SIKAP
Malam yang pucat
Bulan mati
Bintang perih
Sisa angin mencumbui kelusuhan
Lirih menopang berbagai beban
Memekat pada yang berlawanan
Mata ingin menutup
Pikiran pikiran didendangi nyanyian liar
Dibawah gulita tak ADa yang mudah ditiup
Nafasku sendiri seketika membakar
Panas
Bukan pada api
Dingin
Pada raga yang ingin di gerayangi
Kamu
Entah terjaga atau dilelap mimpi
Pagi masih bersayup kemerduan
Iringan irama gemercik menjatuhi perlahan
Panas pada suhunya
Dingin pada sekitarnya
Kerjaan angin malam membuat raganya mengigil
Meriang
Pikirannya kembali bertikai pada diamnya
Entah apa yang terjadi pada bibirnya
Baru saja memenangkan sang adam ini
Malah tak tenang tanpa tersudahi
Perasaannya mungkin telah terenggut habis
Sehingga mudah bernyanyi pada masalalunya
Atau jiwanya sendiri yang memerangi pikirannya
Meski angin sudah menunjukkan
Apa kehijauan dan apa kemurnian
Meski langit sudah menjelaskan
Apa yang keras dan penuh kelembutan
Mempertanyakan hanya sebatas kerisihan
Tidak ada aku pada kebenaran
Tidak ada aku pada awal yang disuarakan
Tidak
Tidak
Tidak
Aku dan ketiadaan ku yang di tiadakan
Tanpa tindakan
Hingga ditindih tanpa perdamaian
Diantara penebusan
Atau tidak
Pada hal yang tidak diinginkan
Yang tidak diberikan
Tidak
Tidak pada aku
Aku tidak pada tahu
Tujuanmu
Tujuanku
Entah kemana yang dituju
Ragu
Ambigu
Tidak
Tidak pada ragu
Tidak pada ambigu
Benci
Tidak
Mengerti
Tidak mengerti membenci
Benci tidak mengerti
Mengerti tidak membenci
Tidak
Kecewa
Sabar
Pada hal yang membuat harus bersabar dalam kecewa
Kecewa dalam hal yang tidak bisa disabarkan
Penjabaran tanpa dasar
Sesekali ku ingin mengerti, memahami
Yang terjadi meratapi
Tidak
Bukan yang itu