Part 46

1616 Words
"Gua curiga ... Lo." Karel menatap teman nya yang sama terkejutnya dengan yang lain. "Revan." "Kenapa?" tanya Bagas yang tidak mengerti kenapa bisa Karel menuduh Revan yang sama sekali tidak mungkin melakukan hal ini, justru dirinya lah yang sangat mencurigakan di sini. "Jadi Revan lo mau jujur atau gimana? tenang kita akan minta perlindungan buat lo kok," ucap Karel mengabaikan pertanyaan Bagas. "Heh jangan asal nuduh lo," sahut Aksa pada Karel yang seakan seenaknya menuduh Revan. "Karel lo harus kasih alasan dulu baru boleh nuduh, kalo kaya gini lo tambah keliatan kaya pelaku nya," omel Bagas pada Karel yang sama sekali tidak menghiraukan ucapan yang lain nya. Karel hanya fokus menatap teman nya itu Revan yang berada di depan nya. Karel menunggu apa yang akan di keluarkan dari mulutnya itu. Karel tau Revan melakukan ini pasti ada alasan mengapa harus melakukan ini, Revan tidak mungkin menggunakan kepintaran nya untuk melakukan kejahatannya. Revan terlihat gelisah karena tatapan mengintimidasi dari Karel. "K-kok gua?" "Revan tenang aja gua udah matiin cctv ruangan ini kok, sama kaya yang lo lakuin waktu itu, matiin cctv ruangan ini buat ngelakuin rencana lo motong rekaman cctv itu kan?" "Karel lo jang... " "Lo gak terburu-buru, tapi lo sengaja ngasih kita clue kalo rekaman itu di potong bukan mati kan, makanya lo ngebuat potongan rekaman itu gak rapih," potong Karel masih menatap Revan. "Rel, lo apaan sih nuduh-nuduh segitu nya." "Gua tau lo ngelakuin ini terpaksa, gua tau lo. Kita akan ngelindungin lo kok tenang aja." Karel tidak menghiraukan yang lain nya, Karel hanya fokus pada Revan yang terlihat ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. "Rel." Bagas menepuk bahu Karel untuk sudah cukup menyudutkan Revan seperti itu. "Kalo lo tetep diem, ini akan terus berlanjut di sekolah kita." Bagas menghela napas melihat tingkat Karel yang menurutnya sangat keterlaluan karena sangat menyudutkan Revan. "Heh Rel kayanya emang lo dah yang ngelakuin, lo nuduh orang banget soalnya," tukas Aksa. "Semua ada di tangan lo Revan." "Rel kita harus denger dulu pembelaan Revan," ucap Bagas sambil menahan Karel untuk terus menyudutkan Revan. "Iya gua yang lakuin," ujar Revan membuat mereka semua terkejut terkecuali Karel yang memang sudah tau. Tadi Karel sempat menerima pesan dari Leo kalau pak Johan, agent yang menyamar menjadi guru itu melihat Revan masuk ke dalam ruangan ini dengan tergesa-gesa ketika kejadian Vela itu berlangsung. "Apa?!" pekik Aksa terkejut dengan pengakuan Revan. "Revan, lo jangan ngaku karena paksaan gini. Gua tau lo gak ngelakuin ini," ucap Bagas yang menduga kalau Revan mengaku karena tuduhan yang terus menerus dari Karel. "Tapi emang gua yang ngelakuin, gua yang motong rekaman cctv itu. Tapi bukan gua yang ngelakuin penusukan itu. Gua cuma di suruh dengan anceman kalo ibu gua yang lagi di rawat di rumah sakit bakal di celakain, gua gak mau ibu gua kenapa-kenapa jadi gua lakuin ini. Maaf." Revan menundukkan kepalanya merasa bersalah karena perbuatan nya. Ia hanya terpaksa. "Kenapa lo gak ngaku dari awal?" tanya Aksa. "Kalo mereka tau gua ngaku gini, mereka pasti apa-apain ibu gua yang di rumah sakit, gua takut kalo dia kenapa-kenapa. Gua gak peduli sekalipun gua masuk penjara asal kan ibu gua baik-baik aja." "Tenang, gua bakal minta perlindungan buat jagain ibu lo kok." Karel menepuk bahu Revan. "Makasih." "Iya sama-sama. Gua juga makasih karena lo udah mau jujur, gua akan telfon kepolisian buat lindungin keluarga lo." Karel mengirimkan pesan pada Leo mengatakan kalau Revan mengaku karena paksaan dan nanti mereka akan mendiskusikan nya lagi. Bagas menatap Karel dengan tatapan yang merasa bersalah, "Rel, maaf." "Kenapa?" tanya Karel bingung karena Bagas yang meminta maaf pada nya. "Gua udah nuduh lo dari awal." "Oh iya, gak apa-apa santai aja." Karel tertawa. "Gua juga minta maaf ya," ucap Aksa pada Karel. "Iya iya, sekarang kita pokus saling menjaga aja." "Aksa gua minta maaf ya nuduh lo tadi, padahal ini ulah gua." Revan menatap Aksa yang terlihat biasa saja. "Gak apa-apa, tadi sempet kesel sih dikit, takut di laporin polisi gua tuh abisan ehehe." "Sekarang kita harus saling ngejagain, terutama Revan. Oiya tenang aja ibu lo pasti juga di jagain kok di rumah sakit." "Makasih, Rel." "Iya sama-sama." *** "Lo udah boleh pulang?" tanya Alfi pada Vela yang sedang duduk sambil memakan kue kering dari Verell beli kan tadi sebelum menjenguk Vela. "Udah, tapi luka nya belum sembuh seratus persen," jawab Vela. "Kita nginep aja di apart nya Leo." Verell menaik turunkan alisnya menatap Leo yang hanya melihatnya dengan wajah datar nya. Vela yang sudah tau kejadian Bi Inah dan cerita Allea yang menginap semalam di apartment Leo. Allea sudah menceritakan semuanya pada Vela tadi. "Boleh?" Vela melirik kearah Leo yang berdiri di samping Allea. Leo hanya mengangguk saja seperti biasa. "Ntar kita pulang dulu ya ambil baju," ucap Alfi. "Iya lah," balas Verell. "Lo gak apa-apa gak langsung pulang?" tanya Allea pada Vela karena hari ini pertama ia di boleh kan pulang dan bukan nya pulang ke rumah nya tapi ke malah menginap bersama di apartemen Leo. "Gak apa-apa, orang tua gua juga lagi gak di rumah," jawab Vela. "Kan mendingan nginep aja dulu kan," sahut Verell. "Iya bener." Selama perjalanan menuju apartment Leo, Vela dan Allea terus saja mengobrol mengabaikan Leo yang sedang menyetir, tapi memang harusnya begitu karena percuma saja mengajak Leo mengobrol kalau tidak akan di jawab oleh nya. Karel pulang terlebih dahulu mengambil mobil bersama dengan Alfi. Verell, Alfi dan Karel pulang terlebih dahulu untuk mengambil pakaian ganti juga, dan Karel harus berangkat bersama mereka juga karena hanya Karel diantara mereka yang mengetahui apartment Leo. "Udah sampe?" tanya Vela pada Leo yang memasukkan mobil nya ke parkiran. "Ayo." Allea membantu Vela turun dari mobil dengan perlahan karena luka Vela kan belum sepenuh nya sembuh. Leo membuka pintu apartment nya mempersilahkan kedua wanita itu masuk terlebih dahulu. "Wah gede juga ya," komentar Vela. "Ayo duduk," ajak Allea sambil masih membantu nya. Leo ke dapur untuk membawakan minuman pada teman nya itu dan meletakkan nya di meja di dekat mereka tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Leo melangkah menuju kamar nya untuk mengganti seragam nya dengan pakaian santai nya. "Si Leo masih aja susah ngomong ya," celetuk Vela. Allea tertawa pelan mendengar nya. "Tapi biasanya ngomong juga kok." "Tapi jarang-jarang." "Iya, emang males ngomong kali." "Ya orang mah basa basi nawarin mau minum apa gitu kek." "Yang penting udah di kasih minum nih." Allea menuangkan jus pada gelas mereka masing-masing. "Apa harus gua ajarin ngomong?" Allea tertawa bersama dengan Vela yang sesekali mengadu kesakitan karena merasakan nyeri di luka nya. Leo sedikit tersenyum mendengarkan tawa Allea bersama Vela. Leo menghubungi keluarganya kalau ia akan pulang nanti. Leo menunggu teman nya yang lain terutama Karel untuk menjaga yang lain nya disini, walaupun apartment nya aman tapi tetap saja Leo khawatir kalau terjadi sesuatu nanti kalau Leo tinggal kan mereka berdua saja di sini. Suara bel berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Itu pasti teman nya yang lain, pikir Leo. "Siapa?" tanya Allea pada Leo yang berjalan menuju pintu untuk membukakan nya. "Karel," jawabnya padahal dirinya sendiri juga tidak tau pasti siapa yang memencet bel itu. Tapi yang sudah pasti itu Karel dan yang lain nya karena memang siapa lagi, dia tidak memesan makanan dan tidak ada yang tau apartment nya selain Karel. "Oh."Allea mengangguk saja. Leo membuka pintu dan menampilkan ketiga teman nya itu. "Waah gila ya apartment nya orang kaya gini," oceh Verell ketika menginjak kan kaki nya masuk ke dalam. "Gede banget." "Yah norak dah," sahut Karel yang masuk sambil membawa tas nya. "Gua mau pulang dulu, jagain di sini," ucap Leo pada Karel yang berdiri di samping nya. "Mau ngapain?" "Pulang." "Oh yaudah, nanti balik ke sini nya lagi kapan?" tanya Karel. "Nanti malem." "Makan malem nya gimana?" "Beli, gak usah bayar." "Ok." Karel melanjutkan langkah kaki nya untuk memasuki apartment Leo. Leo kembali masuk untuk menemui Allea. "Allea," panggil nya. "Iya?" "Gua pulang dulu, jangan kemana-mana. Kalo ada apa-apa telfon," ucap nya pada Allea. "Posesip amat lo," celetuk Verell yang diabaikan oleh Leo. "Iya, nomor lo juga udah gua jadiin nomor darurat di ponsel gua kok," balas Allea. Leo mengangguk dan mengambil kunci mobilnya. "Heh gak pamitan gua juga?" ledek Verell. Leo tidak menghiraukan nya, memang teman nya yang satu itu sedikit aneh, eh tapi sepertinya bukan sedikit aneh tapi memang aneh dan menyebalkan. Leo mengendarai mobil nya menuju ke rumah keluarganya, sudah beberapa hari ini tidak mengunjungi rumah nya, sekali pun mengunjungi nya itu hanya sebentar saja, tidak tidur di sana. "Leo pulang." Leo masuk ke dalam rumah nya. "Tumben pulang," sahut sang kakak yang sedang menonton televisi dengan setoples makanan ringan di pangkuan nya. "Mommy mana?" Tanya Leo duduk di samping kakak nya itu. "Ada noh di dapur lagi masak." tunjuk nya dan kembali memerhatikan benda lebar di depan nya itu. "Kak Angel?" "Gak tau," balas nya tanpa menoleh pada Leo. Leo mengangguk dan berjalan ke dapur dimana ibu nya berada. Leo memang jauh lebih dekat dengan ibu nya dari pada dengan ayah nya. Memang anak laki-laki kebanyakan seperti itu kan. "Mom." Salsha selaku ibu dari Leo menoleh. "Udah pulang?" "Udah." Leo memeluk ibu nya itu. "Kenapa jarang pulang?" tanya Salsha sambil mengusap kepala anak bungsu nya itu yang jauh lebih tinggi dari nya. "Leo sering nginep bareng temen buat ngerjain tugas." "Kenapa temen nya gak di bawa ke sini aja." "Gak usah." "Kalo ada apa-apa telfon orang rumah ya." Lihat lah, ternyata sikap Leo itu menurut dari ibu nya. "Iya Mom." "Kamu nginep di sini?" tanya nya. "Enggak, nanti malem Leo balik ke apartment, soalnya temen Leo lagi nginep di apart." "Yaudah hati-hati, jangan macem-macem ya. Kalo mau ngelakuin sesuatu yang berbahaya inget keluarga ya." Entah itu sindiran karena Leo sering hampir mempertaruhkan nyawa nya atau memang hanya ke khawatiran nya takut Leo salah pergaulan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD