Part 8

1155 Words
Zea memandangi kostan Devano. Tempat yang dijanjikan Devano untuk membicarakan perihal pacaran bohongannya. Zea juga sudah membawa beberapa uang yang masih ia kantungi di dalam tasnya. Bahkan dia rela menjual beberapa baju Branded yang dibelikan mamanya dulu, karena tidak pernah ia pakai. "Di mana sih si Devano nyimpen kuncinya?" Zea mencari-cari kunci kostan Devano di bawah rak sepatu. Dan setelah ketemu, langsung saja Zea memasuki kamar kost Devano. Saat masuk kedalam, Zea berdecak kagum dengan keadaan kamarnya. Kamar itu bersih dan juga rapi, sangat berbeda dengan kamar Zea yang sangat berantakan. Di dinding kamar Devano juga tertempel beberapa Post it dengan beberapa kosa kata Bahasa inggris. Dan juga beberapa tempelan jadwal yang selalu Devano lakukan. "Waaaaah ternyata si Devano emang beneran pinter, di kamarnya aja ada Foto Warren Buffett" celetuk Zea. Seumur-umur baru kali ini Zea melihat seseorang yang sampai sebegitu nge-fans nya dengan bapak Saham Sedunia. Zea benar-benar sangat penasaran dengan karakter Devano yang menurutnya memang langka. Cklek Devano baru saja datang kedalam kostannya dengan menggendong tas punggungnya. "Udah dateng?" Tanya Devano sambil menyimpan tasnya di atas meja belajar. "Kalo belum dateng, masa gue disini?" "Barang kali aja lo setan, makanya gue tanya" Zea tak memperdulikan ucapan Devano, dia masih saja menekuri setiap sudut kamar Devano yang dipenuhi semua yang berhubungan dengan ilmu ekonomi. "Lo sering ya bawa cewek ke kostan lo?" "Nggak. Selain Gisel, cewek kedua yang datang kesini cuma lo. Bahkan ade gue aja gak tau gue tinggal disini" "Bohong!" "Yaudah kalo gak percaya__"  Zea ikut duduk ditepi ranjang dekat Devano. Zea menarik napasnya sebentar, lalu ditatapnya Devano. "Ajarin gue caranya biar bisa jadi cewek beneran! "Lo yakin mau berubah?" Zea mengangguk "Gue gak mungkin harus ngandelin lo terus, suatu saat orang tua gue pasti tau kalo kita putus" "Gue punya ide" "Apa?" "Ikut gue!" Devano menarik tangan Zea keluar dari kostannya. Lalu menyuruh Zea untuk ikut duduk dibelakang motor yang akan di kemudikannya. "Dev sebenarnya kita mau kemana?" "Udah lo ikut aja!" Jawab Devano sambil memasangkan helem ke kepala Zea. Setelah Zea duduk di jok belakang, Devano segera menyalakan gas, lalu mengemudikan motor itu dengan kecepatan tinggi, sampai-sampai Zea harus mendekap tubuh Devano karena saking cepatnya. "Dev jangan ngebut-ngebut!" Teriak Zea didekat telinga Devano. Mendengar Zea ketakutan, Devano justru malah semakin mempercepat kemudinya agar gadis itu semakin ketakutan. Hingga Zea menelungkupkan wajahnya di punggung Devano. Sesampainya ditempat tujuan, Zea memegangi terus perutnya yang terasa mual. Baru kali ini dia di bawa ngebut memakai kendaraan motor. "Ze lo punya uang berapa?" "Gak punya Dev, ada juga uang celengan gue yang buat dikasihin ke elo" Devano tampak berpikir. "Sedikitpun enggak punya?" "Eng__ eh ada kayaknya." Zea buru-buru mengambil Kartu kreditnya di dalam tas. "Kayaknya ini bisa deh Dev" Devano mengambil kartu kredit milik Zea. "Ini punya siapa?" "Itu kartu kredit tanpa Batas Dev, yang dikasihin kak Jasmin buat gue beli semua titipan barangnya" "Terus lo gak boleh make?" "Boleh sih, tapi gue jarang pake" "Ok. Hari ini kita pake ini" Devano kembali menarik tangan Zea memasuki sebuah mall Jakarta yang cukup terkenal. Namun Devano buru-buru memakai kaca mata hitamnya, takut-takut ada mahasiswa kampusnya yang melihat dia bersama Zea. Zea dengan Devano menuju sebuah bioskop yang ada di dalam mall tersebut. Beberapa orang yang masuk rata-rata adalah anak remaja atau anak kuliahan. "Gue mau tanya, lo suka Filem apa?" Tanya Devano. "Emmm... Aksi, atau Filem horor" "Gue saranin, mulai sekarang lo harus suka sama filem ber-genre Romantis!" "Tapi gue males Dev nonton filem begitu" "Ya makanya sekarang lo harus terbiasa" Devano membeli tiket Filem Romantis berjudul After yang berasal dari Amerika Serikat. akhir-akhir ini Filem After sedang trand di kalangan anak muda. Filem ini juga di adaptasi dari w*****d. Sampai-sampai semua penontonnya rata-rata anak muda.  Devano juga tak lupa membeli beberapa cemilan dengan membayar memakai kartu kredit yang diberikan Zea. Zea sendiri tak menyangka jika kartu itu akan digunakannya bersama Devano. "Ayo masuk!" Zea nurut saja ketika tangannya ditarik lagi oleh Devano. Laki-laki itu sengaja memilih tempat duduk paling pojok karena agar dia leluasa untuk mengajari Zea ini itu. Kemudian keduanya duduk bersebelahan. Zea mulai memperhatikan Filem After saat Filem mulai diputar. Devano menyimpan Popcorn ditengah-tengah mereka. "Ze?" "Hm?" Zea menoleh. "Gimana film-nya?" "Gak tau Be aja." Jawab Zea sambil menguap karena memang tidak menyukai genre filem tersebut. "Coba deh liat kekanan kiri lo!" Astaga Zea kaget bukan main saat beberapa penonton sedang peluk-pelukan di dalam bioskop. Bahkan ada yang terang-terangan ciuman di tempat mereka. Saat Zea menoleh kelayar Bioskop, ternyata adegan filem tersebut sedang menampilkan adegan intim tokoh utamanya. Zea meringis saat menoleh ke arah Devano, "Dev sebenarnya kita disini mau ngapain sih?" "Mau belajar Ze. Gue mau ngubah lo jadi cewek seperti umumnya" "Tapi kalo ini kita nonton Bokep Dev, mana ada Film ada ena-enanya gini?" "Tapi ini yang disukai sama kaum perempuan Ze. Lagian Filemnya masih tahap biasa" Zea pasrah saja dengan usul Devano. Dengan tampangnya yang sedang cemberut Zea mengambil Popcorn disebelahnya. "Gue kasih tau triknya Ze. ketika lo berada di dalam bioskop, bareng sama cowok. Sebisa mungkin lo jangan ketiduran!" Zea mengangguk sambil memakan Popcorn. "Kedua. Lo jangan terlalu banyak makan. rata-rata, cowok gak suka cewek yang rakus." Sontak saja Zea berhenti memakan Popcorn. "Ketiga. Lo harus bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan." "Maksud lo?" "Ketika si cowok ngambil popcorn, sebisa mungkin lo harus bisa megang tangan dia tanpa terkesan modus" "Buat apa juga gue pengen pegang tangan cowok?" Devano malah geram mendengar jawaban Zea. "Ya itu awal mula kalian bisa PDKT b**o!" Zea nyengir dengan wajah tanpa dosanya. Lalu manggut-manggut.  "Bisa dicoba?" "Boleh" jawab Zea. Ketika itu Devano pura-pura menyaksikan filem After kembali. Tangannya mulai mengambil Popcorn, namun tangan Zea belum juga memegangi tangannya. Dia melirik gadis itu yang tampak ragu ingin memegangi tangannya. "Buruan pegang tangan gue Ze!!" Devano mulai kesal. "Iya-iya" Kemudian Zea memegangi tangan Devano seperti sedang di motor tadi. Kuat tak ada lembut-lembutnya sedikitpun. "Bukan kayak gitu megangnya!" "Terus gue harus pegang gimana?" "Lo pegang tangan gue lembut!" Kemudian Zea memegangi tangan Devano sangat lembut. Dia menatap Devano lekat. Devano-pun menatap Zea. "Saat seperti ini, ini adalah moment lo buat si cowok melancarkan aksinya ke tahap yang lebih tinggi" "Terus gue harus ngapain?" "Pandang gue dengan penuh harap!" Zeapun memandang manik mata Devano lekat. Hingga mata Devano terkunci, tak bisa beralih ke manapun. Entah kenapa, dorongan dari mana, Devano mencondongkan wajahnya ke arah Zea. Gadis itu menutup matanya saat bibir Devano beberapa Centi lagi akan menempel kebibirnya. "Lo lulus tahap ini" Ucap Devano. Zea membuka matanya. Jarak wajah Devano begitu sangat dekat. Hingga napas laki-laki itu sangat ia rasakan di area pipinya. Entah kenapa juga Zea justru sangat ingin mencium Devano saat ini. Hingga ketika itu, Zea memajukan bibirnya untuk mencium bibir Devano. Cup Zea benar-benar mencium Devano. Tak ada penolakan dari Devano, dia hanya tersenyum dibalik ciuman yang dilakukan Zea. "Bagus!" Ucap Devano saat Zea sudah melepaskan Ciumannya. Tapi begitu Zea hendak menjauh, Devano justru menarik tengkuk Zea hingga bibir mereka kembali menempel.  Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD