“Ngapa muka lo ditekuk kayak gitu? Gak enak banget diliatnya.” Omel Vero seperti biasanya.
“Gakpapa, cuma lagi bete aja.” Jawab Ana agak malas. Mocachino-nya masih penuh dan hanya diaduk-aduk saja dengan sedotan. Vero berdecak.
“Bete kenapa? Anak magang lo bertingkah lagi?”
Ana menggeleng.
“Terus?”
“Ya gak terus-terus. Pokoknya lagi bete, udah gitu aja.”
“Bete tuh pasti ada alasannya. Hah, ini pasti efek kelamaan jomblo, makanya lo jadi agak konslet gini.”
Ana memutar bola matanya. Vero ada-ada aja!
“Eh, lo udah liat foto yang diunggah Sasha belom? Yang di menara Eiffel itu? Asli, keren banget.” Vero mengotak-atik ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar yang dimaksud. Foto Sasha dan suaminya yang sedang berpelukan dengan background menara Eiffel.
“Romantis ya...” tanpa sadar kalimat itu terucap dari bibir Ana dengan senyum yang terukir penuh ironi.
“Iya, romantis banget. Sasha beruntung dapet laki yang model begitu. Jarang lho ada yang model begituan sekarang. Udah ganteng, baik, agamanya juga bagus.” Vero memuji dengan tangan ditangkupkan di depan d**a. Senyumnya terkembang, begitu pun dengan Ana. “Kapan gue nyusul, ya?”
Ana tertawa mendengar pertanyaan yang tak masuk akal itu. Gimana caranya nyusul kalo Vero sendiri tak punya calon? Pemikiran itu membuat Ana tertawa, atau lebih tepatnya menertawai Vero.
“Gue saranin, lebih baik lo cari calon aja dulu, baru setelah itu mikirin kapan nyusulnya. Calon aja gak punya, tapi berani mikir terlalu jauh.”
“Suka-suka gue, dong. Gak ada peraturan perundang-undangan yang ngelarang gue berkhayal terlalu tinggi, so, sah-sah aja.” Vero membela dirinya sendiri. “Lagian, gue nih lebih baik dibandingkan lo. Gue udah punya plan mau gimana ke depannya, gak kayak lo yang masih flat aja.”
“Gak masalah, flat bukan berarti gak ada tujuan. Flat lebih baik daripada terlalu banyak rencana yang gak pasti. Jodoh lo siapa juga belom pasti, jadi daripada banyak planning yang gak jelas, lebih baik datar-datar dulu.”
“Planning perempuan seusia kita ini gak muluk-muluk kok, cukup segera menemukan pasangan, nikah, punya anak, dan happily ever after.”
“Kita? Lo aja kali, gue sih bukan. Planning gue yaitu mau berkarir dulu, yang sukses, baru nikah, punya anak, dan happily ever after.”
Maybe.
Ana menambahkan dalam hati.
“Sukses mah gak ada akhirnya kalo terus-terusan dikejar. Sukses itu tergantung diri kita sendiri yang menyikapinya. Lo belom sukses, tapi di mata orang lain lo udah lebih dari kata sukses.” Ana memperhatikan Vero baik-baik. Vero mungkin sosok yang cerewet, tapi dia juga sosok yang akan sangat serius di saat yang tepat, seperti sekarang. “Lo lulus sarjana dokter dalam waktu singkat, setelah itu lo lanjut ke spesialis, dan sekarang lo udah jadi dokter. Sebuah pekerjaan yang menurut orang sangat keren. Dari pekerjaan ini lo berhasil beli apartemen sama mobil. Kurang apa lagi?” sungut Vero.
“Belom ada keyakinan buat gue nikah.” Ana menyedot mocachino-nya sedikit lalu mengaduknya lagi.
“Gimana mau ada keyakinan kalo lo sendiri gak mencoba. Lo itu terlalu menutup diri, Na.” Vero berdecak.
“Apaan sih ini, kok bahasnya soal nikah. Geli gue dengernya.” Protes Ana karena percakapan yang asing ini.
“Topik jenis ini memang seharusnya segera dilakuin, bukannya Cuma sekedar diomongin. Gak akan kelar permasalahannya.” Vero mengomel lagi seolah tak memiliki lelah.
“Berhubung gue belom berniat ngelakuinnya, jadi jangan ngobrolin hal beginian. Lo persis kayak Mama gue, nyuruhnya nikah melulu. Males banget gue bahasnya.”
“Ya kalo males dibahas melulu, cepet-cepet nikah dong. Nikah tuh enak tau, bisa begini dan begitu sama suami. Segala keperluan sudah tanggungan suami, udah gitu dapet anak yang lucu-lucu lagi.”
Ana memalingkan wajahnya ke samping, lalu memasang ekspresi muak. Dari tadi yang dibahas nikah melulu!
“Emangnya lo gak pengen punya suami? Punya anak yang lucu-lucu?”
“Maulah, tapi nanti. Dan nanti itu ada waktunya.”
“Nanti nunggu udzur, gitu?”
Fix, Vero kali ini sangat menyebalkan.
“Lo sendiri kenapa belom nikah? Kenapa gak lo aja yang nikah dulu, baru setelah itu gue. Lo gak pengen punya suami yang ganteng sama anak-anak yang lucu-lucu?” Kali ini Ana membalik pertanyaan yang sebelumnya Vero ajukan.
“Kalo gue ada calon, gue pasti udah nikah. Bahkan tanpa harus disuruh-suruh dulu, gue pasti langsung maju!”
“Nah, itu tau. Lo pikir gue ada calon? Jelas nggak, makanya gue belom berminat nikah.”
“Lo punya.”
“Hah?”
Siapa? Batin Ana bersuara dengan lantang.
“Itu lho... Mas Ganteng!”
“Mas Ganteng? Siapa sih?”
Ana bingung. Otaknya pun tak mampu menebak siapa itu ‘Mas Ganteng’
“Ihh... pake lupa-lupa segala. Itu loohh...” Ana mencondongkan tubuhnya agar pendengarannya tak salah dengar. “Fernando Wijaya.”
Ana berkedip beberapa kali, lalu menjauhkan wajahnya, dan merengut.
“Semenjak lo dateng dan salaman sama dia, matanya gak beralih barang semenit dari lo. Seriusan, gue rasa Sasha sama suaminya juga sadar.”
“Sebagai psikiater yang umumnya berurusan dengan pasien yang bermasalah, ternyata khayalan lo cukup tinggi.” Ana mencibir. “Dia punya mata, jadi dia berhak melihat ke arah manapun yang dia suka. Dan soal matanya gak beralih dari gue, lo salah liat. Kebetulan aja. Dia liat gue dan di detik yang sama lo juga liat dia. Gak ada yang lebih.”
“Kalo ada gimana? Tatapannya ke lo itu beda banget, serius deh.”
Bibir Ana menipis. Dia terdiam karena kehabisan kata-kata untuk menjawab.
“Tadi soal pernikahan, sekarang tentang Fernando Wijaya. Apaan sih ini maksudnya!” keluh Ana untuk mengubah topik.
“Kalo dia suka sama lo... gimana?”
Pertanyaan yang membuat jantung Ana berdegup kencang, bahkan sampai terasa sakit.
“Gue bakal bilang kalo kita gak bisa menjalin hubungan. Masalah selesai.” jawab Ana acuh.
“Lo bisa, gue tahu itu. Tapi kapan? Mau sampe kapan lo kayak gini?”
“Lo sahabat gue, Ver... gue yakin, lo tahu semuanya lebih baik dibandingkan yang lainnya.”
“Gue tahu, dan karena gue tahu makanya gue berusaha meyakinkan lo, Na. Kalo bukan gue, siapa yang bakal ngeyakinin lo, sementara gue yakin seratus persen kalo masalah ini hanya diantara kita berdua aja.”
“Lo emang sahabat gue, Ver... but, sorry... not for now.” Ana mencoba tersenyum meski hatinya sakit.
TBC