Part 31

1553 Words
"Allea ayo pulang." Leo tanpa menunggu jawaban dari Allea segera menggenggam tangan Allea dan membawa nya pulang. "Yaudah sana lo pada pulang juga, biar gua aja sendiri yang beli bubur nya." "Iya. "Woy Leo tungguin!!" Alfi menenteng sepatu nya sedikit berlari menghampiri Leo yang menggandeng Allea. *** Sudah malam hari, mereka menghabiskan hari-hari dengan bermain permainan, makan, bercanda, makan, mengobrol, dan tentu makan lagi. Seperti sekarang, sudah malam hari dan mereka semua masih duduk di sofa sambil menonton sebuah film mystery, sesuai dengan saran dari Vela. Mereka tidak mau lagi menonton film horor ketika malam hari lagi. "Gila keren keren," komentar Verell sambil menonton film yang sedang ditayangkan di televisi Allea dengan tangan yang menggendong toples berisi kue kering yang di buat Allea. Film yang menceritakan seorang mata-mata yang sedang menjalankan tugas nya. Sedikit mirip dengan kisah Leo, tapi tidak semudah yang di film. "Kan film saran gua mah keren," ucap Vela yang tidak di hiraukan oleh Verell. Verell dan Alfi memilih untuk duduk di karpet di bawah sofa, alasan Verell untuk duduk di bawah adalah karena lebih dekat dengan meja yang sekarang penuh dengan berbagai makanan dan cemilan. Semua nya terlihat sangat antusias akan film yang sedang ditayangkan, lain hal dengan Leo yang menatap film dengan biasa saja, karena menurut Leo, hidup nya lebih menakjubkan daripada film yang sedang di tayangkan itu. Dan juga banyak hal yang tidak mungkin juga, di dunia nyata seperti ini hal itu tidak semudah yang di tayangkan di film. Lagipula misi nya dalam menjaga Allea saja ternyata tidak semudah itu, Leo bahkan sampai sekarang belum menemukan titik terang akan misi nya ini. "Kadang gitu sih, yang gak kita curigai sama sekali malah dia yg terlibat ternyata," celetuk Verell yang membuat Leo tersentak. Leo tau Verell itu sedang mengomentari film itu, tapi entah kenapa dirinya merasa tersentil dengan ucapan nya. Ucapan nya benar, sangat benar. Leo akui kali ini Verell tidak bodoh, ucapan nya membuat Leo sedikit berpikir mungkin selama ini yang dia curigai tidak terlibat dalam masalah ini dan yang tidak dia curigai sama sekali malah dia lah yang terlibat. Entah bagaimana Leo malah melirik kearah Karel yang juga terlihat antusias dengan film itu. Tunggu, Leo kau mencurigai Karel? atau sama sekali tidak mencurigai Karel jadi berpikir Karel juga terlibat? tapi sepertinya tidak mungkin. Tapi mau bagaimana pun Leo sempat mencurigai Karel sejak awal kan, mungkin hingga kini Leo masih mencurigai nya. "Besok masih libur kan?" tanya Alfi. "Iya, karena kepolisian masih nyelidikin gitu," jawab Karel. "Terus gimana sama temen kita? gak apa-apa kan?" Vela menatap Karel. "Iya gak apa-apa, di rawat di rumah sakit, udah sadar dia." "Terus guru kita?" "Meninggal." "SERIUS?!" pekik Verell membuat mereka semua terkejut, bahkan Alfi sampai tersedak minuman nya. "Jangan ngagetin kek!" Allea melempar bantal sofa kearah Verell. "Ya kan kaget." "Bisa kan gak usah teriak-teriak!" Leo diam saja melihat pertengkaran teman-teman nya, itu hal yang sangat biasa. Tiada hari tanpa bertengkar dan berdebat. Leo mau tidak mau harus membiasakan diri dengan ini semua. Brakk. Suara sesuatu seperti di lempar dari arah luar membuat mereka semua seketika terdiam. Allea melirik kearah Leo yang juga menatap nya. "Jangan-jangan ada hantu," ucap Alfi. "Gara-gara kemaren kita nonton setan," sahut Verell. "Serius dikit kek lo berdua!" Vela menatap kedua teman nya itu kesal, bisa-bisa nya dia berpikir kalau itu hantu, bagaimana kalau ternyata itu maling? itu jauh lebih mengerikan daripada hantu kan. "Biar gua yang cek." Karel berdiri untuk mengecek keluar. "Gua aja." Leo juga ikut berdiri untuk mencegah Karel yang memeriksanya, karena Leo tau pasti itu peneror nya lagi, dan Karel itu belum tau apa-apa tentang semua ini, ia takut Karel akan melakukan hal yang membahayakan mereka nanti nya. "Gak usah gu..." Karel terhenti ketika melihat tatapan tajam Leo yang benar-benar menunjukkan kalau dia tidak mau di bantah kali ini. "Ok lo aja, gua disini aja." Karel kembali duduk di sofa di samping Allea yang masih menatap ke arah Leo. Allea takut kalau sampai itu ternyata peneror yang biasa meneror diri nya. Allea hanya berdoa kalau peneror itu tidak melakukan hal yang membahayakan mereka terutama teman-teman nya. Kalau sampai terjadi sesuatu pada teman nya Allea akan sangat merasa bersalah. Leo menoleh menatap Allea yang juga menatap nya dengan wajah yang menampilkan ketakutan. "Gak apa-apa." Leo mengusap kepala Allea pelan dan beranjak dari sana untuk keluar dan melihat kearah sumber suara itu. "Gu... gua ikut." Allea berdiri menghampiri Leo. "Allea sini aja," ucap Vela yang tidak dihiraukan oleh Allea. "Duduk aja." Leo menyuruh Allea untuk kembali duduk di sofa nya. Leo tidak mau kalau sampai Allea kembali ketakutan karena teror yang terjadi. "Gak, gua mau liat juga itu suara apa." "Udah Allea sini aja, biar Leo yang liat," bujuk Karel pada Allea yang kekeh ingin ikut melihat keluar. "Udah malem, nanti kalo ada hantu gimana, udah biar Leo aja udah," ucap Alfi yang terlihat sungguhan takut pada hantu. Memang Alfi terlihat paling penakut akan hantu diantara mereka. "Gua mau liat." Allea menatap Leo dengan tatapan memohon. Leo menghela napas, "iya." Leo berjalan ke depan diikuti oleh Allea di belakang nya sambil menggenggam ujung pakaian Leo. Sebenarnya Allea sudah begitu terbiasa dengan teror yang ia hadapi, tapi karena kejadian penembakan di sekolah yang dengan jelas kalau peluru itu mengarah ke dirinya itu membuat Allea berpikir kalau yang terjadi di sekolah nya itu karena dirinya, beruntung nya Karel dengan cepat menyelamatkan nya dan ia selamat sekarang. "Tetep di belakang," ucap Leo pada Allea yang membalas ucapan Leo dengan anggukan kepala. Leo membuka pintu utama rumah Allea dan melangkah kan kaki keluar untuk melihat ada apa di luar. Leo melihat disekelilingnya untuk mencari seseorang yang mencurigakan, tapi yang Leo lihat hanya kesunyian dan kegelapan. Leo berpikir mungkin ia tidak akan membiarkan penjagaan di rumah Allea libur walaupun hanya sehari, karena hari ini penjagaan yang menjaga rumah Allea ia biarkan untuk berlibur sehari ini. Karena Leo pikir semua nya akan baik-baik saja selama ada dia di rumah Allea, ternyata seperti nya tidak. "Leo," panggil Allea sambil menarik-narik pakaian Leo, seperti anak kecil yang meminta di belikan es krim pada ayah nya. "Apa?" "Liat itu." Allea menunjuk pada kotak yang berada di dekat pagar rumah Allea. Leo melihat kearah dimana yang Allea tunjukkan. Leo terdiam sejenak, berpikir apa itu akan berbahaya atau tidak, bisa saja itu bom kan? apalagi entah dari siapa kotak itu berasal. "Lo tunggu di sini, biar gua yang liat itu apa." Leo memerintahkan Allea untuk jangan mengikuti nya untuk memeriksa kotak misterius itu, Leo takut kalau ada sesuatu yang lebih buruk lagi menyakiti Allea. Leo tidak bisa melihat Allea terluka dan tersakiti, itu memang sudah tugas nya kan. "Gua juga mau liat." Allea menarik lengan Leo memaksa untuk ikut melihat apa yang ada di dalam kotak itu. "Di sini aja, takut bahaya." peringat Leo agar Allea tetap di sini tidak mengikutinya. "Tapi gua udah biasa diteror begitu, jadi gak apa-apa lah kan udah biasa." "Lo harus inget kejadian di sekolah." Allea terdiam ketika kembai mengingat kejadian yang menimpa mereka di sekolah. Allea tau, itu pasti karena dirinya dan benar juga kejadian penembakan di sekolah nya saja sampai hampir merenggut nyawa nya. "Di sini aja." Leo mengusap kepala Allea lembut. Dan Allea mengangguk perlahan, mengiyakan perintah Leo agar dirinya tetap di sini. Setelah Leo berhasil membujuk Allea agar tidak ikut memeriksa kotak misterius itu, ia segera berjalan menghampiri kotak itu. Leo berjalan perlahan sambil memerhatikan sekitar nya, ia takut ini hanya jebakan kecil untuk melakukan teror yang lebih besar lagi. Sambil memastikan Allea aman, Leo menendang pelan kotak itu memperkirakan apa yang ada di dalam nya. Sebelum membuka nya Leo terlebih dahulu menghubungi salah satu tim nya untuk datang ke rumah Allea, untuk berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang buruk terjadi. Leo pastikan ia dan teman-teman nya akan aman setelah membuka kotak misterius itu. Allea berdiri dengan tidak tenang, sambil terus memerhatikan Leo disana yang tengah memainkan ponsel nya. Allea tidak tau apa yang tengah Leo lakukan, dirinya hanya berharap ia dan yang lain nya akan baik-baik saja. Terutama Leo, Allea tidak tau harus bagaimana lagi kalau sampai Leo terluka karena dirinya, sudah cukup Leo terus melindungi nya seperti ini, Allea akan terus merasa berhutang budi pada Leo nanti nya. Sebenarnya Allea ingin Leo menyudahi saja acara melindungi nya ini, karena Allea tidak ingin ada yang ikut terkana masalah yang entah Allea sendiri tidak tau masalah apa yang terjadi di kehidupan nya ini sampai dirinya terus di teror seperti ini. "Leo gimana?" tanya Karel yang baru saja keluar dari pintu dan berdiri di dekat Allea. Leo menoleh dan melihat Karel yang baru saja datang dengan santai nya. Leo tidak menjawab dan hanya melirik kotak misterius yang berada di bawah kaki nya itu. "Kotak?" Karel menoleh kearah Allea meminta konfirmasi kebenaran tentang kotak itu. "Iya, ada yang lempar kotak itu," ucap Allea tanpa mengalihkan pandangan nya sedikitpun dari Leo. Ya, Allea harus memastikan kalau Leo masih baik-baik saja di sana. "Apa isi nya?" tanya Karel seraya menghampiri Leo. Allea masih diem saja mengikuti apa yang di ucap Leo tadi yang menyuruhnya untuk diam saja di tempat nya ini. "Belum lo buka?" Leo menggeleng sambil mematikan ponsel nya dan memasukkan nya kedalam saku nya. "Yaudah sini biar gua aja yang buka," ucap Karel. Leo terdiam sesaat dan setelah nya mengangguk menyetujui nya. Karel yang sudah mendapatkan persetujuan dari Leo segera berjongkok di depan kota itu dan membuka nya. "Astaga...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD