Di dalam ruangan kelas yang tidak terpakai, Devano dengan Zea tengah membicarakan masalah tentang Zea yang akan menyewa Devano sebagai pacar bohongannya.
"Ayo kita pacaran!" Ucap Zea pada Devano.
"Dengan bayaran dan ketentuan berlaku!" Devano tampak menyilangkan tangannya di depan Zea.
"Lo mau berapa dari gue?"
"20 juta!"
"Lo gila Bisa digantung di pohon beringin sama bokap kalo ketahuan ngasih duit dua puluh juta sama lo"
Devano menaikan bahunya tidak mau tahu. Namun melihat Zea didepannya tampak kebingungan, tidak masalah bukan jika dia sedikit bermurah hati pada konsumen yang akan memakai jasa kerja kerasnya.
"Kalo gitu 15 juta gimana?"
"Gak bisa sedikit lagi diturunin? Kayak 1 juta gitu?" Gadis itu meringis mengucapkan jumlah uang yang jauh dibawah harga yang di tawarkan.
Devano menggebrak meja. Dia bangkit dari kursinya, dengan tampang pura-pura marah padahal dalam hatinya dia juga tidak ingin sampai kehilangan pelanggannya.
"Kalo gak niat mau pake jasa gue yaudah i'm fine masih banyak pelanggan yang lain ko yang mau pake gue"
Devano melangkah meninggalkan Zea didepannya. Namun entah kenapa Zea tidak menyuruhnya untuk berhenti ketika kakinya sudah semakin jauh dari tempat duduk tadi.
Kamvret! Dengan terpaksa gue turunin harga.
Kaki Devano kembali berbalik, menemui gadis yang tadi ingin menyewanya. Dilihatnya gadis itu yang sedang menelungkupkan wajahnya di atas meja.
"Mumpung gue berbaik hati sama lo, gue turunin jadi 10 juta. Kalo gak mau yaudah, gue cari konsumen lain"
Zea sontak mendongak. Ditatapnya Devano dengan penuh binar bahagia. Dia bangkit dari duduknya menjadi berdiri. Sama dengan laki-laki itu yang juga berdiri.
"Ok deal!!"
Devano menerima uluran tangan Zea didepannya.
"Deal"
Devano kembali duduk dikursi tadi. Bibirnya menyeringai tanpa dilihat oleh Zea. Gadis itu tampaknya sedang menghitung jumlah uang yang akan dikeluarkannya menggunakan jari tangan. Meski orang tuanya sangat kaya, tapi Zea tidak mungkin harus meminta uang pada orang tuanya dengan jumlah banyak. Itu justru akan membuat orang tuanya semakin curiga dengan gelagatnya.
Satu lembar kertas digelosorkan oleh Devano kedepan Zea. Gadis itu mengambilnya, lalu membaca satu demi satu kontrak kerjasama yang harus ia tandatangani.
"Satu. Pihak penyewa dilarang keras untuk membocorkan rahasia ini kepada semua orang. Terutama mahasiswa kampus"
Zea memandang Devano dengan penuh tanya. Lalu dibalas Devano dengan gerakan membungkam mulut seperti seorang psychopath.
"Dua. Pihak penyewa dilarang jatuh cinta sungguhan kepada pihak yang di sewa__"
"__Tiga. Semua kebutuhan yang bersangkutan dengan pekerjaan ditanggung oleh pihak penyewa, seperti makan, jalan-jalan dan lain sebagainya.__"
"__Empat. Kontrak kerja ini berlaku sampai permasalahan pihak penyewa sudah selesai. Jika sudah selesai, pihak penyewa membutuhkannya kembali, maka akan dikenai biyaya lagi.__
"__lima. Pihak penyewa berhak menggunakan sipenyewa sebagai pacar, guru dalam percintaan, teman saat bosan, teman liburan, dan lain sebagainya yang bersangkutan dengan permasalahan yang ada. Selesai"
"Jadi gimana, lo setuju dengan semua peraturan yang gue buat?"
Zea mengangguk. Lalu mengambil pulpen dari dalam tas punggungnya, ia hendak akan menandatangani kontrak namun buru-buru dicegah oleh Devano. "Eh tunggu!!"
"Apa?"
Devano mengambil materai 6000 yang berada di dalam dompetnya. Lalu menempelkan materai itu menggunakan ludahnya. Melihat itu Zea jadi jijik sendiri dengan apa yang dilakukan Devano.
"Silahkan di tandatangani!" Perintah Devano saat Materai itu sudah menempel di atas kertas kontrak kerja.
Zea mulai menandatangani kertas itu. Lalu diserahkannya pada Devano. Devano sendiri tidak memberikan salinan kertas itu karena untuk berjaga-jaga takut Zea bisa membocorkannya pada semua orang.
"Mulai sekarang, lo sudah resmi jadi pacar gue. Lebih tepatnya penyewa gue" ucap Devano sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Zea.
Zea menerima uluran tangan Devano. "Gue tunggu lo nanti malem di rumah gue"
"Nanti kirim aja alamat rumah lo!"
"Ok"
Zea mengangguk. Lalu bangkit dari duduknya untuk segera pergi dari hadapan Devano. Namun saat kakinya hendak melangkah keluar, Devano berteriak pada Zea. "Gue mau nanti malem lo dandan cantik!!"
Devano tersenyum saat Zea membalasnya tanpa suara "O-ga-h"
Braakk
Zea membanting pintu itu dengan keras.
***
Malam ini para pembantu dirumah Zea sedang sibuk menata berbagai makanan di atas meja makan. Bahkan kesibukan mereka bukan hanya malam ini, malah dari semenjak tadi siang Elis sudah gencar-gencarnya menyuruh ini itu kepada para pembantunya untuk menyambut kedatangan Devano.
"Bi ijah tolong semua buah-buahan yang tadi siang lilis beli bawa kesini!"
"Iya nyonya"
"Lilis tolong ambilkan piring paling bagus di dalam bufet!"
"Siap nyonya"
Jasmin dan Rosa sudah turun dari lantai atas menuju meja makan dengan riasan mereka yang super cantik meski terlihat natural. Begitupun Gunawan, dia sudah berdandan layaknya seorang mertua dengan memakai kemeja batik yang senada dengan Dress yang dipakai Elis.
"Waaah banyak banget makanannya.." celetuk Rosa yang langsung memotret makanan itu untuk dipostingnya di i********:.
"Ros tolong Fotoin kakak dong sama makanan ini! Tadi mas Dika gak percaya kalo malam ini ada acara makan malam"
"Ok kak"
Kemudian Rosa memotret Jasmin dengan makanan yang ada di atas meja. Dikembalikannya ponsel Jasmin kepada pemiliknya.
Kemudian Ijah dengan Lilis sudah membawa semua kebutuhan yang tadi disuruh oleh Elis. Lalu meletakan semuanya di meja makan.
Tiba-tiba mang Ujang, Satpam Rumah Zea lari tergopoh-gopoh masuk kedalam rumah. "Nyonya ada yang nyari non Zea" Ucap Ujang setelah mendekati majikannya.
Semuanya berpandangan. "Siapa?" Tanya mereka serentak.
"Katanya pacar non Zea"
Elis jadi dek-dekan dengan pacar Zea yang akan datang malam ini. Begitupun semuanya juga sangat menantikan kedatangan Devano.
"Suruh masuk mang Ujang!" Suruh Gunawan.
"Baik tuan"
Lalu Ujang keluar dari rumah Zea, menemui Devano yang sekarang sedang memarkirkan motor ninja Merahnya di dekat pekarangan rumah Zea yang begitu luas. Devano menepuk-nepuk motornya dengan sayang, setelah beberapa hari motornya masuk bengkel.
"Mas katanya disuruh masuk!" Ucap Ujang.
Devano menoleh, lalu tersenyum pada mang Ujang. Dia melangkah masuk kedalam rumah. Sekedar Informasi, malam ini Devano terlihat begitu tampan dengan setelan kemeja putih dan jeans hitam miliknya.

Diruang makan. Elis tampak gusar, dia sudah pasrah dengan laki-laki yang akan dikenalkan Zea padanya. "Mama gak berharap apapun, sama pacar Zea. Meski pacar Zea tidak tampan seperti Sharukhan, Zea sudah bawa pacar saja mama sudah sangat senang."
"Yang pasti kegantengan Mas Dika gak mungkin terkalahkan dengan pacar Zea" Ucap Jasmin membanggakan pacarnya sendiri.
"Hahaha gue jadi ngebayangin pacar Zea kayak tukul arwana" celetuk Rosa yang liar dengan pikirannya sendiri.
"Sudahlah, kita harus menerima apa adanya pacar Zea" Ucap Gunawan.
Disaat obrolan itu berlangsung, tiba-tiba Devano melangkah mendekati mereka. "Permisi" Ucapnya.
"Uhukk... " Rosa tersedak Air minumnya saat melihat Devano. Diikuti keluarganya yang menoleh melihat Devano. Jangan ditanya Ekspresi Jasmin, saat ini! Dia sekarang sedang melotot tak percaya dengan laki-laki yang datang malam ini.
Sebentar-sebentar! Itu cowok gak salah masukan? Barang kali itu cowok ganteng cuma salah alamat. --- Batin Jasmin
Astaga! Saat ini Elis Refleks berdiri dengan menatap Devano tak percaya. "Kamu siapa?" Ucap Elis memastikan. Takut-takut laki-laki itu memang salah masuk.
"Saya pacarnya Zea tante" Ucap Devano sambil tersenyum.
Gunawan membenarkan bajunya yang tampak kusut. Sebagai calon mertua, dia tidak ingin di cap jelek oleh menantunya. "Ekhmm" Gunawan mensterilkan suaranya.
Elis tersenyum bahagia sambil menatap keluarganya. Ternyata pacar Zea jauh dari perkiraan mereka. "Siapa nama kamu?"
"Perkenalkan, nama saya Devano tante, Om, kak Jasmin. Dan..."
Jasmin terkesiap karena Devano masih mengingat namanya. Gadis itu membalas senyum Devano dengan sangat manis. Ternyata pacar Zea jauh lebih tampan dari Mas Dika. Sedangkan Rosa melihat penampilan wajahnya di depan cermin kecil yang selalu dibawanya, barang kali saja pacar Zea beralih menyukai Dia ketimbang adiknya.
"Rosa! Nama aku Rosa" Ucap Rosa sambil berdiri.
"Kak Rosa" ucap Devano sambil tersenyum sopan kepada kaka Zea.
"Yasudah Nak Dev, duduk dulu!" Suruh Elis sambil menuntun Devano agar duduk.
"Iya tante"
Astaga! Elis menepuk jidatnya. "Jas tolong suruh Zea cepat kebawah! Dari tadi tu anak belum juga kesini"
"Eh iya Mam, yaudah Jasmin mau susulin dulu Zea"
Lalu Jasmin naik kelantai atas untuk menyuruh Zea agar cepat turun. Dia menggedor pintu Zea dari luar kamar.
"Zea pacar kamu udah datang tuh dibawah!" Teriak Jasmin
Zea terkesiap bukan main. Kenapa hatinya jadi dek-dekan seperti ini? Bahkan dari semenjak Sore tadi, acara dandannya tidak kunjung kelar juga.
"Iya kak Jas, nanti Zea turun"
Sumpah gue dek-dekan.
Ini pertama kalinya ada cowok yang bertamu kerumah mengatas namakan pacar gue. Ya allah Zea harus bersikap seperti apa sekarang?
Bersambung
Jangan lupa Like + Komennya ya!