Pertengkaran Di Pagi Hari
Pagi yang indah untuk keluarga kecil Zhan. Si kembar Zefai dan Zylin seperti biasa selalu bertengkar sebelum berangkat sekolah.
“Zylin, itu punyaku!” suara teriakan keras Zefai dari dalam kamar.
“Ini punyaku! Punyamu, dimana?” balas Zylin.
Zefai dan Zylin selalu meributkan sesuatu yang tidak perlu. Contohnya seperti hari ini, mereka meributkan ikat pinggang.
“Hei, Zefai! Itu ikat pinggang mu, ada di atas meja!” Zylin menunjuk ikat pinggang yang tergeletak di meja.
Zefai menoleh kebelakang, dan benar di sana ada ikat pinggang. Dia mengambil dan melihat ikat pinggang itu. Ada nama yang tertera di sana.
“Hehehe... Benar, ini punyaku dan itu punyamu.” Zefai tertawa malu.
“Hah, dasar!” Zylin sedikit kesal pada saudara kembarnya.
Di ruang makan, Zyan dan Ashleen, anak perempuan keluarga Zhan, sedang menunggu sarapan.
“Kenapa ribut sekali?” Zyan bertanya tanpa memalingkan pandangannya dari koran yang dia baca.
“Entah, paling meributkan hal kecil. Kebiasaan mereka berdua setiap pagi, tak ada keributan tak seru.” Ashleen menanggapinya dengan tersenyum.
“Mereka itu selalu saja bikin pusing. Setiap pagi, selalu saja ada yang mereka ributkan.” Keluh Jin sambil menaruh makanan di meja.
“Hihihi ... Kan sudah kebiasaan mereka, Mih. Kalau tidak ribut, tidak seru,” Ashleen tersenyum pada Jin.
“Kau benar juga. Ah, sudahlah. Zylin! Zefai!” panggil Jin pada dua putra kembarnya.
Zefai dan Zylin keluar dari kamar lalu menghampiri keluarganya yang di meja makan. Zyan menutup koran nya lalu menatap tajam kedua putranya.
“Apa sudah selesai?” tanya Zyan dengan nada dingin.
Zefai yang hendak mengambil makanan terhenti. Dia menatap daddy-nya dengan pandangan takut.
“Hmm itu ...” Zefai tak berani melanjutkan ucapannya.
Zefai melirik kearah Zylin, dia malah tetap tenang. Sama sekali tak mempedulikan pandangan Zefai.
“Kenapa malah diam?” Zyan kembali bertanya masih dengan nada dingin dan pandangan yang tajam.
“Zy, sudahlah. Tidak perlu marah-marah begitu,” Jin menyentuh pundak suaminya itu untuk menenangkan nya.
“Sebenarnya apa sih yang kalian ributkan pagi-pagi?” tanya Ashleen sambil meminum susunya.
“Tanyakan saja pada Zefai!” Zylin menjawabnya dengan tenang, tapi terlihat jelas emosinya.
“Hah ... sudahlah. Percuma bertanya pada kalian berdua.” Zyan akhirnya menyerah untuk bertanya.
“Dad, hari ini kami akan pulang telat. Bolehkan?” Zefai kembali bertanya.
“Kalian mau kemana?” Jin sangat penasaran dengan pertanyaan putranya.
“Kami ada urusan.” jawab singkat Zylin.
“Urusan apa?” Jin kembali bertanya.
“Penting,” lagi-lagi Zylin menjawabnya dengan singkat.
“Astaga Zylin, lama kelamaan kau mirip Daddy mu. Menjawab dengan singkat. Lain kali jawablah dengan panjang, bisa kan?!” Jin tampak kesal pada Zylin.
“Hihihi,” Ashleen malah tertawa kecil melihat Mamih nya kesal.
“Memang kenapa jika Zylin mirip denganku? Aku ini Daddy nya.” Zyan membalasnya dengan nada dingin sambil meminum kopinya.
“Tidak boleh! Dia tidak boleh bersikap dingin sepertimu!” Jin semakin kesal pada suaminya itu
“Apa salahnya?” tanya Zyan.
“Salah! Jika dia bersikap dingin terus, yang ada dia bakal susah nyari pasangan nanti!” Jin bersikukuh pada pendapatnya.
Ketiga anaknya terlihat tenang menyaksikan kedua orang tuanya saling beradu argumen. Mereka sama sekali tak mempedulikan pertengkaran kedua orang tuanya.
“Jin Zhan! Sekali lagi kau berani bicara, aku akan membukammu!” seringai tampak di wajah dingin Zyan.
Mendengar hal itu, Jin langsung menutupi bibirnya dengan kedua tangannya.
“Zy, bodoh!” gumam Jin dengan wajah yang memerah malu.
Zyan tersenyum senang, karena dia merasa menang saat beradu argumen dengan istrinya itu.
Selesai sarapan, ketiga anaknya berangkat sekolah. Ashleen anak pertama, dia kuliah disalah satu universitas ternama di Tokyo. Sedangkan si kembar, Zefai dan Zylin masih kelas dua SMA.
Mereka sekolah, di tempat kedua orang taunya pernah sekolah dan tinggal di sana. Di SMA MANGETSU IDO.
Sampai di sekolah, keduanya selalu menarik perhatian.
“Hei, Zylin! Sepulang skull kita mau ngapain?” tanya Zefai disela mereka jalan ke kelas.
“Entah. Aku ingin pergi bermain, tapi ...” Zylin tak melanjutkan ucapannya, dia menatap ke gerbang sekolah.
Zefai mengikuti pandangan Zylin yang menatap dua orang anak buah Daddy-nya itu.
“Hah ... Daddy sungguh kelewatan. Memang kita ini anak kecil, harus dibuntuti terus,” keluh Zefai.
“Sudah, ayo masuk! Soal mereka, kita pikirkan nanti,” ujar Zylin.
“Iya!”
Keduanya kembali berjalan, tapi tiba-tiba Zefai berhenti saat melihat seorang gadis cantik sedang mengobrol bersama teman-temannya di depannya.
Zylin ikut berhenti. Zylin tau, alasan Zefai mendadak berhenti begitu.
“Kenapa tidak samperin saja si?!” ujar Zylin.
“Eh? Apanya yang samperin?” Zefai terlihat malu karena dia ketahuan sedang menatap gadis yang menjadi idola sekolah itu.
“Aku tau, kau sedang memperhatikan siapa?! Bella, teman sekelas kita,” ucap Zylin.
Zefai terkejut dan tak menyangka jika Zylin mengetahuinya.
“Jika suka, katakan saja! Dasar penakut!” ejek Zylin sambil melanjutkan jalannya.
“Hei, Zylin tunggu!” teriak Zefai.
Zefai menghampiri Zylin dan berjalan disampingnya. Saat mendekati sekumpulan gadis-gadis itu, Zefai sedikit tersipu malu.
“Hush, lihat! Itu Zylin dan Zefai!” bisik salah satu murid cewek pada temannya.
Teman-temannya menatap Zefai dan Zylin. Gadis yang disukai Zefai juga ikut menatapnya.
“Pagi Zefai! Pagi Zylin!” sapa teman-teman ceweknya.
“Pagi,” balas Zefai sambil tersenyum.
Sedangkan Zylin hanya terdiam tanpa ekspresi. Zylin memang memiliki sifat yang mirip dengan Daddy-nya, dingin dan minim bicara. Meski wajahnya mirip dengan Mamih-nya, wajahnya yang imut, tapi tetap tampan.
Berbeda dengan Zefai. Dia memiliki wajah yang mirip Daddy nya, tapi sifatnya persis seperti Mamih nya, ramah, murah senyum dan banyak bicara.
Meski mereka kembar, tapi sifat dan kepribadiannya sangat berbeda.
“Pagi, Bella!” sapa Zefai.
“Pagi Zefai," balas Bella.
“Bel, hmm itu...” Zefai tak bisa melanjutkan ucapannya, dia terlihat gugup.
Zylin yang berdiri di samping Zefai merasa bosan dengan sikap Zefai yang bertele-tele jika bicara dengan Bella.
“Itu apa, Zefai?” tanya Bella.
“Hmm itu... itu...” lagi-lagi Zefai gugup.
“Cih, bicara seperti itu saja lama sekali!” keluh kesal Zylin.
Zefai menjadi kesal pada saudara kembarnya itu.
“Biarin,” gumam pelan Zefai.
Bella masih menunggu ucapan Zefai dengan ekspresi kebingungan.
“Cepat bicara, atau aku tinggal!” Zylin semakin kesal.
“Iya iya iya, aku bicara. Tunggu sebentar.” Zefai menahan tangan Zylin.
“Bel, itu... Siang nanti kamu ada acara tidak?” tanya Zefai dengan malu-malu.
“Nanti siang, aku tidak ada acara. Memang kenapa?” Bella bertanya balik sambil tersenyum.
Ekspresi wajah Zefai seketika berubah setelah mendengar jawaban Bella.
“Kalau begitu, sepulang sekolah aku tunggu didepan gerbang sekolah. Bye Bella.” ujar Zefai.
Setelah berbicara, Zefai langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Bella.
“Eh, Zefai!” panggil Bella.
Namun tak didengar oleh Zefai. Dia sudah terlanjur jauh.
“Ah sudahlah. Terserah dia,” ujar Bella.
“Cie, Bella.” teman-teman Bella mulai menggodanya.
“Apaan si?” tanya Bella.
“Cie yang baru diajak kencan,”
“Wah, Bella kamu beruntung sekali, diajak kencan sama salah satu pangeran.”
Teman-teman Bella mulai menggodanya karena Zefai mengajak jalan Bella.
“Apaan si kalian ini!” Bella menanggapinya dengan sedikit kesal.
Wajahnya tampak sedih, matanya terus menatap punggung Zylin yang mulai menjauh dari pandangannya.
‘Zylin, kenapa kau dingin sekali?’ tanya Bella dalam hati.