Part 32

1619 Words
"Astaga..." Karel tertegun melihat isi yang ada di dalam kotak misterius itu. Leo mendekati Karel, mencoba untuk melihat apa yang ada di dalam kotak itu. Leo sedikit tersentak ketika melihat nya. Leo tidak menyangka kalau benda itu yang ada di dalam kotak itu. "Jari," gumam Leo melihat potongan jari tangan bersimbah darah di dalam kotak itu. "Ini jari beneran apa bukan sih?" Karel mencoba untuk menyentuhnya. Leo dengan cepat menahan pergelangan tangan Karel, menahan nya agar tidak menyentuh jari bersimbah darah itu. Leo yakin ini bukan hanya lelucon receh. Leo tidak mau sidik jari Karel akan tertinggal di jari yang entah itu sungguhan atau pun hanya mainan semata. "Jangan di pegang." "Kenapa?" tanya Karel bingung, ia kan penasaran ingin memeriksa apa ini jari sungguhan atau hanya jari mainan karet untuk menakuti mereka saja. Tapi sebenarnya Karel penasaran untuk apa orang yang mengirimkan kotak ini mencoba untuk menakuti mereka, apa hanya sekedar untuk bercandaan atau apa? "Tutup lagi, jangan bilang sama yang lain," perintah Leo dengan tegas tanpa menjawab pertanyaan Karel. Karel yang mengerti dengan nada bicara Leo yang menandakan tidak ingin di bantah, segera kembali menutup kotak itu perlahan. Leo menoleh ke segala arah di sekitar nya mencari sesuatu atau seseorang yang mencurigakan di sekitar situ, tapi tetap seperti tadi, hanya kesunyian yang di dapat Leo. Karel kembali berdiri sambil memegang kotak itu di tangan kiri nya. "Terus ini gimana?" tanya Karel sambil mengangkat kotak itu. "Sana ke dalem," usir Leo. "Terus ini gimana?" Leo segera mengambil kotak itu dari tangan Karel. "Gua yang urus, sana ke dalem," usir nya lagi pada Karel. "Mau lo apain itu?" Karel menunjuk kotak aneh yang berisi potongan jari itu yang sekarang berada di tangan Leo. "Masuk." Karel menghela napas karena lagi-lagi Leo tidak mau di bantah. Mengapa juga dirinya bisa berteman dengan manusia seperti Leo, pikir Karel. "Terus kalo ditanya sama yang lain gua jawab apa?" "Bangkai tikus." "Ok." Karel hanya mengiyakan saja supaya cepat dan berjalan menghampiri Allea yang masih dengan setia melihat kearah mereka berdua, lebih tepat nya Allea hanya terus memerhatikan Leo. "Ayo masuk," ajak Karel pada Allea yang masih melihat kearah Leo, entah apa yang di pikirkan Allea saat ini. Karel menghela napas. "Allea," panggil nya yang tetap saja Allea masih diam saja seakan telinga nya tertutup sesuatu sehingga tidak dapat mendengar panggil Karel. "Masuk." "Iya," balas Allea yang langsung masuk meninggalkan Karel dengan ekspresi yang menggelikan, dengan mata membelalakkan mata dan mulut yang terbuka. Karel sangat terkejut melihat Allea yang langsung merespon ucapan Leo. Iya, tadi yang menyuruhnya masuk itu Leo bukan dirinya. Bagaimana Allea bisa merespon Leo dengan cepat padahal jarak mereka tidak dekat, dan hanya terdengar pelan suara Leo, dan dirinya yang berdiri tepat di samping nya dan berbicara dengan jelas, sudah pasti suaranya lebih kencang dari suara Leo yang jauh disana, tapi bagaimana bisa Allea tidak mendengarnya. Karel rasa Allea bahkan tidak mengetahui keberadaan nya yang berada di samping nya. "Gua gak ilang kan?" gumam nya sambil melihat kedua lengan tangan dan kaki nya memastikan dirinya masih terlihat dengan jelas dan tidak menghilang. Leo menatap Karel yang belum juga masuk ke dalam rumah Allea. Karel masih berdiri di depan pintu memerhatikan tubuh nya sendiri. Leo menghela napas dan meneriaki Karel, "masuk!" Karel menoleh sebentar kearah Leo dan langsung masuk ke dalam rumah Allea. Biarkanlah kotak berisi jari entah sungguhan atau bukan itu di urus dengan Leo. Yang terpenting bagi Karel saat ini mereka masih aman dan baik-baik saja. Sebenarnya terbesit pikiran buruk yang menghinggapi pikiran nya, bagaimana kalau itu jari sungguhan dan jari siapa itu? kenapa juga Leo tidak mengijinkan nya untuk mencari tau nya, kenapa hanya Leo yang akan mengurusi nya, bagaimana kalau ternyata Leo ikut terlibat juga, tapi apa keuntungan Leo dalam melakukan hal ini. "Semoga gua cepet keterima, biar gua bisa nyelidikin apa yang terjadi di sekolah sama yang tadi," ucapnya pada dirinya sendiri sambil menghampiri teman-teman nya yang lain. "Leo mana?" tanya Alfi. "Masih di depan," jawab Karel seraya duduk di sofa dan mengambil bungkus cemilan kripik singkong yang sudah di buka oleh Alfi di meja. "Ngapain?" tanya Verell yang mengambil cemilan kripik singkong dari tangan Karel. "Ambil sendiri kek, jangan rebut punya gua," omel Karel karena cemilan yang di tangan nay di rebut Verell. "Tadi ada apa? kata Allea cuma kotak, isinya apa?" tanya Vela seraya menenggak minuman nya. "Bangkai tikus," jawab Karel santai sambil kembali mengambil kripik singkong di meja. Vela tersedak minum nya terkejut mendengar ucapan Karel. Menjijikan dan menggelikan, pikir Vela. "Pelan-pelan." Allea menepuk punggung Vela. "Ueek... jijik banget," sahut Alfi. "Bau dong ya?" tanya Verell. Dan Karel mengangguk meng iya kan pertanyaan Verell. Walaupun sebenarnya bukan lah bangkai tikus yang ada di dalam kotak itu. "Cuma bangkai tikus kan?" Allea menatap Karel yang dengan santai kembali menonton televisi. "Iya." "Leo sekarang lagi buang bangkai nya?" tanya Allea lagi. "Iya, biar kita pada gak ke bauan." "Lo kok gak bantuin sih?!" Allea menatap Karel kesal, kenapa juga dia malah masuk dan tidak mau membantu Leo yang tengah menahan bau tidak sedap di luar sana. "Dia gak mau di bantuin." "Boong, pasti lo langsung masuk kan karena bau," tuduh Verell. "Enggak lah, orang Leo sendiri yang gak mau dibantuin." "Gua sih gak percaya ya," ucap Verell. "Yaudah sana lo aja yang bantuin, Rell," ujar Vela pada Verell. "Ogah ah bau." "Tuh lo aja gak mau." Karel menendang bahu Verell dengan kaki nya, karena Verell duduk di bawah dan Karel duduk di sofa. "Ya makanya, gua aja gak mau karena bau, pasti lo juga enggak mau lah, iya kan." "Terserah lo deh." Karel tidak menghiraukan ucapan Verell lagi. Memang Verell itu menyebalkan, karena nama Verell dan kata menyebalkan itu berdampingan, tidak bisa di pisahkan. "Tapi bener bangkai tikus kan?" Allea menatap Karel ragu, karena kalau cuma bangkai tikus kenapa Allea tidak boleh melihat nya. Allea ragu kalau itu hanyalah bangkai tikus, karena itu hal biasa bagi Allea yang sering di teror. Bangkai hewan itu sangat biasa dalam kasus peneror Allea ini, yang mengejutkan itu mayat manusia satpam di komplek nya itu. Tapi seperti nya yang lebih membahayakan itu penembakan di sekolah mereka, walaupun belum pasti penembakan itu karena peneror Allea, tapi Allea yakin itu karena peneror dirinya. "Iya, lo tanya aja sana sama Leo." Allea mengangguk. Mungkin benar hanya bangkai hewan saja, pikir Allea. *** Karel yang sedang duduk memerhatikan setiap orang yang lewat di depan nya dengan antusias, karena setiap yang lewat di depan nya terlihat sibuk dengan urusan nya masing-masing. Karel pikir dia pun pasti nanti akan sesibuk itu, Karel harap dia masih bisa menghabiskan waktu bersama teman-teman nya nanti. "Karel." "Ya?" Karel menoleh untuk melihat siapa yang tengah memanggil nya. "Ayo gua antar keliling kantor," ucapnya berdiri di depan Karel. "Oh, ayo kak Mark." Karel berdiri di samping pria yang di panggil nya Mark itu. Usia Mark terpaut beberapa tahun lebih tua dari nya, jadi Karel dengan rasa hormat memanggil nya dengan panggilan kakak. "Lo sekolah dimana?" tanya Mark sambil berjalan untuk mengantarkan Karel berkeliling mengenalkan setiap ruangan yang ada di tempat ini, karena Karel sebentar lagi akan bekerja ditempat ini. "Angkasa jaya," jawab nya sambil melihat-lihat beberapa pajangan yang berisi peraturan yang terpampang di setiap dinding dengan peraturan yang berbeda. "Oh-" Mark dengan cepat menutup mulutnya dan mengangguk sebelum kembali melanjutkan ucapan nya. Mark pikir belum saat nya juga mengatakan hal yang akan ia katakan tadi pada Karel yang belum sepenuh nya resmi berkerja di tempat ini. "Sibuk semua ya mereka," ucap Karel yang melewati satu ruangan dengan kaca besar yang menampilkan kegiatan di dalam ruangan dengan beberapa orang yang tengah sibuk saling berbicara, dengan layar di depan mereka yang menampilkan entah apa Karel tidak mengerti. "Iya, kita gak akan bisa santai kalo ada misi, dan bisa sedikit santai kalo lagi gak ada misi," jelas Mark sambil kembali melanjutkan langkah nya menuntun Karel menuju satu ruangan penyelidikan. Mark membuka salah satu pintu, "ini ruang penyelidikan." Karel mengikuti langkah Mark yang masuk ke dalam ruang penyelidikan itu sambil mengangguk-anggukkan kepala nya. Karel tidak melihat satu pun orang di ruangan ini yang terlihat santai, mereka sibuk. Ada yang sibuk dengan laptop, komputer di depan nya, ada yang sibuk dengan tumpukan kertas, ada yang sibuk berdiskusi, dan masih banyak lagi sibuk dengan hal yang tidak di ketahui jelas oleh Karel . "Ayo kesini." Mark melangkah keluar ruangan setelah mengenalkan ruangan penyelidikan itu. Mark tidak menjelaskan nya terlalu banyak karena itu akan memakan waktu yang panjang. Mark hanya memberitahu saja ruangan apa saja yang telah mereka lewati dan mereka kunjungi. Menurut Mark, biarkan Karel akan mengerti dengan sendiri nya saja nanti tanpa perlu menjelaskan nya saat ini. "Gua akan di latih berapa lama?" tanya Karel. "Sampe umur lo dua puluh tahun, disaat itu lo baru dibolehin turun langsung kelapangan dan dapet misi." "Sampe umur dua puluh tahun?" Karel tidak menyangka kalau pelatihan nya akan selama itu. Tiga tahun Karel akan terus berlatih tanpa boleh turun langsung kelapangan dan dapat misi? bukan kah itu terlalu lama. "Iya, gua aja tahun ini baru boleh turun langsung kelapangan, dan belum dapet misi sendiri. Gua masih harus ikut tim yang lain buat ngebantu, karena kan gua masih baru masih harus di kasih tau walaupun gua udah latihan bertahun-tahun." Karel tertegun mendengar penjelasan Mark. Karel sangat yakin kalau secret agent disini yang sudah menjalankan misi adalah orang-orang tua semua. Tapi bukan nya anak muda jauh lebih gesit daripada orang tua, kenapa justru anak muda seperti dirinya dilarang untuk menjalankan misi. "Tapi gak semua yang udah jalanin misi itu orang tua kok, bahkan ada yang seumuran lo yang udah boleh turun kelapangan langsung dan dapet misi. Bahkan beberapa kali jadi pemimpin tim nya." "Serius kak? Kaya nya dia bukan orang biasa." "Iya, dia terlalu hebat buat ukuran seumuran dia." Mark terkekeh menceritakan nya. "Leo?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD