Part 40

1574 Words
"Sekarang kita ngapain?" tanya Karel duduk di sofa. Leo melangkah kan kaki nya menuju kamar nya untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjalankan tugas nya. Karel yang melihat Leo mengabaikan nya memilih untuk pergi ke dapur untuk mencari minuman, karena tenggorokannya sudah kering dan dirinya membutuh kan air sekarang. Setelah Leo selesai membersihkan tubuh nya dan bergantian dengan Karel yang juga mandi menggunakan pakaian Leo sekarang mereka berdua tengah duduk berhadapan dengan meja yang berada di tengah mereka berdua. "Jadi?" tanya Karel. Leo mengeluarkan lagi kertas terlipat itu di atas meja dan membuka nya. "Jadi kita harus nyelidikin ini?" Leo mengangguk menjawab pertanyaan Karel. "Kita harus liat cctv dulu kan." Lagi-lagi Leo hanya menganggukkan kepala nya saja. "Kita harus ke sekolah?" "Gak perlu, kita suruh tim penyelidikan buat ngeliat cctv di sekolah," ucap Leo yang akhirnya membuka suara. "Dan kita disini cuma nunggu?" Leo mengangguk dan mengeluarkan ponsel nya untuk menghubungi pihak tim penyelidikan. Karel yang mendengar itu menghela napas. "Kelamaan." Leo melirik Karel yang menyandarkan tubuh nya di bangku nya. "Ada laptop atau komputer?" tanya Karel yang diangguki oleh Leo. "Dimana?" Leo menunjuk kearah sudut ruangan. Karel menghampiri nya dan duduk di depan komputer Leo. "Ayo beraksi." Karel menggerakkan jari-jari nya sebelum membawa jari-jarinya itu untuk menari di atas keyboard komputer di depan nya ini. Leo sedikit menyeringai dan berjalan menghampiri Karel yang sudah mulai menjalan kan aksi nya mengotak-atik komputer nya. "Ngapain?" tanya Leo sambil menarik bangku di samping Karel. "Ngeliat cctv sekolah," jawab nya tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar komputer di depan nya. "Gua gak tau kalo lo bisa dalam hal ini." "Makannya jangan meremehkan gua." Tangan dan jari-jari Karel masih sibuk menari-nari di atas keyboard yang entah sedang apa. Sebenarnya Leo tau apa yang sedang di lakukan oleh Karel saat ini, namun dirinya melihat saja apa yang akan dilakukan Karel selanjutnya nanti, apa akan sesuai dengan ekspektasi nya atau tidak. Kalau ternyata tidak sesuai harapan nya, mungkin Leo akan kembali untuk memikirkan apa pantas Karel bergabung ke dalam agent mereka. "Dua dua nol lima sembilan satu," Gumam nya sambil melihat fokus pada layar komputernya yang sudah menampilkan banyak angka-angka. "Ok sedikit lagi." Leo hanya diam saja memerhatikan apa yang dilakukan oleh Karel. "Dah berhasil." Karel mengeklik dan memerhatikan siaran cctv di sekolah tadi pagi. "Kejadian nya sekitar jam satu siang," ucap nya sambil terus melihat apa yang terjadi. Mereka berdua fokus melihat setiap rekaman cctv di sekolah dengan serius, tidak mau ada satu pun yang terlewatkan. "Gak ada yang mencurigakan," ujar Karel yang masih memerhatikan rekaman cctv yang ada di setiap lorong sekolah. "Justru yang paling tidak mencurigakan itu yang bisa melakukan nya," sahut Leo membuat Karel menganggukkan kepala nya mengerti. Jadi seperti itu cara main agent, pikir Karel. "Kita liat cctv yang di deket kamar mandi cewek." Karel memfokuskan pada cctv yang dia maksud. "Jam satu lewat tujuh belas menit Vela masuk kamar mandi," ujar nya sambil melihat Vela yang memasuki kamar mandi dengan santai seorang diri. Leo memfokuskan pandangan nya untuk melihat hal yang mencurigakan, tapi tidak terlihat sama sekali karena hanya terlihat Vela saja yang masuk ke dalam kamar mandi seorang diri, dan tidak ada cctv di kamar mandi kan, itu sangat wajar. Tidak wajar kalau ada cctv di dalam kamar mandi. Harus di pertanyakan kepada pihak sekolah nya kalau sampai itu terjadi. "Jam satu tiga puluh satu menit cewek ini masuk ke kamar mandi terus teriak." tunjuk Karel pada salah satu wanita yang masuk ke dalam kamar mandi yang berteriak menyebabkan mereka semua melihat keadaan Vela yang mengerikan di dalam kamar mandi bersimbah darah. "Abis itu pada dateng rame, dan gua dateng." Tunjuk Karel pada dirinya yang terlihat menghampiri kamar mandi perempuan yang sudah ramai bersama Alfi. Leo terus memerhatikan setiap anak yang berada di kerumunan itu yang di d******i perempuan, dan sebagian menjerit histeris, menangis dan mual karena melihat banyak darah. Leo terus menjelajahi mencari hal janggal yang terjadi. "Apa iya cewek yang teriak ini pelaku nya?" tanya Karel. Leo menggeleng, "dia masuk baru sebentar, gak mungkin bikin Vela luka dengan darah yang udah sebanyak itu." "Iya sih, dia baru masuk terus jerit nangis keluar gitu, muka nya juga keliatan kaget banget gitu, gak mungkin banget." Karel mengetuk-ngetuk jari nya di meja. "Coba mundurin dari Vela masuk kamar mandi," perintah Leo yang langsung di lakukan oleh Karel. Dan mereka berdua kembali memerhatikan nya. "Kaya ada bagian yang ilang," komentar Karel yang langsung diangguki oleh Leo. "Botol yang ada di deket kamar mandi itu tadinya disini—" tunjuk Karel pada salah satu sampah botol yang kebetulan ada di dekat area kamar mandi perempuan. Memang dasar murid kadang tidak mau mengikuti peraturan untuk membuang sampah pada tempat nya. Tapi sepertinya karena sampah botol ini bisa menemukan suatu kejanggalan. "Terus sekarang disini," lanjut Karel menunjuk sampah botol itu yang tiba-tiba berpindah tempat tanpa melihat pergeseran nya. "Ini bergeser, ada bagian yang ilang," ujar Leo. "Terus gimana?" tanya Karel. "Mereka pasti bukan satu orang doang, setidaknya paling enggak ada dua orang." "Satu yang ngelakuin ini sama Vela, yang satu ngapus cctv?" Leo mengangguk menyetujui ucapan Karel. Sudah pasti ini lebih dari satu orang, karena tadi ketika mereka berangkat ke rumah sakit, Leo sudah menyuruh untuk pak Johan untuk melihat cctv, dan pak Johan juga sudah memberitahu Leo kalau tidak ada yang masuk ke dalam kamar mandi selain Vela dan perempuan yang berteriak itu. "Apa ini bukan ulah salah satu murid?" "Kayanya." Mereka berdua terdiam. Leo terus memerhatikan angka-angka yang berada di lipatan kertas itu. "Lo kenal gak tulisan ini?" tanya Leo menyodorkan kertas itu pada Karel. "Enggak." "Ternyata jadi Agent susah juga," keluh Karel. "Emang gak mudah." "Jadi ini kita buntu?" tanya Kare sambil terus melihat ke arah rekaman beberapa cctv yang terlihat di komputer Leo. "Kita serahin ini sama tim di kantor aja, ini kan bukan tugas utama kita." "Yaudah." Leo memfoto surat itu dan mengirimnya pada pak Johan untuk mengecek nya nanti ketika dirinya mengajar dan memeriksa setiap tulisan murid-murid, walaupun itu sedikit sulit karena bukan kan tulisan kalimat, tapi hanya angka-angka saja. Leo juga mengirimkan pada tim nya yang di kantor walaupun nanti dia akan menyerahkan surat itu pada tim nya untuk pengecek kan. Karel menegakkan tubuh nya secara mendadak membuat Leo mengalihkan pandangan nya dari ponsel nya menatap Karel yang terlihat bersemangat. "Gua baru inget, kalo ada empat orang termasuk gua yang jago komputer dan bisa nge hack, jadi berkemungkinan juga bisa ngapus bagian cctv ini," ucap Karel. Leo sedikit tersenyum. Bagus juga Karel bisa berguna banyak dalam misi kali ini,pikir Leo. "Siapa aja?" "Aksa, anak IPA 2. Dia itu paling cerdik gitu. sering nerobos gitu ngehack dengan alesan buat ngetes kemampuan dia, tanpa berniat lain katanya. Dan dia paling berani ambil resiko besar." Leo mengangguk-anggukan kepala nya mendengarkan penjelasan Karel. "Yang kedua itu Revan, dia anak IPS 3. Dia itu yang paling rapih kerjanya. Dia juga sering nerobos tapi jarang banget ketauan kalo ada yang di hack dia, karena dia anaknya rapih banget kerjanya jadi susah di deteksi. Tapi dia gak seberani Aksa." "Yang ke tiga, Bagas anak IPS 1. Dia bisa di bilang paling pinter diantara kita kalo masalah begini, kita berempat pernah kumpul dan diajarin beberapa trik sama dia, tapi dia anaknya paling santai, dan gak kaya yang lain suka nerobos gitu. Gua sama Bagas sama dalam hal ini, gak suka nerobos kalo gak ada hal penting." Leo mengangguk, "Kalian sering kumpul berempat?" "Sering, sekarang lagi jarang kumpul berempat sih." "Jadi siapa yang lo curigain?" tanya Leo untuk mengetes cara berpikir Karel. "Bagas, tapi dia gak mungkin juga ngelakuin ini. Ini termasuk kriminal kan. Bagas gak mungkin." Karel mengetukkan jari nya di meja untuk berpikir. "Revan, tapi dia kan kerjanya rapih gak mungkin sampe keliatan kejanggalan nya kaya tadi." Karel menoleh pada Leo, "Aksa?" Leo mengangkat sebelah alis nya. "Mungkin Aksa," ucap Karel dengan ragu. "Seorang agent gak boleh ragu dalam menentukan pilihan nya." Leo menepuk bahu Karel untuk membuat nya agar tidak ragu. "Ok, Aksa." ucap Karel tanpa ragu lagi. "Dan inget ucapan gua tadi, kadang yang gak mencurigakan, dia yang berkemungkinan melakukan." Leo berdiri dan melangkah menuju sofa sambil membuka minuman bersoda nya. Karel terdiam, karena ucapan Leo membuatnya kembali ragu dan memikirkan siapa kira-kira yang melakukan nya, hanya ada Aksa yang berkemungkinan melakukan nya di pikiran Karel saat ini. Tapi ucapan Leo membuat nya kembali bingung, apa Leo sebenarnya tau siapa yang melakukan nya? "Lo tau siapa yang ngelakuin?" tanya Karel menatap Leo yang saat ini tengah santai bersandar sambil menenggak minuman bersoda nya. "Enggak," jawab Leo santai sambil menggelengkan kepala nya. "Kalo gak tau kenapa lo santai banget?" Karel heran dengan sikap Leo saat ini, bisa-bisa nya dia terlihat santai seperti ini seolah dia sudah tau semua nya. "Kan lo yang mikir," jawaban Leo yang hampir membuat Karel melemparkan kursi yang dipakainya saat ini melayang. Karel menghela napas, ia harus sabar. "Gua menduga Aksa, terus apa yang akan kita lakuin?" akhirnya Karel tetap mempertahankan pemikiran nya kalau Aksa lah yang melakukan nya, karena memang hanya dia yang berkemungkinan besar melakukan penghapusan sebagian dari rekaman cctv ini. "Kenapa?" Tanya Leo lagi-lagi membuat Karel menghela napas. "Karena Bagas gak mungkin, Revan juga dia tuh kerja nya rapih gak mungkin ketauan gini," jelas Karel dengan badan yang sudah menghadap kearah Leo. "Cuma itu?" "Iya." Karel mengangguk. "Tanpa nyari tau yang lain dulu?" "Jadi kita harus cari tau yang lain juga?" "Iya, kita gak boleh cuma asal menduga aja." "Jadi?" Suara bel apartment Leo membuat pembicaraan mereka berdua terhenti. "Siapa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD