Semakin hari ada saja yang mengejek Karel dan Leo. Dan akhirnya Allea kembali bersekolah bersama dengan Leo. Vela sudah kembali ke rumah nya dan sekarang juga sudah bersekolah di antar oleh orang tua nya.
Leo menggandeng tangan Allea ketika baru turun dari mobil.
"Eh?" Allea bingung dengan sikap Leo yang tiba-tiba ini. Tidak seperti biasanya Leo berperilaku seperti ini.
"Kenapa sih Leo?" tanya Allea yang tangan nya masih di genggam oleh Leo.
Murid-murid yang lain melihat kearah mereka berdua dan mengejek nya, terutama anak laki-laki. Mereka itu semua bisa di katakan teman Verell semua, jadi jangan salah kalau mereka juga ikut mengejek.
"Loh Leo gak sama Karel lagi nih sekarang?" ledek salah satu laki-laki yang duduk di jendela kelas.
Leo hanya diam saja sambil menggandeng tangan Allea menuju kelas Allea.
"Gak sama Karel lagi? lo sering gandengan sama Karel?" tanya Allea menatap Leo.
"Jangan dengerin." Sebenarnya Leo juga kesal dengan ejekan itu. Ini ulah Verell dan Alfi. Padahal mereka ingin membalas dendam pada Karel tapi kenapa dirinya juga yang terkena masalah nya. Salah kan juga Verell karena memiliki banyak teman sehingga dengan mudah untuk mengejek nya.
"Woy Leo," panggil Karel menghampiri Leo.
"Wah kayanya ada yang cemburu nih," ledek para murid laki-laki itu. Ya, mereka bukan hanya satu dua orang saja. Verell itu kenal dengan seluruh sekolah, bahkan dengan OB dan satpam sekolah saja Verell kenal.
"Apa sih lo masih aja ngeledekin gitu!" ujar Karel yang juga sama kesal nya dengan Leo karena bercandaan yang di mulai dari Verell dan Alfi.
"Kan kan marah." Mereka tertawa terbahak.
Leo hanya diam saja dan melanjutkan langkah nya untuk menjauhi tempat itu. Allea sedari tadi mendengar pembicaraan mereka tidak mengerti. Memang nya ada apa dengan Leo dan Karel, apa dirinya melewatkan sesuatu yang besar ketika selama beberapa hari tidak masuk sekolah ini?
"Diem gak lo pada."Karel mendorong satu anak murid laki-laki yang duduk di jendela itu hingga jatoh, lalu Karel tertawa dan berlari menuju kelas nya.
"Sukurin!" teriak nya pada anak yang jatuh itu.
"Woy sialan lo ya!" Dan lihat lah teman-teman anak laki-laki itu pun ikut menertawakan nya. Memang dasar teman, ditertawakan terlebih dahulu baru di tolong.
Leo mengantarkan Allea ke kelas nya, yang itu juga kelas Karel. Di sana sudah ada Vela yang duduk dengan Alfi dan Verell yang sedang tertawa terbahak entah karena apa.
"Wow wow udah gandeng-gandengan aja nih," ledek Verell melihat Leo yang masuk ke kelas Allea dengan menggandeng tangan nya.
"Awas," perintah nya ada Verell yang duduk di samping Vela, bangku milik Allea.
"Santai dong." Verell masih tertawa dan berpindah duduk di meja. Allea yang masih kebingungan langsung duduk di bangku nya.
Tidak lama muncul Karel yang masuk ke dalam kelas sambil masih tertawa.
"Lah gila," sahut Alfi melihat Karel yang tertawa sendiri.
Karel langsung duduk di bangku nya dan meminum air mineral yang telah ia beli di kantin tadi.
"Pada kenapa sih?" tanya Allea yang sejak menginjakkan kaki nya di sekolah ia tidak mengerti dengan semua nya.
"Itu loh Allea, Karel sama Leo— " ucapan Alfi langsung terpotong karena tatapan tajam Leo.
"Ngeri ih."
"Itu loh—" sekarang ucapan Verell yang terpotong karena Karel yang menimpuk nya dengan sepatu milik nya.
"Sakit."
"Gua ke kelas dulu," ucap Leo pada Allea.
"Iya."
Leo melangkah kan kaki nya menuju kelas nya. "Bareng wey." Verell mengambil tas nya dan mengikuti Leo, karena hanya mereka berdua saja yang sekelas.
Alfi kembali duduk di tempat nya, yang berada di samping Karel. " Sepatu gua dong sekalian ambilin," pinta nya pada Alfi.
"Gak nyampe." Alfi duduk di samping nya dengan santai.
Karel berdecak kesal dan berjalan mengambil sepatu nya yang ia lemparkan tadi.
"Kenapa sih?" tanya Allea pada Vela.
"Jadi waktu itu, Verell sama Alfi bikin gosip si Karel suka Leo gitu dah, walaupun mereka tau itu cuma bercanda tetep aja pada ledekin, apalagi lo tau kan temen Verell tuh satu sekolahan," jelas Vela pada Allea.
"Pantesan aja."
"Gak bener emang temen lo tuh."
"Ide Verell pasti bukan Alfi."
"Yang ngasih ide buat ngerjain Karel itu Alfi, tapi ya ide nya ini ya Verell lah siapa lagi. Satu-satu nya manusia yang otak nya seperempat doang." Vela dan Allea tertawa bersama.
***
Gosip tetap lah gosip. Bercandaan selalu paling utama di kalangan anak muda, hal yang menyenangkan itu akan di utamakan kan?
Itu lah yang terjadi, sampai sekarang mereka masih saja mengejek Leo dan Karel. Mereka semua tau kalau berita yang di sampaikan Verell sudah pasti tidak benar dan hanya gurauan saja. Tapi lagi dan lagi, demi kesenangan semata. Ini begitu menyenangkan.
Sampai tiba nya Verell versi wanita generasi sebelum nya, Alvera. Kakak kedua Leo itu mendengarkan gosip terbaru tentang adik nya itu. Sebenarnya ia juga tau itu hanya candaan saja, tapi tetap saja sebagai kakak nya ia merasa sedikit khawatir dan penasaran. Bagaimana bisa itu terjadi, itu membuat Alvera semakin penasaran yang membuat nya hari ini juga tepat saat ini ia harus mengunjungi apartment milik adik nya, Leo.
"Leo," panggil Alvera yang sudah berada di depan pintu apartment adik nya itu. Entah terlalu bersemangat atau bodoh dia tidak memencet bel yang sudah tersedia dan malah berteriak memanggil adiknya itu.
"Lama banget sih ini anak," keluh Alvera sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri nya. Ini hari libur, adiknya pasti ada di dalam kan.
"Leo lama banget sih." Alvera menghela napas dan melihat ke sekeliling nya.
"Oiya kan ada bel." Alvera menekan bel dengan tidak sabaran. Ia harus menanyakan gosip itu, bercandaan atau tidak ia penasaran akan pernyataan langsung dari adik nya itu.
Tidak lama pintu terbuka dan menampilkan sosok adik nya yang sangat sangat jauh berbeda dari biasanya.
"Kok adek gua jadi cewek?" Tanya Alvera melihat adiknya yang sudah berubah menjadi perempuan cantik. Apa karena ini adiknya di gosip kan dengan teman nya itu? Pikir Alvera dengan konyolnya.
"Eh nyari Leo ya?"
"Eh bukan Leo?" Tanya Alvera sambil menunjuk lawan bicaranya.
"Bukan, Leo nya lagi pergi tadi." Geleng nya.
"Siapa?"
"Oh iya saya Allea kak, temen nya Leo," jawab Allea sambil tersenyum manis. Mencari Leo, adiknya, Allea pastikan yang berada di depan nya ini kakaknya Leo.
"Temen?"
"Iya kak."
Alvera masuk ke dalam apartment adiknya membuat Allea kebingungan harus bersikap bagaimana.
"Temen tapi tinggal bareng?" Alvera membalik kan badannya menatap Allea yang terlihat sedikit gugup. Allea harus jawab apa?
"I... Iya."
"Udah lama?"
Allea menggeleng, karena dia juga belum satu bulan tinggal di sini bersama Leo, jadi Allea pikir ia belum lama juga tinggal bersama Leo.
"Leo ngizinin lo tinggal di sini?"
Allea mengangguk, karena memang Leo yang mengajaknya tinggal di sini. Kenapa kakaknya terlihat sangat heran seperti ini.
"Kok dia gak cerita ya." Alvera mengetukkan jarinya di dagu nya seolah berpikir.
Allea juga tidak tau.
"Terus kemana dia?"
"Lagi ada urusan katanya."
"Ok."
Alvera mengeluarkan ponsel nya untuk menghubungi keluarganya dan mengatakan kalau Leo mempunyai kekasih dan tinggal bersama di apartment nya. Itu berita yang menakjubkan kan. Alvera penasaran bagaimana reaksi papa nya nanti ketika tau. Ini akan menyenangkan.
"Lo gak usah gugup gitu kali, biasa aja." Alvera duduk di sofa. Allea hanya mengangguk kecil.
"Mau minum apa kak?" Tawar Allea, bagaimana pun tetap tamu, jadi Allea harus menawari minum kan.
"Apa aja," jawab nya masih dengan memainkan ponselnya.
Allea berjalan ke dapur untuk membawakan minuman dan beberapa cemilan untuk kakak nya Leo. Tanpa bertanya juga Allea tau itu pasti kakaknya Leo.
Alvera tertawa ketika melihat reaksi kakak pertama nya itu, Alvera sampai di tuduh menipu mereka. Ini menyenangkan, pikir Alvera.
"Gua harus bawa ke rumah kaya nya." Alvera mengangguk-anggukan kepala nya. Alvera yakin mama nya akan sangat terkejut anak es kedua nya itu mempunyai seorang wanita dan tinggal di apartemen bersama, sangat di luar dugaan sekali adik nya satu ini.
Allea datang membawa dua gelas minuman dan beberapa cemilan. Alvera melirik Allea yang berjalan semakin mendekat.
"Allea ya?" Alvera meletakkan ponselnya dan menatap Allea yang di depan nya yang tengah meletakkan gelas di depan Alvera.
Allea hanya mengangguk saja menjawab pertanyaan Alvera.
"Kalian gak pacaran?" Tanya Alvera menatap Allea dengan serius.
"Eh enggak."
"Yakin?"
"Iya."
"Masih pdkt tapi udah tinggal bareng?"
"Eh?" Allea menatap Alvera.
"Gak apa-apa, santai aja sama gua mah." Alvera menenggak minum nya.
"Nanti ikut gua ke rumah yuk," ajak Alvera membuat Allea tersentak.
"Hah?"
"Udah ayo ikut aja, mau gua kenalin ke keluarga."
Allea terkejut mendengar pernyataan kakak nya Leo itu. Yang benar saja di kenalkan ke keluarganya? Astaga Allea tidak mau terjadi kesalahpahaman.
"Bukan gitu kak tapi... "
"Gak ada tapi tapi, cepet sana siap-siap. Gua tungguin nih," potong Alvera.
Allea takut nanti Leo pulang dan marah karena menyebabkan kesalahpahaman ini. Allea harus bagaimana?
"Cepet Allea."
"I... Iya kak." Allea mau tidak mau ke kamar nya dan bersiap untuk ikut dengan kakak nya Leo.
Allea harus menjelaskan apa nanti, apa Allea harus menceritakan masalah hidupnya dan mengatakan kalau Leo yang menyelamatkan nya? Apa mereka akan menganggap nya itu hanya karangan? Tentu saja sudah pasti mereka menganggap itu semua hanya karangan saja. Mereka tidak akan mudah percaya dengan perkataan nya kan. Mungkin Allea akan menanyakan terlebih dahulu pada Leo apa yang harus di lakukan nya sekarang.
Allea mengambil ponsel nya untuk menghubungi Leo.