Nala
Acara makan malam adalah acara paling rutin yang tak bisa begitu saja kami lewatkan. Sebelum menjelang tidur, ada baiknya jika semua masalah hari ini diceritakan kepada mereka –maksudku kepada Ayah dan Ibu. Sebab buatku, tak ada pendengar cerita yang lebih baik selain mereka berdua. Ayah selalu mengatakan kepadaku, “Katakan apa pun yang membuatmu tak nyaman, sekecil apa pun itu,” suruhnya. Jadi ya, aku katakan semua yang bisa kukatakan kepada Ayah. Sekalipun itu mengenai kucing tetangga yang terlindas oleh trem di jalanan siang tadi. Itu benar-benar membuatku tak nyaman ketika aku kembali mengingat-ingat kejadian itu.
Ayah dan Ibu tak berkomentar apa pun karena sepertinya, mereka tak punya kata-kata yang pas untuk diucapkan. Jadi aku cukup mafhum dengan sikap mereka.
“Semoga Katty diberikan kucing yang baru yang sama lucunya dengan kucing sebelumnya,” kata Ayah tiba-tiba memecah kegemingan.
Entah mengapa, tapi aku merasa jawaban itu tidak terlalu tepat. Kata-katanya terlalu beku, terlalu dingin, tak ada empati, dan tak ada emosi pula. Ayah detik itu seperti robot, mendadak kehilangan hatinya. Bahkan dari apa yang ia katakan pun, aku kira itu hanyalah retorika biasa yang digunakan untuk menghindari situasi tanpa suara.
Aku lantas mengangguk dan mengulangi kata Ayah, “Ya, semoga Katty diberikan kucing yang baru yang sama lucunya dengan kucing sebelumnya,” kataku sambil menaruh sendok dan garpu menyilang sebagai tanda jika aku selesai dengan makan malamku.
Aku mengambil minum dari tempat yang tak jauh dari piringku, sambil berkata lagi, “Hari ini benar-benar buruk,” aku memulai. Seraya Ayah dan Ibu langsung memalingkan wajahnya padaku.
“Kata guruku, aku benar-benar bodoh.”
Ayah dan Ibu terkejut.
“Apa indikasinya ia mengatakan anakku bodoh?” kemudian Ayah menyambar.
“Ya, aku tak pernah lulus di pelajaran ekonomi,” jelasku.
Dua detik kemudian kami semua bergeming. Lalu Ayah kembali bersuara.
“Ayah kira orang-orang besar sekarang itu juga pernah gagal di satu atau dua mata pelajaran. Tapi kegagalan saat itu tak pernah berarti apa-apa. Tak usah cemas,” kata ayah.
“Setidaknya nilai matematikamu tidak buruk, ‘kan?” Tiba-tiba Ibu masuk.
Aku kemudian memalingkan pandanganku ke arah Ibu. “Akhir-akhir ini, nilai matematikaku juga turun,” jelasku.
“Bagaimana bisa?” tanya Ayah kembali.
“Yah,” sambil menarik napas, “aku mengurangi jam belajar matematikaku demi ekonomi. Tetapi hasilnya sama saja. Nilai ekonomiku jelek, dan matematikaku pun turun.”
“Kau mengorbankan sesuatu dan berharap mendapatkan sesuatu yang lain.”
“Begitulah kira-kira,” jelasku lagi.
Dengan seriusnya, Ayah berkata lagi. “Aku tidak mengerti mengapa kita terlalu fokus pada kekurangan kita? Setiap orang punya kelebihan dan kelemahan, tentu saja. Dan betapa anehnya guru-guru kita di sekolah tidak paham soal itu. Bagaimana kita menguasai setiap pelajaran dengan sama baiknya dengan pelajaran-pelajaran lain?”
Aku sependapat dengan Ayah. Ia ada benarnya… oh bukan, sangat benar malahan.
“Ini adalah hukum yang sangat sederhana,” kata Ayah lagi. “Kadang kita tidak bisa mendapatkan hasil terbaik dari dua hal sekaligus. Salah satunya mungkin harus kita korbankan.”
“Untuk mendapatkan sesuatu, kita perlu melepaskan yang lain. Karena kita melepaskan yang lain, kita berhak mendapatkan sesuatu. Keduanya selalu ada risiko, Sayang. Dan itu adalah hal yang sangat wajar ketika kita punya pilihan,” kata ibu.
“Aku yakin gurumu tak cukup pandai dalam matematika. Tapi aku tidak bisa menyalahkannya hanya karena dia tidak mengerti hukum-hukum aljabar.”
“Benar, guruku payah sekali dalam matematika. Dan yang kutahu, dia memang hanya pintar di bidang ekonomi saja. Kalaupun ada hal-hal lain yang dia kuasai, aku berani bertaruh kalau ekonomi adalah satu-satunya hal yang paling dia kuasai lebih daripada apa pun,” jelasku lagi. “Aku tidak akan menilai seekor ikan dari bagaimana cara ia memanjat pohon.”
Mendengar itu, kulihat senyum Ibu mengembang. Kudapati juga tatapannya yang sendu ketika ia menangkapku pada bola matanya yang jernih. Walau aku tak terlalu mengerti soal kebanggaan, tapi kukira Ibu tersenyum karena itu. Kebanggaan terhadapku, kebanggaan terhadap sikap dan jawabanku.
Tak lama, aku pun kembali membalas senyumnya. “Malam ini Ibu benar-benar anggun.” Lalu Ibu bangkit sambil membawa tumpukan piring milikku dan milik Ayah.
“Sudah waktunya tidur,” cetus Ibu.
Aku bangkit dari tempatku lalu pergi ke kamar. Saat itu, ketika langkahku khatam melewati tiga ubin marmer berukuran setengah kali setengah meter, aku berhenti. Aku menoleh kepada Ayah dan, “Tidak ada dongeng malam ini?” tanyaku penuh harap.
“Aku sedang menyiapkannya,” jawab Ayah.
“Baiklah, aku tunggu,” jawabku sambil berlalu di balik pintu kamar.
***
Sedari kecil, Ayah selalu bercerita kepadaku sebelum ia hendak mematikan lampu kamarku. Bahkan hingga sekarang, ketika aku berada di bangku kelas tiga SMP pun, kebiasaan Ayah bercerita masih terus berlanjut. Dan kebiasaanku mendengar cerita Ayah tak sedikit pun berkurang.
Akhirnya malam itu aku menunggu Ayah sambil menggoreskan asal kuas-kuasku di lembar kosong kanvas di kamar selama sepuluh menit, kurang lebih. Oh, sebenarnya itu bukan kamar. Kalau Ibu bilang, “Kamarmu seperti hutan lukisan,” katanya. Tapi kata Ayah, “Kamarku adalah hutan imajinasi.”
“Tidak, Ayah, itu imajinasi kita berdua,” jelasku. “Kamarku adalah kamar milik Ayah juga. Karena di sini lah, lukisan kita berdua berada.”
“Terima kasih,” demikian kata ayah dulu.
Nah, tak lama kemudian Ayah mengetuk pintuku dan aku digiringnya pergi ke atas ranjang. Sedang Ayah memasang posisi duduknya yang paling nyaman, aku memasang wajah antusias mendengar dongeng seperti apa yang hendak Ayah sampaikan malam ini. Aku harap itu bukan cerita tentang Melos dan Selinuntiusˡ lagi.
Sebelum memulai ceritanya, Ayah berdeham membetulkan suaranya terlebih dahulu. Dua detik kemudian, Ayah bercerita kepadaku tentang satu dunia yang benar-benar damai. Di mana orang-orang hidup berdampingan tanpa ada asumsi dan perasaan superior-inferior di dalamnya. Orang-orang akan tetap memiliki barang mewah, sekalipun beberapa orang tidak punya, tetapi mereka tak pernah dengki. Atau mereka tak besar kepala ketika punya, dan tak marah ketika tak punya. Orang-orang masih bisa berkomunikasi seperti biasa, normal, tanpa ada kesalahan penyampaian maksud. Jikalaupun ada, orang-orang diizinkan untuk kembali meralat apa yang mereka ucapkan tanpa perlu khawatir dicela atau dikutuk-kutuki orang lain. Sehingga, peluang terjadinya kegagalan diplomasi bisa lebih minim, pertikaian sepasang kekasih pun tak perlu sampai putus, bahkan cerai, jelas Ayah mengenai dunia utopisnya. Ayah juga menerangkan lagi soal dunia itu; orang-orang tidak perlu lagi mendiskriminasi orang lain hanya karena mereka mempunyai rupa yang jelek, biasa saja, tampan, atau cantik. Tanpa membeda-bedakan warna kulit, tanpa memandang rendah orang lain karena fisiknya, tanpa menilai dan ditilai, semua yang mereka lihat hanyalah cinta yang murni yang berasal dari nurani, jelasnya. Di sana pula, kedamaian sejati bisa didapat. Tak peduli apa yang orang-orang lakukan dan katakan, kelak di puncak mereka ada satu kedamaian yang tak pernah dijamah banyak orang.
Namun buatku, itu terdengar agak janggal. Bagaimana kita menguji kedamaian yang sejati tanpa adanya kerisauan dan kekacauan? Bagaimana mungkin kedamaian sejati bisa ditemukan di dunia yang normal dan baik-baik saja? Tetapi saat itu, aku tidak menyanggahnya karena ini hanyalah dongeng semata. Seperti dalam perang, dalam dongeng pun semuanya sah-sah saja.
“Yah, walau banyak sekali celahnya, tapi kau tahu, dalam dongeng, semuanya sah-sah saja,” kata Ayah.
“Seperti dalam perang,” tambahku, dan kami berdua tertawa lepas. Ayah tak mengira aku akan mengatakan itu, tentu saja.
Namun beberapa detik kemudian, kami kembali bergeming lagi. “Si Vis Pacem, Para Bellum. Kata itu tak akan pernah dikenali oleh orang-orang di dunia itu.”
“Walau terlihat damai dan menyenangkan, tetapi sebenarnya apa yang terjadi tidak benar-benar baik-baik saja.”
“Aku sepakat,” pekik Ayah.
“Seolah-olah dunia yang ideal, tapi sebenarnya cacat,” tambahku lagi.
“Kali ini, kau benar lagi,” timpal Ayah sambil menyentuh hidungku dengan telunjuknya.
“Dengar, aku tahu sekarang kau sudah mulai beranjak dewasa. Kau bisa memikirkan banyak hal yang tak sempat dipikirkan oleh kebanyakan anak diusiamu.” Aku menyimak. “Apakah kau tahu kalau aku selalu bangga padamu?” kata Ayah.
Seperti kataku tadi, aku tidak terlalu mengerti soal kebanggaan itu, persis seperti yang diungkapkan Ibu tadi.
Semalaman, aku berada di kamar dengan Ayah. Kami membicarakan banyak hal. Betapa dunia ini rumit. Betapa dunia ini perlu dipikirkan. Betapa keputusan-keputusan manusia selalu memiliki risiko di belakangnya. Dan tak ada seorang pun bisa lari dari setiap langkah, yang berarti, jarak antara manusia dan risiko itu benar-benar dekat, tak ubahnya seperti kematian. Kesamaan di antara keduanya adalah, kita hanya disekati oleh waktu. Itu saja, jelas Ayah.
Di ujung malam, akhirnya Ayah selesai dengan cerita dan perdebatan kami yang selalu membuatku senang. Walau beberapa hal aku tidak sepakat, tapi aku sungguh menikmatinya. Dan malam itu, sebelum Ayah kembali ke tempatnya, ia mengecup keningku dengan lembut sambil mengatakan, “Aku selalu menyayangimu, dan aku akan selalu ada untukmu,” jelasnya sambil berlalu di balik pintu kamar.
Lalu beberapa hari setelahnya, ada satu kejutan yang Ayah berikan padaku. Jenis kejutan ini memang bukan jenis kejutan ketika aku mendapatkan sebuah kado di hari ulang tahunku. Berbeda, jelas berbeda. Kejutan kali ini benar-benar tak menyenangkan. Kejutan yang membuatku terhenyak, terhempas, jatuh, jatuh sejatuh-jatuhnya. Benar kata Ayah, manusia dan kematian itu benar-benar dekat. Kita hanya disekati oleh waktu. Dan dongeng yang sempat Ayah ceritakan tempo hari itu, adalah dongeng terakhirnya yang ia ceritakan padaku, sekaligus malam terakhir aku mendengarkan dongengnya.
***
1. Hashire Molos! Karya Osamu Dazai