Bagian 3

749 Words
Hann Ketika hendak melanjutkan ke SMP, orangtuaku bertengkar hebat. Itu terjadi hampir setiap hari. Dan aku sudah muak mendengar segala macam ucap serapah yang terlontar dari mulut mereka berdua. Keduanya egois. Tak mau mengalah. Sampai-sampai, aku seperti dianggapnya tak pernah ada. Sekalipun aku berada di antara mereka berdua, aku tidak lebih dari pengganggu saja. Jika tahun baru orang biasa merayakannya dengan megah bersama keluarga, pesta di kafe-kafe, konser di tengah kota, menyulut kembang api bersama kekasih, atau memanggang barbeque bersama kerabat, sanak-saudara atau bersama teman-teman di pantai, tetapi malam itu, aku tak pernah memiliki kesempatan itu sama sekali. Ayah sibuk, begitupun Ibu. Di antara mereka, tak ada yang peduli dengan anaknya sendiri. Dan di saat itulah aku merasa seperti anak yang dibuang, diacuhkan. Kejadian itu bukan sekali dua kali. Dulu pun seperti itu. Aku kemudian memutuskan untuk keluar rumah dan berjalan sendirian ke tempat yang tak jelas arahnya. Masih di malam tahun baru, aku dapat melihat kabut di bukit-bukit dekat tempatku turun dari puncak. Di balik itu, aku tahu keadaan di luar sana akan seperti ini; lalu lintas kendaraan akan semakin semrawut dan padat. Dua orang tua menyepah sepiring makanan dengan membuka toko di tepian jalan di tahun baru. Bebungaan berwarna ungu di tepi jalan bermekaran, lantas sayup disapu angin. Pintu-pintu rumah dibukakan seperti sedang merayakan acara yang meriah dengan orang-orang tercinta. Dan hembusan angin melanjutkan pengembaraannya, berhembus nyaris ke setiap penjuru rumah. Situasi jalanan semakin tak terkendali lagi. Klakson segala jenis mobil dinyalakan. Motor-motor ompreng yang belum menuju kandangnya bersahutan tanpa permisi. Pohon sikamor kecil di halaman rumah bergoyang seperti nyiur di tepi pantai. Pohon kersen begitu rindang di tahun baru dengan segala buahnya yang masak. Kemudian, orang-orang yang tak merayakannya dengan kembang api di alun-alun, berduyun-duyun mengantri panjang di restoran. Mulai dari yang menengah di tepi jalan hingga restoran mewah di sebrangnya. Lalu seorang perempuan yang menyandarkan kepalanya di bahu sang lelaki, atau sebaliknya, romantis di bawah langit yang pecah karena kembang api. Dan aku, aku masih termenung sendirian tanpa ditemani siapa pun selain angin yang mendesis beku melewati relung dadaku. Setelah beberapa waktu aku berjalan, pikiranku melayang kepada Alisa, perempuan yang dulu sempat aku sukai ketika aku masih kecil. Pada kembang api yang pecah, aku sempat melihat wajahnya terpancar bersinar. Tapi sayang, Alisa yang asli tidak di sini. Aku memutar balik langkahku dan kembali pulang sambil menyusuri jalanan yang masih riuh dengan orang-orang di jalan-jalan utama prefektur. Tak ada gunanya juga berharap kepada orang yang tak lagi bersamamu. Beberapa saat, aku sempat bergabung dengan orang-orang di jalanan sebelum tiba di rumah; bercanda dan berbincang dalam kerumunan. Awalnya menyenangkan. Tapi setelah itu, walau orang-orang masih berkerumul di bawah kembang api, di kantor-kantor pemerintahan, di warung-warung kopi, di kafe-kafe, di jalan-jalan, tetapi, aku tak menemukan keramaiannya. Aku seperti kosong, kosong hingga tak ada apa pun yang berani hadir. Bahkan untuk tungku perapian kecil di dalam diriku pun, tak juga menyala. Sepotong api kecil di atas sumbu lilin selalu saja tertiup angin. Jadi, tidak ada yang benar-benar menyala di dalam sini. Teman tak ada, saudara tak mengakui, orang yang disukai pergi, orang tua tak peduli. “Ya, seharusnya aku memang harus pergi dari kehidupan orang-orang,” pikirku. “Tidak ada yang salah dengan hidup sendirian.” *** Aku kembali ke rumah. Demikian apa yang aku dapati di sana? Ayah dan Ibu kembali bertengkar hebat. Entah itu karena masalah ekonomi, pandangan pendapat, perselingkuhan, atau apa pun itu, aku benar-benar tak mau tahu. Dan jangan sekali-kali bertengkar di depanku lagi, gumamku dalam hati. Tetapi apa yang kuharapkan memang tak bisa kudapatkan begitu saja. Aku menutup telingaku dan melesak masuk ke dalam kamar. Keadaan seperti itu berlangsung sampai aku mengkhatamkan bangku sekolah menengahku hingga hari-hari itu datang; hakim di meja hijau megetuk palunya, orangtuaku resmi bercerai. Ya, itu adalah jenis pemandangan yang tak semestinanya aku saksikan. Tentu saat itu aku memang menghadiri acara persidangan mereka. Tetapi sedetik setelah ketua hakim memutuskan jika mereka –secara hukum akhirnya berpisah, aku lantas keluar dari ruangan, kembali ke rumah, membenahi baju-baju dan kumasukkan ke dalam ransel, lalu aku memecahkan celenganku yang selama tiga tahun ini tak pernah kubuka. Setelah mengemasnya, lewat jendela kamar yang tak terkunci, “Cukup.” Aku pergi. Dan malam itulah, malam dimana aku memutuskan untuk pergi dari rumah, pergi dari pertengkaran Ayah dan Ibu, dan pergi dari persidangan mereka; aku berhak mendapatkan kehidupanku yang damai, teguhku. Untuk kali pertama setelah lima belas tahun aku hidup, aku memutuskan pergi dari Kryze. Pergi dari orang-orang, pergi dari sekolah, dan pergi dari orangtuaku sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD