Hann
Hari ini hari selasa dan aku hendak pergi ke suatu tempat di bagian sisi paling timur pulau ini, ke prefektur Moruz, ke pantai bernama Prynn. Sejujurnya, aku tak tahu alasan pasti kenapa harus ke sana. Aku mendengar kabar jika pantai-pantai di sana dapat menyala, seperti warna biru terang-berkilau ketika malam menjelang. Dan hanya warna biru itulah yang satu-satunya terlihat dari bibir pantai. Sebab, warna-warna biru itu dihasilkan dari reaksi bioluminesensi oleh plankton di perairan dalam. Yang beberapa di antaranya dapat menghasilkan pendaran cahaya yang kemilau, megah, dan menawan. Berbondong-bondong orang pergi ke sana. Dan setiap malam, banyak di antara mereka yang akhirnya bermalam di pinggir pantai. Begitu pun aku semakin dibuatnya penasaran. Sambil melarikan diri dari hari-hari yang malang ini, aku memutuskan untuk pergi ke sana sambil merayakan kesendirian yang makin hari, semakin tak terpisahkan dari diriku.
Untuk sampai di Moruz, aku harus melewati setidaknya tiga prefektur. Pertama, aku harus keluar dari Kryze menuju jalur panjang ke prefektur Louvre. Setelah itu, aku harus singgah di Olssen untuk melanjutkan perjalananku ke Belousva. Dari sana, kereta akan membawaku langsung ke Moruz tanpa hambatan.
Setelah seharian aku berada di kereta menuju Louvre, aku melanjutkan perjalananku dengan sebuah kereta super panjang ke Olssen. Saat itu aku tiba pukul tiga dini hari keesokan harinya. Dari Olssen, aku harus melalui satu prefektur lagi untuk sampai di Moruz. Ya, perjalanan panjang ini masih belum usai, gumamku kecil sambil menarik napas dalam-dalam.
Tetapi di tengah jalan di pusat kota Olssen, aku merasa letih. Perjalanan seharian di kereta ternyata cukup melelahkan. Dan pagi harinya, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu hotel di Olssen.
Perjalanan menuju ke Moruz kutunda hari ini. Selebihnya, aku ingin berbaring di atas ranjang yang empuk, mandi air hangat, menyantap salad buah yang dingin dan segar, lalu aku ingin makan daging sapi. Terakhir, aku ingin panekuk.
Setelah aku menaruh barang-barangku di hotel, aku tidur seharian hingga siang menjelang. Di sela-sela waktu sebelum pukul lima sore itu, aku lebih suka mengurung diriku dengan minuman-minuman dingin dan bergelung di antara instrumen-intrumen Für Elise dan kawan-kawannya.
Pukul lima sore, aku baru mandi dengan air hangat lagi. Tak lupa setelah mandi, aku berjalan ke memesan salad buah segar dan steak di sebuah kafetaria hotel. Di sana aku menghabiskan waktu cukup lama sebelum beranjak mencari panekuk karena di hotelku, persediaan panekuk sudah habis, jadi aku pergi ke restoran kecil berjarak sekitar dua ratus meter setelah menyantap potongan daging sapi terakhirku pukul tujuh malam. Untungnya, panekuk di sana masih tersedia, ditambah dengan madu dan segelas coklat panas.
Aku menyantap hidanganku pelan-pelan. Setelah lama aku berada di sana, baru kusadari, ternyata orang-orang di restoran kecil itu pun dipenuhi oleh mereka yang kebetulan menginap di hotel yang sama denganku. Di kaus depan tertulis nama hotelnya, Dalton. Tak hanya itu, pemandangan yang sangat nampak saat itu adalah, tak ada seorang pun pengunjung yang makan sendirian selain aku. Sampai pukul setengah delapan lebih sampai seorang perempuan lain datang dan ia memilih duduk dihadapanku.
“Kosong?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Boleh aku duduk di sini?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk sambil mengunyah panekukku. Kemudian perempuan itu duduk dengan sopan hingga kini ia berhadapan denganku. Kira-kira usianya 26 atau 27, aku menduga.
Belum sempat aku menelan panekuk di mulutku, perempuan itu kemudian bertanya lagi. “Sendirian?” tanyanya untuk yang ketiga kalinya. “Tidak dengan orangtuamu?” itu pertanyaan keempat. Lalu aku mengganggukkan kepala jika untuk setiap jawabannya iya, dan sesekali menggelengkan karena jawabannya tidak.
“Aku sedirian,” jelasku sambil mengunyah lagi.
Disamping ia membawa sepiring daging sapi, ia juga membawa gelas berisi ginger ale.
“Siapa namamu?” itu pertanyaan kedelapan sejak ia duduk di depanku.
“Hann.”
“Aku Julia,” katanya dan aku sama sekali tidak terkejut.
Satu sendok panekuk lagi mendarat ke mulutku, sedang perempuan itu baru saja mendaratkan suapan pertama daging sapinya melewati bibir yang dipoles gincu merah hati.
“Apa yang kamu lakukan di sini sendirian?” Itu pertanyaan kesembilan yang konyol.
“Hanya untuk mencari udara segar. Dan kebetulan, aku ingin makan panekuk.”
Perempuan itu mengangguk-angguk kecil sambil mengunyah daging sapinya.
“Seharian ini aku bekerja dan baru tadi aku selesai dengan pekerjaanku,” ujarnya dan aku masih tak peduli.
Aku mendelik ke arahnya. “Baru sekarang?” giliranku bertanya.
“Beberapa menit yang lalu.” Perempuan itu kemudian memasukkan potongan daging sapi ke mulutnya.
“Ya, begitulah,” sahutnya santai sambil bersiap menyantap daging sapi di sendok selanjutnya. Seraya makan, sesekali ia melirik ke selembar gambar yang tertera di dinding restoran. Bukannya ingin tahu, tapi lirikannya benar-benar aneh.
“Ada apa?” tanyaku sambil mengikuti arah pandangan perempuan itu.
Julia menarik napasnya dalam-dalam, lalu bergumam. “Aku tidak tahu kapan terakhir kali melihat matahari tenggelam,” katanya.
Aku mengangkat salah satu alisku. “Ya?”
Kemudian ia kembali mengembalikan pandangannya ke arahku dan tentu saja, mata kami saling bertemu. “Apakah matahari terbit?” tanyanya aneh.
Aku kembali mengernyitkan dahi. “Apa maksudnya?”
“Ya, matahari mungkin tidak pernah terbit. Tetapi matahari bisa terbenam. Dan itulah yang indah dari matahari; ketika ia terbenam.”
Nah, sekarang aku mulai paham ke mana ia membawaku pergi. “Apa yang kamu lakukan setelah bangun tidur?” tanyaku.
“Aku bergegas pergi ke kantor.”
“Sepagi itu?” tanyaku lagi.
Perempuan itu mengangguk sambil menyantap potongan daging yang kesekian kalinya.
“Kamu tidak melihat matahari terbit?” tanyaku semakin penasaran.
“Aku butuh makan, dan untuk makan, aku butuh uang. Untuk mendapatkan uang, maka aku harus bekerja,” katanya lagi sambil menyuapi mulutnya sendiri sebelum kata-kata aneh kembali terlontar dari mulutnya. “Di duniaku, matahari tidak pernah terbit. Dan kalaupun terbit, itu tak ada artinya.”
Mendengar itu, aku hanya bergeming. Terpikir mengapa juga orang harus bekerja sepagi itu. Dan untuk memastikannya, aku bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama.
“Tidakkah, ada artinya matahari terbit?” tanyaku memastikan.
“Tidak,” serunya tegas. “Kalaupun ada artinya, matahari terbit hanyalah tanda jika aku sudah telat pergi ke kantor.”
“Dari kantormu, apakah matahari terlihat terbit?”
“Setelah pukul dua belas siang, matahari baru muncul di atas kepalaku. Ia tidak terbit seperti yang kamu maksud. Sesungguhnya, ia hanya muncul secara tiba-tiba pada pukul dua belas siang.”
Aku menyimak, lalu kemudian aku bertanya lagi. “Apa yang kamu lakukan sebelum pukul dua belas?”
“Aku duduk di depan layar monitor,” jawabnya santai dan lebih dari seperempat daging sapinya sudah habis. Cepat sekali.
“Tidak membuka jendela?”
“Menghitung lebih penting daripada membuka jendela,” katanya sambil setengah tertawa dan aku pun ikut tertawa. “Aku tak punya waktu untuk membuka jendela-jendela yang sulit kuraih,” jelasnya.
Sepuluh detik kemudian, aku bertanya lagi. “Apakah atasanmu mengizinkanmu untuk minum-minum?”
“Aku minum kopi,” cetusnya. “Secangkir kopi sudah cukup untuk membuka kedua mataku. Oh..,” ia memekik, “dan agar aku bisa lebih fokus, tentu saja.”
“Bagaimana dengan air putih? Itu lebih segar kukira.”
“Kalau aku minum dengar air putih, mungkin saja aku akan dimarahi oleh atasanku karena aku akan sering pergi ke toilet. Jadi hematku, aku tidak akan kehilangan waktuku beberapa detik untuk keluar-masuk toilet. Di tempatku, waktu dikatai sebagai uang.”
Aku membungkukkan kepalaku sambil menarik napas. “Dunia memang bisa sangat terlihat kejam, ya…” tukasku.
“Di zaman sekarang, hidup adalah persaingan.” Sambil kembali melahap daging sapinya.
Memang sejak kapan hidup tidak dimaknai sebagai persaingan oleh sebagian banyak manusia?
Terlihat dari wajahnya, ia nampak sekali lesu. Ia butuh istirahat, tetapi beban pekerjaan mungkin memaksanya untuk tetap dalam keadaan seperti ini. Katanya, ia hanya punya waktu libur di hari minggu saja. Kalau tak ada pekerjaan, ia menghabiskan waktunya untuk beristirahat di rumah. Tetapi itu juga jarang karena pekerjaan dari kantor tak pernah usai. Ingin sekali ia keluar dari rutinitas seperti ini, katanya. Ingin juga ia keluar dari perusahaan s****n ini. Tapi sayangnya, tak ada tempat kerja lain yang lebih menjanjikan daripada tempatnya bekerja sekarang.
“Mungkin dalam beberapa bulan ke depan, aku akan keluar dari rutinitas ini,” gerutunya muncul. “Mendirikan usaha baru, dan aku ingin memulai kehidupan yang sama sekali berbeda dari sekarang ini.”
Aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Yang aku tahu, mulutku penuh dengan panekuk, itu saja.
Di dalam restoran itu, ada satu televisi yang menayangkan satu berita, bahwa para peneliti luar angkasa kini mengonfirmasi jika di sudut ruang angkasa yang lain, tidak hanya planet Saturnus saja lah yang bercincin. Di rasi Centaurus, terdapat juga satu planet yang diberi nama (kode) J14070b, yang memiliki cincin lebih besar daripada Saturnus. Kira-kira besarnya 200 kali lipat daripada cincin Saturnus. Lebih spektakuler.
Melihat tayangan itu, perempuan itu berujar. “Sewaktu kecil, aku pernah menyukai segala hal tentang luar angkasa. Tetapi itu kenangan berpuluh-puluh tahun yang lalu sebelum berhadapan dengan dunia yang tak memberiku kesempatan untuk melihat bintang-bintang yang cemerlang. Kau tahu, aku terlalu letih untuk itu. Dan yang paling menyebalkan dari itu semua, aku tidak pernah lagi pergi untuk hal-hal yang kusuka. Aku telah melupakannya,” jelas Julia.
“Apakah mungkin juga jika di sudut ruang angkasa yang lain, manusia seperti kita dapat ditemukan?” tanyanya. “Kalaupun ada, apakah manusia-manusia itu bekerja seperti kita?” tanyanya sambil menahan setengah tawa. “Apakah mereka juga membuat sistem alat tukar seperti uang layaknya di bumi? Bagaimana cara mereka memertahankan hidup?” tanyanya spontan begitu saja, bahkan lebih cepat daripada kunyahan daging di mulutnya.
Sambil menarik napas, aku bergumam. “Sejauh yang aku tahu, kita sendirian di alam semesta ini. Masih tidak ada kabar mengenai makhluk seperti kita di belahan semesta yang lain,” jawabku.
Julia mengangguk. “Betapa sia-sianya diciptakan ruang kosong di alam semesta,” serunya. “Menurutmu, apakah manusia yang lain itu diturunkan di belahan semesta yang lain juga?” kali ini perempuan itu meletakkan pisau dan garpunya lalu menopang dagu dan pandangannya mengarah padaku dengan serius.
“Aku tidak tahu,” jawabku pesimis. “Jika manusia, mungkin hanya kita lah yang hidup di alam semesta ini. Tetapi jika soal makhluk hidup seperti mikroorganisme, aku yakin mereka telah tersebar di seluruh alam semesta,” jelasku. “Dengar yah,” kataku sambil menghembuskan napas panjang, “jangan tanyakan kepadaku tentang apakah kita sendirian di alam semesta ini atau tidak, atau apakah kita memiliki teman atau tidak. Atau kita beranggapan betapa sia-sianya diciptakan ‘ruang kosong’ di alam semesta selain di luar dunia kita. Sesungguhnya aku tidak ingin memperpanjang masalah menjadi sedemikian rumit sehingga apa yang aku dapati, adalah menjadi gila karena aku harus memikirkan keberadaan sesosok alien di planet mars yang konspiratif. Akan lebih berguna, jika aku mempelajari tentang perkembangan awal komunitas vetebrata primitif sampai kepada pemeriksaan genom pada kromosom seekor primata langka di laboratorium seorang calon doktor dalam penyusunan disertasinya. Mengerti?” tegasku hampir serius.
Tetapi, keseriusan itu tak bertahan lama sebelum kami berdua kembali tertawa lepas, selepas ketika burung-burung keluar dari sangkarnya.
Terjadi keheningan sesaat ketika orang-orang yang duduk di sekitarku akhirnya berdiri, lalu pergi dari restoran kecil ini. Sedang perempuan di depanku, ia kembali meraih pisau dan garpunya dan melahap sisa daging yang tersisa.
Sambil mengunyah, perempuan itu menarik napasnya dalam-dalam, kemudian bergumam lagi, “Dunia sudah semakin tenggelam, dan kita hanya bermain beberapa detik saja di dalamnya.” Ia lalu mengambil ginger ale-nya lagi, meneguk sedikit demi sedikit anggur itu.
“Bermain, ya…” ulangku.
“Hidup,” gumamnya, “berarti dipermainkan oleh sesuatu atau kita yang memainkan sesuatu. Dipermainkan oleh waktu, oleh pekerjaan, oleh hasrat, ketidak-adilan, tanggungjawab..”
“Kita terlahir sebagai individu yang terseret begitu saja ke sini. Hidup kita seperti serangkaian lotre yang keluar begitu saja. Bahkan kita tidak memilih untuk hidup ke dunia ini,” jelasku.
“Sepertinya aku tidak asing dengan pikiran seperti itu.”
“Setelah bermiliar-miliar tahun kemudian, kita dihadirkan sebagai manusia. Tetapi, manusia tidak hanya sekedar hadir dan numpang saja. Kita tidak hanya berbagi ruang dengan banyak orang di sini. Banyak masalah yang perlu kita selesaikan. Itu menyebalkan. Dan bagi beberapa orang, ke-berasal-an kita tentu saja menjadi tanda tanya yang besar. Selain kita menjalani hidup, kita juga perlu waktu untuk mengetahui dari mana kita berasal. Memikirkan itu, aku seperti merasa konyol,” jelasku lagi.
“Itu mungkin akan sedikit melegakan soal rasa ingin tahu kita tentang asal usul manusia dan dunia yang sedang kita pijaki. Manusia memang makhluk yang ingin tahu. Ya… setidaknya ketika kita pergi dari dunia ini, kita tidak diliputi keresahan dan penyesalan kenapa kita pernah ada dan dari mana kita berasal. Dengan begitu, seharusnya kita tahu ke mana tujun kita pergi. Dari satu titik kita lahir, kepada satu titik kita berakhir.”
Panekuk di piringku sudah habis. Tersisalah segelas coklat panas yang belum banyak kuseruput.
“Dari satu titik kita lahir, kepada satu titik kita berakhir…” ulangku.
Beberapa detik kemudian, terpikir satu hal, “Kita membutuhkan serangkaian perkembangan, atau evolusi kesadaran untuk membantu pikiran manusia sampai pada tujuan akhirnya. Pemikiran yang telah berkembang tentu saja adalah modal baik bagi generasi setelahnya. Jadi mungkin, kita bisa saja tahu di mana titik kita berakhir, tetapi tidak dengan tujuan sepenuhnya dari keberadaan kita sendiri di alam semesta. Mereka yang hidup setelah kita harus melanjutkan tongkat estafet!”
Perempuan itu kembali mengunyah dagingnya dan sekali-kali meneguk ginger ale-nya.
“Tujuan dari penciptaan sesungguhnya terlihat setelah beribu-ribu tahun ke depan, atau kita menyebutnya setelah periode akhir.”
“Kita juga termasuk makhluk periode akhir itu, iya, ‘kan?” tanyanya.
“Hmmm..” aku menengadahkan pandangan ke langit-langit. “Menuju akhir, mungkin. Sejujurnya aku tidak terlalu yakin jika kita berada di periode akhir itu,” jelasku lagi.
Coklat panasku tinggal terisi setengahnya. Setengah yang lain sudah berada di tempat yang berbeda. Sebuah tempat yang gelap, asing, dan tak ada kehidupan selain mikroorganisme di dalamnya.
“Suka atau tidak, kita juga akan punah sebagai makluk intelegensi di periode yang akan datang. Tak lama, mungkin seratus tahun dari sekarang. Kesadaran manusia akan punah karena kita semua menyadari satu hal, kita sedang berusaha menciptakan makhluk yang lebih canggih daripada kita sendiri. Kecerdasan buatan, begitu orang masa depan menyebutnya.”
Aku masih menyimak. “Singkatnya, kita akan ditendang oleh penemuan kita sendiri.” Aku menggigit bibir bawahku. “Ditendang oleh robot-robot yang lebih pintar daripada kita sebagai penciptanya… terdengar seperti sebuah ironi.”
“Ya.” Perempuan itu mengangguk. “Seperti, ‘Tuhan membuat batu yang sangat besar sampai-sampai ia tidak bisa mengangkatnya’.”
“Aku tahu soal kata itu,” kataku.
“Begitulah,” timpalnya sambil meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring. Selang beberapa detik, ia kemudian meneguk anggurnya sampai habis.
“Jika aku diberikan pilihan untuk menjadi apa, maka aku memilih untuk menjadi sebongkah batu saja. Aku tidak mati, juga tidak hidup. Tapi aku dapat menyaksikan serangkaian peristiwa yang panjang dan akbar,” jelasku lagi sambil menyesap sedikit-sedikit coklat panasnya.
“Seluruh alam semesta tak ubahnya seperti satu kesatuan tubuh yang mati, tanpa jiwa, dan tanpa kesadaran dirinya sendiri. Bahkan untuk sebongkah batu pun tak ada artinya melihat peristiwa yang panjang dan akbar itu,” jelas Julia.
“Memangnya apa peduliku?” sambarku tiba-tiba. “Tak ada salahnya juga jika aku menjadi tanah atau bebatuan.”
“Ya.. tak ada yang menyalahkan juga sebenarnya. Manusia bebas memandang dirinya sendiri.”
“Andai jika aku terlahir menjadi tanah atau batu yang dapat berbicara…” aku menyeruput coklatnya.
Julia mengangkat alisnya, memastikan bahwa kalimat itu belum selesai diucapkan.
“Andai jika aku terlahir sebagai tanah atau bebatuan yang dapat berbicara, mungkin kamu, orang-orang, atau para ilmuan tidak perlu bersusah payah untuk menyingkap seluruh rahasia yang disembunyikan oleh alam semesta ini. Mereka cukup duduk dengan nyaman di beranda rumah sambil meneguk secangkir kopi atau teh hangat di pagi hari sambil mendengarkan cerita yang dituturkan tanah dan bebatuan. Karena pada kenyataan yang tidak kita sadari, tanah dan bebatuan telah cukup lama berlayar disepanjang penciptaan –sedikitnya mereka sudah ada sejak lima milyar tahun yang lalu. Dengan begitu, kita selangkah lebih maju melebihi batas kritis pengetahuan kita tentang apa yang terjadi setelah ledakan besar dan bagaimana kita ada dan bagaimana benda-benda luar angkasa itu muncul di atas sana, atau bagaimana bumi ini tercipta tanpa harus menghambur-hamburkan uang dalam jumlah yang sangat fantastis di kantong kas negara, iya, ‘kan?” tanyaku memastikan.
Perempuan itu berpikir kalau kalimatku lucu. “Sayangnya, batu tidak diberi mulut untuk bicara. Dan yah…” sambil mengenduskan napas, “akhirnya manusia-manusia juga yang harus memecahkan teka-tekinya.”
Perempuan itu selesai dengan makanan dan ginger ale-nya. Ia mengambil tisu dan membersihkan sisa-sisa makanan di mulutnya. Tak lama setelah itu, ia melirik jam tangannya. “Aku harus pulang,” jelasnya lalu kemudian berdiri dan berpamitan. “Terima kasih, senang berbicang denganmu. Semoga di lain waktu, kita berjumpa lagi.”
Lima detik berlalu, ia sudah meninggalkan mejanya. Delapan detik kemudian, ia sudah berada di bibir pintu. Dua detik setelah itu, Julia pergi memunggungiku. Kini hanya ada beberapa orang lagi di sana, termasuk aku yang tak buru-buru keluar dari sana.
Selesai dengan coklat panas dan lamunanku yang panjang sampai pukul 11.50, aku baru saja meninggalkan restoran kecil itu 10 menit sebelum ditutup. Pukul 00.00 tengah malam, aku keluar. Dan tepat pada puku 00.15, aku sudah berada di kamar hotel. Pukul 01.22, aku baru bisa memejamkan mata.