Part 3

1457 Words
Please!! Jangan liat gue Please!! "Mbak tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" Tanya Devano sambil mencoba menyingkirkan tas punggung yang menutupi wajah Zea. "Dia pingsan kali Dev" "Mbak beneran pingsan?" Devano tampak khawatir. "Satpam!! Ada yang pingsan!!" Teriak Devano karena melihat seorang satpam yang sedang berpatroli di Mall. Melihat ada kerumunan di dalam Mall. Satpam itu mulai mendekat, karena beberapa orang disana juga ikutan melihat Zea yang tidak beranjak dari tidurannya dilantai. Sambil menelungkupkan wajahnya di lantai Zea terus saja Istighfar dalam hati. Buset... kenapa malah manggil satpam. Terpaksa, gue harus kabur. Zea sudah mulai ancang-ancang untuk berdiri, lalu kabur dari tempatnya tersungkur. Namun na'as, saat dirinya hendak melarikan diri, Devano keburu mengambil tas punggung yang menutupi wajah Zea. "Lo—" Ucap Devano dengan wajah kagetnya saat mata Devano dengan mata Zea bertemu. Zea sesaat melihat Devano. Namun buru-buru kabur tanpa mengambil tas punggung yang sudah ada di tangan Devano. Kakinya berlarian turun kearah luar Mall. Zea sampai terengah-engah karena saking cepatnya dia berlari. Sampai-sampai beberapa orang yang melintas juga Zea tabrak. *** Entah kenapa Zea berlari. Betapa bodohnya juga Zea meninggalkan tasnya ditangan Devano. Bukankah Zea tidak punya salah apapun? Seharusnya yang malu itu Devano karena ketahuan selingkuh oleh Zea. Lalu kenapa Zea yang justru melarikan diri? Zea merutuki dirinya sendiri. Bahkan dia sampai jalan kaki menuju kerumahnya. Ponselnya saja ada di tas, gimana caranya dia harus memberi tahu mang ucup untuk menjemputnya di jalan. Sudah keringatan, bau, ditambah tadi pagi Zea tidak mandi. Membuat gadis itu semakin mirip dengan tampang gembel dibanding anak dari keluarga kaya. "Ya ampun anak Mama kenapa thekil and thekumel kayak gini?" Teriak Elis saat melihat Zea yang baru datang kerumah. "Aduh jeng. Si Zea itu pulang dari kampus, apa abis ngemis di jalan si?" Celetuk ibu-ibu arisan yang sekarang sedang kumpul-kumpul dirumah Zea. Siapa lagi jika bukan teman-teman mamanya. Zea sampai bosan melihat teman-teman mama mencaci maki dirinya. "Heran deh Saya, si Zea itu ko beda banget ya sama Jasmin dan Rosa. Si Jasmin dan Rosa kan, bersih cantik pula. Nah sedangkan si Zea, kenapa malah mirip anak pungut kayak gini?" Terus aja bu terus hina Zea. Apa atuh Zea mah cuma di anggap anak pungut sama semua orang. Elis tidak marah ketika teman-temannya berbicara seperti itu. Karena memang benar adanya, Zea terlampau beda dengan kakak-kakaknya yang cantik. Namun fakta yang sebenarnya, bahwa Zea memang jelas-jelas anak kandung Elis. Itu tidak bisa diganggu gugat lagi, karena hanya Elis lah yang merasakan ketika Zea berada di dalam kandungan. "Yaudah sekarang Zea ganti baju sana! Mandi biar bersih!" Ucap Elis karena melihat wajah sedih dari Ekspresi anaknya. "Iya Ma" Zea berjalan melewati para ibu-ibu yang sedang kumpul-kumpul dirumahnya. Beberapa dari ibu itu menatap Zea miris dengan segala penampilannya. Elis duduk kembali ditempatnya setelah menyuruh Zea untuk naik keatas. "Ayo ibu-ibu kita lanjutkan arisannya" "Eh jeng Elis saya mau tanya, itu si Zea pernah pacaran gak sih selama ini?" Tanya salah satu ibu-ibu yang mengalihkan topik pembicaraan. "Iya jeng, saya juga penasaran. Si Zea itu di umurnya yang sekarang ada gak sih laki-laki yang suka sama dia?" Semuanya mengangguk minta penjelasan dari Elis. Elis merasa serba salah menjawab pertanyaan para teman-temannya. Karena jujur selama ini Elis tidak pernah menyinggung masalah laki-laki kepada Zea. Hingga sekarang tak ada satupun laki-laki yang dekat dengan anaknya. Dibalik omongan para ibu-ibu di lantai dasar, ada Zea yang masih berdiri mendengar para ibu-ibu berbicara. Hatinya seakan sakit mendengar segala pertanyaan yang di layangkan pada mamanya. Tak terasa setetes air mata terjatuh dari pelupuk matanya. Apa salah jika Zea tidak punya pacar? Apa salah jika Zea tidak cantik seperti kak Jasmin dan Kak Rosa? Zea juga pengen banget cantik seperti kak Jasmin dan Kak Rosa, Tapi bagaimanapun Zea berbeda dengan mereka. Gadis itu berlari masuk kedalam kamarnya. Menutup pintu kamar itu dengan membanting pintu. Badannya ambruk di atas kasur. Setomboy-tomboynya seseorang, tapi Zea tetaplah berjiwa wanita. Zea tetap merasa sakit jika ada orang yang mencaci makinya. Dia tetap akan menangis jika ada yang menghinanya meski tidak ia tampilkan pada semua orang. *** Diruang makan. Gunawan, Elis dengan dua anak perempuannya sedang menunggu kedatangan Zea ke ruang makan. Namun gadis tomboy itu tak kunjung turun dari kamarnya. Membuat Elis jadi teringat kejadian tadi sore, saat para teman-temannya mencaci Zea didepannya sendiri. "Pah, ada yang pengen mama omongin" "Iya ma omongin aja!" Ucap Gunawan sambil menggular-gulirkan Tab ditangannya. Meski sudah pulang kerja, Gunawan masih tetap saja mengurusi perusahaannya. "Memangnya mama mau bicara apa?" Tanya Rosa sambil mengambil makanan yang ada di meja makan. "Mama khawatir sama Zea pah!" Sontak ketiganya menatap Elis penuh tanya. Memangnya apa yang di khawatirkan mamanya pada Zea. Bahkan Zea jago berantem, itu sudah dipastikan Zea bisa jaga diri baik-baik diluaran sana. "Mama takut Zea tidak normal" "What??" Ucap ketiganya. "Maksud mama gimana?" Tanya Jasmin. "Di umurnya Zea yang sekarang, Zea tidak pernah tertarik pada laki-laki manapun. Bahkan pacaran aja Zea tidak pernah. Mama tau itu, mama yang mengurus Zea dari kecil. Biar bagaimanapun Mama sebagai ibunya khawatir Zea akan menjadi perawan tua. Bahkan yang lebih mama takutkan Zea suka sesama jenis" Gunawan tampaknya serius menanggapi omongan istrinya. Begitupun Rosa dan Jasmin yang juga sepemikiran dengan Elis. Sebenarnya mereka tidak pernah tau dengan kehidupan Zea apalagi masalah percintaanya. "Iya Ma, papa juga khawatir dengan Zea" "Rosa juga takut ma, Zea tidak akan pernah menikah nanti. Kalaupun Zea normal, Rosa juga rela kalau Zea mendahului Rosa menikah" "Jasmin juga sepemikiran sama Rosa Mah Pah! Usul Jasmin cuma satu, kita harus carikan Zea laki-laki. Ya setidaknya dia bisa bertingkah layaknya seorang perempuan kalo sudah mengenal lawan jenis" Gunawan nampaknya sedang berpikir. Dia teringat seorang bawahannya di kantor, dia Teddy sekertarisnya yang sudah berumur 31 tahun namun tak kunjung menikah. "Gimana kalo papa jodohin Zea sama Teddy?" "Jasmin setuju dengan usul Papa" "Rosa Juga" Elis agak ragu dengan usul ini. Namun apa boleh buat, jika ini yang terbaik buat Zea kenapa Elis tidak setuju. "Mama juga setuju" Tiba-tiba Zea datang sambil menuruni tangga menuju meja makan. Wajahnya nampak sangat malas, matanya sembab terlihat sudah habis menangis. Namun matanya ia tutupi dengan memakai kaca mata hitam agar semua keluarganya tidak melihat. "Malam Keluarga" Ucapnya sambil ikut duduk disebelah mamanya. "Ze kenapa pake kaca mata malem-malem?" Tanya Jasmin. "Emangnya lo lagi di pantai pake kacamata segala" celetuk Rosa. "Suka-suka gue dong. Masalah buat kalian?" Zea tak memperdulikan tatapan keluarganya. Dia buru-buru saja mengambil nasi dengan lauk pauknya agar acara makan malamnya cepat selesai. Biar Zea bisa nangis bombai lagi di dalam kamarnya. Ze tingkah kamu itu bikin mama khawatir---- pikir Elis dalam hati. Melihat kekhawatiran di wajah istrinya, Gunawan segera membranikan diri untuk berbicara pada anak bungsunya itu. "Papa mau jodohin kamu sama bawahan papa di kantor" Ucap Gunawan tiba-tiba. "Uhuukk uhukkk" Zea tesedak nasi mendengar Gunawan berbicara. "Maksud Papa mau jodohin, papa mau jodohin kak Jasmin? Kalo Zea sih setuju aja pah" Jasmin menganga tak percaya. "Enak aja lo, gue kan udah punya calon suami. Mau kemanain Mas Dika Ze?" "Lah terus kalo gak kak Jasmin, kak Rosa gitu? Tapi Zea saranin aja sih nikahnya mending duluan aja kak Rosa, soalnya Mas Dika kan sampe sekarang gak ada kejelasan tuh buat ngelamar kak Jasmin." Anjrit ni anak. Sekata-kata aja kalo ngomong---- geram Jasmin. Rosa ditempat duduknya malah cekikikan dengan pemikiran Zea. Padahal kan yang akan dijodohkan itu dia bukan Rosa. Kalo Rosa sih gak harus main jodoh-jodohan, bahkan teman kantornya saja banyak yang mengantri ingin mempersunting dirinya. Rosa tergelak. "Hahaha yang mau dijodohin tu lo Ze. Bukan gue" Ucap Rosa sambil memegangi perutnya karena saking lucunya. "Hah kok Gue" Zea melotot dibalik kaca mata hitamnya. "Iya papa mau jodohin kamu Ze" Zea memandang Mamanya yang tampak diam. "Ma... papa bercanda kan mau jodohin Zea?" Elis menggeleng. "Papa kamu serius sayang" "Tapi Zea masih kuliah ma" "Ini untuk kebaikan kamu sayang" Elis justru malah menangis saat melihat Zea. "Tapi Ma..." Elis menyeka air mata yang membanjiri pipinya. Dia bangkit berdiri, tak kuat untuk melanjutkan makan malamnya. Dia sudah keburu sedih dengan keadaan Zea. Semua keluarganya menatap mamanya ikutan sedih. "Pokoknya Mama pengen kamu segera menikah!!" Zea menatap kepergian mamanya dengan mulut menganga. Sebenarnya apa yang membuat keluarganya berinisiatif menjodohkan dia dengan bawahan papanya. "Zea gak mau dijodohin Pah" Zea membuka kaca mata hitamnya. Menatap Papanya dengan wajah sedih. Sebenarnya Gunawan juga tidak tega. "Sebenarnya kami semua khawatir sama kamu Zea. Kami khawatir kamu tidak normal." Ucap Gunawan. "Maksud papa Zea suka sesama jenis? Wahhh...." Zea menghembuskan napasnya berat. "Kalian kebangetan banget mikir Zea yang aneh-aneh." "Kalo kamu masih normal. Tunjukan sama Papa pacar kamu! Biar papa percaya kamu masih normal. Kalo kamu gak bawa pacar kerumah ini besok malam, papa dengan terpaksa akan menjodohkan kamu dengan Sekertaris papa si Teddy" "Papa jahat banget" ucap Zea sambil berlari kedalam kamarnya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD