Akhtar Malam ini gue meminta Jamilah menginap di apartemen gue. Setelah makan malam, kami mengobrolkan apa saja yang terjadi selama sepuluh hari tak bersama. Hal yang sangat ingin gue tahu adalah alasan dia mau menerima dan memaafkan kesalahan mamanya. "Karena kamu." "Aku?" "Iya, kamu. Kamu menyadarkan aku bahwa sebenarnya memaafkan itu nggak sesulit yang selama ini ada di pikiranku," jawabnya lalu ikut bergabung dengan gue di atas ranjang. Dia kelihatan gusar, sekitar sepuluh menit cuma bolak balik mencari posisi yang nyaman. "Kamu kenapa, baby? Mau ganti seprei? Atau bantalnya nggak nyaman?" Jamilah menggeleng sambil mendesah. Nggak biasanya. Dia selalu bilang terus terang kalau memang ada hal yang nggak membuatnya nyaman dari kamar gue. Dia memang jarang mau tidur di unit gue. Ala

