Part 7

1315 Words
Zea turun dari lantai atas menuju meja makan, tempat keluarganya sekarang berkumupul. Ditambah Devano yang sekarang mengaku sebagai pacarnya. Gadis itu sudah dandan mati-matian semenjak sore tadi, rambutnya sudah di hiasi penjepit lucu berwarna merah  diatas telinga kanannya. Membuat seorang laki-laki yang sekarang duduk dimeja makan memandangnya dengan tersenyum.  "Malam keluarga?" sapa Zea sambil malu-malu duduk si sebelah Devano.  Tangan Zea terasa sangat dingin, ditambah Devano yang sekarang malah memandanginya terus, membuat dia semakin jadi gerogi.  Jangan ditanya Rosa dan Jasmin. Kedua kakak beradik itu tak henti-hentinya mengagumi ketampanan Devano ditempat duduknya.  "Ini buat kamu" ucap Devano lembut sambil menyodorkan buket bunga mawar berwarna merah beserta coklat kepada Zea yang sedari tadi sudah dibawa Devano. Dia tersenyum manis.  "I-ini untuk siapa?" Zea makin gerogi saja.  "Untuk kamu" Bentar! Ko malah dek-dekan? Tuhan tolong Zea tuhan!! Rasanya hati Zea mau meledak saja.  Keluarganya menyaksikan percakapan Zea dengan Devano yang menurut mereka romantis. Bahkan Elis benar-benar tersenyum bahagia melihat anaknya bersemu merah seperti itu.  "M-makasih Dev" Devano tersenyum. Lalu merasa kikuk kepada semua keluarga Zea. Acting Devano malam ini benar-benar sangat totalitas sekali, bahkan dari tadi sore dia sudah menyiapkan alur apa yang akan dilakukannya malam ini.  "Nah sekarang kita makan saja terlebih dahulu" ucap Gunawan.  "Iya nak Dev, kamu cobain masakan rumah tante! Kalo kamu suka, nanti jangan sungkan ya main kesini!" Elis ikut menimpali, sambil mencubit Zea agar gadis itu menuangkan makanan ke piring Devano.  Zea buru-buru mengambil nasi beserta lauk pauknya ke piring Devano. "Makasih sayang" ucap Devano saat melihat Zea menungkan nasi untuknya.  Selain Zea yang dek-dekan. Di lain kursi, ada Jasmin dan Rosa yang malah baper sendiri dengan semua ucapan Devano.  Tolong jika ini mimpi jangan bangunkan Zea tuhan! Rasanya meski ingin meledak, tapi kenapa hati Zea jadi merasa bahagia.  Zea buru-buru menggeleng. Dia tidak boleh menyukai Devano. Laki-laki itu hanya pacar sewaannya, bukannya sudah tertera di peraturan nomor dua? Jika Zea dilarang keras untuk menyukai Devano. "Ze?" Panggil Devano. "Eh.. iya Dev?" Zea menoleh. "Kenapa malah bengong?" "Itu... anu. gue—sorry aku ngerasa gak lapar" Zea merutuki dirinya sendiri karena malah salah ucap beberapa kali. Devano mencondongkan wajahnya ketelinga Zea lalu berbisik. "Tunjukin kemesraan kita b**o!" Gadis itu melotot ke arah Devano. Kata-kata Devano sekarang dengan tadi saat berbisik sungguh sangat jauh berbeda. Itu menyadarkan Zea jika ini benar-benar Acting, bukan sungguhan! "Kalo mama boleh tau, kalian kenal pertama kali dimana?" Ucap Elis sambil memakan nasinya. "Di Bus",  "Di kampus" Ucap Devano dengan Zea bebarengan dengan jawaban berbeda. "Hahaha mana yang bener?" Devano menginjak kaki Zea agar gadis itu diam tidak menjawab. Sedangkan Zea sekarang sedang meringis menahan rasa sakitnya di kaki sebelah kanan. "Jadi awalnya itu memang di Bus tante, cuma kalo pas kenalannya memang waktu di kampus" jawab Devano memang apa adanya. "Oh jadi kalian satu kampus?" Tanya Gunawan. "Iya om" "Memangnya kamu semester berapa Devano?" "Semester tujuh om" "Kebetulan perusahaan om sudah bekerjasama dengan Universitas Jakarta. Kalo kamu berminat setelah lulus nanti, kamu boleh kerja di perusahaan om tanpa seleksi" Gunawan menyodorkan kartu namanya. Seketika Devano melotot tak percaya. Ternyata Papanya Zea adalah seorang CEO perusahaan BI. Yaitu perusahaan sekuritas yang bergerak di bidang jual beli saham terbesar di Indonesia. Itu adalah perusahaan yang paling di idamkan oleh setiap Mahasiswa Fakultas Ekonomi, terutama Devano sendiri sangat ingin bergabung di perusahaan itu. "Om beneran CEO di sana?" Zea yang melihat Devano berbinar bahagia seketika saja ingin mencibir laki-laki itu. Biasa aja dong Boss, kayak nemu berlian di empang aja  "Iya Devano, kamu boleh bergabung disana suatu hari nanti. Bahkan jika kamu mau melakukan penelitian disana perusahaan om akan senang hati menerima kamu" "Terimakasih om"  *** Devano melirik Zea. Lalu Zea ikutan melirik Devano disebelahnya. Mereka berdua sedang duduk di bangku kosong dekat kolam renang rumah Zea yang terletak di dekat taman belakang rumah. "Jadi lo mau kapan bayar uang 10 jutanya?" "Besok. Celengan gue belum di bobol" Devano membesarkan kedua bola matanya, "Lo masih nyimpen uang di celengan Ze? Astaga anak orang kaya masih aja jaman nyelengin duit" Zea mendelik tajam pada Devano. "Terus masalah buat lo kalo gue nyelengin duit?" Devano tertawa terbahak-bahak. Gadis disebelahnya ini memang berbeda dengan gadis kebanyakan. Kenapa gak sekalian aja si Zea nyimpen uang di bawah bantal atau di wadah beras. "Ya enggak masalah juga sih hptttt" Ketika Devano tertawa, tiba-tiba dia dikagetkan dengan penampakan seseorang yang berada dekat tirai jendela. Itu Elis, mamanya Zea yang sedang mengawasi mereka. Sontak saja Devano langsung menarik Zea kedalam pelukannya. "Eh kenapa lo malah peluk gue?"  Zea hendak melepaskan pelukan Devano di badannya, namun Devano segera berbisik pada Zea. "Ada mama lo lagi ngawasin kita!" "Hah mama gu__"  Tiba-tiba Zea juga kaget dengan seseorang yang sedang berdiri di balkon lantai dua. Dia kak Jasmin yang sedang pura-pura main ponsel padahal arah matanya sedang memperhatikan mereka. "Jadi kita harus gimana? Gue bingung Dev" "Kita cuma tinggal Acting aja layaknya orang pacaran Ze!" "Tapi gue gak tau orang pacaran ngapain aja" Devano tampak bingung juga. Tangannya pura-pura sedang mengelus rambut Zea sambil memeluk gadis itu. Karena sedari tadi Elis masih saja mengawasi Devano. Anjirr keluarga si Zea sampe segitunya merhatiin gue.. "Kita tinggal mesra-mesraan aja udah beres!" "Mesra-mesraan kayak gimana sih? Aww elo ngelus rambut gue apa lagi mukulin pala gue Pe___?" Teriak Zea namun bibir Zea segera di bungkam oleh bibir Devano. Mata Zea melotot. Tubuhnya seakan menegang tak bisa bergerak saat Devano memejamkan matanya. Zea tak bisa menggerakan bibirnya sama sekali, karena saat ini Devano malah menggerakan bibirnya. Menggerakan bibir bukan berarti melumat layaknya seorang yang sedang berciuman tapi Devano justru sedang berbicara dibalik bibirnya yang sedang mengecup bibir Zea.  "Lo jangan teriak! Kita bisa ketahuan b**o" Ucap Devano yang berbicara tepat didepan bibir Zea dengan bibir mereka yang masih menempel. Perlahan mata Zea terbuka, pipinya sudah sangat memerah. Rasanya dia ingin sekali menjauhkan Devano dihadapannya, tapi apa boleh buat, mereka masih ber-Acting sekarang.  Devano melepaskan tautan bibir mereka. Matanya menatap manik mata Zea. Dia menyeka air liur yang sedikit menempel di sudut bibir Zea dengan ibu jarinya. "Setidaknya lo bales ciuman gue b**o! Apa jangan-jangan lo baru ngerasain ciuman?" Tanya Devano. Bibir Devano tersenyum manis, tapi kata-kata Devano justru berbanding terbalik dengan Ekspresinya. Zea masih saja tidak Fokus menatap Devano. Entah kenapa bibirnya malah kelu, dengan pipi yang sangat memerah. Dia sangat bersusah payah mengumpulkan semua nyawanya yang entah pergi kemana. "Ze?" "Hm?" Jawab Zea dengan tatapannya yang entah kemana. "Mulai sekarang, kalo kita sedang Acting begini, lo harus terbiasa bermesraan sama gue!" Mata Zea akhirnya bisa Fokus menatap Devano. Kini dia menatap tajam ke arah laki-laki itu. "Maksud lo?" "Ya lo mau tidak mau harus belajar orang pacaran itu kayak gimana!" "Terus caranya gue belajar?" "Gue akan ajarin lo pacaran kayak gimana. Besok sore pulang dari kampus, lo temuin gue. Nanti gue share alamatnya di w******p" "Emangnya harus ya?" "Inget ya Ze! Orang tua lo itu masih baru banget tahu kita pacaran, gak mungkin kan kalo gue cuma sekali datang kerumah lo? Yang ada mereka malah curiga, kita berhenti Acting pacaran sampe mereka berhenti niat buat jodoin lo sama laki-laki tua itu" "Lo bener Dev, Mama pasti akan tanyain lo besok-besok. Terus caranya buat bisa terlepas dari ini gimana Dev?" "Gue akan mikirin rencana selanjutnya. Yang pasti buat sekarang ini, kita lanjutin Pacaran bohongan kita ini" "Gue terserah lo aja deh." Devano mengelus lembut rambut Zea. Dia tersenyum sambil melirik Elis yang masih memperhatikan mereka berdua. "Yaudah, ini udah malem. Gue mau pulang dulu. Nanti kita pikirin lagi besok!" "Iya Dev" Cup Devano mencium pucuk kepala Zea dengan Ekspresi sayang. Namun kata-kata dia justru malah membuat Zea gondokan.  "Ze lo udah berapa hari gak keramas? Rambut lo bau banget anjir" bisik Dia yang tentu tidak terdengar oleh keluarga Zea. Zea menggeram. Dia tersenyum manis, lalu ikutan berbicara sama berbisiknya, "lo juga sikat gigi sana! Mulut lo bau" Devano ikutan melotot. Perasaan mulut Devano selalu wangi, malah dia itu paling rajin membersihkan gigi.  Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD