Mereka bertiga segera meninggalkan sekolahan tanpa ijin terlebih dahulu dan langsung saja pergi ke rumah sakit dimana Vela di bawa, menggunakan mobil milik Leo. Alfi yang membawa mobil Leo, karena Leo masih menenangkan Allea yang terus saja menangisi Vela.
Alfi hanya menghela napas ketika mereka berdua duduk bersamaan di belakang dan dirinya seorang diri di depan layak nya supir pribadi mereka, menyebalkan tapi Alfi tidak bisa protes saat ini karena keadaan nya yang tidak mendukung untuk memprotes nya. Jadi Alfi pasrah saja di jadikan supir sementara saat ini.
"Leo kalo Vela... "
"Vela akan baik-baik aja," potong Leo yang tidak membiarkan Allea meneruskan ucapan kekhawatiran nya itu. Leo mengusap-usap kepala Allea sambil sesekali mengusap pipi Allea untuk menghapus jejak air mata nya yang masih saja dialiri air mata nya. Tidak ada teman yang tidak sedih melihat teman nya menderita, sedih atau kesakitan tidak berdaya seperti itu, semua nya pasti akan merasakan kesedihan yang sama seperti yang dialami oleh Allea saat ini.
Leo sedari tadi mencoba untuk menenangkan Allea sambil sibuk menghubungi pak Johan, guru bahasa inggris nya yang juga satu tim dalam misi ini untuk mengecek cctv setiap lorong di sekolah. Siapa tau dengan melihat cctv nya mereka bisa menemukan pelakunya secepat nya. Leo sebenarnya juga sangat penasaran apa ada salah satu musuh mereka yang juga menyamar sebagai murid sekolah itu atau mereka membayar anak-anak sekolahan itu untuk membuat kekacauan seperti ini? Leo sebenarnya sedikit meragukan nya tapi semuanya tidak ada yang tidak mungkin kan.
"Udah sampe nih," ucap Alfi yang turun dari mobil lebih dulu di susul oleh Allea dan juga Leo yang mengikuti Allea di belakang nya.
Allea sedikit berlari menghampiri Karel dan juga Verell yang tengah berdiri di depan salah satu ruangan.
"Vela gimana?" tanya Allea.
"Lagi di periksa," jawab Verell yang duduk di bangku yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit agar kalau sedang menunggu pasien di dalam bisa sambil duduk di depan ruangan nya.
"Tapi Vela gak apa-apa kan?"
"Gak apa-apa kok," jawab Karel dengan baju seragam yang di penuh darah Vela berjalan menghampiri Leo.
"Ada hal yang harus gua omongin," bisik nya pada Leo.
Leo hanya menatap Karel dengan wajah datar nya. "Apa?"
"Ini bisa gak sih di omongin di tempat umum gini?"
Leo yang mengerti kalau ada satu hal yang begitu penting mengangguk kan kepala mengerti. "Toilet."
Karel mengangguk dan meminta ijin pada yang lain untuk pergi ke toilet dan di susul oleh Leo. "Gua ke kamar mandi dulu," ucap nya pada Allea.
Allea hanya mengangguk saja. Alfi dan Verell duduk di samping Allea.
"Kok bisa begini sih?" tanya Verell yang hanya di jawab dengan gelengan kepala mereka berdua. Karena memang tidak ada satupun dari mereka yang tau kenapa semua ini terjadi, bahkan Leo pun dia masih belum mengetahui kenapa ini semua terjadi, walaupun Leo sebenarnya mencurigai kalau ini juga termasuk untuk meneror Allea.
"Kenapa?" tanya Leo pada Karel yang sedang mencuci tangan nya.
Karel menoleh disekelilingnya memastikan kalau hanya mereka berdua saja saat ini. Untung saja ini kamar mandi pria, jadi tidak ada yang berdiri berlama-lama di depan cermin hanya untuk ber poto atau pun berdandan.
"Nih." Karel memberikan secarik kertas yang dilipat-lipat. Kertas yang ia temukan di selipan tangan Vela tadi.
Leo mengambil nya dan membuka nya. Dan melihat isi surat itu yang berisi.
10.15.10/20.6.14.22.2/21.6.19.11.2.5.10/12.2.19.6.15.2/2.13
"Cuma angka?" Karel menatap Leo yang masih melihat kearah kertas itu. "Angka apa ini?" lanjut Karel
Leo masih menatap kertas berisikan angka-angka itu. Leo mencoba memecahkan kode itu, tapi dengan situasi seperti ini, Leo tidak bisa berpikir jernih. Terlalu banyak kemungkinan cara untuk memecahkan kode ini.
"Apa kita perlu bilang ke Allea tentang surat ini?" tanya Karel lagi.
"Jangan." tolak Leo. "Ini bukan urusan dia," lanjut nya yang di angguki oleh Karel.
Apa yang di inginkan? Kenapa menyerang yang lain nya juga, apa setelah ini Vela pun menjadi target teror mereka? Tapi kenapa? Siapa target mereka sebenarnya? Apa ini juga salah satu teror untuk Allea?
Terlalu banyak pertanyaan di otak Leo saat ini. Semuanya tidak bisa asal jawab tanpa ada alasan yang jelas. Ini tidak semudah yang Leo bayangkan.
"Mereka itu mau apa sih?" tanya Karel kesal karena tidak ada habisnya kejadian-kejadian mengerikan ini.
Leo tidak menjawab, tidak bukan karena Leo malas menjawab nya seperti biasanya, tapi kali ini Leo juga tidak tau apa yang mereka ingin kan. Leo dan tim nya juga masih mencari tau apa yang mereka ingin kan. Apa mereka menginginkan Allea? Itu lah yang pertanyaan terbesar yang ada di pikiran Leo saat ini.
"Pulang sekolah ke apartment gua," ucap Leo sambil melipat lagi surat itu dan memasukkan nya ke saku nya.
"Ngapain?"
"Jalanin tugas."
"Oh ok," balas Karel dengan semangat. Karel sudah membayangkan nanti malam dia akan memakai pakaian penuh senjata, mereka akan menyelinap mencari tau kebenaran lalu mereka akan bertarung dan menang. Betapa menyenangkan dan keren nya diri nya nanti, sudah seperti di film laga kan.
"Bersihin." Leo melihat tangan, leher bahkan wajah Karel yang terkena darah Vela tadi, karena Karel yang menggendong Vela tadi.
Karel membersihkan darah yang berada di tubuh nya, kecuali di seragam nya, itu sulit hilang tidak akan mudah hilang hanya dengan di basuh dengan air saja kan.
Leo kembali ketempat teman-teman nya berada bersama dengan Karel yang juga mengikuti Leo di belakang nya.
"Ngapain kalian berdua?" tanya Verell menatap mereka berdua.
"Gak ngapa-ngapain," jawab Karel dengan senyuman di wajah nya. Bukan, Karel bukan senang karena kejadian ini. Tapi karena memikirkan bagaimana keren dirinya ketika menjalankan misi nya nanti.
"Tapi lo senyum-senyum gitu, ih gua curiga jadinya." Verell masih menatap mereka berdua dengan penuh selidik.
"Heh sialan! curiga apaan lo?" Karel memukul bahu Verell.
Dokter keluar dari ruangan dimana Vela sedang di periksa. "Bagaimana dok? teman saya baik-baik aja kan?" tanya Allea dengan tidak sabaran.
"Apa ada keluarga nya?" tanya dokter itu pada mereka semua yang terdiam. Mereka melupakan untuk memberikan kabar pada orang tua Vela ternyata.
"Maaf dok saya lupa memberitahu keluarga pasien, nanti akan saya hubungi. Jadi gimana temen saya dok? baik-baik aja kan?" tanya Karel mewakili mereka semua.
"Iya dia baik-baik aja, untung dateng tepat waktu jadi darah nya belum berkurang terlalu banyak dan masih tertolong."
"Terima kasih dok."
"Iya."
"Boleh liat masuk ke dalem kan?" tanya Verell.
"Iya nanti tunggu di pindahin ke ruangan inap," balas snag dokter.
"Iya dok buruan pindahin," ujar Alfi.
Allea sedari tadi sedang sibuk menghubungi kedua orang tua Vela. Leo menghubungi tim nya untuk menyelidiki juga masalah di sekolahan nya itu dan juga meminta beberapa untuk menyamar, menjaga di rumah sakit ini agar tidak terjadi hal buruk lagi. Leo sekarang harus benar-benar menjaga dengan ketat, bukan hanya Allea sekarang, tapi teman-teman nya juga sepertinya butuh penjagaan.
Vela di pindah kan ke ruangan inap di ikuti yang lain nya. Allea sudah menghubungi orang tua Vela yang sekarang sedang menuju ke rumah sakit.
"Hikss... Vela maafin gua. Harus nya tadi gua ikut ke kamar mandi dulu baru ke kantin." Allea memeluk Vela yang masih terbaring lemah belum membuka mata nya.
"Terima kasih," ucap Karel pada perawat yang telah membawa ranjang Vela keruangan inap.
"Urus administrasi nya." Leo menoleh pada Karel yang langsung dengan cepat diangguki oleh Karel. Ya memang hanya dia saja yang bisa di andalkan saat ini, jadi tidak bisa menolak nya.
"Iya." Karel berjalan meninggalkan ruangan dimana Vela di rawat dan pergi untuk mengurus administrasi.
"Kapan bakal sadar?" tanya Alfi.
"Coba lu tanya sendiri sama Vela nya," suruh Verell yang dengan bodoh nya Alfi menuruti ucapan Verell untuk menanyakan nya pada Vela.
"Vela lo kapan sadar?"
Allea dan Verell menatap Alfi dengan wajah datar nya. Yang benar saja, menanyakan kapan sadar pada orang yang belum sadar? Mendengar saja belum tentu bisa, apalagi menjawab pertanyaan nya. Entah Alfi itu terlalu polos atau bodoh, kedua itu kadang memang sulit di bedakan memang.
***
Kedua orang tua Vela sudah datang ketika di hubungi oleh Karel tadi. Dan sekarang Leo tengah membujuk Allea untuk segera pulang karena hari sudah sore. Bahkan beberapa guru tadi juga datang menjenguk Vela dan sekarang sudah pulang.
"Allea udah sore," bujuk Leo, karena sedari tadi Allea menolak untuk pulang.
"Allea pulang aja, di sini biar Vela sama tante," ucap ibu Vela yang ikut membujuk Allea.
"Tapi nanti kalo Vela udah sadar telfon Allea ya." Akhirnya Allea berhasil untuk di bujuk pulang.
"Iya nanti tante hubungin kok."
"Yaudah Allea pulang dulu ya."
"Iya, hati-hati."
Alfi dan Verell sudah pulang terlebih dahulu diantar oleh Karel ke rumah mereka dengan mobil milik Leo. Dan sekarang Leo, Allea dan Karel berada di mobil milik Leo untuk mengantarkan Allea pulang ke rumah nya. Sesuai dengan rencana mereka di toilet tadi, Karel akan pergi ke apartment Leo untuk menjalankan misi yang sesungguhnya bagi Karel.
"Kalo ada apa-apa telfon," ucap Leo pada Allea yang sudah turun dari mobil nya.
"Iya, kalian juga hati-hati."
"Iya."
Leo mengendarai mobil nya menuju apartment nya, sambil menghubungi orang tua nya untuk mengatakan kalau dirinya tidak pulang hari ini karena akan menginap di apartment nya.
"Kita bakal menyusup nih?" tanya Karel masih dengan antusias nya.
"Tugas kita cuma jagain Allea."
"Yah gak seru banget, harus nya kita jadi tim pengintaian aja."
"Masih sekolah."
"Oh kalo udah gak sekolah berkemungkinan jadi tim pengintaian?"
Leo mengangguk. Karena kalau masih sekolah seperti ini akan mempersulit saja. Tim pengintaian, penyamaran itu harus dilakukan kalau sudah berusia dua puluh tahun, tapi seperti nya Nanas akan mengubah itu menjadi umur delapan belas tahun ketika sudah lulus sekolah, tapi kalau berkuliah entah lah, itu biar kan menjadi urusan Nanas sebagai kepala pimpinan.
"Terus gimana udah dapet kabar dari tim penyamaran?" tanya Karel karena diri nya saat ini bisa di bilang masih anak baru yang hanya membantu tugas Leo saja, jadi tidak mendapatkan informasi apapun kecuali dari Leo.
Leo menggeleng menjawab pertanyaan Karel.
"Lama ya ternyata."
Setelah sampai di apartment Leo yang seperti apartment biasa nya, tidak seperti yang ada di pikiran Karel yang penuh dengan senjata atau hal-hal lain nya seperti benda misterius yang hanya di miliki oleh agent.
"Sekarang kita ngapain?" tanya Karel duduk di sofa.
"...