Pagi ini Zea hendak pergi kekampusnya. Biar bagaimanapun dia harus mengambil tasnya yang ada di tangan Devano. Sayangkan barangnya, yah meski cuma ponsel dan buku-buku tapi kan Zea juga perlu buku itu untuk belajar.
Zea menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati, agar semua orang yang berada di meja makan tidak mendengar dia hendak melangkah keluar. Namun sayangnya, semua keluarganya sadar jika Zea sedang berjalan mengendap-endap hendak kabur.
"Mama mau kenal sama pacar kamu Ze!" Ucap Elis tiba-tiba. Membuat Zea berhenti melangkah.
Pacar? Perasaan gue gak punya pacar.
"Kaka sudah tau semuanya Ze" Ucap kak Jasmin. Sambil mengunyah sarapannya.
Ucapan kedua wanita itu membuat Zea berpikir keras, apa yang sedang dibicarakan keluarganya. Dia berbalik menghadap keruang makan. Berjalan mendekati keluarganya yang tengah asik memakan roti bakar di pagi hari.
"Kaka penasaran pacar kamu Ze, ternyata ada juga ya cowok yang suka sama kamu" celetuk Rosa.
Dahi Zea semakin mengerut. Sebenarnya keluarganya itu sedang membicaran apa? Ko bahas-bahas pacar Zea. Kan Zea tidak punya pacar.
"Nanti malem bawa pacar kamu kerumah ini Zea!" sekarang giliran Papanya yang ikutan gila.
Ini kenapa sih dengan keluarga gue? Pagi-pagi sudah s***p semua.
"Kalian gila atau kenapa? Pacar siapa sih yang kalian omongin?" Tanya Zea benar-benar tidak mengerti.
"Tadi malem, kaka telpon pacar kamu!" Ucap Jasmin sok tahu. "Sekarang kaka sudah tau semuanya Zea, padahal kamu tinggal jujur aja sama kita. Meski pacar kamu jelek, atau jauh dari kata sempurna kami pasti akan menghargai itu Zea. Ketimbang kamu pacaran di belakang kami"
Tunggu! Tunggu! Zea mulai ngeuh dengan arah pembicaraan keluarganya. Jangan bilang....
Handphone gue. Jerit Zea di dalam hati.
Gadis itu langsung berlari keluar rumah meninggalkan keluarganya yang belum selesai berbicara. Setelah sampai di depan rumah, dia merebut kunci mobil yang ada di saku celana mang ucup. Tanpa meng-konfirmasi terlebih dahulu pada supir papanya itu. Lalu Zea langsung masuk kedalam mobil.
"Eh non Ze, itu mobil mau dipake sama Tuan!!" Teriak mang Ucup saat Zea sudah menghidupkan mobilnya.
"Papa bisa pake mobil lain, mobil ini Zea pinjem dulu sehari. Maaf ya mang ucup" balas Zea yang langsung menancapkan gasnya dengan kecepatan tinggi.
***
Zea mencari sosok Devano kesetiap penjuru kampus. Mulai dari kamar mandi cowok, perpustakaan, lapangan basket, ruang musik, sampe lab kimia yang sudah di pastikan jika Devano tidak mungkin ada di sana. Namun tetap saja Zea tidak menemukan Devano.
Saat Zea mulai kelelahan, Zea memutuskan untuk istirahat di kelasnya dulu. Setelah itu dia akan mencari Devano lagi, toh sebenarnya di pagi hari ini tak ada jam mata kuliah, jam kuliah baru akan dimulai siang nanti. Tapi saat Zea masuk, ternyata orang yang sedang di carinya tengah memainkan Laptopnya di ruangan itu.
Devano melihat Zea yang mulai mendekatinya. Dia tersenyum ceria ke arah gadis itu. "Pagi Ze?" Sapa Devano so kenal banget.
"Jangan basa-basi deh! Lo ngomong apaan sama kak Jasmin?" Teriak Zea dengan wajah berapi-api. Untung saja di kelas itu hanya ada mereka berdua.
Devano mengangkat kedua bahunya pura-pura tidak tahu "gue gak ngomong apa-apa"
Brakk
Zea menggebrak meja di depan Devano dengan matanya yang menatap tajam. Laki-laki itu masih tampak santai, sambil mengotak-atik sesuatu di keywoard Laptopnya.
"Udah deh gue tau" ucap Zea.
"Apa?" Devano pura-pura tidak mengerti.
"Lo ngaku jadi pacar gue kan sama kak Jasmin?"
"Kalo iya kenapa?"
Zea menganga tak percaya. Apa motif Devano berbicara seperti itu dengan kak Jasmin. Karena ulah dia juga, Zea harus membawa seorang pacar nanti malam kerumahnya.
"Lo harus tanggung jawab! Karena gue gak punya pa—" tunggu! Kenapa Zea harus memberi tahu laki-laki itu. Dia menggeleng. "Pokoknya Lo harus jelasin ke kakak gue kalo lo bukan pacar gue"
"Gue cuma mau nolongin elo, katanya lo mau di jodohin"
"Itu bukan urusan lo."
"Berarti lo akan nerima perjodohan itu? Hahaha gue kasih tau dikit ya, orang yang mau di jodohin sama elo itu laki-laki yang udah tua" ucap Devano yang tentu saja berbohong.
Zea mendelik tajam. "Tau dari mana lo?"
"Kaka lo yang kasih tau"
Terlihat ketakutan di wajah Zea. Itu sudah membuat Devano yakin jika Zea memang benar-benar belum tau calon suami yang akan di jodohkan dengannya.
Devano mencondongkan wajahnya ke telinga Zea, sambil berbisik dia berkata "kalo lo mau, gue bisa bantu lo terbebas dari perjodohan itu"
Mata Zea menatap penuh selidik ke arah Devano. Takut-takut laki-laki itu akan mengerjainya. Sedangkan Devano masih tampak santai sambil melihat wajah Zea yang tampak sedang menerka-nerka semua ucapan dirinya
"Untuk kejadian kemarin, gue kasih tau lo semuanya" ucap Devano tiba-tiba. "Kalo gue itu pacar sewaan"
Zea mengerutkan dahinya. "Maksud lo?"
"Lo gak tau pacar sewaan? Nih gue kasih tau, lo bisa sewa gue kapan aja lo mau. Gue bisa berperan apapun yang lo mau, mulai dari pacar, teman, sahabat, bahkan suami juga gue bisa berperan jadi itu. Lo bisa cari solusi di permasalahn cinta atau hidup lo dengan menyewa gue sebagai sarana untuk mencari solusi"
Zea masih tidak mengerti. Memangnya ada orang seperti Devano? Bukannya laki-laki itu sudah punya kekasih.
Devano menghembuskan napasnya kesal, karena Zea belum juga mengerti. "Intinya, lo bisa sewa gue sebagai pacar bohongan lo. Agar lo bisa terbebas dari perjodohan itu"
Gadis itu masih diam tampak sedang berpikir. Namun dia masih belum percaya. "Gue gak percaya, sekarang serahin semua barang gue" pinta Zea.
Devano menyerahkan tas punggung milik Zea yang berwarna hitam. Lalu merogoh sakunya untuk mengambil ponsel Zea. Diserahkannya tas dan posel itu kepemiliknya namun masih dalam genggaman Devano. Dia menatap Zea "lo beneran gak akan butuhin gue?"
"Nggak!" Ucap Zea penuh penekanan.
"Gue udah save nomor gue di hape lo. Kalo lo butuh gue, lo bisa panggil gue. Dan saat itu gue akan datang ketempat yang lo inginkan"
Zea menarik tas dan ponselnya secara paksa. "Tapi sayangnya gue gak butuh"
Gadis itu hendak berbalik meninggalkan Devano sendiri di kelas. Sedangkan Devano sedang menyilangkan tangannya, tersenyum ke arah Zea.
Gue yakin, sebentar lagi lo bakalan cari gue.
"Oh iya, ini cuma rahasia kita. Lo jangan kasih tau siapapun tentang masalah ini" teriak Devano.
Zea berbalik, "bodo amat!" Lalu menutup pintu kelas keras-keras. Hingga menimbulkan suara nyaring di dalam ruangan.
***
Dilihatnya beberapa Chat w******p yang sudah terbuka oleh Devano. Zea kesal, karena Devano dengan tanpa permisinya membuka seluruh isi Chat itu. Bahkan beberapa obrolan grup yang sudah terbuka, Zea meringis karena obrolan grup yang berisikan Putri dan Sari itu sedang membahas Devano. Laki-laki itu pasti tersenyum bahagia melihat isi obrolan gurup itu. Namun satu yang bikin Zea makin gondokan.
Zea
Guys gue mau tau dong, cowok paling ganteng di kampus kita itu siapa!
Putri
Kayaknya gak akan ada deh kaka tingkat yang lebih keren dari kak Devano
Sari
Setujuuuuu. Dia itu cowok paling Perfect yang ada di kampus kita
Putri
Tumben amat lo nanya beginian Ze? Biasanya juga lo nanyain Distro baju Real Madrid lagi diskon apa enggak.
Sari
Apa jangan-jangan lo udah bosen jomblo Ze?
Putri
Lo mau gue cariin cowok gak Ze? Ada tuh si Ilham kaka tingkat smester 7 yang masih jomblo
Sari
Hahahaha... biar kalian itu jadi perpaduan sempurna. Yang satu cupu, yang satunya lagi tomboy.
Puri
Hahaha ngakak gue bayangin lo sama si Ilham.
Zea
Gue gak suka semua cowok. Cuma satu cowok yang gue suka. Yaitu kak Devano seorang.
Sumpah Zea sakit mata melihat isi obrolan grup di whatsappnya. Dia tidak sanggup melihat ketikan Devano yang membajak ponselnya. Saat Zea menggulir-gulirkan layar ponselnya, tiba-tiba Sari dan putri datang ke meja tempat Zea sedang duduk. Yaitu kantin kampus.
"Ze lo kesambet apaan tadi malem?" Tanya Putri yang datang-datang langsung main comot bakwan milik Zea yang tadi dibelinya dari bi Siti.
"Lo udah mulai normal Ze? Dengan suka sama kak Devano?" Ucap Sari yang ikut-ikutan menyeruput es Nutrisari miliknya.
"Tapi gue bersyukur sih lo udah mulai suka sama lawan jenis. Yah meskipun lo sukanya sama gebetan gue. Tapi gue rela kok Kak Devano sama lo" ujar Putri dengan tampangnya yang seolah-olah Devano miliknya
"Gue bilang aja dari sekarang Ze, kalo kak Devano itu sudah pacaran sama kak Gisel dua tahun. Tapi gue saranin lo rebut aja kak Devano dari sekarang. Sebelum janur kuning melengkung" ucap Sari dengan tampang seriusnya.
Zea mulai kesal dengan obrolan kedua sahabatnya. Siapa juga yang suka sama Devano. Mereka belum tau aja jeleknya Devano kayak apa. Kalo mereka tau, mungkin mereka pasti ogah ngefans sama lelaki gila itu.
Zea menarik napasnya menahan kesal. "Gue kasih tau sekarang ya sama kalian, kalo gue itu gak suka sama sekali sama si Devano-Devano itu. Paham?!"
Putri dengan sari menahan tawanya. "Hmpppttt hahahaha" mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
"Lo ngaku aja sama kita Ze!" Ucap Sari.
"Kalo lo gak suka. Kenapa juga lo bilang tadi malem di grup w******p?" Ucap Putri
"Kecuali kalo lo semalem mabok" ucap Sari.
"Mabok cinta kak Devano maksudnya" lanjut Putri. Kemudian keduanya terbahak-bahak, sampai-sampai semua mahahsiswa yang ada di kantin melihat mereka berdua. Namun putri dan Sari tak menyadari jika kantin sedang ramai.
Drrtt drrtt
Zea merogoh ponselnya. Dibukanya pesan dari kak Jasmin yang sekarang membuat matanya terbelalak kaget.
"Ze sekarang mama sama pembantu rumah sedang menyiapkan makan malam untuk kehadiran pacar kamu nanti malem. Kalo nanti malem kamu gak bawa pacar kamu kerumah, dengan terpaksa kami jodohkan kamu dengan mas Teddy."---Kak Jasmin.
Drrttt drrttt
Jasmin mengirimkan foto Taddy sekertaris papahnya
Zea terbelalak kaget melihat foto Taddy, laki-laki yang akan di jodohkan dengan dia. Kakaknya tidak salah mengirimkan foto? Kenapa dia akan dojodohkan dengan Pria tua seperti ini.
Tiba-tiba Zea jadi ingat ucapan Devano tadi di ruangannya. Bahwa laki-laki yang akan di jodohkan dengan dia memang benar laki-laki tua. Buru-buru Zea mencari nama kontak Devano di ponselnya.
Devano tampan
Gue jadi sewa lo nanti malem.
Zea rasanya ingin muntah melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya. Narsis Devano memang tidak ketulungan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Hingga putri dan Sari mengerutkan dahinya.
Bersambung
Maafkan novel Cucu yang semakin hari semakin gaje. Tapi Jujur Cucu baper sendiri ngetik novel ini wkwkwkwk
Semoga suka ya Minasan (semua)!!
Like + komen biar Cucu lebih semangat lagi nulisnya.papahnya.