Part 23

1646 Words
Leo menyandarkan tubuh nya pada bangku besar yang sudah lama tidak ia singgahi ini. Ruangan milik nya ini masih sama tidak ada yang berubah tentu saja, memang siapa yang berani menyentuh barang-barang nya? Ruangan masih sama dengan dinding yang di lapisi cat berwarna putih dan abu-abu, warna yang disukai Leo, abu-abu. "Gua gak nyangka ternyata- " Leo menghela napas tanpa berniat untuk melanjutkan ucapan nya tadi. Leo membuka ponsel nya yang mendapatkan banyak pesan dari teman nya yang mengirimkan foto-foto makanan di kantin. Leo melirik jam yang tertempel di dinding abu-abu nya itu, Leo mengangguk ternyata memang ini sudah jam waktu nya mereka beristirahat. Grup chat nya penuh dengan candaan dan ledekan antar yang lain, Leo yakin mereka pasti satu meja tapi mereka tetap bercanda melalui pesan di grup? Leo tidak habis pikir dengan cara berpikir mereka, padahal mereka bisa bercanda tanpa lewat chat yang membuat ponsel Leo terus bergetar. Leo sedikit menyunggingkan senyuman membaca pesan Verell dengan poto makanan yang di pesan di kantin seolah sedang mengejek Leo yang tidak bisa berada disana bersama. Leo hanya membalas nya dengan emot atau pesan singkat yang hanya satu atau dua kata saja. "Leo." Leo menoleh menatap Nanas yang masuk kedalam ruangan nya membawa makanan untuk dirinya. "Makan udah siang." Nanas meletakkan nampan berisi makanan dan minuman untuk Leo di meja. Leo menatap Nanas menunggu apa yang akan di sampai kan oleh Nanas. Leo tau pasti ada yang ingin disampaikan nya, karena tidak mungkin Nanas sangat berbaik hati membawakan nampan makanan untuk Leo, bahkan untuk mengantarkan segelas air putih saja tidak mau, apalagi nampan berisik makanan dan minuman. Leo sudah tau Nanas seperti apa, ia sudah sejak berumur empat belas tahun mengenal Nanas. "Jadi gimana?" tanya Nanas yang duduk di sofa dekat meja yang tadi ia letak kan nampan berisi makanan dan minuman itu. Leo bangkit dari duduk nya di bangku besar nya itu menuju sofa yang diduduki oleh Nanas. "Lewatin aja." "Gak mau coba dulu?" "Gak." "Kaya nya menguntungkan." Leo mengambil gelas berisi minuman, lalu Leo menenggak nya untuk membasahi tenggorokan nya. "Gak," balas Leo. "Kamu tuh kenapa sih?" Leo tidak menjawab nya dan mengambil piring makanan nya sambil mengunyah nya. "Leo?" "Hmm," balas Leo hanya berdehem karena dirinya sedang makan. "Coba dulu." Lagi-lagi Leo hanya diam saja tanpa berniat untuk kembali menjawab nya, bagi Leo kalau pertanyaan tidak penting, atau dirinya tidak mau menjawab ya tidak usah di jawab saja, dan Leo tidak peduli dengan pemikiran orang lain terhadap nya. Nanas menepuk bahu Leo sebelum dirinya meninggalkan ruangan Leo sambil berkata, "Kurangin sikap arogan." Leo hanya mengangkat bahu tidak peduli, Leo tidak merasa dirinya arogan. *** Leo melangkah kan kaki nya menuju tempat ruangan berlatih, sudah lumayan lama Leo tidak mengunjugi tempat itu. Leo ingin melihat bagaimana perkembangan yang lain nya disana. Leo juga akan kembali melatih kemapuan nya menembak, setelah setahun ini tidak menembak apa kemampuan nya berkurang atau tidak. "Leo kemana aja baru nongol?" tanya salah satu pria yang berusia dua puluh tahun itu sambil melihat kearah Leo. "Sibuk," jawab Leo singkat sambil menghampiri tempat untuk berlatih menembak, dimana tempat pria yang menyapa Leo tadi berlatih. Jangan lupakan kalau Leo sudah mengganti seragam nya dengan pakaian santai, karena di ruangan nya juga tersedia lemari pakaian, bahkan terdapat kasur juga, memang seperti rumah kedua bagi Leo. "Berlatih nembak?" tanya nya sambil kembali mengisi peluru di pistol nya. "Iya, mau tau apa kemampuan gua menurun atau enggak," balas Leo. Leo sudah mengambil pistol yang sudah ia isi dengan peluru dan mengarah kan nya pada papan sasaran yang ada pada beberapa meter di depan nya. Dorr. Tepat sasaran. "Seperti biasa, Leo si pandai menembak," kata pria itu. Leo hanya mengangguk-anggukan kepala nya menyetujui ucapan pria itu. "Dua puluh tahun?" tanya Leo tanpa menoleh pada pria itu. "Ya, tahun ini dimana gua akan turun langsung ke lapangan." Ya, seperti yang sudah di jelaskan, secret agent akan memperbolehkan turun langsung kalau sudah berusia dua puluh tahun, ayo kita kecuali kan Leo dalam hal ini. Tapi kalau ternyata dia lebih memilih untuk tidak terjun langsung ke lapangan juga tidak apa asalkan otak kepintaran sangat sangat di utamakan dalam hal ini. Tapi kalau mereka baru mendaftar kan diri ketika umur dua puluh tahun apa boleh langsung untuk turun langsung ke lapangan seperti Leo? jawaban nya tidak, tentu saja tidak. Ketika masuk di interview selama seminggu paling sebentar lalu pengecekan diri selama beberapa bulan, dan tentu saja semua riwayat hidup si pelamar akan terus di cari tau dan di awasi selama satu tahun, setelah satu tahun berlangsung, baru masuk ke tahap pelatihan otak, kepintaran lalu ketahap fisik kalau semua sudah memenuhi standar baru dia boleh masuk dan kembali berlatih untuk menjadi secret agent sesungguh nya dan kau berhasil selamat bergabung bersama mereka. Kalau ada satu yang tidak memenuhi standar, mereka tidak akan di terima. "Pantesan." Latihan terus, lanjut Leo dalam hati. "Iya, gua harus sering berlatih karena tahun ini kan yang gua tunggu-tunggu," balas nya yang sudah memaklumi sikap Leo yang satu ini. Mereka lumayan sering mengobrol karena dulu sering berlatih bersama, drinya lebih dulu masuk kesini tapi lebih dulu Leo yang turun langsung kelapangan bahkan umurnya belum dua puluh tahun, sempat terlintas rasa iri tapi dirinya mengakui Leo memang berbakat dan seperti terlahir untuk menjadi agent. "Ya." Semangat, lanjut Leo dalam hati lagi. "Terima kasih," balas nya. "Kalo lo butuh tambahan agent, gua siap kok," tawar nya. Leo hanya mengangguk saja sebagai balasan menjawab ucapan nya. "Mark." "Ya?" pria yang sedang mengobrol bersama Leo tadi menoleh. "Dipanggil pak ketua tuh." "Iya gua naro pistol dulu," balas nya sambil meletakkan pistol yang ia pegang tadi ketempat nya. Semua sudah tersusun rapi jadi jangan coba-coba untuk membuat nya tidak rapi lagi. "Gua duluan Leo," ucap Mark pada Leo yang tentu saja bagi Leo anggukan kepala itu sudah sangat cukup. Leo kembali berlatih menembak, dan dari semua peluru yang telah ia tembak kan tadi tiga diantara nya melesat tidak tepat pada sasaran nya. "Kemampuan gua menurun ternyata," ucap nya pada dirinya sendiri. Leo kembali mengisi pistol nya dengan peluru lagi, namun terhenti ketika melihat jam di dinding yang menunjuk kan jam tiga sore, sudah satu jam yang lalu sekolah nya menyalakan bel kesenangan mereka, bel yang memberi peringatan akan waktu nya pulang beristirahat di rumah. Leo tidak kembali melanjutkan berlatih menembak karena sudah sore tidak ada waktu lagi untuk menghabiskan waktu nya untuk bersantai, ia harus sudah pulang nanti jam lima sore. Masih ada dua jam yang tersisa, ia akan habiskan untuk kembali mengecek tentang pelacakan nomor ponsel orang yang menyuruh kedua orang itu yang meneror Allea. Leo meletakkan pistol nya di tempat yang sudah di khusus kan untuk pistol nya itu lalu berjalan keluar ruangan. Leo melangkah kan kaki nya menuju tempat dimana para agent bekerja di belakang layar. Mereka yang berkerja di belakang layar sudah pasti memiliki kepintaran yang tidak di ragukan lagi. "Leo." Leo menoleh mendapati Mark yang sedang berjalan menghampiri nya sambil membawa sebuah map. "Mau kemana?" tanya nya. Leo hanya menunjuk kearah tempat yang akan ia kunjungi. "Tadi di tanyain Nanas tuh." Leo hanya mengangguk saja sambil melirik kearah map yang dibawa oleh Mark. "Oh ini data orang baru yang mau dicek, kenapa? mau liat?" Mark memberikan map yang di bawa nya tadi kepada Leo. Leo membuka map yang di bawa Mark dan membaca nya sebentar lalu memberikan nya pada Mark. "Kayanya calon agent kerja lapangan kaya kita deh," ucap Mark sambil kembali memegang map nya. Leo berdehem lalu kembali melanjutkan langkah nya menuju ruangan yang ingin ia kunjungi tadi. Mark tidak merasa keberatan dengan sikap Leo yang seperti itu, sudah di katakan tadi mereka sudah lama bersama disini. "Gimana?" tanya Leo langsung pada apa yang ia ingin katakan. "Gak ketemu," balas seorang perempuan yang duduk didepan beberapa monitor yang setiap monitor nya menampilkan tampilan yang berbeda. Monitor yang di depan nya langsung itu menampilkan penuh angka-angka dan huruf yang tidak begitu Leo mengerti karena Leo tidak diajarkan dalam hal seperti ini. Dan monitor sebelah kiri yang paling besar bahkan melebihi ukuran televisi di rumah Leo, menampilkan beberapa rekaman yang Leo tau berasal dari cctv. Dan monitor di sebelah kanan nya menampilkan seperti peta lokasi. Leo mendekat berdiri di samping memerhatikan setiap tampilan rekaman cctv yang masih memantau orang-orang entah dimana. "Itu semua cctv yang ada di deket lokasi dimana terakhir nomor yang ngehubungin dua orang itu ada," jelas wanita itu sambil memutar tempat duduk nya menghadap Leo. "Gak ada satu pun orang yang mencurigakan," keluh nya sambil memijat kening nya. "Gua udah bobol semua cctv yang ada di sekitar situ tapi tetep gak nemu," ucap nya. Leo masih memerhatikan setiap rekaman cctv yang di tampilkan di monitor. "Kayanya kita gak boleh terlalu meremehkan orang ini deh." Leo menoleh menatap wanita itu yang seumuran dengan kakak pertama nya –Angel. "Udah liat cctv yang dari kemaren?" tanya Leo. "Udah, bahkan dari dua hari yang lalu gua ngecek cctv dari beberapa kilometer dari situ malah, tetep gak nemu," adu nya pada Leo. "Ada beberapa sudut yang gak ada cctv nya?" "Iya ada cctv yang rusak," jawab nya. "Itu-" Jawaban nya disana, lanjut Leo seperti biasa di dalam hati nya. "Terus gimana? cctv itu udah rusak dari seminggu yang lalu, apa gua harus cek juga?" "Iya." "Freya cek cctv yang ada di pertigaan sebelah barat rumah pager kuning," ucap nya pada teman nya yang lain yang juga sibuk dengan monitor nya. "Iya," balas nya. Jangan berpikir wanita itu berada di ruangan ini dan mengerjakan hal sesulit ini seorang diri, tidak mungkin Nanas tega melakukan hal seperti itu. Ini pekerjaan yang sulit, dan tidak mungkin di kerjakan hanya satu orang. Nanas sudah meminta tiga agent seperti nya itu, dan sampai sekarang jumlah nya terus bertambah hingga sudah ada lima agent bagian intelligence yang berkerja untuk kasus yang satu ini, dan seperti nya kan terus bertambah dilihat dari kasus ini yang paling besar di antara kasus lain yang sedang mereka hadapi. "Besok ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD