PERTEMUAN YANG MENYEBALKAN

2442 Words
Ana memasuki halaman luas sebuah perusahaan. Dengan kepala yang masih memakai helm, Ana mendongak dan melihat perusahaan di depannya. Besar sekali. “Mbak, gak boleh parkir di sini.” Ana terkesiap dan langsung menatap laki-laki setengah baya yang memakai seragam keamanan. “Oh, iya pak.” “Parkirnya di sana aja,” security itu menunjuk sebuah tempat parkir yang besar dan mampu menampung banyak sepeda motor. “Iya, pak, makasih.” Kata Ana sopan lalu diikuti dengan senyum ramah. Security itu balas tersenyum. Ana memarkirkan motornya, melepas helmnya, lalu bergegas untuk masuk. Bagian lobby yang biasanya penuh dengan karyawan berpakaian rapi kini berubah seratus delapan puluh derajat. Bagian itu dipenuhi oleh karyawan yang memakai pakaian casual. Beberapa karyawan tampak sendirian, tapi kebanyakan mereka datang dengan dua anggota keluarganya. Sesuai informasi yang di dapat, perusahaan ini memang mengizinkan satu karyawan membawa maksimal dua anggota keluarganya. Anggota keluarga tersebut akan mendapatkan fasilitas yang sama, yaitu pemeriksaan dan obat-obatan, sama seperti karyawan yang bekerja di sini. Mereka datang dengan sumringah dan hal itu pula yang mengembangkan senyum Ana. Dia senang melihat orang lain senang. Rasanya begitu melegakan dihati. Ana setengah berlari saat melihat lift akan segera naik membawa seorang pria. Dia tak boleh ketinggalan atau dia akan menunggu lebih lama lagi. Ana menggeleng. Dia tak mau. Dengan gerak cepat Ana datang dan menekan tombo agar lift tak jadi naik. Masa bodoh dengan orang di dalamnya yang mungkin marah. Dengan percaya diri Ana melihat jas dokternya. Orang tersebut akan langsung paham hanya dengan melihat jas dokternya. Ana bersiap mengembangkan senyumnya, tapi tak jadi saat melihat wajah orang yang ada di dalam lift. Dia, kan... *** Awalnya pria itu menunduk dan termenung dalam lift. Kepalanya langsung mendongak saat ada yang menghentikan lift ini. Wajahnya datar berusaha memasang ekspresi yang mengintimidasi. Tapi sayangnya hal itu tak terlaksana sesuai rencana. Dia terperangah, tak menyangka kalau dia akan menjumpai perempuan itu di sini. Senyumnya mengembang. “Ana?” Katanya seolah-olah tak percaya. Dengan kikuk Ana memasuki lift. Dia berdiri di agak jauh dari Fernando. “Selamat siang,” sapa Ana dengan formal. Fernando cemberut. Ana tak menatapnya. Bahkan Ana tak menyapanya dengan senyum ramah yang biasanya dia tebarkan untuk orang lain. “Saya lebih senang kalo kamu bersikap santai dengan saya, apalagi ini hanya berdua.” Ana lebih memilih meremas tangannya dibandingkan menjawab perkataan Fernando. Kesunyian melanda mereka berdua. TING “Saya harap kamulah dokter yang nanti memeriksa saya. Selamat siang, Ana.” Kata Fernando lalu bergegas pergi. Ana mendatap punggung kekar laki-laki dan menghela nafas. Sejujurnya, dia lebih berharap tak usah bertemu pria itu lagi. Pintu lift tertutup lagi dan kali ini mengantarkan Ana ke tempat tujuan yang sebenarnya. Tanpa Fernando, perjalanan terasa lebih cepat dan menyenangkan. Saat pintu lift terbuka, yang terlihat oleh penglihatan Ana adalah beberapa orang yang duduk di kursi yang disediakan. Mereka adalah pasien yang menunggu antrian. Kebanyakan pasien yang menunggu adalah orang-orang yang usianya di atas empat puluh tahun. Hm, sepertinya ini adalah bagian untuk memeriksa orang tua dari karyawan yang bekerja di sini. Ana tersenyum. Dia selalu senang jika melihat orang berusia lanjut yang akan dia periksa. Dia merasa seperti mengobati Mamanya sendiri dan itu yang membuat kebahagiaan tersendiri untuk Ana. Pintu terbuka dan keluarlah sosok Pras dalam balutan jas putih kedokterannya. “Baru dateng?” Pertanyaan itu langsung diangguki oleh Ana. “Gue telat banget, ya?” “Nggak kok, santai aja. Gue udah tugasin anak magang untuk nge-handle.” Anak magang untuk ng-handle? Ana bergidik sendiri membayangkan pemikiran itu. Setahu Ana, anak magangnya gak ada yang bener, gimana mungkin mau meng-handle hal sebesar ini. “Jadi... di mana ruang periksa buat Gue?” Ana bertanya. Lebih cepat, lebih baik. “Lo naik aja dua lantai lagi. Nah, disitulah tempat lo buat periksa pasien. Oh ya, sekilas info aja kalo lantai itu adalah lantai yang istimewa. Gue sendiri yang merancang pembagian tugasnya.” Ana mengernyitkan keningnya. “Lantai yang istimewa? Maksudnya?” Ana curiga pasti Pras melakukan sesuatu yang aneh-aneh. “Ya istimewa karena semua pasiennya masih muda-muda. Karyawan sini asli. Kalo yang disini kan ibu-ibu sama bapak-bapak atau bahkan sodaranya, nah kalo yang disana brondong semua.” Ana menganga sedikit. “Gue gak mau. Kita tukeran aja!” “Ck, gak bisa diubah-ubah. Pokoknya ini udah fix. Inget Ana, harus professional. Buruan naik sana.” “Pras, lo kan tau kalo gue gak suka ngurusin pasien yang masih muda-muda, apalagi cowok-cowok. Gue ogah. Mending ngurusin yang tua-tua, seriously.” “Ya ampun, Na... lo tuh susah banget sih. Gue sengaja ngelakuin ini supaya lo tuh liat betapa indahnya laki-laki ciptaan Allah dan gak seharusnya lo hindari makhluk yang satu itu. Gue Cuma pengen buka mata lo yang selama ini selalu tertutup kalo bahas laki-laki. Siapa tau ada yang cocok.” “Kalo gue diganjenin gimana? Kok lo tega sih ngumpanin gue?” Ana memasang wajah cemberut. “Lo tuh negative thinking terus. Percaya sama gue, lo bakal baik-baik aja. Gak akan ada yang kurang ajar ke lo. Udah sana, anak magang pasti butuh bantuan lo banget.” Tanpa mau dibantah, Pras membalikkan badan dan menghilang di ruangannya lagi. Ana mengelus d**a. Ana ingin menolak, tapi mau bagaimana lagi? Dengan menghentakkan kakinya, Ana naik 2 lantai lagi. Ana berkacak pinggang dan dalam hati Ana mengomel. Awas aja kalo ada cowok ganjen, gue suntik biar masuk rumah sakit bagian ICU. Beberapa menit menunggu, lift yang membawanya berhenti dan terbuka. Dan tampaklah kesibukan para dokter magang. Ana memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Dia melihat anak magangnya berlarian sana-sini. Mereka itu dokter apa kucing? Kenapa lari-larian sih? Kalo ada pasien yang sakit parah, dijamin langsung meninggal detik ini juga karena kelakuan anak magang ini. Ana suka dengan kedamaian, karena dengan kedamaianlah para dokter bisa bekerja dengan optimal. Ciri-ciri tempat yang penuh kedamaian adalah ruangan periksa milik Pras. Di sana benar-benar damai, tapi begitu masuk ke sini, kepala Ana langsung berdenyut nyeri. Semoga saja dia masih bisa bekerja dengan professional di tempat sericuh ini. Seorang anak magang yang menyadari keberadaanku langsung menghampiriku. Dia nyengir menunjukkan deretan gigi putihnya yang terawat. Dia memberikan map yang berisi tulisan tangan. “Ini daftar pasien yang udah diperiksa. Gejala, diagnosa penyakit, sama obatnya juga ditulis di sini. Oh ya, pihak rumah sakit menginformasi kalau obat-obatannya baru bisa datang setelah makan siang.” Ana membaca dengan teliti dan memastikan baik gejala, diagnosa penyakit, dan obat yang diberikan tidak ada yang salah. “Ya, kerja bagus.” Ana memuji karena kali ini tak terlihat tanda-tanda kesalahan. Anak magang itu tersenyum. “Inget, jangan sampe bikin kesalahan yang fatal. Nama rumah sakit bisa tercoreng karena hal itu.” Anak magang itu mengangguk mantap. “Ya, tenang aja dokter.” Katanya dengan PD. “Di mana ruangan saya?” Tanya Ana dan anak magang itu menunjuk ke arah pintu yang tertutup rapat. Ana mengangguk dan meninggalkan anak magang itu. Ana memasuki ruangannya. Dia merapikan jas dokternya dan sedikit riasannya. Ana menghentikan kegiatannya saat ada yang mengetuk pintu prakteknya. Pintu terbuka dan tampaklah sebuah pria dengan pakaian santai. “Siang dokter, saya mau periksa.” Pria itu tersenyum dan hal itu membuat Ana muak. Ana menipiskan bibirnya dan menghembuskan nafasnya pelan. “Ya, silakan masuk.” Ana mempersilakan dengan sopan. Professional Ana, dia pasienmu. *** Ana mengikat sendalnya yang bertali ditangga terbawah sebuah mushola. Ana baru saja menunaikan sholat dzuhur di mushola ini. Banyaknya pasien yang mengantri membuat Ana tak berkutik. Setelah mengundur waktu sholatnya selama setengah jam, akhirnya gadis cantik berhijab itu mampu menunaikan kewajibannya sebagai muslim. Ana beruntung karena dia tak perlu menempuh jarak cukup jauh untuk bisa sholat. Di perusahaan ini ternyata memfasilitasi karyawan yang islam untuk beribadah. Ana ingat sekali saat pertama kali masuk mushola ini, dia tersenyum karena tak menyangka sebuah perusahaan internasional yang sangat maju seperti ini memiliki mushola. Sangat jarang. “Dokter Ana!” Ana mendongak karena namanya dipanggil. Anak magangnya terlihat berlari kecil ke arahnya dengan senyum... jahil. “Kenapa?” Ana mengernyitkan keningnya menanti jawaban. Awas aja kalo gak penting. Dia berdehem sekilas dan membuatku semakin curiga. “Pak Fernando titip pesen, katanya dia lagi sakit dan pengen dokter Ana sendiri yang meriksa. Ditunggu diruangannya, gitu dok...” Fernando? Fernando Wijaya? Entah kenapa pipi Ana merona mengingat laki-laki itu. Astagfirullah, ada apa sih dengan dirinya? Ana berdehem sekilas untuk mengusir rasa aneh di dadanya itu. Dia menatap anak magangnya yang tampak cengengesan. “Kamu kenapa cengengesan kayak gitu?” ketus Ana. “Suruh dokter Pras aja. Saya masih banyak pasien.” putus Ana lalu mengedarkan pandangannya. “Gak bisa, dok. Dokter Pras lagi sibuk, disana banyak ibu-ibu yang kecantol pesonanya dokter Pras, makanya dia gak bisa gantiin.” “Ya udah, kamu aja gih.” “Ya ampun, dok... Pak Fernando requestnya dokter Ana, bukan dokter yang lainnya. Tinggal diturutin aja kenapa...” Ana merengut. Kenapa harus dirinya? Dia tak mau memeriksa Fernando Wijaya. Bahkan Ana tak ingin berurusan dengan Fernando Wijaya Lagi. Tapi kenapa seolah-olah keadaan malah membuatnya semakin dekat. “Daripada anak magang yang pergi...” gumam anak magang itu dengan nada misterius. “Kalo salah suntikan terus tambah parah gimana? Bukannya sembuh, malah masuk ICU...” “Iya-iya... saya yang bakal pergi. Kamu puas?” “Nah, itu baru dokter yang baik...” anak magang itu tersenyum puas karena berhasil membujuk Ana. Entah apa yang diberikan Fernando sampai dia berjuang sedemikian kerasnya. “Ruangannya ada di lantai berapa?” tanya Ana dengan nada cuek. Dia belum ikhlas sepenuhnya. “Ada di lantai empat puluh sembilan. Perlu ditemenin?” Anak magang itu mengedipkan sebelah matanya. Ana melengos. “Gak perlu.” Ana beranjak bangun dan bergegas pergi. “Hati-hati, dok... semangat yaaa...” Ana mendengar itu, tapi dia memilih mengabaikannya. Apa coba maksudnya hati-hati dan semangat? Emang dia mau bertempur! *** Pintu lift yang membawa Ana ke lantai empat puluh sembilan terbuka. Tiba-tiba saja jantung Ana berdetak semakin kencang. Saking kencangnya sampai Ana menyentuh dadanya sendiri. Ana terkesiap saat ada laki-laki yang menyapanya dengan formal. Dia menyunggingkan sedikit bibirnya. “Dokter Ana?” “Iya, dengan saya sendiri.” Ana gugup. “Pak Fernando sudah menunggu anda.” Pria itu menuntun jalan Ana. “Silakan,” pria itu mempersilakan Ana untuk membuka pintu dan bergegas masuk. Ana gugup. Pria yang diduga sebagai asistennya tadi sudah kembali ke tempat duduknya dan Ana masih mempersiapkan diri. Setelah dirasa siap, dia menekan knop pintu. Ruangan itu luas. Ada seperangkat sofa berwarna krem, beberapa lukisan abstrak yang indah, dan tentunya ada kursi kebesaran Fernando Wijaya sendiri. “Masuk, Ana...” Ana terkejut karena tiba-tiba Fernando sudah ada di depan matanya. Dari mana dia muncul? “Anak magang saya bilang kalo kamu sakit...” “Dan saya request harus kamu yang periksa.” pria itu menyela dengan senyum tampan. Tampan? Astaga Ana... “Ya, dan karena itu saya datang.” “Kamu butuh minum? Atau sesuatu? Karena kayaknya kamu bakalan lama di sini.” Ana mencoba tersenyum. “Saya gak butuh apapun, Pak Fernando... bisa kita mulai sekarang?” “Tentu...” Fernando duduk di salah satu sofa yang panjang, sedangkan Ana mengekori di belakangnya. Dia akan memeriksa, jadi tak bisa kalau berjauhan. “Ada keluhan?” tanya Ana dengan formal. Matanya mengedar dan menemukan apa yang dia cari. Peralatannya. Dia lupa jika saat kemari hanya membawa tas berisi mukena dan dompet saja. Tapi untungnya, di sini sudah disiapkan dan sepertinya peralatan yang di sini lebih mahal dan lengkap. Hm, wajar saja karena ini untuk memeriksa atasan. “Belakangan ini nafsu makan saya menurun. Setiap makan saya mual, makanya saya malas makan. Kadang saya juga suka pusing mendadak, tapi gak lama langsung baikan. Kadang saya juga bangun dini hari, abis itu gak bisa tidur lagi... jadi yah, waktu tidur saya semakin berkurang.” Ana berfikir sejenak, lalu mengarahkan stetoskop untuk memeriksa detak jantung Fernando. Diperiksanya dengan teliti setelah itu dia memeriksa beberapa obat-obatan yang ada. “Perutnya perih gak?” “Kadang perih... tapi saya lebih sering mengabaikannya karena menurut saya Cuma sepele.” Jawab Fernando dengan mata terus menatap Ana yang tampak sibuk memilah obat-obatan. Ya Tuhan, betapa cantiknya ciptaan-Mu ini... Dosakah ia jika mengagumi lawan jenis secara dekat seperti ini tanpa berkedip? Jelas dosa, tapi... “Penyakit besar biasanya berawal dari penyakit yang sepele...” Fernando mendengarkan nasihat Ana dengan serius dan dengan senyum penuh keikhlasan. Mengagumi mahakarya Allah yang begitu indah. “Saya sarankan sebaiknya anda di infus beberapa jam...” Hening Hening “Pak Fernando?” Ana mengernyit tak suka. “Hah?” Fernando terkesiap dan melihat raut tak suka Ana. Ah, dia ketahuan sedang memandangi perempuan ini dan perempuan ini tampak... marah! “Pak Fernando tidak mendengarkan saya?” gumam Ana dengan  mimik kesal. Dia berbicara panjang lebar hanya untuk diabaikan? “Maaf... saya lagi banyak pikiran tentang pekerjaan...” “Sepertinya bapak terkena maag. Penyebab anda muntah adalah karena asam lambung anda tinggi. Karena anda muntah, anda mengurangi makan dan itulah yang salah. Anda juga terlalu memforsir diri dalam pekerjaan. Pak, saya sarankan, sebaiknya atur waktu anda dengan baik karena kesehatan anda sedang tidak baik,” Fernando menganggukkan kepalanya dengan senyum yang tak lekang. Dia merasa seperti dinasehati istrinya. Rasanya menyenangkan, bahkan lebih menyenangkan dari pada memenangkan tender ratusan juta. “Dan saya sarankan anda untuk diinfus beberapa jam.” “Lakukan yang terbaik buat saya... silakan...” Fernando mengulurkan tangannya tanda siap untuk diinfus. Ana dengan wajah datarnya mempersiapkan semuanya. “Mungkin sedikit sakit, tapi tak akan lama...” Ana memberitahu. Fernando tersenyum. Lebih dari sedikit juga tak apa, dia rela, amat rela! *** Ana memperhatikan dalam diam. Pria itu sedang terlelap karena pengaruh obat. Ana masih di sini karena dia harus mengontrol kondisi Fernando. Diperhatikannya wajah yang matanya masih tertutup itu. Laki-laki itu memang tampan, garis wajahnya tegas, tubuhnya juga tegap. Dari materi tak usah diragukan lagi. Siapapun yang jadi istrinya pasti akan bahagia. Dia terlihat seperti laki-laki yang akan hangat pada anak dan istrinya kelak. Intinya, suamiable banget! Tapi, entah kenapa itu tak mampu menarik minatnya. Baginya, pria di depannya sama saja. Tak ada bedanya dengan laki-laki lain. Yah, dia terlalu sakit hati sampai tak mau membuka hatinya lagi. Rasanya lukanya masih menganga dan akan sakit. Ana adalah tipikal yang peka dan dia tahu kalau laki-laki itu sepertinya tertarik padanya. Ana tak memungkiri ketika dia ditatap penuh cinta oleh Fernando akan menimbulkan sensasi tersendiri, bahkan ketika nama laki-laki itu disebut sekalipun. Ana tahu Fernando berharap padanya, tapi sayangnya Ana tak bisa memenuhi harapan pria itu. Tapi bagaimana caranya memberitahu? Fernando terlihat gigih dan Ana terlihat lemah dalam hal ini. Dan bukankah yang lemahlah yang akan kalah? Entahlah, Ana tak mau memikirkannya. Ana yakin, Allah sudah menyiapkan rencana yang lebih baik. Apapun yang terjadi biarkanlah terjadi dan Ana akan menghadapinya. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD