Part 24

1665 Words
"Besok katanya ada anak baru ya?" tanya wanita itu sambil menyandarkan tubuh nya di bangku milik nya sambil menunggu jawaban dari teman nya tadi. "Anak baru?" "Oh bukan sih, tapi calon anak baru." Leo hanya diam saja tidak membalas nya karena tidak ada hubungan dengan nya. Lagipula bukan dirinya juga yang akan melatihnya nanti, Leo tidak mau melatih anak-anak baru walaupun Nanas menyuruh nya Leo tetap tidak mau, tidak ada alasan khusus hanya malas saja. Dan lagi Leo masih bersekolah jadi tidak ada waktu, tapi sesekali kalau ada waktu luang Leo kadang datang untuk melihat mereka berlatih bahkan ikut melatih juga, walaupun sebenarnya Leo juga sama-sama berlatih. Leo melihat kearah jam yang tertempel di dinding yang berwarna putih gading. "Udah sore." Leo melangkah meninggalkan tempat itu. Seperti itu lah cara berpamitan Leo, bagi Leo itu sudah paling sopan untuk berpamitan. "Iya," ucap wanita itu yang menggeleng melihat tingkah Leo. "Dasar anak muda," gumam nya tanpa menyadari kalau dirinya juga masih muda. *** Leo saat ini tengah bersandar pada kepala ranjang nya sambil memerhatikan ponsel nya yang menampilkan keadaan situasi rumah Allea. Sebelum pulang tadi Leo sudah menyuruh wanita yang tadi untuk menghubungkan cctv rumah Allea di ponsel, entah siapa nama ya Leo suka melupakan nama orang yang jarang ia sebut nama nya, masuk kan itu dalam list kekurangan Leo Jangan pikir kalau Leo akan dengan sembarangan melihat setiap sudut dari rumah Allea yang terpasang cctv itu tanpa terkecuali, tidak. Leo tidak menghubungkan cctv di dalam kamar Allea pada ponsel nya, itukan tempat privasi Leo tidak akan sembarangan melihat nya. Leo bukan pria b******k. "Leo." Leo menoleh pada pintu kamar nya yang sudah terbuka tanpa di ketuk terlebih dahulu. Leo sudah tau itu pasti ulah kakak kedua nya –Alvera. "Kenapa?" tanya Leo sambil mematikan ponsel nya. "Tumben gak belajar." Alvera langsung loncat dan tiduran di kasur Leo dengan kaki yang menindih tubuh sang pemilik kasur. "Lagi istirahat abis belajar tadi," ucap Leo. "Mending gak usah belajar," saran Alvera sambil memeluk guling Leo. "Ajaran sesat." "Lo masih muda mending seneng-seneng aja kenapa sih." "Kaya nya bener." "Apa??" tanya Alvera bingung karena adik nya memang suka berbicara tidak jelas, suka sekali memotong perkataan, tidak jelas sekali. Alvera sangat prihatin pada gadis yang akan menjadi kekasih adik nya nanti harus mengerti apa yang di ucapkan Leo setiap hari nya. "Lo tuh kalo ngomong yang jelas." Alvera memukul wajah Leo dengan guling yang tadi dipeluk nya. "Kak Alvera anak pungut," ucap Leo santai. "Sialan." Alvera memukuli Leo berkali-kali dengan guling yang di pegang nya itu. "Adik durhaka lo ya!" Leo diam saja, karena emang kakak kedua nya itu sering mengamuk walaupun tidak sungguhan tapi tetap saja rusuh seperti ini kalau di tuduh anak pungut. Bukan hanya Leo dan Angel saja yang mengolok Alvera sebagai anak pungut, bahkan kedua orang tua mereka pun suka mengejek Alvera anak pungut karena kepribadian yang berbeda dari kedua saudara nya yang lain. Salsha selaku ibu dari mereka pun hanya akan tertawa terbahak kalau anak kedua nya ini mengamuk, karena ia tau sikap Alvera itu turunan dari diri nya dulu ketika remaja. "Sana, Leo mau tidur," usir Leo. "Gak, gua mau tidur disini aja." Alvera kembali memeluk guling dan menarik selimut untuk menutupi dirinya. Leo hanya menghela napas melihat tingkah kakak nya itu. Leo membenarkan letak bantal dan tiduran membelakangi kakak nya yang sudah memejamkan mata nya. Biarkan saja kakak nya itu tidur disitu, nanti tengah malam juga kakak nya itu akan kembali sendiri ke kamar nya. Memang kakak nya yang satu ini suka tidur sembarang saja, bahkan terkadang tidur di kamar kedua orang tua nya, memang mengganggu saja katanya agar tidak memiliki adik lagi. Ketika sudah tengah malam Alvera akan kembali lagi menuju kamar nya. *** "Kemaren gimana?" tanya Leo pada Allea yang duduk di samping nya sambil memakan makanan nya. "BANG PESEN LAGI SATU," teriak Verell yang kembali memesan makana nya di kantin. "Kemaren lo gak masuk kenapa?" tanya Karel. "Izin." "Kemaren lo gak masuk sih, seru padahal tuh si Verell berantem pas pelajaran olahraga," ucap Alfi. "Emang b**o, udah tau gak ada Karel atau Leo, main ribut aja," lanjut Alfi. "Lah tapi bukti nya gua menang kan," sahut Verell dengan bangga, tanpa memperdulikan sudut bibir nya yang kembali terluka. "Iya terus di panggil ke ruang guru kan lo." "Ya biasa lah." Sebenarnya Leo tidak begitu peduli dengan cerita mereka, Leo hanya menunggu jawaban Allea atas pertanyaan nya tadi karena menurut Leo itu lebih penting karena menyangkut dengan misi nya. Leo harus sangat memerhatikan Allea dan tidak boleh sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Allea, karena itu tugas nya kan. Leo masih menatap kearah Allea yang terlihat tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Leo dan hanya fokus mengunyah sesekali tertawa sambil menimpali ucapan atau candaan yang lain. "Leo duh mata nya kaya udah di rancang buat gak liat kemana-mana ya, cuma pokus liatin Allea doang," sindir Verell yang menyadari tatapan Leo tidak lepas dari Allea. Allea menoleh pada Leo menaik kan alis nya seolah bertanya ada apa melihat nya terus. "Gas lah Leo nanti keburu diambil orang loh," ledek Alfi. Leo mengalihkan pandangan nya dari Allea menatap Alfi dan Verell yanng masih tertawa. Leo melirik ke salah satu murid yang Leo tidak kenal, tapi sedari tadi melirik kearah mereka lebih tepat nya melihat kearah Allea. Ada dua kemungkinan sekarang, laki-laki itu menyukai Allea atau sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk Allea. Leo tidak bisa berpikir hanya satu kemungkinan saja, atau pun berpikir hanya positif saja kalau mengenai Allea semua nya bisa menjadi berkemungkinan buruk. "Kenapa Leo?" tanya Karel. "Leo diam saja tidak membalas pertanyaan Leo. "Kapan nih kumpul lagi?" tanya Verell. "Lah tiap hari aja kita kumpul nih," balas Vela. "Ini kan di sekolah, terus di waktu in bentar doang terus nanti belajar lagi, duh males banget belajar mulu," ujar Verell sambil mengeluh. "Sama, sekali-kali bolos kek kita yuk," ajak Alfi. "ALFI!" bentak Allea pada Alfi yang membuat mereka semua terkejut, bahkan Leo sampai kembali mengabaikan orang yang sedari tadi memerhatikan Allea dan menatap Allea untuk mencari tau kenapa Allea sampai membentak Alfi seperti itu. "Ide bagus," lanjut Allea. "Sialan gua kirain lo marah," ucap Alfi sambil mengelus d**a nya karena terkejut. "Sama, gua kirain dia gak setuju tumbenan banget Allea tobat gitu," sahut Verell. "Sama, gua kirain udah tobat," balas Karel. "Iya sama, kirain pengaruh Leo buat Allea udah sebesar itu." Vela menatap teman nya itu yang hanya mengangkat bahu acuh. "Jangan buat Allea tobat dulu dong ya Leo? nanti gua gak ada temen nya nih." Verell menatap Leo dengan tatapan memohon. "Ye bandel ngajak-ngajak." Vela mendorong bahu Verell kesal. "Yang penting masih wajar." "Ngerjain orang itu wajar ya?" "Iya lah." "Terserah deh." *** "Udah gak ada teror lagi kan?" tanya Leo sambil mengendarai mobil nya menuju rumah Allea untuk mengantar nya pulang. sepertinya mengantar jemput Allea sudah menjadi kewajiban bagi Leo sekarang. "Tumben." Leo menoleh pada Allea sedikit bingung dengan ucapan Allea, dan kembali pokus melihat kearah jalanan di depan nya. "Tumben nanya nya bener, bahasanya bener gak bikin mikir," lanjut Allea yang mengerti tatapan bingung Leo tadi. "Jadi?" "Udah gak ada, aman sih. Tapi gak tau kalo nanti atau besok gimana." "Telpon." "Hah?" Allea melihat Leo kesal, lagi-lagi Leo membuat nya berpikir karena perkataan nya. "Kalo kenapa-kenapa." "Oh kalo ada apa-apa telpon lo?" tanya Allea memastikan kalau pemikiran nya tidak salah. Leo mengangguk membalas pertanyaan Allea. "Iya nanti gua telpon lo." Allea kembali diam memerhatikan jalanan di luar sana sebelum kembali bertanya, "kenapa lo mau ikut campur urusan gua?" Leo hanya diam saja tanpa berniat membalas pertanyaan Allea itu. Leo tidak mau identitas nya ketahuan dan juga pasti akan sulit menjelaskan situasi ini pada orang awam seperti nya itu. Dan Leo sangat malas kalau harus menjelaskan panjang lebar yang belum tentu di mengerti. Membuang-buang waktu bagi Leo. "Udah gua duga sih lo gak mau bilang." "Tapi sebelum nya makasih udah bantuin gua ngehadapin ini walaupun gua tau ini belum selesai, makasih udah lindungi gua, makasih aja lah intinya." Leo mengangguk singkat sebelum menghentikan mobil nya di depan gerbang rumah Allea. "Makasih," ucap Allea sebelum keluar dari mobil Leo. "Kenapa gak pulang?" tanya Allea yang berdiri menunggu mobil Leo pergi dari pekarangan rumah nya. "Nunggu." "Nunggu apa?" tanya Allea. "Masuk." "Nunggu gua masuk rumah?" Leo mengangguk. Leo ingin memastikan Allea masuk ke dalam rumah nya dengan selamat, dan juga Leo ingin sekalian memerhatikan sekeliling rumah Allea. "Yaudah gua masuk." "Iya." Leo memerhatikan Allea sampai masuk ke dalam rumah nya, Leo menoleh disekelilingnya memerhatikan apa ada yang jangga atau tidak. Sebenarnya Leo sedikit khawatir akhir-akhir ini dengan Allea, takut ada kejadian yang tidak bisa Leo hindari apalagi melihat kemarin kalau ternyata masalah ini tidak bisa diremehkan begitu saja. "Ini tidak mudah." *** "Non Lea diantar Leo lagi?" tanya bibi menghampiri Allea yang sedang mengambil minum di kulkas. Leo memang sudah bilang pada nya untuk memanggil nya dengan nama saja karena dia tidak berkerja untuk Leo jadi panggil nama saja. "Iya." "Kayanya suka sama non Lea deh." "Apa sih bi! enggak lah Leo cuma mau jagain Allea." Allea menenggak air mineral dingin nya yang telah ia tuang ke dalam gelas. "Tuh kan bener, mana mau sih orang tiba-tiba mau jagain gitu aja apalagi katanya dia anak baru kan, berarti belum lama kenal." "Sstt Bi, udah deh jangan bahas gitu." "Ihh Non Lea salting ya," ledek nya. "Apa sih bibi, orang Lea gak salting kok," bantah Allea. "Gak apa-apa kali, Leo juga kayanya anak baik-baik kok bukti nya waktu itu dia dateng nemenin kamu kan ." "Bibi udah ah." "Seenggak nya nanti kalo bibi kenapa-kenapa kan kamu ada yang jagain." "Bibi! jangan ngomong kaya gitu." Allea menatap bibi nya itu kesal dengan pembicaraan bibi nya, bibi nya itu sudah Allea anggap seperti ibu nya sendiri, Allea menyayangi nya, dia yang selalu menemani Allea kalau kesepian seperti ini karena ayah nya selalu saja sibuk dengan urusan nya mengabaikan Allea yang masih membutuhkan nya. "Nanti kalo udah pacaran bilang ya," ledek nya lagi pada Allea. "Aaaaa bibi jangan kaya gitu." "Duh non Lea salting ya hahaha." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD