Devano Keano Favian itulah nama Devano sebenarnya. Laki-laki berumur 22 tahun yang kini sudah menginjak semester tujuh, yang artinya tahun ini dia akan menyelesaikan Study-nya dua semester lagi. Laki-laki tampan yang sangat digilai oleh para kaum hawa apa bila melihatnya. Bukan hanya berwajah tampan, Devano juga Mahasiswa paling pintar di kampusnya. Bahkan selain pintar dan tampan dia juga terkenal sopan terhadap semua orang.
Namun ada sesuatu yang sangat dia simpan rapat di dalam hidupnya. Dia adalah laki-laki yang selalu disewa oleh perempuan, Demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti malam ini, dia baru pulang sehabis menemani wanita yang menyewanya.
"Thanks ya Dev udah nemenin aku sore ini"
"Iya Sil. Kamu jangan kapok nyewa aku lagi"
"Oh iya Dev, ini tas cewek yang tadi di Mall"
Devano mengambil tas Zea yang berada di tempat duduk belakang mobil Sisil.
"Iya Sil, nanti aku kasihin tasnya di kampus"
"Kamu gakpapa cewek itu tau kamu sebenarnya?"
Devano menggeleng kepalanya. "Aku bakalan cari cara biar dia gak bocorin sama semua mahasiswa di kampus"
"Itu terserah kamu. Yaudah aku nganterin kamu sampe sini aja ya?"
"Iya sil"
Devano turun dari mobil sisil. Sebenarnya Kosan dia masih agak jauh, namun karena rahasia dia menjadi laki-laki sewaan tidak ingin diketahui mahasiwa kampus, dia terpaksa harus kembali berjalan untuk sampai ke Kosannya.
Kakinya berjalan masuk kepelataran kosan yang sudah dikunci gerbangnya. Untung Devano punya kunci cadangan yang didapatkannya dari ibu kosan, makanya dia bisa pulang malam setiap hari.
Devano membeku ditempatnya, saat melihat Gisel ketiduran di kosannya. Gadis itu pacarnya, wanita yang sudah dua tahun menjadi pacarnya. Namun Gisel tidak pernah tau masalah tentang Devano yang suka di sewa oleh perempuan.
"Dev..." gumam Gisel karena mendengar suara pintu di buka.
Gisel tersenyum saat melihat Devano. Sedangkan Devano berjalan mendekati Gisel yang sudah terduduk di tepi ranjang. Lalu memeluk wanita itu dengan sayang.
"Kamu udah lama di kosan aku?"
"Aku nunggu kamu dari sore disini. Tapi gapapa, aku ngerti kamu kerja"
Gisel memang mengetahui jika Devano kerja sampingan. Namun dia tidak tahu apa pekerjaan yang Devano lakukan. Gisel mengambil sebuah kotak kecil dari dalam tasnya, lalu diberikannya pada Devano.
"Happy Birthday Dev" Ucap Gisel sambil tersenyum.
Cup
Devano mencium kening Gisel sekilas, lalu ikut tersenyum "makasih sayang, maaf kita gak bisa rayain ulang tahun aku bersama"
Gisel menggeleng, lalu dipeluknya Devano. "Aku ngertiin kamu kok Dev"
"Kamu mau menginap disini atau mau pulang?"
"Aku mau pulang, masih banyak tugas kampus yang belum aku kerjain."
"Maaf Gisel aku gak bisa nganterin kamu sampe rumah"
"Aku juga bawa mobil kok. Yaudah aku pulang dulu ya Dev. Jangan lupa besok kamu pake hadiah dari aku. Bye Bye Nice Dream Dev sayang" Ucap Gisel sambil mencium pipi Devano sekilas. Lalu beranjak dari ranjang Devano untuk segera pulang.
Devano membuka kotak kecil pemberin Gisel setelah gadis itu menghilang dari kamarnya. Ditatapnya jam tangan pemberian Gisel, jam tangan itu terlihat sangat mewah dipakai oleh Devano. Lalu diletakannya jam tangan yang beberapa saat lalu dipakainya.
Drrtt drrttt
"Kak Dev, tolongin ibu! Rentenir yang nagih hutang tadi sore datang lagi kerumah"--- Vina.
Tangan Devano sedikit bergetar saat melihat pesan masuk dari adiknya.
Drtt drrttt kembali pesan dari Vina dibaca oleh Devano.
"Minggu depan rentenir itu akan datang lagi kerumah kak. Mereka nagih 10 juta ke ibu. Kaka harus cari cara biar rentenir itu gak ngacak-ngacak rumah kita lagi!"
"s**t!! arrrgghh" Devano mengacak rambutnya. Dia pusing saat ini, bahkan baru saja tadi siang dia bayar uang kuliahnya. Sekarang Ayahnya kembali membuat Ibunya menderita dengan datangnya rentenir untuk menagih hutang, bekas ayahnya berjudi.
"Iya Kaka akan cari cara buat dapetin uangnya minggu depan" balas Devano pada Vina.
Drrttt Drrttt
Kembali Devano mendapatkan sebuah pesan Baru. Namun sekarang bukanlah pesan yang masuk ke ponselnya, namun pesan yang masuk ke ponsel milik Zea. Lalu Devano meng-klik ponsel itu untuk membaca chatnya. Barang kali gadis itu sedang mencari barang miliknya.
17:30 WIB
"Ze kenapa lo lama banget beli Ayam gorengnya?"
"Yaudah gakpapa kalo kamu sibuk"
22:03 WIB
"Ini semua buat kebaikan kamu Zea. Kaka ngerti perasaan kamu. Kalo kamu gak mau dijodohin sama sekertaris papa, besok malam juga kamu bawa cowok kerumah!"---Kak Jasmin.
Devano tertawa terbahak-bahak melihat isi Chat dari kakanya Zea. Ternyata gadis itu akan dijodohkan. Memangnya jaman sekarang masih musim jodoh-jodohan? Devano menggelengkan-gelengkan kepalanya. Seketika rasa sedihnya menghilang ketika terbayang wajah Zea ketika di dalam Bus saat Zea memberi tampang polosnya saat menduduki pahanya.
Namun tiba-tiba terbesit pikiran tentang masalah Ibunya yang meminta 10 juta. Bukankah Devano bisa memanfaatkan keadaan ini dengan menawarkan Zea untuk menyewanya.
Iya Dev. Mungkin ini jawaban Tuhan biar bisa bantu Ibu. Pikir Devano.
Tak lama kemudian, ponsel Zea berdering menandakan sebuah panggilan masuk ke dalam handphonenya. Kak Jasmin. Di jawabnya panggilan Jasmin oleh Devano, sesungguhnya Devano agak ragu menjawab panggilan itu. Namun apa boleh buat, dia harus menjalankan aksinya agar Zea dapat menyewanya.
"Zea buka pintunya kaka mau mas___"
"Hallo" Ucap Devano memotong pembicaraan Jasmin yang tiba-tiba saja berteriak sambil menggedor-gedor pintu di sebrang sana.
"H-hallo ini Zea bukan?"
"Maaf ini bukan Zea"
"Bukan Zea? Terus ko ponsel adik saya ada sama anda?"
Devano memutar otaknya. Gimana caranya dia agar bisa disewa oleh Zea, namun tiba-tiba saja Devano berpikir jika ini kesempatan yang tepat untuk memperkenalkan dirinya pada keluarga Zea.
"Maaf kak. Ponsel Zea ketinggalan di Kostan saya" Ucap Devano yang tentu saja berbohong.
"Memangnya kamu siapa? Setau saya Zea tidak punya teman cowok"
"Maaf kak saya tidak bisa memberi tahu kaka karena Zea bilang sama saya___"
"Kasih tau sama saya!!" Potong Jasmin cepat.
Yesss kepancing juga. Gumam Devano dalam hati sambil mengepalkan tangannya kegirangan.
"Tapi kak, Zea__"
"Jujur sama saya, punya hubungan apa kamu sama Zea!"
"Saya pacarnya Zea!!" Ucap Devano penuh keyakinan. Namun suara Jasmin di sebrang sana tidak kunjung terdengar, apa mungkin kakaknya curiga jika ia berbohong?
"Besok malam datang kerumah Zea! Saya mau tau pacar Zea seperti apa!!" Ucap Jasmin setelah beberapa saat tidak berbicara.
"Baik kak. Nanti malam saya akan memperkenalkan diri sama keluarga Zea" Ujar Devano dengan keyakinannya yang sangat tinggi.
Bip
Sambungan telepon telah terputus. Devano menyeringai, ini akan menjadi menarik menurutnya. Mengingat jika hanya Zea lah yang tau tentang Sisil. Selain membuat gadis itu tutup mulut, Devano juga bisa meraup keuntungan dari situasi ini.
Tubuh Devano berbaring di atas kasur. Tangannya sibuk melihat beberapa Foto yang tersimpan di Galeri ponsel Zea. Disana tidak ada satupun foto gadis itu yang sedang selfie ataupun berfoto ditempat wisata. Galerinya hanya dipenuhi dengan foto-foto pemain sepak bola Real Madrid dengan beberapa Video film Aksi yang disimpannya di galeri.
"Bener-bener cewek langka" gumam Devano tanpa sadar.
Namun tiba-tibanya tangannya terhenti, saat dia melihat foto terakhir di dalam galeri ponsel Zea. Gadis itu tampak sangat imut dengan rambutnya yang di ikat dua. Wajahnya tersenyum seperti anak kecil. Nampaknya Foto itu sudah sangat lama, karena Zea pun masih seperti anak SMA di dalam foto itu.
Tanpa sadar Devano tersenyum melihat foto gadis itu yang terlampau beda dengan keadaan Zea saat pertama kali mereka bertemu.

Bersambung