BAB 1 sehari sebelum pernikahan
Langit sore tampak cerah ketika Wendri Abas memarkir sepeda motornya di depan sebuah taman kecil di pusat kota. Di tangannya terdapat sebuah kantong berisi makanan ringan dan dua gelas minuman favorit seseorang yang sangat ia cintai.
Seseorang yang telah menemaninya selama lima tahun terakhir.
Keyla Salim.
Wendri tersenyum tipis saat melihat sosok wanita itu duduk di bangku taman sambil memainkan ponselnya.
"Menunggu lama?" tanya Wendri.
Keyla mengangkat wajahnya lalu tersenyum.
"Tidak juga."
Wendri menyerahkan minuman yang dibawanya.
"Masih suka rasa yang sama, kan?"
"Tentu saja."
Keyla menerima minuman itu lalu menatap pria di hadapannya beberapa saat.
Sudah lima tahun mereka bersama.
Lima tahun bukan waktu yang singkat.
Mereka telah melewati banyak hal bersama.
Mulai dari masa-masa ketika Wendri masih bekerja serabutan hingga akhirnya menjadi kurir tetap di sebuah perusahaan logistik.
Penghasilannya memang tidak besar.
Namun Wendri selalu bekerja keras.
Tidak pernah mengeluh.
Tidak pernah menyerah.
Karena satu tujuan.
Menikahi Keyla.
Besok adalah hari yang selama ini ia impikan.
Hari pernikahan mereka.
Wendri masih sulit percaya bahwa hari itu akhirnya tiba.
"Aku masih gugup," kata Wendri sambil tertawa kecil.
"Gugup kenapa?"
"Takut besok tiba-tiba aku pingsan saat akad."
Keyla tertawa pelan.
"Kamu berlebihan."
"Serius. Aku sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun."
Tatapan Wendri dipenuhi ketulusan.
Keyla tentu mengetahuinya.
Tidak ada seorang pun yang lebih memahami perjuangan Wendri selain dirinya.
Pria itu telah menabung sedikit demi sedikit.
Menahan keinginan membeli barang baru.
Bahkan motor yang digunakannya sekarang sudah berusia hampir tujuh tahun.
Semua demi satu tujuan.
Membangun masa depan bersama dirinya.
Namun entah kenapa, sejak beberapa minggu terakhir hati Keyla terasa tidak tenang.
Terutama karena sikap ibunya.
Kirana Salim.
Ibunya terus membahas soal uang.
Tentang kehidupan setelah menikah.
Tentang rumah.
Tentang kendaraan.
Tentang masa depan.
Tentang bagaimana seorang CEO seperti dirinya seharusnya mendapatkan pasangan
yang lebih mapan.
Awalnya Keyla membela Wendri.
Namun semakin lama kata-kata itu mulai memengaruhi pikirannya.
Meski begitu, ia masih berusaha mengabaikannya.
Karena ia mencintai Wendri.
Sangat mencintainya.
"Ada apa?" tanya Wendri saat melihat Keyla melamun.
"Tidak ada."
"Kamu terlihat banyak pikiran."
Keyla menggeleng.
"Aku hanya capek kerja."
Wendri tidak bertanya lebih jauh.
Ia lebih memilih menikmati waktu bersama wanita yang besok akan menjadi istrinya.
Mereka menghabiskan sore itu dengan berjalan-jalan di taman.
Membicarakan rumah kecil yang ingin mereka tempati.
Membicarakan anak.
Membicarakan impian sederhana yang selama ini mereka bangun bersama.
Bagi orang lain mungkin impian itu biasa saja.
Namun bagi Wendri, itu adalah seluruh dunianya.
Menjelang malam, mereka pergi makan di warung favorit mereka.
Bukan restoran mahal.
Bukan tempat mewah.
Hanya warung sederhana yang sering mereka kunjungi sejak masih pacaran.
"Aku ingat waktu pertama kali kita ke sini," kata Keyla.
"Waktu aku mentraktirmu pakai uang lembur."
"Dan setelah itu kamu makan mi instan seminggu penuh."
Wendri tertawa.
"Jangan dibahas."
"Kamu memang bodoh."
"Tapi berhasil membuatmu jatuh cinta."
Keyla tersenyum.
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
Ponselnya bergetar.
Nama ibunya muncul di layar.
Senyum di wajah Keyla perlahan memudar.
Ia menjawab panggilan itu.
"Halo, Bu."
Suara Kirana terdengar dari seberang.
"Kamu di mana?"
"Dengan Wendri."
"Kalian pulang sekarang. Ada hal yang harus dibicarakan."
Nada suara Kirana terdengar serius.
Keyla menelan ludah.
"Baik, Bu."
Panggilan berakhir.
"Ada apa?" tanya Wendri.
"Ibu menyuruh kita pulang."
Wendri mengangguk.
Meski sedikit heran, ia tidak berpikir macam-macam.
Besok adalah hari pernikahan mereka.
Mungkin hanya urusan persiapan terakhir.
Mereka kemudian menuju rumah keluarga Salim.
Rumah sederhana yang berada di kawasan perumahan menengah.
Saat mereka tiba, suasana rumah terasa aneh.
Kirana duduk di ruang tamu bersama Hartono.
Keduanya tampak serius.
Wendri memberi salam lalu duduk.
"Pak, Bu."
Hartono hanya mengangguk pelan.
Sedangkan Kirana menatap Wendri dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Kemudian Kirana membuka pembicaraan.
"Sebelum pernikahan besok, ada hal yang ingin kami bicarakan."
"Tentu, Bu." Jawab wendri
"Kami sudah memikirkan masa depan Keyla."
Wendri mengangguk. Kata kirana
"Saya juga memikirkannya."
Kirana menarik napas panjang.
"Lalu karena itu, kami ingin mengubah kesepakatan mahar."
Jantung Wendri berdetak sedikit lebih cepat.
"Mengubah?"
"Ya."
Wendri mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Bukankah semua sudah disepakati sejak lama? Tanya wendri
"Kami ingin jumlahnya dinaikkan."
Ruangan mendadak sunyi.
Wendri menatap Kirana.
"Maksud Ibu?"
Kirana menyebut sebuah angka.
Dan seketika wajah Wendri membeku.
Angka itu bahkan beberapa kali lipat lebih besar dari seluruh tabungannya.
Wendri sempat mengira dirinya salah dengar.
"Bu... jumlah itu..."
"Kami hanya ingin yang terbaik untuk anak kami."
"Tapi semua sudah disepakati dari awal."
"Itu dulu."
Kirana bersandar di kursinya.
"Sekarang Keyla sudah menjadi CEO."
"Posisinya berbeda."
Wendri merasakan sesuatu menekan dadanya.
Perlahan.
Semakin berat.
Ia menoleh ke arah Hartono.
Berharap pria itu mengatakan sesuatu.
Namun Hartono hanya diam.
Kemudian Wendri menoleh ke arah Keyla.
Wanita yang selama ini menjadi alasannya bekerja keras.
Wanita yang selama ini menjadi tujuan hidupnya.
"Keyla..."
Suara Wendri terdengar pelan.
"Kamu bagaimana?"
Keyla menundukkan kepala.
Ia terlihat gelisah.
Sangat gelisah.
Namun yang keluar dari bibirnya membuat hati Wendri terasa dingin.
"Aku hanya ingin masa depan kita aman."
Kalimat sederhana itu menghancurkan sesuatu dalam diri Wendri.
Bukan karena Keyla menolak dirinya.
Tetapi karena Keyla tidak membelanya.
Tidak seperti dulu.
Wendri terdiam cukup lama.
Lalu ia mengeluarkan senyum tipis.
Senyum yang terasa pahit.
"Aku mengerti."
"Wendri..." Keyla memanggil pelan.
Namun pria itu berdiri.
Tatapannya tidak lagi sama.
Untuk pertama kalinya sejak mereka berpacaran, ada jarak yang tidak terlihat di antara mereka.
"Aku akan pulang dulu."
"Wendri, tunggu."
Namun Wendri hanya mengangguk sopan kepada kedua orang tua Keyla.
Kemudian melangkah keluar rumah.
Malam terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Ia berjalan menuju motornya.
Pikirannya kosong.
Selama bertahun-tahun
ia bekerja tanpa mengenal lelah.
Setiap rupiah yang ia simpan.
Setiap impian yang ia bangun.
Seolah runtuh begitu saja.
Dari dalam rumah, Keyla berdiri di dekat jendela.
Melihat Wendri pergi.
Entah kenapa hatinya terasa sesak.
Sangat sesak.
Namun ia tidak bergerak.
Tidak mengejar.
Tidak memanggil.
Hanya berdiri diam.
Sementara di luar sana, Wendri menyalakan motornya.
Lalu pergi meninggalkan rumah itu.
Angin malam berhembus dingin menerpa wajah Wendri saat motornya melaju tanpa tujuan yang jelas. Jalanan kota yang biasanya ramai kini terasa sepi di matanya.
Pikirannya terus mengulang kejadian di rumah Keyla.
Semua terasa seperti mimpi buruk.
Padahal hanya beberapa jam yang lalu, mereka masih tertawa bersama di taman, membicarakan rumah sederhana dan masa depan yang ingin mereka bangun.
Namun dalam sekejap, semuanya berubah.
Wendri menggenggam setang motornya lebih erat.
Dadanya terasa sesak.
Bukan karena jumlah mahar yang diminta.
Melainkan karena sikap Keyla.
Ia berharap wanita itu akan berdiri di sampingnya.
Membelanya.
Mengatakan bahwa uang bukanlah hal yang paling penting.
Namun yang ia dapatkan hanyalah diam.
Setelah berkeliling hampir satu jam, Wendri akhirnya tiba di rumah sederhana tempat ia tinggal bersama ibunya.
Lampu ruang tamu masih menyala.
Marni Abas tampak duduk menunggu.
Begitu melihat anaknya masuk, wanita paruh baya itu langsung berdiri.
"Wendri? Bukannya kamu menginap di rumah keluarga Keyla malam ini?"
Wendri memaksakan senyum.
"Ada sedikit perubahan rencana, Bu."
Marni menatap putranya dengan cermat.
Sebagai seorang ibu, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada masalah?"
Wendri terdiam beberapa saat.
Lalu akhirnya menceritakan semuanya.
Tentang mahar yang tiba-tiba dinaikkan.
Tentang pernikahan yang terancam batal.
Tentang Keyla yang tidak membelanya.
Semakin lama ia bercerita, semakin merah mata Marni
Wanita itu ikut merasakan sakit yang dialami anaknya.
Setelah Wendri selesai berbicara, ruangan menjadi sunyi.
Marni menghela napas panjang.
"Kamu sudah berusaha yang terbaik, Nak."
Wendri tertawa kecil.
Namun tawa itu terdengar pahit.
"Ternyata yang terbaikku masih belum cukup."
"Jangan bilang begitu."
"Tapi itu kenyataannya, Bu."
Marni ingin mengatakan sesuatu.
Namun tidak menemukan kata-kata yang tepat.
Akhirnya ia hanya menggenggam tangan anaknya.
"Kalau memang mereka meminta sesuatu yang tidak sanggup kamu berikan, mungkin Tuhan sedang menyelamatkanmu dari sesuatu."
Wendri tidak menjawab.
Saat ini ia tidak ingin memikirkan apa pun.
Ia hanya merasa lelah.
Sangat lelah.
Malam itu, setelah ibunya masuk ke kamar, Wendri duduk sendirian di ruang tamu.
Di atas meja terdapat buku tabungannya.
Uang yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan.
Uang yang seharusnya digunakan untuk membangun rumah tangga.
Kini terasa tidak memiliki arti lagi.
Wendri membuka aplikasi perbankan di ponselnya.
Puluhan juta rupiah masih tersimpan di rekeningnya.
Dulu jumlah itu membuatnya bangga.
Sekarang tidak.
Tidak sama sekali.
Ia menatap layar ponselnya lama.
Kemudian tanpa sadar membuka aplikasi saham yang pernah ia unduh beberapa bulan lalu namun tidak pernah digunakan.
Wendri menatap berbagai kode saham yang bergerak naik turun.
Hijau.
Merah.
Hijau.
Merah.
Semuanya tampak seperti permainan yang tidak ia pahami.
Namun saat itu, sebuah pikiran nekat muncul di kepalanya.
"Apa gunanya menyimpan uang ini lagi?"
Jika pernikahannya benar-benar batal, maka seluruh rencana hidupnya juga ikut hancur.
Untuk pertama kalinya, Wendri merasa tidak peduli.
Entah uang itu habis atau tidak.
Entah masa depannya bagaimana.
Ia hanya ingin melupakan rasa sakit di dadanya.
Sementara itu, di rumah keluarga Salim, Keyla masih belum bisa tidur.
Wanita itu duduk di tepi ranjang sambil memandangi foto dirinya bersama Wendri.
Air matanya perlahan jatuh.
Ia tahu Wendri terluka.
Sangat terluka.
Namun ia juga merasa terjebak di antara cinta dan keluarganya.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Melani masuk.
"Bu Keyla, apa semuanya baik-baik saja?"
Keyla menatap pesan itu beberapa saat.
Lalu membalas singkat.
"Aku tidak tahu."
Malam semakin larut.
Di dua tempat yang berbeda, dua orang yang saling mencintai sama-sama tidak bisa memejamkan mata.