William sedang duduk di tepi perapian dalam rumahnya. Violet baru saja tertidur. Matanya menatap kosong sudut ruang tamu. Perasaan sepi menghampirinya, seolah hidupnya kurang lengkap. Cinta yang ia punya untuk gadis yang pernah mengisi hatinya, kini memang mulai memudar. Tapi, apa artinya jika dia tetap sendirian setelah Arana menolak lamarannya dua bulan lalu. “Apa aku tidak pantas untuk dicintai? Apa ini balasan karena aku telah melukai hati Athanasia. Tapi itu semua bukan keinginanku, aku tidak pernah berniat melukai hati Atha.” Duda beranak satu itu hanya merenung, sambil mengusap kasar wajahnya sendiri. Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki. Ia pun menoleh ke arah asal suara tersebut. “Rana? Kamu belum tidur?” tanya William saat mendapati gadis yang baru saja datang menghampirinya

