Bagian 4

1722 Words
Nala Memang benar jika masa kecilku didominasi oleh Ayah. Bahkan sekarang pun, d******i itu tidak berubah. Tentu ia menyayagiku. Apa pun yang aku inginkan, Ayah selalu menurutinya. Ketika malam tiba, tak jarang Ayah juga kadang mengajakku keluar. Kami makan malam berdua tanpa Ibu. “Jangan bilang-bilang ke Ibu,” bisiknya padaku. Ayah memiliki masalah dengan giginya. Sebenarnya ia harus makan makanan yang lembut. Tapi ketika bersamaku, Ayah selalu mengabaikan hal itu. Ayah kadang memesan makanan-makanan yang sebenarnya, di luar kapasitas giginya untuk dikunyah. Kerap kali, Ayah akhirnya memberikan makanannya kepadaku. Mungkin itu adalah akal bulusnya supaya aku makan banyak. Itu juga akal-akalannya agar aku tetap makan hingga kenyang. Bagaimanapun selama tahun-tahun itu, aku tahu bahwa tak ada cinta lelaki yang lebih besar selain cinta seorang Ayah kepada putrinya. Dan saat itu, aku benar-benar merasakannya. Di lain hari, aku pernah berpikir tentang optimisme bahwa orang-orang akan tetap tinggal bersamaku sampai kapan pun. Sebelum akhirnya optimisme itu runtuh ketika Ayah meninggalkanku tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Azroil pun tak datang kepadaku meminta izin untuk menjemput Ayah. Tuhan juga enggan berbisik ke telingaku bahwa dia akan segera memanggil namanya. Semuanya mendadak dan tiba-tiba. Betapa semena-menanya Tuhan mengambil orang-orang yang aku cintai. Pikirku ketus mengutuki cara Tuhan mengambil diam-diam orang di sekelilingku. Atau siapa pun itu, tak ada yang memberitahuku soal ini. Di saat itulah aku benar-benar membenci Ayah. Ia berbohong kepadaku bahwa ia akan selalu ada untukku. Ayahku berbohong! Dan itu adalah kebohongannya yang tak akan pernah aku lupakan. Dan mulai saat itu juga, aku tidak akan pernah percaya jika ada orang yang mengatakan, “aku akan selalu ada untukmu, selamanya.” Tidak, tidak, itu adalah lelucon yang selalu ingin aku tertawakan. Bagiku, kata-kata itu hanyalah omong kosong yang dibuat-buat. Bukankah semua orang tahu kalau manusia tidak akan bisa hidup selamanya? Kata “Aku mencintaimu” pun hanya sementara waktu saja. Sampai kapan? Pada akhirnya kita akan melihat batas kata-kata tersebut. Di depan mataku, kata-kata itu telah selesai. Tak ada kata “Aku mencintaimu” lagi setelahnya. Yah, seperti… tak ada yang abadi di dunia ini, semua orang juga tahu. Manusia berubah, dunia pun berubah. Manusia datang, manusia juga pergi. Ah betapa cacatnya dunia ini. Semenjak kejadian itu, aku dihinggapi berbagai macam pikiran. Salah satunya, aku memutuskan untuk tidak akan pernah mengatakan “aku mencintaimu”, karena itu adalah satu kebohongan yang lain, karena manusia akan berubah, karena manusia akan lupa, karena manusia akan pergi. Jadi betapa tak bermaknanya kata-kata itu. Dan aku tidak akan pernah mengatakan hal-hal yang demikian remeh itu seumur hidupku, tak akan pernah! Sumpahku. *** Hari setelah kepergian Ayah adalah awal dari segala kejatuhanku. Aku ingat hari itu aku jalan gontai di rumah sakit setelah tahu Ayah telah pergi. Tetapi aku tidak menangis, dan aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Semua perasaan campur aduk. Aku sudah tak lagi paham dengan perasaanku sendiri. Kemudian tiba-tiba kepalaku pusing, penglihatanku kabur, dan seluruh badanku mendadak lemas. Lalu seorang perawat yang kebetulan berada di sana bertanya, “Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya. “Ya, aku baik-baik saja,” kataku. Namun tak lama, aku jatuh dan kehilangan kesadaran.  Waktu seperti diputar cepat. Dan saking cepatnya, seolah-olah waktu melayang dan terhenti. Dunia nampak seperti tidak lebih dari sekedar ruang gelap yang tak pernah punya apa-apa. Kusaksikan diriku sendiri mengambang di sana, tetapi tak lama di sisi lain, satu cahaya perlahan muncul semakin besar membesar lalu menyorotiku, seperti lampu sorot di jalanan yang baru saja dihidupkan; aku kembali sadar di detik itu. Di detik berikutnya, aku sudah berada di ruang rawat dengan kepala diperban dan selang infus sudah melekat di lengan, serta pakaian yang sudah tak lagi sama. Detik kelima atau keenam setelah aku membuka mata, penampakan pertama yang kulihat adalah sosok Ibu. Aku berani bertaruh jika sepanjang hari itu, Ibu berada di sana menemaniku. Tetapi aku masih belum bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya bisa mengerjap beberapa kali, dan yang bisa kulakukan hanyalah menggenggam tangan Ibu yang dingin, penuh keringat basah. Tangannya seolah berkata, “Aku mencemaskanmu.” Lalu aku meraih tangan Ibu dan kukatakan lewat tanganku, “Tidak perlu cemas, Ibu. Lihat, sekarang aku sudah sadar, ‘kan?” kataku sambil tersenyum. Seharian itu aku tinggal di rumah sakit karena katanya kondisiku tidak baik-baik saja. Seorang perawat mengatakan jika aku didiagnosa –berdasarkan CT scan, mengalami kebocoran cairan serebrospinal pada otak. Dan beberapa waktu kemudian, aku melakukan operasi. Aku tidak tahu seperti apa persisnya kata dokter kepada Ibu. Namun kalimat yang kutangkap saat itu adalah, “anestesi epidural”. Ya, terserah dokter mau melakukan apa, aku hanya ingin berbaring dan memejamkan mata, berharap aku mati sesegera mungkin. Tetapi kenyataan memang selalu membuatku muak, operasi itu selesai dan aku dinyakan baik-baik saja hingga waktu tertentu. Mau tak mau akhirnya aku menghabiskan waktu berhari-hari untuk beristirahat total sambil menjalani pengobatan lanjutan hinga dinyatakan boleh pulang oleh dokter dua minggu kemudian. Ketika aku pulang, aku sempat bertanya kepada Ibu, “Di mana Ayah? Tidakkah seharusnya ia bersama kita?” Kulihat Ibu hanya berjalan tegap tak pernah sekalipun menundukkan kepalanya dan tak ada satu huruf pun yang tercecer di ujung lidahnya. Sesampainya di rumah, aku baru sadar, pertama; Ayah memang sudah tidak ada. Kedua, aku telah menyakiti perasaan Ibu karena sudah bertanya soal Ayah (sebenarnya tidak Ibu saja yang merasa kehilangan, aku juga merasa demikian). Namun ada satu hal yang memperparah dan semakin menyakiti kondisiku, dari semua hari-hariku di rumah sakit, aku tidak bisa melihat Ayah untuk terakhir kalinya. Di pemakamannya pun, aku melewatkannya. Kenyataan pahit yang lain adalah, kini aku hidup berdua dengan Ibu. Kenyataan pahit ketiga; selama beberapa bulan setelah itu, kami jatuh miskin. Biaya yang dikeluarkan Ibu untuk membayar semua pengobatan dan operasiku rupanya cukup menguras kantong tabungan Ibu. Kini kami tak punya apa-apa selain rumah peninggalan Ayah. Oleh karena Ibu tidak bisa bekerja segiat Ayah, tak lama rumah itu pun dijual dan kami tinggal di sebuah rumah kecil di daerah perkampungan bernama Verge di prefektur Horvarth. Rumah kecil itu memang tak sebagus rumah sebelumnya, tidak dipagari dengan pagar-pagar besi, atau tembok-tembok tinggi, atau pagar-pagar kayu, melainkan hanya sebatas semak-semak gulma yang kurang terurus seperti rambut-rambut afro yang tumbuh di atas kepala seseorang. Tapi kabar baiknya, di sana kami bisa meneruskan hidup dengan membuka toko kecil-kecilan. Untungnya, biaya hidup di sana pun tak semahal ketika aku berada di Quinn. Di Verge, aku bisa membeli kue yang sama enaknya dengan harga yang lebih murah, 15 riil, setengah dari harga yang kukeluarkan bila di Quinn. Aku merapikan barang-barang pindahan rumah di beberapa jam pertama, dan di jam-jam berikutnya, aku membenahi kamarku sendiri. Baju-baju sudah kumasukkan ke dalam lemari dan perlatan pribadi sudah kusimpan di tempatnya. Kasur di sana memang nampak agak kotor, jadi aku segera mencuci berikut membersihkan lantai yang berdebu di bawah kakiku. Memasang gorden baru, menggantungkan tas-tas sekolah, merapikan beberapa komik di meja belajar, memasang vas bunga di dekat jendela, hingga memilah-milah kembali baju-baju di lemari pribadiku. Hingga empat jam berlalu, aku baru selesai dengan urusan di kamarku. Agaknya memang sedikit melegakan ketika aku membuka jendela kamar di sebelah barat dan kudapati cahaya jatuh di kamarku. Dan tentu saja, kamarku menjadi terang benderang. Nah, beberapa lembar lukisan yang aku bawa sudah kusimpan di dekat laci kamar di sebelah timur. Lukisan-lukisan itu kubuat –kalau tidak salah empat bulan yang lalu. Itu terhitung sejak dongeng terakhir Ayah diceritakan. Aku manarik lukisan-lukisan itu dari tempatnya dan kusandarkan ke dinding-dinding. Tidak hanya lukisanku, lukisan Ayah juga tentu saja ada. Oleh sebab, dulu kami melukis bersama, membingkai bersama, dan menaruhnya di tempat yang sama, dan kini kutumpuk lukisan kami pada tumpukan yang sama pula. Di kamar “hutan imajinasi”, lukisan kami berdua bersemayam. Setelah semuanya tersandar, ada satu lukisan yang aku sukai dari semua lukisan yang ada. Lukisan itu bergambar pemandangan di atas jembatan, di bawahnya air mengalir pelan dan tenang. Daun-daun padma tengah mengambang. Suasananya sunyi. Bahkan, tiba-tiba aku sempat mendengar suara air yang mengalir lembut di telingaku. Awalnya kukira di dekat rumahku terdapat sebuah sungai kecil yang mana suaranya dapat terdengar sampai ke kamarku. Tapi anehnya, suara itu semakin mendekat. Dan aku merasa terganggu dengannya. Mana mungkin sungai bergerak, ‘kan? Lantas aku memeriksa keluar jendela. Tak ada sungai di sana. Tapi aku yakin suara itu bukan suara buatan. Suaranya jernih, sejernih ketika aku berada di tempat-tempat sunyi dengan menyisakan sungai dengan air mengalirnya. Kalau bukan sungai, paling tidak ada sebuah kolam di sana. Atau suara itu berasal dari suara air mancur yang suaranya diam-diam masuk ke kamarku. Tetapi aneh rasanya ketika aku tidak menemukan sumber suaranya. Tak ada sungai, tak ada kolam, tak ada air mancur. Kemudian aku mengibas-ngibas telinga kanan dan kiriku. Lalu menutupnya dengan kedua tangan. Ajaibnya, suara itu masih bisa masuk menembusi kulit-kulit tangan tanpa bisa tertahan. Seolah, gelombang-gelombang itu merambat masuk melalui rongga-rongga kulit, dan tak susah masuk ke telinga. Makin lama, suara itu justru makin jelas. Ada apa? Aku kemudian mengucek mataku memastikan jika semuanya baik-baik saja. Sekali lagi aku memeriksa sekitaran rumahku. Tapi tak kutemukan sebuah sungai, kolam, ataupun air mancur. Namun ketika aku berbalik menghadap lukisanku lagi, air di dalam lukisan itu mengalir jatuh. Suara gemerciknya pun jelas terdengar dan sekarang sudah jatuh tepat di lantai kamar. Seperti lubang bocor di lautan, airnya tumpah begitu saja di kamarku. Sekali lagi aku mengerjapkan mataku. Ini bukan ilusi, ‘kan? Semakin lama air itu semakin menggenang. Bergerak memenuhi satu ubin ke ubin lainnya. Aku merasa seolah berada di ruang perbatasan antara yang nyata dan tidak nyata, antara sadar dan tidak sadar. Aku lantas mencubit lenganku sekencang-kencangnya, “Aww..,” aku mengerang kesakitan. Ternyata memang nyata. Lalu aku kembali mengarahkan pandanganku pada lukisan itu. “Bagaimana mungkin kamu bergerak?” tanyaku pada lukisan di dinding. Tapi tentu saja, lukisan, ‘kan, tidak dapat berbicara. Jadi tak ada jawaban darinya. Air di dalam lukisan itu terus saja mengalir tanpa henti, semakin meninggi, dan menggenang setinggi mata kaki. Selang beberapa detik, ketika hendak berusaha menghentikan air yang tumpah itu, mendadak napasku tersengal, kepalaku pusing berat, penglihatan mulai kabur, dan kepalaku benar-benar pusing tak tertahankan. Tak tahu juga mengapa, darah tiba-tiba keluar dari hidungku. Tubuhku lemas, seakan semua tenagaku habis terkuras. Daya tahan tubuh semakin rapuh, tubuhku roboh, dan aku tergeletak; ambruk. Saat itulah untuk kali pertama dalam hidupku, aku tak sadarkan diri. Di atas genangan air yang tiba-tiba muncul dari salah satu lukisanku, aku tergeletak tak berdaya tanpa sepengetahuan orang-orang.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD