Bagian 8

2921 Words
Nala  Musim panas ini mekar dengan menawan. Burung-burung pagi bertengger sambil bersahutan di antara sela-sela pepohonan Ek. Pagi itu cukup dingin. Walau matahari telah nampak dari balik pegunungan, udaranya masih juga tak ubahnya seperti sepuluh menit yang lalu. Aku membereskan mejaku yang berantakan oleh soal-soal matematika yang aku kerjakan semalam suntuk. Setelah merapikan buku hitung-hitungan tak beradab itu, aku menatapi bunga nemophilia biruku di vas bunga yang dekat dengan jendela. Sudah beberapa hari ini, bunga  itu nampak layu, beberapa lembarnya sudah mulai berjatuhan, dan sekarang seluruh bunganya serasa akan benar-benar gugur, lalu tak lama kemudian, mungkin akan mati. Tetapi perlu kamu tahu, aku telah merawatnya dengan baik. Demikian beginilah hidup, satu mozaik akhir yang tak bisa ditolak; nemophiliaku gugur sebelum waktunya. Sebelum sekolah di mulai, aku memutuskan untuk lebih sering pergi ke perpustakaan milik Erika. Kebetulan, setelah beberapa kali aku berkunjung, aku memiliki stok bacaanku di perpustakaan itu. Kumpulan cerpen dan beberapa novel. Aku menyisakan beberapa buku yang tak sempat aku baca di hari-hari kemarin. Maka setelahnya, aku berusaha untuk mengkhatamkannya pelan-pelan. Ada beberapa buku yang sempat aku khatamkan kala itu. Pertama, Codex Floriae (manuskrip yang disenyalir merupakan sebuah surat panjang dari perempuan bernama Floria Aemilia kepada St. Augustine yang berisi mengenai gugatan, klarifikasi, kritik, kemarahan, cinta, sekaligus tragedi). Kedua, cerpen-cerpen dalam seri Lukisan Neraka oleh Akutagawa, Ningen Shikkaku oleh Dazai, lalu beberapa karangan Dostoyevski dan Tolstoy. Tak lupa, aku juga sempat membaca surat-surat yang pernah ditulis oleh Einstein, termasuk kisahnya dengan Mileva. Ya, sedikitnya seperti itu. Menyenangkan rasanya ketika hari-hariku dikelilingi oleh buku. Atau seringnya aku habiskan waktu hanya untuk membaca. Ketika kebosanan datang merenggutku, atau ketika aku sedang muak membaca, aku kembali membuka buku-buku latihan soal matematikaku karena buatku, matematika sangat menyenangkan. Tak banyak memang orang-orang sepertiku. Jadi kupikir, dapat menyukai matematika adalah satu hak istimewa yang lain, yang tak semua orang dapat merasakannya. Begitupun dengan mereka yang juga menyukai fisika, kimia, sastra, metodologi, dan data-data. Rincinya, betapa menyenangkan memiliki kesukaan terhadap sesuatu, atau apa pun itu. Mengingat di luar sana, banyak orang-orang yang bahkan tak tahu apa hal yang disukainya dalam hidup. Yang buatku, seperti sebuah ironi ketika mereka tak kenal dengan dirinya sendiri.  Nah, setelah mandi dan membereskan diri, aku pergi ke perpustakaan desa, tempat di mana Erika berada, dan tempat tujuanku pagi itu kulabuhkan. Ketika berjalan menuruni lereng kecil dan melewati beberapa tempat di sepanjang jalur menuju perpustakaan, aku menemukan sebuah toko bunga. Mungkin toko itu baru, atau memang sudah lama, aku menerka. Karena sebelumnya, aku tak pernah melihatnya sama sekali. Aku menghampiri toko itu sebelum tiba di perpustakaan. Berharap menemukan sebatang bunga lain andai-andai bunga nemophiliaku tak bisa dihidupkan kembali. Dari jarak sekitar 100 meter, ada satu aroma yang tercium oleh hidungku. Aromanya lembut, menusuk, sampai-sampai lututku lemas. Dari baunya yang khas, aku tahu jika ini adalah aroma lavender. Tapi aromanya sangat berbeda dari kebanyakan lavender yang pernah kutemui. Aroma lavender yang sedang kucium itu begitu kuat, halus, hampir-hampir kembali menundukkanku. Aku terpukau; lalu berjalan terhuyung-huyung seperti orang yang baru saja dimabuk tiga botol anggur. Tidak hanya sampai di situ, aroma lavender itu tiba-tiba mengeluarkan paksa delusi-delusi dari kepalaku; seperti berjalan di antara fjord-fjord, terbang ke puncak-puncak tebing, melayang di pucuk-pucuk pinus, dan diseret oleh angin dan tiba di permukaan awan-awan yang selembut kapas. Dan bersamaan dengan delusi-delusi itu muncul, tiba-tiba waktu seperti kembali terhenti. Ya, kukatakan sekali lagi, waktu… seolah… berhenti. Dari bawah tanah, aroma lavender itu menyembul kuat, bahkan sampai melebarkan sayapnya ke hutan-hutan. Bahkan di setiap sela ruang kosong yang berudara, di setiap lahan yang terbuka, di setiap partikel yang memiliki kerapatan minimun, aromanya semakin membumbung tinggi, seperti melahap apa pun yang dilaluinya. Semua benda, semua air, semua embun, semua batu-batu granit, semua pucuk, semua biji-bijian, semua dedahanan, semua batang tumbuhan, semua makluk melata, semua lumut, semua serasah, semua hewan, semua lubang, semua aroma dingin, semua aroma rel kereta, semua aroma karat, semua aroma asap, semua aroma pedal gas, semua aroma cerobong; saat itu hanya memiliki satu aroma tunggal, tidak tercampur dengan aroma apa pun. Hanya aroma lavender sajalah yang ada di mana-mana. Bahkan aroma tubuhku kini hilang dipenuhi oleh aroma lavendernya. Bau tanah tak bisa lagi kucium, begitupun udara dan hidungku tak bisa mengendusi aroma lain selain lavender yang melingkupiku seenaknya. Ketika menciumi baunya, rasanya waktu berhenti dan masih terhenti. Dan semua yang bergerak menjadi diam. Burung-burung yang melayang di udara tertatahan, seperti digantung dengan tali-tali tak kasat mata. Aroma itu semakin menguar, merambat melalui gelombang udara lalu menarik semua yang dilewatinya. Tak pernah kutemukan bebauan yang seperti ini, pikirku. Kuat, murni, dan tajam. Baru pertama kalinya dalam hidupku, aku menemukan aroma yang sebaik ini. Nah, sungguh sangat wajar jika aku semakin takjub, terpukau, terkesima, seperti ketika menemukan spesies hewan yang telah lama punah, dan hari ini, hewan itu hidup lagi di depan matamu. Sungguh, aku ingin menjelaskan apa yang terjadi saat itu, tetapi kekaguman ini bahkan tak bisa kujelaskan dengan kata-kata dan tingkah laku. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah menyerah pada aromanya, dan aku membiarkan ia menguasaiku semaunya. Hingga aku tersandung batu, itulah momen ketika waktu kembali bergerak. Dan kesadaranku pun kembali lagi seperti semula. Kuhampiri toko itu, sebuah toples bening berisi bunga lavender tergeletak di kursi kosong di depan toko tanpa sebuah penutup. Mungkin dari sana lah semua aroma yang menguar itu berasal, aku menerka-nerka.  Dengan perasaan bahagia yang lebih aneh daripada biasanya, aku dipaksa untuk menelusurinya seorang diri. Dari mana wangi itu berasal, dan siapa pemiliknya. Tentu saja, belum pernah sekalipun aku dibuat penasaran gara-gara wewangian. Dan sebelumnya memang tidak. Walau wangi teru kenapa? Kalau aku suka terus kenapa? Biasanya aku bersikap demikian. Namun kali ini, responku agak berbeda. Wangi lavender yang kuat dan seperti (dipenuhi dengan seluruh cinta dan gairah) itu rasanya seperti diseret dengan lembut dan menawan, sedang aku tak punya kuasa untuk menyangkalnya sama sekali. Jadi, demi memenuhi nutrisi rasa ingin tahuku, akhirnya aku pergi ke toko tersebut. Berharap apa yang aku cari ada di sana.    Seorang lelaki tua yang nantinya kukenal sebagai Lunin, sesegera mungkin meraih toplesnya dan menutup rapat-rapat lavendernya. Ia nampak gelisah. Kendati sudah terututup rapat, tapi aromanya masih saja tersisa hingga beberapa menit kemudian, aroma lavendernya berhenti menguar dan hilang. “Maafkan aku,” jelasnya padaku sambil meraih toplesnya. Aku menggeleng. “Tidak perlu meminta maaf. Justru akulah yang seharusnya berterima kasih.” Dia serta merta tidak membalasku. Ia hanya sibuk menyembunyikan toplesnya di suatu tempat di dalam tokonya. “Apa aku menggganggumu?” tanyaku. Setelah ia menyembunyikan lavendernya, ia keluar dan menghadapku kembali. “Seharusnya aku yang bertanya, apakah aku mengganggumu?” Aku menggeleng. “Tidak sama sekali,” tukasku lagi. “Oh ya, ngomong-ngomong, tak pernah aku mencium bau lavender yang murni seperti itu.” Lelaki itu tak menjawabnya untuk beberapa waktu, dan ia hanya mengatakan, “Terima kasih,” jelasnya sambil memalingkan wajah dan memandangi bebungaan lain di tokonya. Aku memiringkan kepala. Apa maksudnya? Lelaki bernama Lunin itu kemudian berdeham, “Seharusnya kamu tidak mencium aroma itu.” “Memangnya kenapa?” balasku. “Yang kutahu, orang-orang akan mendadak senewen ketika menghirupnya.” Aku mengangguk. “Kamu benar! Aromanya dapat membuat orang-orang yang menghirupnya menjadi setengah senewen.” “Sejujurnya, tak pernah ada seorang pun yang pernah menghirup aroma itu. Setahuku seperti itu.” “Oh ya?” tanyaku. Dia setengah mengangguk. Mungkin agak ragu. “Seperti sedang mencicipi potongan kecil kue pie yang dibagikan gratis. Bukan begitu?” “Hmmm…,” lelaki itu kemudian memanggut-manggut kepalanya. “Bisa dibilang seperti itu,” ujarnya. Aku terkekeh. “Rasanya seperti kue pie yang paling manis yang pernah kucicipi dalam seumur hidupku.” “Tentu saja, kamu tak akan pernah menemukan kue pie seperti ini lagi,” jelasnya percaya diri. “Tapi sebenarnya bukan itu yang kumaksud,” potongku. “Sensasi ketika aku mencicipinyalah yang membuat aromamu menjadi aroma yang tidak sama dari aroma-aroma yang pernah kucium sebelumnya,” jelasku. “Ketika aku menciumnya, ahhh… sesuatu terjadi, dan… itu mirip dikatakan seperti sebuah delusi,” jelasku terbata-bata. Lelaki itu kembali menghiraukanku. Seraya penasaran, aku kembali bertanya lagi. “Apakah kamu membuatnya sendiri?” tanyaku penasaran. “Tidak, aku membuatnya dengan istriku.” “Kukira istrimu adalah penggemar berat aroma lavender.” “Kuharap demikian,” jelasnya. “Oh.. rasanya akan sangat menyenangkan bisa mengenalnya,” terangku. “Tidak. Kamu tidak akan bisa mengenalnya dengan baik.” Kedua alisku hampir bertaut ketika mendengar pernyataannya. “Ya?” “Maksudku, dia tidak ada di sini. Dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu,” jelasnya. Rasanya seperti tersengat listrik ketika mendengarnya. “Maafkan aku, aku turut berduka cita.” Lelaki itu hanya mengangguk.  “Barangkali, itulah jiwa yang sebenarnya dari aroma lavendermu. Seseorang yang kamu cintai…” “Kurang lebih,” jawabnya lugas. Aku mengangguk-angguk. “Oh ya, bagaimana kamu dapat menciptakan aroma sebaik ini?” kembali aku bertanya. Awalnya ia tidak mau memberitahuku. Namun sikapku yang kumat kalau sudah ingin tahu sesuatu, rasanya sudah tak bisa dibendung lagi. Kemudian aku terus bertanya dan mendesaknya agar ia memberitahuku detailnya. Berharap ada satu atau dua pengetahuan yang baru, tentu saja. Walau kedengarannya agak tidak sopan, tapi akhirnya lelaki itu mau menceritakannya padaku dengan terpaksa karena aku terus mendesaknya. Maafkan aku. Lunin menarik napasnya dalam-dalam, kemudian dia membuka mulutnya. “Aku pernah tinggal di sebuah gugus pulau di Edlan Howntown, di sebuah lembah bernama Kurt, dengan istriku dulu. Aku belajar membuat minyak esensial dari tanaman-tanaman yang kupunya. Aku mengekstraknya, dan menyuling sari lavendernya hingga memiliki kepadatan dan kepekatan yang luar biasa. Sesungguhnya, apa yang kamu ciumi bukanlah berasal dari lavender kering itu sendiri, melainkan minyak yang telah kutaburi padanya,” katanya. “Setidaknya saat itu aku membutuhkan sekitar dua juta tangkai bunga lavender, kurang lebih.” Mendengar itu,“Wow… itu mengesankan,” cetusku. “Aku memenuhi botol-botol flacon kecil bening itu dengan cairan murni dari sari pati lavender,” jelasnya lagi. “Lalu aku tetesi batang-batang lavender ini dengan minyak yang sudah kubuat dengan istriku. Jadi sebenarnya, aku bisa saja mengganti batang-batang lavender itu dengan yang baru dan kutetesi lagi dengan minyak dalam botol kecil milikku. Hasilnya akan tetap sama antara batang yang lama dan batang yang baru,” katanya. “Tapi sayangnya, itu adalah batang terakhir yang kumiki.” Lelaki itu kembali tertegun. Pagi itu kuhabiskan waktu sambil berbincang dengannya hingga siang menjelang. “Oh ya, namaku Nala.” Aku mengenalkan diriku padanya. “Aku Lunin,” timpal lelaki itu. “Aku sudah tinggal di sini selama kurang lebih 3 tahun.” “Senang bertemu denganmu,” jelasku lagi. Lunin tidak berkata-kata lagi setelahnya. Ia bangkit dan menyirami beberapa bunga di halaman samping tokonya. Semakin hari, aku semakin sadar jika ternyata orang itu benar-benar hidup seorang diri. Tak pernah sekalipun kulihat seseorang menemaninya. Pernah kutanyakan kenapa ia sendiri mengurusi toko kecilnya, tetapi lelaki tua itu menjawab, “Istriku sudah mati. Jadi aku terpaksa menjaganya seorang diri.” “Tetapi, ‘kan, kamu bisa mencari seorang pegawai?” “Tidak,” lelaki itu menggeleng tegas. “Toko ini hanya milikku dan milik istriku. Aku tak mengizinkan orang lain mengurusi tokoku,” katanya. Oke, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa lelaki tua itu adalah lelaki yang keras kepala. Tapi di balik kekeras kepalaannya, dia adalah lelaki yang setia, kukira. “Aku akan menutup toko ini jika aku mati,” jelasnya. Aku mengernyitkan dahi. “Lalu bagaimana nasib toko setelah itu?” tanyaku. “Aku sudah tak memiliki apa dan siapa pun lagi. Aku benar-benar seorang diri, dan ketika aku mati, toko yang menyimpan ke-aku-an ini pun akan sama sepertiku; mati tanpa perlu orang-orang meributkan kematiannya.” “Tetapi..,” aku menyela, “bagaimana dengan lavender itu?” tanyaku ketika teringat kembali soal lavendernya. “Maksudku, apakah kamu akan membuangnya begitu saja?” Lelaki tua itu diam ketika aku bertanya soal lavendernya. Aku tidak tahu kenapa, tiba-tiba dahinya mengernyit dan diam untuk beberapa saat. “Lebih baik sekarang kamu pergi jika hanya datang untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan bodoh,” tukasnya sambil kembali masuk ke tokonya lagi. Aku tidak tahu apakah aku menyinggung hatinya atau tidak. Yang pasti, lelaki itu akhirnya pergi dan tak mengatakan apa-apa lagi. Sepulang dari perpustakaan di hari yang sama, aku mampir lagi menjelang petang. Aku hendak meminta maaf kepada lelaki itu soal pagi tadi jika ada ucapanku yang kiranya membuat hati lelaki itu tersinggung. “Kamu tidak mengatakan sesuatu yang membuatku sakit hati,” katanya. “Benarkah?” “Ya, benar,” jawabnya. “Justru aku semakin bingung.” “Bingung?” “Karena aku tak bisa menjawab apa yang kamu tanyakan tadi pagi,” jelasnya. Aku mengangguk mafhum lagi. Aku menjamah seluruh ruangan toko di sana. Tapi tentu hanya lavender itu saja yang bisa memikat hatiku dan pernah satu ketika, muncul hasrat bahwa aku ingin memiliki bunga itu. Perasaan itu datang tiba-tiba tanpa pernah kuhendaki muncul. “Mungkin bunga itu bagus untuk menggantikan nemophilia biruku yang tak akan bertahan lama lagi.” Pikiranku meracau. Seraya penasaran, kemudian aku bertanya menyoal lavender dalam toples itu lagi. “Apakah bunga itu dijual?” tanyaku. “Tidak, bunga itu tidak dijual,” jawabnya cepat. Aku mengangguk, dan tak berniat menanyakannya lagi. Aku takut melukai hatinya. Ditambah, batang lavender itu adalah batang terakhir yang dimilikinya. Betapa tak berperasaannya aku jika seseorang merebut harta terakhir lalaki itu. Dan kalau orang itu adalah aku, maka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, teguhku. Beberapa detik lelaki itu bergeming, lalu kembali berucap, “Sudah sejak lama istriku tak ada di sini. Semasa hidupnya, ia sangat menyukai bunga lavender. Tentu bunga itu kini menjadi satu-satunya harta karunku yang paling berharga setelah kepergiannya. Di dalam lavender itu, cinta kami terpatri. Dan orang t***l mana yang tega menjual segenggam cintanya pada orang lain?” tuturnya. Persetan dengan cinta, gerutuku dalam hati. “Bahkan, jika aku menjual tokoku ini, harganya tak akan pernah sebanding dengan lavender dalam toples itu.” Aku mengangguk mafhum untuk kesekian kalinya. Aku pikir, lelaki tua itu ternyata memang menyimpan semua kenangan bersama istrinya dalam sebuah toples. Maksudku, minyak dalam flacon, tentu saja. Namun sebenarnya, minyak maupun lavender itu juga tak berarti apa-apa buatnya. Yang membuatnya semakin berarti hanyalah bahwa lavender itu pernah dimiliki oleh seseorang yang ia cintai, terlebih nilai keberadaannya bertambah kuat ketika pemilik aslinya sudah meninggal dunia. Yah, nilai seseorang dapat kita ketahui setelah mereka tiada. Dan sebelum itu, kita selalu terlambat menyadarinya. Tak bisa berbuat banyak, aku hanya dapat memandangi lavender itu dari luar dan mengendusi baunya yang tak juga luntur dari hari ke hari. Aku senang karena aku punya hak istimewa sebagai satu-satunya orang yang bisa merasakan aroma di balik toplesnya. Ketika hendak berangkat ke satu tempat setelah hari-hari itu pun, beberapa kali aku mampir ke tokonya demi menciumi aromanya yang khas yang semakin hari semakin kusukai. Sesekali pula aku bertanya kepada lavender itu, “Apa kabar?” tanyaku. “Menyenangkan bukan dimiliki oleh seseorang yang tulus menjagamu?” tanyaku lagi. Namun lavender itu tetap terdiam, tak menjawabku. Ingin sekali kubuka tutup toplesnya yang dilindungi oleh lilin, toh siapa tahu aku bisa mendengar suaranya yang pelan. Tapi tentu saja, nyaris mustahil karena sebenarnya lavender itu enggan untuk megatakan apa-apa dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia hanya dapat dipahami oleh hati, dan ia hanya dapat berbicara dari hati ke hati, kepada siapa pun yang memandanginya, di balik kaca, tanpa mengatakan apa-apa. *** Siang menjelang dan hari mulai panas. Aku berpamitan lalu melangkahkan kaki ke perpustakaan tempat Erika berada. Satu-satunya teman perempuan yang kumiliki saat itu hanyalah Erika seorang. Itu pun sebenarnya tidak bisa kusebut sebagai teman. Usia kami terpaut hampir 8 tahun. Jadi mungkin hubungan ini akan lebih terlihat seperti kakak adik saja. Aku tiba di perpustakaan itu lima menit sebelum ditutup karena istirahat. Dalam waktu lima menit itu, Erika memberiku brosur kecil mengenai pameran buku di taman Veyssierre, persis di dekat stasiun di ibu kota, di daerah bernama Belousva. “Sesekali kamu harus ke sana,” titahnya. “Itu adalah pameran buku terbesar di sini. Apakah kamu tertarik?” tanyanya padaku. Sebelum aku menjawab, Erika menyambung. “Inginnya sih aku pergi ke sana. Tapi sayangnya aku tidak bisa.” “Sudah lama juga aku tidak ikut-ikut ke bazar buku,” ucapku. “Acara itu hanya diadakan setahun sekali, sayang kalau dilewatkan.” Aku berpikir demikian. Mungkin iya, sayang kalau aku melewatkannya begitu saja. “Bagaimana caranya ke sana?” tanyaku menanyakan rutenya. Erika berdecak, “Kamu mau ke sana?” “Hmmm..,” aku menimang. “Siapa tahu?” Erika mengernyitkan dahi, “Siapa tahu?” “Ya, siapa tahu,” ulangku. “Siapa tahu aku ke sana.” “Siapa tahu juga tidak,” celetuk Erika. “50-50, ‘kan?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk. “Tak ada salahnya juga kamu memberitahuku rutenya walau aku tidak akan pergi ke sana.” “Kalau begitu tak ada gunanya aku memberitahumu.” “Ada.” Aku menimpal. “Sewaktu-waktu bisa saja aku akan pergi ke suatu tempat. Tak ada yang tahu, ‘kan, dan bisa jadi tempat itu adalah taman Veyssierre. Siapa yang tahu?” Erika menarik napas dalam-dalam. “Kamu hanya perlu pergi ke stasiun di Zsigrid, lalu naik kereta sampai ke Belousva. Tak jauh dari sana, taman itu pasti terlihat,” jelasnya. Aku memasang wajah heran. “Hanya sekali saja?” tanyaku. “Dua kali kalau ditambah dengan trem dari Verge ke Szigrid.” “Kukira perjalanan ke sana akan lama dan rumit. Tapi terima kasih sudah memberitahunya,” cetusku. “Jadi mau ke sana?” Aku menggeleng. “Tidak tahu.” Erika memasang wajah masam, tak berkata-kata. Satu-satunya isyarat yang ia berikan hanyalah bola mata yang bergerak ke atas mencari cicak. “Dasar,” katanya ketus. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD