Mereka berempat Karel, Aksa, Revan dan juga Bagas yang mengajak mereka mengumpul sekarang sudah berada di tempat ruangan yang biasa mereka pakai. Tempat ruangan ber ac yang berisikan empat buah komputer. Ruangan yang memang di minta oleh Bagas pada sekolah untuk mereka berempat, karena kecerdasan mereka jadi pihak sekolah pun menyanggupi permintaan nya. Mereka memang terlihat spesial dibanding murid lain nya. Tapi beruntung nya tidak ada yang terang-terangan menunjukkan kalau mereka iri pada kepintaran mereka berempat.
Sekolah ini memang terlihat seperti markas kumpulan anak nakal, tapi di dalam nya tersembunyi anak-anak berbakat seperti mereka berempat ini, dan juga Leo pasti nya yang tidak satu pun yang tau siapa Leo kecuali Karel. Kenapa anak-anak berbakat ini tidak bersekolah di tempat yang jauh lebih baik dan bergengsi saja pasti akan masuk dengan mudah kan, tapi mereka ini bukan lah anak yang haus akan pujian dan perhatian hingga dirinya akan dipuja-puja orang banyak. Mereka tidak suka itu, karena sangat sudah di pastikan kalau sekolahan lain memiliki anak yang se berbakat mereka pasti akan di pamer kan dengan penuh kebanggaan. Mereka tidak suka hal itu, jadi lebih baik bersekolah disini, Sekolahan ini memang ternyata tidak terlalu mengumbar siswa pintar mereka yang tidak mau kalau dirinya di kenal banyak orang. Sekolah ini sangat menghargai keputusan anak-anak murid mereka, tanpa peduli dengan reputasi nya yang terlihat jelek karena hanya siswa nakal yang paling terlihat di sini.
Memang sudah sejak tahun ke tahun pasti sekolah ini menyimpan siswa yang memiliki kepintaran yang sangat pintar, dan sama seperti mereka kalau siswa itu meminta satu ruangan khusus untuk mereka belajar sekolahan akan menyediakan nya. Seperti ruangan yang di minta Bagas pada kepala sekolah.
"Jadi ada apa nih?" tanya Aksa sambil menyandarkan tubuh nya di bangku yang sudah sejak awal dipilih menjadi milik nya di depan komputernya.
"Kalian tau kan kejadian Vela kemaren," ucap Bagas yang menyeret bangku nya menuju ruangan tengah.
"Iya," jawab Revan sambil mengikuti menyeret bangku nya mendekati Bagas.
Karel juga ikut mendekat menggunakan bangku beroda nya itu, "Iya gua tau."
Bagaimana Karel tidak tau, kalau yang mengalami itu teman nya sendiri, dan Karel juga yang mengantarkan nya ke rumah sakit, bahkan Karel sendiri yang membopong teman nya itu menuju ambulance, bahkan dirinya menemukan surat misterius itu. Bagaimana Karel tidak tau, ia sangat tau tentang kejadian itu dibanding teman-teman nya ini.
"Iya dia kan temen lo," sahut Aksa yang masih bersandar di bangku beroda nya itu di depan komputernya tanpa mendekati yang lain.
"Jadi kita mau bahas masalah ini?" tanya Karel dengan menyembunyikan senyuman nya. Ia sangat senang kalau sampai mereka juga bisa sangat membantu. Tugasnya akan jauh lebih ringan. Semoga saja akan segera selesai. Ketika ketahuan siapa yang melakukan nya, mereka akan menangkap nya dan mencari tau siapa dalang nya, setelah tau siapa dalang nya ia, Leo dan tim nya akan mencari nya dan menangkap nya hingga mencari tau penyebab kenapa melakukan semua ini, dan semuanya akan selesai. Terlihat mudah kan.
"Iya," jawab Bagas.
"Lo udah cek cctv sekolah?" tanya Aksa sambil melipat kedua tangan nya.
"Udah, dan gua rasa itu kepotong."
"Bener, gua juga udah cek dan kepotong," ucap Karel yang membenarkan ucapan Bagas.
"Gua cek dulu." Revan mengotak-atik komputernya hingga tidak lama menampilkan cctv sekolah ketika kejadian Vela itu berlangsung.
"Oh jadi harusnya ada yang masuk ke toilet kan," komentar nya ketika melihat rekaman cctv itu.
"Terus potongan nya rapih gak?" tanya Aksa.
"Enggak," jawab Bagas.
Karel hanya mengangguk-angguk saja. Ia takut kalau sampai dirinya banyak bicara dan tanpa sadar membuka identitas nya sebagai agent di depan mereka, yang Karel sendiri mencurigai salah satu dari mereka yang melakukan kejadian Vela kemarin.
"Heh jangan curigain gua loh ya, gua gak tau apa-apa," ujar Aksa yang mendapatkan tatapan dari Bagas.
Bagas menghela napas. "Ayo kita bantu kepolisian cari siapa pelakunya."
"Kalian mau cari pelaku penusukan nya atau yang motong rekaman cctv itu?" tanya Revan.
"Keduanya kalo bisa," jawab Bagas.
"Tapi gimana cara nya ngembaliin potongan rekaman cctv nya?" tanya Revan sambil kembali bersandar menatap kearah mereka semua.
"Kita gak akan tau siapa yang ngelakuin penusukan itu kalo kita belum temuin yang motong rekaman cctv itu," ucap Karel yang mendapatkan anggukan dari Bagas.
"Bener, karena cuma dia yang liat muka pelakunya."
"Mereka kerja sama."
"Kalian mencurigai anak sini?" tanya Aksa.
"Iya," jawab Bagas.
"Ragu sih," sahut Revan.
"Lo?" Tanya Aksa.
"Lo sendiri gimana?" tanya Karel balik pada Aksa.
"Gua? gak mencurigai anak sini sih," jawab nya dengan ragu.
"Iya bisa juga orang lain kan." Aksa membuka botol minum nya dan menenggak isi nya.
"Apa yang bikin lo curiga anak sini?" Karel menatap Bagas yang terlihat kebingungan sambil mengusap wajah nya.
"Pas kejadian itu gua langsung cari di cctv dan itu udah kepotong. Gua yakin itu di lakuin secara terburu-buru." Bagas menghela napas dan kembali melanjutkan ucapan nya, "Dan cuma anak sekolahan ini yang tau sandi nya buat cepet masuk ke cctv dan motong rekaman itu dalam beberapa menit."
Karel mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Bagas. Sangat masuk akal.
"Tapi selain kita emang siapa lagi yang bisa?" tanya Revan.
"Itu yang gua pikirin."
"Kalo gua mencurigai dari kita gimana?" ucap Karel yang mencoba untuk melihat reaksi dari mereka. Karel sudah diajarkan cara ini dari Leo, sebenarnya bukan benar-benar di ajarkan seperti guru dan murid di sekolah, tapi Leo pernah melakukan itu untuk melihat reaksi orang dan Karel tau Leo sedang mengajarkan nya secara tidak langsung.
Kita akan membuat seolah-olah kita tau dan mengatakan nya di depan orang yang kita curigai. Dan lihat lah reaksi pertama nya, itu adalah rekasi alami yang ditunjuk kan. Cari yang terlihat reflek terkejut atau ketakutan atau cari yang langsung tiba-tiba mengubah ekspresi nya, itu dia sedang mengkondisikan ekspresi nya untuk tidak ketahuan. Tapi reaksi pertama itu adalah reaksi alami, jadi lihatlah reaksi awalnya.
"Kenapa lo curigain kita?" tanya Bagas.
Karel mendapatkan nya. Karel harus menyembunyikan senyuman nya segera. Ternyata cara ini mudah juga untuk di coba.
"Ya kalo misalkan doang," ucap Karel sambil melirik salah satu teman nya yang ia curigai.
"Kita gak boleh asal menduga-duga."
"Iya."
"Kalo pun salah satu dari kita, apa kalian akan laporin?" tanya Karel yang sebenarnya di tujukan pada Bagas yang terlihat seperti pemimpin mereka.
"Iya, kita harus ngelaporin nya. Ini termasuk kriminal, itu juga termasuk percobaan pembunuhan kan."
"Kalo ternyata dia terpaksa ngelakuin ini gimana?" tanya Karel sambil memainkan ponsel nya.
"Kita setidaknya harus saling jujurkan." Bagas melihat kearah mereka semua.
"Kalo udah jujur, apa lo juga bakal laporin ke polisi?" tanya Karel lagi pada Bagas.
"Apa kita gak perlu nanya dulu alesannya kenapa dia ngelakuin ini?" tanya Aksa yang sedari tadi menyimak pembicaraan ini.
"Iya kita akan nanya alesan nya."
"Dan tetep laporin ke polisi?" tanya Revan.
"Tergantung."
"Kalo dia mau ngebantu buat cari siapa pelakunya mungkin gak akan di laporin, dan kita akan bela," ucap Karel yang sebenarnya juga tidak tega kalau sampai melaporkan teman nya sendiri ke polisi, apalagi mereka sudah kelas dua belas, sebentar lagi kelulusan kan. Masa depan nya kan hancur.
"Gimana kalo ternyata dia malah di ancem gimana?" Revan mendekat ke yang lain nya menggunakan bangku beroda nya itu.
"Dan ngelakuin hal yang sama kaya Vela sama dia?" lanjut Aksa.
"Kita akan coba buat lindungin," jawab Bagas.
"Dengan cara?" Aksa menatap Bagas yang sebenarnya juga belum terpikirkan bagaimana melindungi salah satu teman nya kalau sampai terbukti ada yang terlibat.
"Gua akan minta pihak kepolisian buat lindungin kita," ujar Karel yang mengerti dengan kekhawatiran salah satu teman nya itu.
"Gimana kalo gak ada yang ngaku?" tanya Aksa.
"Kita akan tetep cari bukti nya."
"Gimana kalo misalkan dia nya kabur karena takut?" Revan yang mulai berpikir betapa sulitnya mencurigai teman nya sendiri.
"Ayo selesaiin sekarang biar gak ada yang kabur," ucap Bagas.
"Tapi udah bel masuk." Revan memberitahu kalau bel berbunyi memberitahu kepada seluruh murid kalau saat ini waktu nya beristirahat sudah selesai dan kembali ke kalas untuk belajar kembali.
"Gak apa-apa, gua udah minta ijin gak masuk nanti," kata Bagas. Inilah keistimewaan mereka, bisa bebas meminta izin seperti sekarang ini.
"Kita?"
"Iya kalian juga."
"Jadi ayo balik bahas lagi," lanjut Bagas dengan serius.
"Pertama siapa yang kalian curigain? dan kasih alesan," ucap Bagas.
"Iya, dari lo," suruh Karel. Ia ingin mendengar pendapat teman-teman nya yang lain, apa mereka semua sama dengan pemikiran nya atau tidak.
"Gua, curiga lo." Bagas menunjuk Karel.
"Karena?" tanya Karel.
"Karena lo orang pertama yang nemuin Vela, terus lo deket sama Vela jadi lebih memudahkan buat ngelakuin itu sama Vela. Terus lo juga bisa kan ngapus rekaman cctv, itu hal yang mudah buat kita. Dan potongan nya gak rapih kaya terburu-buru, karena lo harus berpura-pura buat nolong Vela. Dan lo juga gua liat jadi lebih sibuk sendiri sama ponsel lo," jelas Bagas.
"Ok, tapi gua ada pembelaan. Gua bukan yang pertama yang nemuin Vela, ada cewek yang teriak jadi gua langsung lari ke sana, dan gua emang lagi ada urusan jadi sibuk," bela Karel.
Bagas mengangguk, "gua terima. Aksa?"
"Gua juga curiga Karel, karena dari tadi kaya banyak tanya gitu-gitu dia. Terus sekarang kan dia deket banget sama anak baru itu si Leo, dan setelah gua perhatiin semenjak dia ke sekolah ini sekolah kita jadi kena masalah terus kan. Jadi gua curigain dia sama Leo sih sebenernya," ucap Aksa sambil melihat kearah Karel.
Karel hanya mengangguk-anggukan kepala nya. "Revan?"
"Gua curiga Aksa," jawab nya sambil sedikit melirik kearah Karel yang menampilkan senyuman tipis.
"Loh kok gua?!" sergah Aksa.
"Karena kan emang lo kerjaannya kurang rapih, dan potongan cctv itu juga gak rapih."
"Tapi bukan itu kurang ya alesan begitu, gak bisa menguatkan alesan nya. Kan bisa aja itu karena terburu-buru," bantah Aksa yang tidak terima karena tuduhan Revan pada nya.
"Udah udah ini kan cuma baru kecurigaan kita doang," ujar Bagas mencoba menenangkan teman nya itu.
"Karel lo sendiri curiga ke siapa?" tanya Bagas pada Karel.
"Gua curiga ...