Part 48

1618 Words
Hari yang tidak di sukai Varell dan yang lain nya, mungkin kecuali Leo. Mereka harus kembali bersekolah, tidak bisa lagi untuk izin karena Leo tidak mengizinkan lagi, dan itu sangat menyebalkan bagi Verell. Ia merasa tidak adil karena Allea dan Vela tetap berada di apartment Leo dan tidak bersekolah, sedangkan dirinya harus berangkat ke sekolah. "Dih masa lo enak banget gak sekolah," ujar Verell pada kedua teman perempuan nya itu, Vela dan Allea. "Iya dong," balas Vela dengan sombong, padahal itu juga karena luka nya yang belum sembuh sepenuh nya dan Allea yang masih berduka. Leo juag sudah mengijinkan mereka berdua untuk tidak sekolah dulu sekarang. "Verell cepetan pake sepatu nya," ucap Alfi yang sudah selesai menggunakan sepatu nya. "Tau lo semangat dong mau sekolah," ejek Vela sambil memakan roti coklat nya dan memerhatikan teman-teman nya yang akan berangkat ke sekolah. "Diem dah lo." Verell menoleh pada Vela kesal dan mengikat tali sepatu nya dengan malas. Verell menoleh dan mencari keberadaan Leo dan berkata, "Leo masa gua gak boleh nebeng sih," ucap nya pada Leo yang sedang berbicara dengan Allea. "Sama Alfi aja lah lo," sahut Karel sambil menyisirkan rambut nya ke belakang dengan jari-jari nya sambil mengaca pada ponsel nya. "Sok cakep sih," sahut Vela pada Karel yang tidak memperdulikan ucapan teman nya itu. "Dih masa lo berdua naik mobil, gua berdua naik motor, sekalian lah nebeng kan masih muat mobil nya." "Ogah lah bareng lo mah," ucap Karel sambil membenarkan letak tas di pundak kanan nya. Leo mengusap kepala Allea berpamitan untuk berangkat sekolah. "Kalo ada apa-apa telfon." "Iya Leo, iya." "Hati-hati," ucap Allea yang di balas dengan anggukan kepala. Leo berjalan keluar terlebih dahulu di susul dengan Karel yang sebelum menyusul Leo menyempatkan beberapa detik untuk mengejek Verell dan Alfi. Karel tertawa terbahak karena merasa terhibur dengan ekspresi kesal kedua teman nya itu. "Dasar manusia gila," teriak Verell pada Karel yang hanya tertawa berlari menyusul Leo. "Ntar bales isengin di sekolah yuk," ajak Alfi. "Ayo lah." Verell dengan semangat berangkat sekolah bersama Alfi karena Karel dan Leo yang tidak mengijinkan mereka berdua satu mobil dengan mereka. Verell akan memikirkan rencana yang luar biasa nanti untuk membalas nya. "Dasar." Vela menggelengkan kepala nya melihat tingkah teman-teman nya itu. "Udah minum obat nya?" tanya Allea yang duduk di sofa sambil meminum segelas air putih di meja. "Udah tadi." Vela berjalan menuju sofa dan duduk bersama Allea di sana dengan hati-hati. Vela masih belum bisa bergerak dengan leluasa, ia harus bergerak dengan perlahan. "Lo pacaran sama Leo?" tanya Vela sambil meminum minuman nya karena telah habis memakan roti nya. "Enggak," jawab Allea sambil mencari acara televisi yang menyenangkan. "Tapi kaya orang pacaran tau." "Oh," balas Allea cuek. Tidak perlu kan membahas ini, pikir nya. "Lo mau tinggal di sini berapa lama?" Allea menoleh pada Vela, terdiam sesaat dan menjawab nya, "enggak tau." Allea juga tidak tau mau sampai kapan terus merepotkan Leo seperti ini. Allea hanya berharap semua ini segera berakhir. Ia ingin hidup normal tanpa teror seperti ini, ia mau kehidupan nya yang dulu. Menyenangkan dan tanpa teror yang terus mengganggu. "Selama disini gak ada teror kan?" tanya Vela. "Iya, di sini aman." "Yaudah bagus kan kalo aman, mending lo di sini dulu sampe keadaan nya membaik." "Bahkan gua ragu kalo keadaan nya bakal membaik," ujar Allea seraya meletakkan remot televisi nya di meja karena sudah menemukan acara tv yang menyenangkan menurut nya. "Lagian siapa sih yang tega banget bikin lo jadi kaya gini banget." Allea hanya diam saja karena tidak tau siapa yang telah melakukan ini pada nya. Allea yang menunggu kabar dari kepolisian saja tidak mendapatkan kabar apapun. Allea saat ini hanya bergantung pada Leo. "Gua gak tau, gua pasrah aja. Cuma Leo tempat berlindung gua sekarang." "Tenang, ada kita." "Gua harap lo gak usah ikut campur dalam hal ini," pinta Allea pada Vela. Ia tidak mau kejadian yang terjadi pada Vela terjadi lagi, atau pun kejadian seperti Bi Inah. Allea sama sekali tidak pernah mengharapkan itu sedikit pun. Cukup dirinya saja yang terus di teror, ia tidak mau kalau sampai orang yang di dekat nya juga terkenal masalah karena nya. "Tap... " "Lo begini tuh karena gua, gua harap lo cukup temenin gua aja, jangan ikut campur. Gua gak mau temen-temen gua kenapa-kenapa karena gua," potong Allea. Vela hanya menghela napas dan mengangguk. "Gua akan terus temenin lo." *** "Karel." Karel yang habis dari kamar mandi menoleh melihat Revan berlari ke arah nya. "Kenapa?" tanya Karel. "Lo yang bayarin pengobatan ibu gua sampe tahun depan?!" tanya Revan. "Hah?" Karel menatap Revan bingung karena mendengar pertanyaan yang di lontarkan nya. "Ibu gua juga di pindahin di ruangan vvip dan di jadiin pasien prioritas." Karel hanya melongo mendengar pernyataan dari Revan.Ia sama sekali tidak melakukan apapun, ia hanya meminta Leo untuk membuat penjagaan pada Revan tidak lebih. Apa Leo yang melakukan semua ini? Karel harus menanyakan nya nanti. "Makasih, Rel." "Eh iya sama-sama." Karel tersenyum bingung. "Makasih banget, gua gak nyangka lo se kaya itu." Karel hanya tertawa canggung sambil menggaruk tengkuk nya. "eheheh." "Lo mau kemana?" tanya Revan. "Ke kantin, mau bareng?" tawar Karel. "Enggak, gua mau ketemu sama Bagas." "Oh yaudah gua duluan ya." "Iya." Karel berjalan menuju kantin. Karel harus menemui Leo untuk menanyakan hal ini pada nya. Kalau benar Leo kan nanti biar Revan yang berterima kasih langsung pada Leo bukan pada dirinya seperti ini. "Mana nih si Karel sama Leo," ucap Verell yang bersama Alfi di kantin karena sudah waktunya beristirahat. "Jangan-jangan mereka bolos," tuduh Alfi. "Emang tadi Karel gak ada di kelas? Leo sih tadi masuk." "Karel ada sih tadi di kelas." Verell menghela napas kesal mendengar jawab Alfi. "Tuh Leo," tunjuk Alfi pada Leo yang berjalan menuju kantin. "Lah gak bareng Karel dia." "Nah itu Leo." Karel berlari menyusul Leo. "Leo," panggil nya. Leo tanpa menoleh juga sudah tau itu suara siapa. "Tunggu woy." Leo sedikit memelankan langkah kaki nya. "Gua mau nanya?" Karel akhirnya berada di samping Leo yang tidak menghentikan langkah nya menuju kantin. Leo hanya mengangguk saja. "Lo yang bayarin pengobatan ibunya Revan?" tanya Karel langsung. "Kantor." "Oh kirain lo, tapi tetep aja penjagaan kan?" "Iya." "Pesen makan," ucap Leo yang menyuruh Karel yang kini mendengus kesal. "Enak banget lagi nyuruh-nyuruh," oceh Karel yang tetap saja memesankan makanan untuk dirinya dan Leo. Karel menghubungi kantor untuk menyampai terima kasih Revan tadi dengan pesan, karena kalau telfon tidak mungkin kan ini di tempat umum. Sangat tidak lucu kalau dirinya sampai ketahuan dan di keluarkan dari agent hanya karena ingin menyampaikan ucapan terima kasih. Sambil menunggu pesanan nya datang ia mengirimkan pesan nya sekarang. Mengirim kan pesan pada Nanas selaku ketua pimpinan mereka. Nanas Selamat siang. Terima kasih Nanas udah bayarin pengobatan ibu nya Revan sampe tahun depan. Karel melihat Leo yang sudah bergabung dengan Verell dan Alfi di sana tengah mengobrol, ya kalian tau Leo tidak begitu banyak bicara kan. Jadi yang mendominasi pembicaraan itu sudah pasti Verell. Karel melihat ponsel nya dan mendapatan pesan balasan yang membuat Karel membelalak. Nanas Tahun depan? kita cuma bayarin, pembayaran yang sekarang doang, sama pindahin ke kamar yang lebih bagus buat pengamanan nya. Kalo lebih dari itu berarti ulah Leo. "Ternyata ulah Leo," gumam nya. "Dek ini makanan nya," ujar abang makanan yang ia pesan tadi. "Oh iya makasih bang." Karel membawa makanan nya ke meja yang sudah terdapat teman-teman nya yang lain. "Nih." Karel menyodorkan makanan yang di pesan tadi pada Leo. Leo diam saja dan memakan makanan nya. "Dih Rel lo mau di babu in Leo, kok sama gua gak mau?" tanya Verell. "Dih males banget." "Jangan-jangan lo suka Leo ya," tuduh Verell. Sebenarnya sekalian untuk membalas dendam karena ejekan tadi pagi juga. "Amit-amit, gua masih normal." Verell melirik pada Alfi seakan mengatakan, ini saat nya beraksi. "Ih Rel lo beneran suka Leo?" ucap Alfi dengan suara yang sengaja di besarkan agar yang lain nya dengar. "Heh gila! enggak ya," bantah Karel. "Wah ternyata ya Karel begitu ckckck." Verell menoleh ke sekeliling nya memastikan yang lainnya juga mendengar ucapan nya. "Eh! jangan ngarang cerita lo ya!" Karel sudah mulai panik karena yang lain juga melihat ke arah nya. "Wah Karel cakep-cakep kok belok," ejek yang lain nya. Verell dan Alfi mulai tertawa terbahak-bahak karena rencana untuk mengerjai Karel berhasil. "Heh! bilang yang yang bener, kalo enggak motor lo gua jual," ancam Karel. "Ya bagus, jadi bisa nebeng lo atau Leo naik mobil," ucap Alfi masih tertawa. "Heh sembarangan! motor gua itu," ucap Verell memukul bahu Alfi. "Ya kan gak apa-apa kita jadi gak ke panasan gak ke ujanan," balas Alfi. "Ya jangan, motor gua lah, motor lo aja sana." "Gua kan gak bawa motor, yang bawa motor sekarang kan lo." "Yaudah lah gak usah nebeng lo sama gua," ancam Verell. "Yaudah nanti gua nebeng mobil Leo, enak gak panas-panas." "Sumpah Alfi, bisa-bisa nya gua mau temenan sama lo." Verell menghela napas sambil mengusap wajah nya. Leo hanya diam saja melihat teman-teman nya yang tidak bisa diam itu. Biarkan saja selagi tidak mengganggu kehidupan nya. Leo hanya akan menyaksikan nya saja tanpa mau ikut campur. "Lah malah dia yang berantem." Karel melanjutkan makan nya tidak memperdulikan ke dua teman nya itu karena sekarang perutnya lebih penting daripada kedua teman nya yang tidak jelas itu. Entah kenapa bisa mereka berdua menjadi teman nya, pikir Karel. *** "Anak itu masih belum menyadari nya?" tanya seorang pria bertubuh besar di ruangan yang tidak cukup pencahayaan dengan kepulan asap rokok. "Belum," jawab pria lain nya. "Ternyata bodoh juga." "Jadi apa rencana selanjutnya?" tanya pria lain nya karena mereka bertiga di ruangan ini. "Kita harus memikirkan nya." "Apa kita harus melakukan hal besar?" "Jangan dulu." Pria itu meneguk minuman beràlkohol nya. "Belum waktu nya," lanjutnya. "Baiklah." "Kita harus membuat pesan-pesan tersembunyi lagi." "Ide bagus."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD