
“Mau pesan apa Lo?” tanya Dean pada Chika.
“Apa aja yang menurut kakak enak.”
“Hmm oke. Lepas tangan gua dulu.” Pinta Chika.
“Harus?” tanya Chika yang enggan melepaskan tangan Dean.
“Iya, bentar aja.” Ujar Dean.
Chika melepaskan tangan Dean. Lalu Dean memanggil pelayan untuk memesan makanan. Setelah memesan makan. Dean kembali melihat Chika yang kini sudah melepaskan jaket demin yang sebelumnya dikenakannya tinggal mini Dress pink kotak-kotak yang memampakkan belahan dadanya.
“Kan mulai nih bocah. Maksudnya apa coba ngebuka jaketnya? Mau pamer body sama orang lain?” batin Dean mengomel.
“Kak Dean?” panggil Chika sambil melambai-lambaikan tangannya diarah Dean.
“Kakak kenapa?” tanay Chika setelah Dean tertarik kembali pada kenyataan.
“Lo harus pakaian nya gitu?” tanya Dean.
Chika mengangguk pasti.
“Kenapa?” tanya Chika bingung.
“Supaya gua mau sama Lo?” tanya Dean menebak.
“Hmm supaya kakak suka sama Chika lebih tepatnya.” Ujar Chika meralat tebakan Dean yang nyaris tepat.
“Penting emang gua suka atau enggak? Suka atau enggak, pada akhirnya kan gua bakal nikahin Lo juga.” Ujar Dean.
“Chika tau. Tapi Chika gak mau kakak terpaksa sama Chika.”ujar Chika.
“Jangan pake baju gitu lagi kalau pergi keluar.” Ujar Dean serius.
“Kenap----.”
“Gua gak suka ada orang yang ikut nikmatin badan Lo selain gua!” ujar Dean memotong Chika yang hendak bertanya.
Chika mengedipkan matanya.
“Itu peraturan nomor satu kalau Lo mau jadi milik gua.” Sambung Dean.
“Tap----.”
“Silahkan Lo mau pakai baju semini apa pun. Tapi Lo harus ingat, jangan sampai dinikmatin orang banyak. Cukup gua aja yang liat, yang tau sebagus apa badan Lo atau sesexy apa Lo.” Jelas Dean kembali memotong ucapan Chika.
Chika tersenyum tipis.
“Kak Dean.” Panggil Chika.
“Gak usah GR Lo. Gua bilang itu bukan karena gua suka sama Lo. Tapi gua emang gak suka berbagi milik gua. Apalagi soal cewek.” Ujar Dean menjelaskan tak ingin Chika salah paham.
Chika diam tak menjawab, emang apa yang diharapkan Chika. Dean sudah mau menerimanya saja Chika sudah sangat bersyukur.
“Kalau Lo emang mau jadi milik gua, turutin yang gua bilang.” Ujar Dean tegas tak ingin menerima sanggahan apapun.
Chika mengambil jaket denimnya dan memakainya kembali.
“Keuntungan dapat bocah, gak susah ngaturnya.” Batin Dean.
“Chika udah pake lagi jaketnya.” Ujar Chika melapor pada Dean.
“Kenapa dipake?” tanya Dean.
“Karna Chika mau jadi milik kakak. Chika gak mau pamer badan Chika keorang lain.” ujar Chika memasang wajah lucu..
“Nah gini kan enak.” Ujar Dean dalam hati.
“Kakak udah suka sama Chika belum?” tanya Chika sambil tersenyum pada Dean.
“Gak semudah itu juga.” Ujar Dean dengan wajah datar.
Chika tersenyum lebar, Dean hanya diam sambil memperhatikan Chika.
“Kenapa bisa ada anak 19 tahun sesexy ini? Jaman udah berubah kali ya. Gua kira anak 19 tahun cuman polos polos aja. Tapi nih bocah beda, polos dan sexy in the same time.” Batin Dean sambil menatap Chika yang sibuk menutupi badannya dengan jaket denimnya.
“Bikin gua hampir kemakan omongan gua sendiri.” Sambung Dean lagi.
“Kak. Kakak kenapa bengong sih?!” tanya Chika sambil menatap Dean.
Dean setengah berdiri dari duduknya. Menarik lembut rambut Chika untuk tergerai kedepan. Ya, untuk menutupi aset berharganya yang sedang dipertontonkan oleh Chika. Chika hanya diam sambil mengedipkan matanya dan menatap Dean polos.
“Kenapa kak?” tanya Chika bingung.
“Gua udah bilang. Gua gak suka punya gua dilihat orang lain!” ujar Dean tegas.
“Tapi kan ini punya Chika.” Ujar Chika tak terima.
“Kalau Lo mau gua, berarti Lo juga punya gua! Apa yang ada di badan Lo, pindah tangan jadi milik gua.”
“Berarti kakak juga gitu dong.” Tanya Chika.
“Apa gua?” tanya Dean bingung.
“Apa yang ada di badan kakak pindah tangan jadi milik Chika.”
“Gak. Kalau Lo cuma bisa minjam, bukan hak milik. Kalau Lo baru pindah tangan jadi milik gua.” Ujar Dean dengan nada mantap.
“Curang, gak adil.”
“Hidup emang gak adil.”
“Tap----.”
“Udah bersyukur aja lo. Setidak nya Lo masih gua bolehin minjem.” Ujar Dean memotong ucapan Dhika untuk kesekian kalinya.
“Pelit!”
“Biarin.”
“Huuuh.” Ujar Chika mengendus kesal.
“Mau minjem tangan gak?” tanya Dean.
“Mau.” Ujar Chika dengan nada semangat.
Dean tersenyum miring.
“Tapi Chika maunya kakak disebelah Chika.” Ujar Chika membuat penawaran.
“Udah minjem, ngatur-ngatur lagi.” Ujar Dean kesal.
“Yayaya.” Ujar Chika dengan menunjukkan puppy eyes.
“Jadi ini yang namanya imut dan sexy diwaktu yang sama.” Batin Dean.
“Kakak.” Panggi Chika dengan nada manja.
“Iya iya!” kesal Dean.
Dean berdiri dari duduknya dan pindah ke sebelah Chika. Sudah dipastikan wajah Chika langsung sumringah. Setelah duduk, Chika langsung memegang tangan Dean. Tapi ditahan oleh Dean. Dean melakukan sesuatu yang tidak terduga setelahnya. Dean melingkarkan tangannya pinggang Chika, seperti memeluk.
“Kakak.” Panggil Chika dengan anda malu-malu.
“Gak usah kesenangan Lo.” Ujar Dean.
“Enggak kok.” Ujar Dean menolak disebut malu-malu oleh Dean.
“Muka Lo kelihatan.” Ujar Dean sambil menunjuk wajah Chika yang tengah merona merah akibat malu.
“Gak usah ngeledek!”
“Nanti juga Lo akan sering ngerasain ini, jadi biasa aja.” Ujar Dean kembali menggoda Dean.
“Jahat!” ujar Chika sambil mengendus kesal.
“Kalau gua jahat, mana mau gua ngasih tangan gua.”
“Bukan jahat itu, tapi kakak jahat karna suka ngeledekin Chika.” Ujar Chika meralat ucapannya.
“Makanya jangan b**o Lo!” ujar Dean.
“Tuh kan, ngeledek lagi!” kesal Chika.
Dean hanya terkekeh kecil.
“Jangan ketawa kak!”
“Mulut gua, suka suka gua.”
“Kata mama gak boleh jahat.”
“Anak mama Lo!” ejek Dean.
“Iya dong, kan Chika lahirnya dari mama.”
“Bukan gitu yang gua maksud.”
Setelahnya Dean dan Chika sedang ngobrol dengan asiknya. Bukan hanya mengobrol tapi saling meledek juga. Namun tiba-tiba ada yang memotong obrolan mereka.
“Dean?” panggil seseorang yang bersuara lembut tak jauh dari Dean dan Chika.
Dean melihat pada sumber suara. “S-sherin.” Panggil Dean dengan nada terbata-bata.
Waanita yang beranama Sherin itu tersenyum miring melihat Dean yang sedang memeluk mesra wanita yang berada disampingnya. Sherin menatap Chika dengan tatapan tidak suka.
“Lo siapa?” tanya Sherin pada Chika dengan wajah yang tidak seanng.
“Chika----.”
===
==
=
Bersambung.