headline gosip di jam tiga pagi
"Apakah alam semesta bekerja dengan cara yang salah pada pagi ini?"
Ethan Cole mengerang pelan, dia terbangun dengan rasa berat dan pegal di sekitar perut. Ternyata gitar akustik menimpa perutnya selama dia tertidur.
Ponsel Ethan bergetar di lantai Studio seperti serangga yang sekarat. Ethan meraihnya dan melihat layar ponselnya dengan mata sedikit terbuka.
Ini pukul tiga pagi ada dua ratus lima puluh lebih notif dan sembilan puluh panggilan tak terjawab.
"Padahal ulang tahunku Sudah tiga bulan yang lalu." gumamnya bercampur serak.
"Tak apa-apa. Terimakasih semua." Ethan menyingkirkan gitar dari perutnya lalu mengusap rambut ikalnya yang berantakan ke belakang. Dia meregangkan tubuhnya yang ramping dan atletis, rasanya otot ini berderit , empat puluh tahun .Apakah suara itu sebuah peringatan? pikirnya.
Ethan masih menggenggam ponselnya, dan menggulirkan layar ponsel dengan ibu jarinya untuk melihat konten seru sambil tersenyum. namun senyum khasnya tiba-tiba memudar.
" hot news: penyanyi sekaligus gitaris handal Ethan Cole , tertangkap kamera keluar dari hotel bersama selebgram wanita muda."
Ethan menyipitkan matanya untuk mengamati foto yang buram itu. Pria tinggi dengan rambut ikal, merangkul seorang perempuan yang mengenakan kacamata hitam. Di bawah foto itu tidak sedikit komentar berisi hujatan, tapi diantaranya tetap ada yang terselip komentar nyeleneh seperti meminta nomor ponsel.
" tapi tunggu... tunggu dulu..." Ethan menatap foto itu lebih lama.
" pria itu memang Mirip denganku, tapi ada yang salah.." matanya mulai melebar.
" yap.... jaket kulit... aku tidak punya jaket kulit coklat seperti itu." Ethan menunjuk layar ponsel dengan jari telunjuk. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa pria yang ada di foto itu bukan dirinya.
" iya kan?" Ethan kembali ragu. Masalahnya Ethan mempunyai kisah skandal yang cukup banyak. Skandal sebelumnya saat di ibiza, Ethan terlihat Intens bercengkrama dengan presenter di suatu pesta para artis dan konglomerat, sehingga menimbulkan gosip dan viral selama tiga minggu.
Menurutnya itu hanyalah kesalahpahaman, namun siapa yang percaya dengannya. mereka haus akan gosip dan mengambil keuntungan dari kesalahpahaman itu.
___________
Pukul sembilan pagi, Ethan merasa ruang rapat di silverline record terasa lebih dingin.
" mungkin aku kurang tidur." pikir Ethan .
Di ujung meja rapat sudah hadir Miss Harper, sang direktur label dengan raut muka seperti guru tua galak yang akan memberi hukuman pada muridnya yang telah menaruh Kodok mati di laci mejanya. Di sisi kanan kiri tiga orang berjas sibuk mencatat dan enggan melihat kedatangan Ethan.
" Ethan," Panggil Miss Harper pelan.
" Kamu lebih memilih masuk berita gosip minggu ini,"
" Sepertinya ini tidak hanya tour terakhir, melainkan tour perpisahan kontrak kita setelah dua belas tahun lamanya. "
" Miss Harper, pria yang di foto itu bukan aku, lihat saja jaketnya, aku tidak punya jaket seperti itu!" Ethan mencoba membela diri.
" kamu juga bilang seperti itu waktu di Milan."
" ya, itu memang aku, tapi yang ini beda!"
Salah satu pria berjas mencoba membunyikan tawanya lalu terbatuk.
Ethan menutup matanya sesaat. Ini adalah pembelaan terburuk yang ia susun selama karirnya.
" Sekarang ini kami sedang mempertimbangkan untuk memutus kontrak tour." lanjut Miss Harper.
ini merupakan momen yang tepat bagi Daniel sang Manager mengangkat tangan dengan lembut untuk menenangkan suasana.
" Saya mengerti kekhawatiran anda, Miss Harper."
" Saya sudah mengurus semuanya, siang ini akan ada jadwal konferensi pers dan pernyataan resmi sudah siap, Percayakan pada saya."
Perkataan Daniel sangat santai dan tenang. Disaat seluruh tim sibuk semalaman mengatasi skandal ,pagi harinya Daniel muncul dengan setelan abu-abu necis, rambut tersisir rapi dan di tangannya sudah ada secangkir kopi panas yang mengepul.
" Kami baru menelepon pukul tujuh dan kamu sudah menyiapkan konferensi pers?" Miss Harper menyipitkan mata keheranan.
Tanpa buru-buru Daniel menyeruput kopinya.
" Itu kebiasaan lama. manajer yang baik harus selalu lebih depan." Daniel mengedipkan mata ke arah Ethan lalu berbisik di sela rapat yang mulai riuh.
" Kau tenang saja Ethan. Skandal juga bagian dari karya."
" Itu seperti kalimat di postingan." balas Etan.
" Memang." sahut Daniel sambil tersenyum.
Ethan mengira dia hanya bercanda.
____________
Hari konferensi pers berlangsung lancar. Semua sesi wawancara dilakukan oleh Daniel sang manajer. Ethan bersembunyi di apartemennya menyaksikan konferensi pers sambil menyantap makan malam dengan burrito.
"Maaf Ethan tidak bisa hadir, karena dia dalam kondisi kurang fit selepas jadwal latihan yang padat."
" Berita akhir-akhir ini yang berkaitan dengan Ethan hanyalah asumsi liar. Jadwal tour akan tetap terlaksana sesuai rencana."
Berbagai pertanyaan dari wartawan dijawab oleh Daniel dengan mulus .
"Akan ada kejutan spesial di awal tour ini, jangan sampai kalian melewatkannya. Terimakasih."
Kalimat terakhir yang disampaikan Daniel membuat flash kamera berkilat dua kali lipat. Tiket tour yang tadinya sempat lesu langsung habis dalam lima jam .
____________
Malam hari Ethan kembali ke studio Silverline. Di sebelah ruang studio merupakan tempat santai. Ruangan itu hanya dibatasi kaca tebal. Saat Ethan mau melewati meja kopi besar, disana terdapat laptop yang terbuka dan masih menyala.
" Laptop Daniel, tapi dimana dia?"Ethan melihat sekeliling ruangan, dia tak melihatnya.
Tidak ada niat untuk membaca isi laptop itu, namun Ethan mengikuti reflek tangan dan matanya.
Itu sebuah dokumen berisi beberapa fase perencanaan menjelang tour konser Ethan.
Yang membuat keningnya berkerut, dari beberapa fase tersebut benar-benar terjadi dengan yang Ethan alami kemarin-kemarin.
Mulai dari foto yang viral. Dibawah foto tersebut terdapat catatan kecil, sebuah permintaan editan foto untuk dibuat seolah-olah itu memang Ethan yang sedang berkencan.
" AHA! Sudah kuduga itu memang bukan aku! Tapi kenapa Daniel melakukan itu? Dia bahkan tidak membicarakannya denganku walaupun dia tahu aku tidak akan setuju dengan rencana murahan ini. "
Ethan mulai yakin kalau skandal yang selalu menimpanya bisa jadi memang rencana yang dibuat Daniel sejak awal karir Ethan.
Terdengar suara pintu masuk dan langkah kaki orang. Itu Daniel dan orang produksi sedang mengobrol.
" oh, Ethan! kau sudah lama disini?" Daniel tampak terkejut melihat Ethan berdiri diantara ruang studio dan ruang santai. Seketika itu Daniel melihat laptopnya terbuka.
"Kau melihat laptopku?"
"Laptop? Itu ada di depanmu kan? aku sedang buru-buru mau ambil gitar ini." Ethan menunjukkan gitarnya pada Daniel.
"Apa kau membacanya Ethan?" Daniel menahan Ethan sebelum dia keluar dari studio.
"Apa maksudmu? Apa ada yang harus k*****a?"
"owh, tidak. Pulanglah dan istirahat, kau terlalu capek. "
"Ya, tentu. " Ethan pergi dengan santai dan pura-pura bodoh.
Ethan sampai di apartemennya, dia menekan kode tombol pintu, klik terbuka.
Dia menaruh gitarnya yang terbungkus hardcase di samping sofa besar yang berada di ruang tengah apartemen.
Ethan merasa dirinya ingin mendinginkan kepala dengan sekaleng bir dingin.
"Satu kaleng cukup untuk menyegarkan pikiran."
Setelah meneguk bir pertama, Ethan bersandar di sofa beludru tipis dengan warna biru gelap sambil memikirkan kembali yang telah dibacanya di laptop Daniel. Ethan sempat melihat sebentar, ada sebuah artikel dan foto. Foto perempuan asia dengan rambut hitam panjang, sedikit bergelombang. Warna matanya coklat gelap dengan tatapan lembut.
Ethan tidak membaca seluruhnya karena kedatangan Daniel saat itu. Tapi dia ingat betul judul artikelnya.
"Skandal panas Rosie Park dengan CEO..."
Rencana apa lagi yang akan Daniel buat?
Kalau dia memang ingin menjual kisahku, aku yang akan buat akhirnya seperti apa.....