Surat Misterius

1229 Words
Zylin dan Zefai sampai di kelas. Zylin terkejut saat sampai di mejanya. Ada surat di atas meja belajarnya. “Ini ...” Zylin mengambil surat itu. “Ada apa, Zylin?” tanya Zefai sambil meletakkan tasnya. Zefai duduk paling belakang, didepannya ada Zylin. Mereka tidak duduk satu meja. “Ini,” ujar Zylin sambil menunjukkan surat itu pada Zefai. “Surat? Dari siapa?” Zefai mulai penasaran. “Entah,” jawab Zylin. “Coba buka, aku penasaran siapa yang mengirimi mu pesan,” pinta Zefai. Zylin pun membukanya. Zefai yang penasaran berdiri di samping Zylin dan melihat siapa yang mengirim pesan itu. ‘kau bagaikan cahaya matahari yang menyinari hari-hariku. Memberiku kehangatan tanpa mengharap imbalan. Senyummu secerah mentari pagi, yang selalu menyapaku tuk memulai hari. Aku sangat bersyukur, bisa mengenalmu. Meski kita tak pernah dekat. Ku tak berani menyapamu ataupun mengajakmu bicara. Ku memilih untuk diam, dan mengagumi mu dalam diam. Terima kasih sudah menjadi matahariku, Zylin Zhan. Dari, Pengagum rahasia mu.’ “Hah? Pengagum rahasia? Siapa?” tanya Zefai. Zylin tak mau menanggapinya. Dia malah meremas surat itu dengan wajah kesal. “Aku tidak peduli siapa pun dia!” ujar Zylin. “Hei, Zylin kenapa kau meremasnya?” tanya Zefai. “Biarkan saja. Itu tidak penting.” Dia sama sekali tak mempedulikan surat itu. Tanpa keduanya sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka dari balik pintu kelas. Wajahnya tampak sedih saat melihat Zylin meremas surat dari pengagum rahasianya. Sampai temannya menyapanya. “Hei, ko bengong?” tanya temannya. Cowok yang sejak tadi berdiri di depan pintu pun tersadar. “Ah iya,” jawabnya dengan singkat lalu masuk kedalam kelas. Satu per satu anak-anak mulai masuk kedalam kelas. Zefai sedang asyik membaca buku, tiba-tiba berhenti. “Hei, Zylin!” panggil Zefai. “Apa?” tanya Zylin tanpa menoleh kebelakang. “Aku baru ingat, hari ini kita ada ekskul kan?” Zefai balik bertanya. “Iya, hari ini kita ada latihan basket. Tunggu! Jangan bilang kau lupa?” Zylin langsung menoleh kebelakang. “Hehehe, iya. Aku memang lupa.” Zefai menjawab sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu. “Bodoh! Bukannya tadi pagi, kita sudah membahasnya! Kenapa sekarang kau lupa!” teriak Zylin yang kesal pada Zefai. “Iya, tadi pagi aku ingat. Tapi setelah sampai di sekolah, aku lupa.” Zefai malah bersikap santai. “Hah... dasar! Jangan bilang itu karena...” ucapan Zylin terpotong karena Zefai membuka mulutnya dengan tangan kanannya. “Sshhtt, jangan keras-keras. Nanti dia dengar,” Zefai memberi kode dengan menatap Bella yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Zylin menarik tangan Zefai dengan ekspresi kesal. “Kali ini, aku tidak akan membantumu! Kau katakan sendiri pada paman Han!” Zylin kembali ke tempat duduknya dengan kesal. “Zylin, jangan begitu. Kumohon, tolong aku!” ujar Zefai. Zylin tak mau mendengarkan keluhan saudara kembarnya itu. Dia sudah kesal pada Zefai. “Pagi semua!” sapa seorang guru yang tak lain adalah Elena Hou. “Pagi, Bu!” Zefai langsung kembali ke tempat duduknya. “Zylin, pokoknya kamu harus bantuin aku!” bisik Zefai. “Tidak!” meski pelan, tapi terdengar tegas. “Baiklah, semua! Kita mulai pelajarannya!” padangan Elena tertuju pada si kembar. “Zefai, sepulang sekolah kau harus latihan. Kali ini kau tidak boleh absen lagi!” ucap Elena. “Tapi Bi? Eh, maksudku Bu Elena. Hari ini aku ada urusan penting. Boleh ya?” Zefai kembali memohon pada Elena. “Tidak, Zefai. Kau sudah sering absen saat latihan. Kali ini kau tidak boleh absen. Jika kau masih bandel, aku akan memberitahu Daddy-mu!” ujar Elena dengan tegas. Mendengar Elena akan mengadu pada Daddy nya, membuat Zefai akhirnya menyerah. Dia tertunduk lesu, karena tak bisa berkencan dengan gadis yang dia sukai itu. Sedangkan Zylin tersenyum tipis melihat saudaranya menyerah. Seluruh murid didalam kelas tertawa kecil melihat kelakuan Zefai, begitu pula dengan Bella. Dia juga tersenyum. Namun ada seseorang yang menatap si kembar dengan pandangan sedih. Entah kenapa dia terus merasa sedih sejak masuk ke dalam kelas. “Kamu dengar itu Zefai!” tanya Elena dengan tegas nya. “Iya, Bi. Ups! Iya Bu.” Zefai hanya bisa pasrah. “Baik. Kita lanjutkan pelajarannya.” Dua jam pelajaran fisika telah usai. Sekarang berganti dengan pelajaran yang baru. Namun guru yang mengajar tak kunjung datang, membuat kelas menjadi ribut. “Hei, Zefai! Kenapa murung begitu? Ayolah semangat!” ujar teman sebangkunya. “Aku sedang tidak bersemangat,” balas Zefai. “Biasanya kamu yang paling cerewet disini. Kenapa tiba-tiba murung, hanya karena tidak diijinkan absen hari ini?” teman Zefai kembali bertanya. “Bodoh! Berhenti bersikap kekanak-kanak. Pergi dan katakan padanya, lain kali saja perginya.” Zylin berkata tanpa berpaling dari ponselnya. Zefai langsung mengangkat kepalanya, lalu beranjak bangun dari kursinya. Entah apa yang ada dipikiran Zefai. Dia berjalan dengan santainya menghampiri Bella di tempat duduknya. “Bella,” panggil Zefai dengan pelan. Bella yang sedang mengobrol, menoleh kesamping. “Zefai, ada apa?” tanya Bella. “Itu... maaf ya, sepulang sekolah aku tidak bisa mengajakmu jalan. Aku harus menghadiri latihan.” Zefai berkata dengan nada sedih. “Iya, aku sudah mendengarnya tadi.” Bella tersenyum pada Zefai. “Kamu tidak marah?” tanya Zefai. “Tidak, aku tidak marah.” Bella menjawabnya sambil menggelengkan kepalanya. “Terima kasih, Bella. Lain kali, aku pasti akan mengajakmu jalan. Janji!” Zefai kembali bersemangat. Bella hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Zefai itu. Tiba-tiba seorang guru datang. Mengagetkan semua murid, termasuk Zefai. “Siang semua,” sapa guru itu. Zefai segera kembali ke tempat duduknya. Pelajaran kedua pun dimulai. Triiinngg! Bel istirahat telah berbunyi. Semua murid mulai berhamburan keluar kelas. Zefai dan Zylin pun ikut keluar, baru saja keluar dari kelas, langkahnya terhenti oleh suara seseorang. “Zefai, Zylin!” panggil seseorang dengan suara lembut, tapi terdengar serak. Zefai dan Zylin menengok kebelakang. Sebuah senyum tulus menyambut si kembar. “Obaa-sama,” panggil keduanya bersamaan. Obaa-sama memiliki arti nenek. Yang memanggil si kembar itu adalah, Ruan. Ibu dari Elena, sang pemilik sekolah. “Zylin, Zefai lama sekali nenek tidak melihat kalian. Kenapa kalian tidak pernah datang lagi ke rumah?” tanya nenek Ruan dengan senyum tulus. “Maafkan kami, akhir-akhir ini kami sangat sibuk,” jawab Zylin. Ibu Ruan tersenyum lalu mendekati si kembar dan memeluknya. “Tidak apa-apa. Nenek tau kalian pasti sibuk. Bagaimana kabar Daddy dan Mamih?” tanya Ibu Ruan. “Daddy dan Mamih sehat-sehat saja, Nek.” Zefai menjawabnya saling tersenyum. “Melihat kalian berdua, mengingatkanku pada masa kecil orang tua kalian.” Nenek Ruan lagi-lagi tersenyum. “Benarkah? Nenek, bisa kau ceritakan seperti apa Daddy dan Mamih saat kecil?” Zefai jadi sangat antusias saat membicarakan masa lalu kedua orang tuanya. “Baiklah, akan nenek ceritakan. Kita bicara sambil duduk. Kaki nenek sudah tidak kuat untuk berdiri,” ujar nenek Ruan. Mereka pun duduk di bangku didepan kelas, dan mulai mendengarkan cerita nenek Ruan. “Dulu, Zyan anak yang sangat pendiam. Dia tidak banyak bicara dan selalu bersikap dingin pada semua orang, tapi tidak pada Jin. Dia selalu bersikap tenang dan penuh perhatian pada Jin.” Nenek Ruan mulai mengingat masa lalunya. “Heh, persis seperti Zylin. Tapi berbeda. Dia sama sekali tidak memiliki hati.” Zefai menetap Zylin dengan pandangan sinis. “Seperti orang itu berbeda-beda, Zefai. Meski Zylin sifatnya hampir mirip dengan Daddy-mu, tapi tetap tidak sama,” ujar nenek Ruan. Nenek Ruan mulai menceritakan masa-masa kecil kedua orang tua Zefai dan Zylin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD