23. Sebuah Nestapa

1490 Words

Akhtar Menjelang pukul tujuh malam, tanah di sekitar Jakarta disiram hujan secara tiba-tiba. Padahal sejak pagi sampai sore langitnya cerah-cerah saja. Cinta gue belum menghubungi sampai detik ini. Bahkan dia nggak mengabari saat ini ada di mana, sedang apa atau akan dijemput di mana. Pikiran gue makin berkecamuk karena Jamilah sama sekali nggak menghiraukan pesan dan panggilan telepon gue. Saat jarum jam bergeser ke angka delapan, gue semakin khawatir. Apalapi ponselnya sudah nggak aktif lagi. Nggak sanggup lagi menahan rasa khawatir, akhirnya gue menghubungi tante Ratih dan menanyakan keberadaan anak peremupannya yang sangat gue cintai itu. Sayangnya, tante Ratih nggak bisa menjawab pertanyaan sederhana gue. Dia hanya bilang sudah mengantar jamilah sampai depan apartemen sejak siang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD