Bagian 9

3057 Words
Hann  Satu jam berlalu ketika aku tiba di stasiun di ibu kota prefektur Horvarth: Belousva. Bersama para penumpang lainnya dari gerbong yang berbeda, kami keluar berduyun-duyun. Aku tidak ikut dengan mereka keluar dari area stasiun. Aku pergi ke salah satu sisinya untuk melihat jadwal keberangkatan selanjutnya ke Moruz, ke Prynne. Ke pantai yang digadang-gadang menjadi pantai paling indah di pulau ini. Beberapa kali aku memang pernah melihatnya di beberapa foto. Aku akui memang indah. Oh, membayangkannya saja membuatku tak sabar ingin sesegera mungkin tiba dan menginjaki di pantai putihnya. Bahkan dari sini pun, aroma pantainya sudah bisa kucium dari jarak yang sangat jauh. Mendebarkan seperti ombaknya… Mataku berputar memerhatikan jadwal keberangkatan di dekat loket karcis. Prynne: 16.30. Kutengok jam tanganku, 12:20. “4 jam lagi. Oke, sialan.” Aku kembali menggerutu. Aku punya waktu luang kurang lebih 4 jam sebelum keberangkatanku ke sana dan setelah membeli karcisnya, aku berencana menghirup udara segar di luar area stasiun. Sampai pukul 3, itu batas yang kubuat. Di dekat stasiun, aku berjalan mengikuti garis kuning trotoar. Sampai di satu tempat namanya Veyssierre, sebuah taman dengan ukuran yang cukup luas, berkerumun orang dari berbagai penjuru. Seperti teraju yang terbang tinggi, kekagumanku melejit karena menyaksikan ribuan orang memadati taman hanya karena buku. Ya, buku! Bayangkan itu. Ramai, bak semut-semut menggerumuti manisan. Atau seperti ikan-ikan mendapatkan pakannya di penangkaran, tak kurang dari itu. Acara bazar buku memang sepertinya masih ramai diminati orang banyak. Aku senang, karena sekali lagi, walau aku anak yang bebal tapi aku tidak memiliki dendam pada buku-buku. Itu gelagat yang bagus, tentu saja. Aku melihat-lihat buku yang dijual di sana. Berkeliling dari satu toko ke toko lainnya, bertanya perihal buku-buku bagus. Tapi sejauh ini, jawabannya tak ada yang membuatku tertarik. Kuhampiri penjual dideretan buku-buku lama, lalu mendekati seorang pedagang yang tak jauh dari tempatku dan sesekali menyimak orang-orang yang sedang mencari buku-buku incarannya.  “Kalau yang pertama ada,” ujar sang penjual. “Boleh saya lihat?” pinta seorang calon pembeli. Penjual itu bergegas mengambil bukunya, lalu menyerahkannya pada lelaki bermata empat di sampingku. Aku pikir, buku itu memang tak susah mencarinya. Lalu ia kemudian menanyakan buku-buku selanjutnya. “Coba cari ke penjual yang lainnya. Barangkali ada,” kata sang penjual. Lelaki bermata empat itu kembali mengangguk. “Kalau begitu, terima kasih.” Setelah transaksi selesai, ia melanjutkan pencariannya. Aku mencoba untuk menanyakan beberapa buku yang sempat membuatku penasaran. Tidak apa-apa, ‘kan, untuk sekedar teman perjalanan nanti ke Prynne? “Codex Floriae?” tanyaku. Bahkan sang penjual itu langsung menggelengkan kepalanya sedetik setelah vokal terakhir keluar dari mulutku. “Tidak ada,” ujarnya. “Pun aku tak pernah mendengar nama itu sebelumnya.” (Ya, Codex Floriae pernah dicetak dulu, tapi sekarang memang keberadaannya sudah jarang beredar). Di toko pertama, kedua, ketiga, kelima, ketujuh, kesepuluh, dan setelahnya, tak ada yang bisa aku temukan selain kepastian bahwa buku itu memang tidak ada di sini dan tak ada satu pun yang memilikinya. Betapa menjengkelkan jika harus mencari sesuatu yang tidak ada, atau hampir tidak ada. Walau demikian, aku masih tak jemu-jemunya bertanya pada para penjual yang kebetulan kulewati di sepanjang bazar. Siapa tahu kalau di selip-selip tumpukan buku-buku lama, Codex Floriae bisa kutemukan. Aku mencari ke toko selanjutnya, tidak ada. Kulanjutkan, nihil. Kucari lagi, memang benar tak ada. “Biasanya di toko-toko buku lama,” sergah salah seorang penjual. Seperti yang disarankan oleh si penjual sebelumnya, aku melanjutkan pencarian itu ke tempat yang dituduhkan. Namun ketika matahari mulai bergerak ke barat, dadu keberuntungan hari ini ternyata tidak dilempar untukku. Biarlah. Saat itu jam menunjukkan pukul 13.24 dengan terik panas yang semakin menyengat. Kulitku sepertinya sudah tak kuat menerima sinar ultraviolet yang tak karuan itu. Lalu di tepian taman Veyssierre, akhirnya aku memutuskan untuk berlabuh saja di bawah pohon rindang guna beristirahat sejenak. Tatkala aku selesai menyandarkan ranselku dan ketika aku duduk, “Hei,” seseorang memanggil. Suaranya lembut, merambat masuk ke lembing telingaku yang kasar. Kemudian aku menengok ke sebelahku. Aku terkesima. Coba tebak, siapa yang menyangka jika orang yang memanggilku adalah perempuan di kereta tadi? Oh, tentu saja aku ingat. Detik itu aku menyadari jika ternyata kami duduk bersebelahan. Detik berikutnya, mata kami bertemu. Ketika baru saja aku akan membuka mulutku untuk menyapanya, “Kukira ini bukan pertama kalinya kita bertemu, ‘kan?” Perempuan itu mendahuluiku. Aku bergeming karena jelas mata bulat besarnya menghujam jauh ke dalam mataku. Begitu silau. “Kalau tidak salah kamu perempuan di gerbong kereta tadi, ‘kan?” tanyaku memastikan. “Benar.” Perempuan itu mengangguk. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu di sini?” tanyanya cepat. “Mungkin seharusnya akulah yang bertanya, kenapa kamu di sini?” Perempuan itu menahan kekehannya. “Hmm.. tak ada alasan pasti. Tapi mungkin aku agak bosan di rumah,” kata perempuan itu dan aku terpukau, entah kenapa. Seperti, waktu diputar agak melambat dan di beberapa momentum, waktu seperti dihentikan dan megambang. “Haloo?” tangan perempuan melambai di depan wajahku. “Oh maafkan aku.” Aku kembali sadar setelah tersambar petir yang manis. “Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya. Sambil mengerjapkan mata, aku menimpal, “Tentu, aku baik-baik saja,” jelasku. “Bagaimana denganmu?” tanyanya balik. “Bagaimana, apa?” ujarku mendadak kikuk. “Ya, kenapa kamu di sini?” tanya perempuan itu untuk kedua kalinya. Sungguh, mata bulat-besarku membuatku benar-benar silau. Sampai-sampai, aku tak sanggup melawannya. Kegemingan mulai menghampiriku. Tetapi keadaan ini cukup aneh. Dalam beberapa situasi di ruang publik yang lain, aku bisa saja memulai retorikaku. Dan seringnya, itu yang aku lakukan. Namun keadaan ini agak berbeda, lidahku mendadak kelu, kemampuan retorikaku mati seperti dipatuk ular. Ketika perempuan itu memiringkan kepalanya dan memasang wajah bingung, aku kembali sadar karena ada semut yang menggigitku. “Yaa… aku hanya mencari beberapa buku,” kataku agak kikuk. “Sudah kamu termukan?”        “Belum,” jawabku singkat dan lugas.     “Hmmm… Sayang sekali, ya,” tukasnya. “Memangnya buku apa yang hendak kamu cari?” tanyanya lagi. Kali ini aku bergeming karena cahaya matahari jatuh tepat berada di belakang punggungnya. Jadi setengah badan dan wajahnya agak tertutupi cahaya, dan itu yang membuatku semakin silau. Terlebih, aku masih belum bisa menatapnya dengan berani. Demikian yang saat itu bisa kulihat hanyalah gerakan bibir merah mudanya yang merekah dan bergerak dalam tayangan yang sangat lambat, benar-benar lambat. “Maaf?” potongnya. Aku kembali mengerjap dan sadar dari pemandangan yang menyilaukan itu.  “Codex Floriae,” jawabku spontan karena aku tahu betul apa yang tadi sempat ditanyakannya. Mendengar jawabanku, perempuan pemilik mata bulat dan besar itu langsung tertegun. Mulutnya seperti tersumpal, dan seketika ia tak mampu berkata-kata dalam beberapa detik yang mengalir lambat. “Kamu tahu,” jelasnya, “kemarin aku baru saja membaca soal Codex Floriae.” Sekarang giliran aku yang terperanjat. “Benarkah?” “Benar!” Jawab perempuan itu. Tak sempat aku bertanya lagi, perempuan itu kembali bertanya. “Apakah kamu sudah membacanya?” Aku mengangguk. “Sudah, tapi dulu sekali.” Tiba-tiba percakapan kami mengalir begitu saja tanpa kami kehendaki. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya. “Hmmm… bagaimana, ya.” Aku berusaha mencari kata yang pas untuk dikatakan. Tapi tak juga kutemukan. “Aku kasihan dengan orang itu. Maksudku St. Agustinus,” kataku. “Aku menyadari betapa kacaunya manusia. Betapa kacaunya ia tatkala ia mencintai seseorang dengan amat dalam dan itu sekaligus menjadi penderitaan dan kesengsaraan baginya seumur hidup.” “Agustinus menulis, Lukaku, yang timbul ketika hubunganku dengan perempuan yang telah hidup bersamaku harus berakhir, juga tidak akan sembuh. Pada awalnya, itu meradang dan terasa sangat menyakitkan, namun kemudian membusuk, dan aku semakin kebal terhadap rasa sakit.1 Begitupun sebuah respon yang menyakitkan kembali dilontarkan oleh Floria, ‘Hatiku menderita rasa sakit yang sama, tentu saja, bila itu berarti sesuatu, karena kita adalah dua jiwa yang terpisah, atau dua tubuh; atau, bahkan, dua jiwa dalam satu tubuh.2” Perempuan itu mengutip. “Walau Agustinus bertahan dalam Pengendalian Diri demi menjaga kesucian dirinya, menjauhkan dari dosa-dosa maksiat, namun ia sama sekali tidak berdaya. Aku belum bersedia sepenuhnya, tetapi juga tidak sepenuhnya tidak bersedia.3”  “Kupikir Agustinus menikah dengan perempuan lain bukanlah karena ia ingin menikahinya. Semata-mata, itu hanyalah perintah yang diberikan oleh Monika, ibunya. Secara teknis, aku bisa saja menyebut itu sebagai pernikahan, tapi pernikahan yang dilangsungkan di antara mereka berdua tidak lebih dari sekedar ketidakberdayaan Agustinus saja.” “Hubungan Agustinus dengan Floria adalah hubungan yang setara pernikahan. Bukankah lebih mudah bagi seorang perempuan untuk menanggung kenyataan bahwa seorang laki-laki meninggalkannya karena ia ingin menikah –atau dalam hal ini, bila ia menginginkan perempuan lain? Tetapi tidak ada perempuan lain dalam hidupmu. Kau lebih mencintai jiwamu sendiri daripada diriku. Jiwamu sendiri, Aurel (panggilan masa kecil St. Agustinus) , itulah yang ingin kau selamatkan, jiwa yang telah kau temukan dalam diriku. Kau tidak pernah ingin menikah selama aku ada di sampingku, katamu. Pernikahan yang diatur oleh Monika tersebut, tak lebih dari sekedar tugas seorang anak. Dan kau tidak pernah menikah. Kau tidak pernah berjodoh dengan siapa pun.4 Lalu Agustinus sempat menuliskan pengakuan yang lain, aku masih terikat kuat dengan cinta kepada seorang perempuan.5” “Bisakah kamu melihat jika pada surat itu, betapa Agustinus amat sangat mencintai Floria? Sekaligus menderita karena mencintai Floria.” “Kukira memang keduanya saling mencintai, tetapi sayang, pada akhirnya mereka harus berpisah. Sebuah kisah yang mencekam dan meradang.” Wajahnya lesu. “Tapi kita tahu, kisah Agustinus hanyalah salah satu kisah dari jutaan kisah yang pernah dibuat oleh manusia,” jelasnya lagi. “Salah satu alasan dari banyaknya alasan seseorang tidak menikah adalah karena mereka tidak berhasil menikahi orang-orang yang mereka cintai. Mungkin juga seperti Heidegger dan Arendt, atau Beethoven dan Anna. Betapa getirnya kehidupan romansa orang-orang seperti itu.” “Kehilangan orang-orang yang dicintai memang tak gampang,” cetusku sambil termanggu sejenak melepaskan tatapanku dari wajah dan matanya. “Di dunia ini,” tiba-tiba perempuan itu bersuara lagi, “mungkin banyak pernikahan yang tidak bahagia. Bisa jadi, orang-orang yang mereka nikahi adalah orang-orang yang tidak mereka cintai. Akibatnya, beberapa orang akan selingkuh, beberapa orang lainnya akan berbohong. Beberapa di antara mereka akan mengatakan setia, namun hati dan tingkahnya tidak demikian. Beberapa orang lainnya akan sering menemui pertengkaran, pecah kongsi dengan pasangannya,” jelasnya. “Tetapi, betapa hebatnya mereka yang tetap mempertahankan kekasihnya walau mereka tak mencintainya. Itu pekerjaan yang memerlukan dedikasi yang sangat tinggi, ilmu tingkat tinggi, dan kesabaran tingkat tinggi.” “Mungkin aku tidak akan menikahi orang yang aku cintai,” aku bergumam sambil setengah tertawa. “Buat orang, menikah memang perkara cinta. Buatku, tak ada kaitannya antara cinta dan menikah. Tetapi beruntunglah mereka yang menikah karena cinta.” “Aku setuju.” Perempuan itu mengepalkan tangannya. Aku menghiraukan perkataannya. “Secara batin, aku percaya bahwa cinta abadi itu ada. Hanya saja ketika aku atau orang-orang berkata jika cinta abadi itu tidak ada dan cinta abadi itu konyol, itu adalah sebuah tameng untuk menyembunyikan bahwa, ‘dia telah kehilangan’ atau, ‘dia tidak mampu menciptakan’. Itu saja. Jadi kadang, orang-orang yang tidak mampu menghadirkannya, mengatakan bahwa cinta abadi itu hanyalah dongeng untuk menyembunyikan ketidakmampuannya,” racauku menjelang siang. “Seharusnya orang-orang harus bisa menanggung segala risiko ketika mereka tidak dapat menikahi orang-orang yang mereka cintai. Sejak awal, manusia memang sudah kacau. Kita akan sama-sama menimbun kesakitan yang meradang, hingga menumpuk, lalu membusuk. Dari sini, kita akan lebih siap menghadapi kenyataan yang tak berpihak. Jauh dalam pikiran dan batinku, aku juga tidak akan menyangkal bahwa, ‘cinta abadi’ itu memang ada,” jelasnya. “Tapi aku tak tahu persisnya seperti apa.” Ia menarik napas. Aku mengangguk seolah-olah membenarkan apa katanya. Tapi perlu kamu ketahui, aku tidak tahu apa lagi yang harus aku katakan. Tak lama kami dilanda kegemingan beberapa detik sebelum perempuan itu kembali membuka obrolannya. “Aku Nala,” katanya sambil menyodorkan tangan. Mata besar dan bulatnya masih saja belum enyah dari pandanganku. “Aku Hann.” “Salam kenal,” katanya. Kami pun lantas bersalaman. “Jadi apa rencanamu?” Tanya Nala. “Rencanaku?” “Ya, rencanamu.” “Hmm…,” aku berpikir. “Ini sudah siang, dan aku cukup lapar. Jadi rencanaku mungkin akan makan siang di satu restoran kecil atau kafetaria di dekat sini,” kataku lalu kusambung, “dan… bagaimana denganmu?” Nala menimang. “Hmmm… bagaimana, yah..,” kata perempuan itu. “Yaa, sebenarnya aku juga sudah tak terlalu tertarik berdiam diri di sini, sih.” “Bagaimana kalau kita makan saja. Kamu lapar?” tawarku. “Hmmm…,” Aku tidak tahu apa artinya ‘hmmm…’ itu. Nala kembali menatapku lalu tertawa kecil. Sedetik kemudian ia kembali membuka mulutnya. “Iya, iya, anggap saja aku lapar,” katanya menahan sedikit tawa. Kami bangkit dan berjalan sekitar sepuluh menit hingga sampai di sebuah restoran kecil di sana. Kami masuk, lalu duduk, lalu memesan makan kepada salah seorang pelayan berikut minumannya. “Sizzling beef dan kentang goreng, dan…… satu jus jeruk sunkist,” titahku. “Aku juga,” kata Nala. “Baik, silahkan ditunggu,” kata sang pelayan. Kami mengangguk. Aku masih memerhatikan perempuan di depanku dengan seksama. “Ngomong-ngomong, ini adalah kali pertama aku makan bersama orang asing yang baru saja kukenal beberapa menit yang lalu. Oh, betapa beraninya aku,” celetuknya. “Aku tidak tahu kapan lagi aku bisa makan bersama orang asing untuk kedua kalinya dalam tempo yang singkat setelah beberapa menit bertemu.” “Ya?” Aku menyimak. “Maksudku, ada semacam waktu mekanis yang akan menuntun kita pada momen selanjutnya. Mungkin akan ada makan-makan bersama untuk kedua kalinya. Tapi kita juga dapat menentukan di mana dan kapan. Waktu tidak serta merta berjalan seperti sebuah mekanik. Kita yang menentukannya, apa dan bagaimana. Di mana dan kapan,” jelas Nala. “Ya, mungkin kamu ada benarnya. Atau barangkali, pilihan-pilihan keinginan manusia sebenarnya tidak pernah dicatatatkan. Dia –atau dalam hal ini Tuhan hanya mengetahui masa depan, dan itu tidak berarti Dia ikut campur akan pertemuan-pertemuan yang sengaja kita rencanakan,” kataku. “Uniknya dalam waktu, kita dapat sedikit lebih tahu mengenai bagaimana sistem itu bekerja. Kita dapat makan bersama lagi di sekolah, atau di tempat lain. Kita bisa saja menghendakinya,” sambungnya. “Waktu memang seperti lingkaran. Tapi waktu lingkaran itu juga menyatakan keberulangan. Dan lagi-lagi, beberapa orang memercayai perihal seperti itu sudah dicatatkan. Banyak orang menyebutnya sebagai takdir. Mereka akan kembali bekerja di hari senin sampai jumat. Anak-anak akan kembali bersekolah di hari masuknya, kecuali ketika libur. Ibu memasak di pagi hari. Seorang perempuan menangis karena untuk kedua kalinya dikhianati oleh seorang lelaki b******k. Nah, banyak di antara kita yang menyebutkan semua itu adalah takdir,” jelas Nala. Aku diam sambil memandanginya. Tak ada kata-kata lagi yang tercecer dimulutku. Rasa-rasanya satu alasan ini cukup untuk membuatku terpukau padanya. “Apakah pertemuan ini juga takdir?” tanyaku.  “Hmmm… aku tidak tahu,” jelasnya. “Mungkin pertemuan kita hanyalah akibat dari waktu yang linear, artinya waktu yang terus bergerak maju.” “Waktu yang linear, terus bergerak maju….,” ulangku. “Dan sebetulnya, aku lebih percaya kepada waktu yang linear itu daripada takdir-takdir yang banyak orang percayai.” Aku menyimak lagi. “Maksudku, apa-apa yang terjadi di sini hanyalah akibat dari waktu yang terus bergerak maju. Pada satu kejadian, pada satu pertemuan. Semuanya hanyalah akibat. Itu saja. Aku memilih untuk duduk di bawah pohon rindang, dan kamu pun mempunyai pilihan yang sama pula, dan akibatnya, kita bertemu di tempat itu.” “Apakah sulit untuk mengatakan jika semua yang terjadi adalah takdir?” “Sudah kukatakan, aku tidak terlalu percaya dengan itu,” jelasnya. “Bahkan pada setiap manusia, mereka berkembang dari waktu ke waktu. Langkah demi langkah berkembang dari waktu ke waktu. Dan dalih ‘kembali seperti dulu’ itu tak pernah ada. Karena waktu memiliki satu arah, ke depan. Jadi agaknya aku kurang menyetujui bahwa orang-orang ‘menjadi lebih buruk’. Yang ada, manusia-manusia hanya berkembang, tidak ada penilaian bahwa seseorang kian menjadi buruk, atau menjadi lebih baik. Yang ada, orang-orang berkembang, itu saja.” “Kondisi yang kita lihat hari ini hanyalah akibat dari simpulan-simpulan manusia yang berkembang, orang-orang berkembang, kamu menyebutnya.” Aku kembali mengulanginya lagi. “Pada akhirnya, baik dan buruk pun hanyalah sebuah konvensi, sebuah kesepakatan.” “Aku sepakat,” tutupku. Tak lama setelah itu, seorang pelayan datang membawa pesanan kami. “Maaf menunggu. Silahkan. Selamat menikmati.” “Terima kasih,” timpal kami berdua. Hari itu adalah hari pertamaku bertemu dengan Nala sambil berbincang kecil di restoran. Hingga beberapa waktu, kami masih tetap bersama berada di sekitaran taman Veyssierre sampai akhirnya kami memutuskan untuk berkeliling, membeli minuman segar, dan berjalan meyusuri trotoar yang tak ada ujungnya. Di tepian jalan, kami duduk sambil menebak plat nomor kendaraan yang berlalu sambil sesekali tertawa ketika salah satu dari kami berhasil menebak angka terakhirnya. Atau kembali berjalan di sepanjang trotoar, sambil menatap satu sama lainnya. Aku tersenyum, juga perempuan itu. Kami tetap berjalan bersama, menghabiskan waktu hingga matahari hampir tenggelam dan kembali ke stasiun Belousva. “Sudah sore,” cetus Nala. “Sepertinya aku harus pergi.” Entah bagaimana, tapi rasa-rasanya ada satu bom berdentum di dalam diriku. Ada semacam reaksi dalam tubuhku yang meledak tak terduga. Seharusnya enteng saja jika aku mengatakan perpisahan di sini. Entah kenapa, berat sekali harus kukatakan, “Ya, kamu benar, sekarang sudah sore. Dan seharusnya kita memang harus segera pergi dari sini,” jelasku sesak.  “Kamu masih akan di sini?” tanya Nala. Spontan kujawab, “Aku akan pergi ke Moruz.” Aku baru ingat.        “Ada satu keperluan?”               Aku memangguk kepala. Kabur dari rumah mencari kedamaian. “Semoga selamat sampai tujuan,” ujarnya. “Kalau begitu aku pergi, senang bertemu denganmu, semoga kita berjumpa lagi di lain waktu. Semoga pilihan-pilihan kita menuntun kita pada pertemuan selanjutnya,” kata Nala berlalu begitu saja meninggalkanku di balik kerumunan orang. Dalam hitungan detik setelah ia memunggungiku, ia menghilang di antara kerumunan manusia yang berlalu-lalang. Nah… aku tertegun melihat punggungnya yang perlahan mulai memudar. Sedikit demi sedikit hilang ditelan waktu. Rasanya ada sekeping dari diriku yang dibawa oleh perempuan itu. Jika kamu bertanya apa itu, aku tidak tahu. Karena enggan dibingungkan oleh pikiran-pikiran semacam itu, akhirnya kuputuskan sore itu untuk kembali ke stasiun. Kutengok jam tanganku, 16.47. “s**l! Aku ketinggalan kereta.”     1.      Jostein Gaarder, Vita Brevis, hal. 15. 2.      Ibid, 17. 3.      Ibid, 112. 4.      Ibid, 18. 5.      Ibid, 108.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD