“Ya ampuuun, anak Mama yang cantik udah pulang...” Mama berseru senang saat melihat anak bungsunya datang meski wajahnya sedikit ditekuk. “Ada angin apa ya sampe anak Mama yang cantik ini mau pulang? Biasanya juga ke apartemen dan lupa rumah.”
Itu sindiran yang membuat Ana menghela nafas.
“Ana baru pulang Ma, seharusnya ditanyain udah makan apa belom, bukannya disindir kayak gini.”
“Ya abisnya, kamu jadi anak nyebelin. Mentang-mentang udah punya apartemen, rumah tua Mama sama Papa langsung dilupain.”
“Ya kan lebih deket sama rumah sakit, daripada jauh terus ada apa-apa di jalan?”
“Hussh... mulutnya kalo ngomong!” sembur Mama marah.
Ana tersenyum dan mendekat.
“Assalamualaikum Mamaku yang cantik...” sapanya lalu mencium tangan perempuan yang sudah melahirkannya itu.
“Waalaikum salam, udah makan belom?” Ana menggeleng, lalu sang Mama langsung menggiring Ana untuk masuk.
“Mas Ilham mana? Kok sepi sih?” Ana bertanya karena bingung. Sekarang dia ada di dapur dengan Mama yang tampak sibuk mengambilkan lauk pauk untuknya. Ana tersenyum. Diusianya yang sudah kepala tiga ini Mamanya masih sangat memperhatikannya layaknya anak kecil.
“Biasa sih, kayak kamu gak tahu aja. Dia lagi telponan sama calon istrinya.” Mama memberitahu sambil menghidangkan sepiring makanan penuh di hadapan Ana. “Makan yang banyak yah...”
Ana menyendok makanannya. Dikunyahnya pelan-pelan dan tersenyum cerah. Rasa masakan Mamanya tetap sama, tak ada bedanya.
“Gimana persiapan pernikahannya?”
“Lancar-lancar aja... semuanya beres dan tinggal nunggu akad doang.” Jawab Mama dengan senyum sumringah. “Sebentar lagi Mas-mu menikah, kamu juga pasti bakal nyusul. Ah, ternyata anak-anak Mama udah pada gede-gede yaa...”
Ana melihat itu. Air mata Mama berkaca-kaca. Walau senyum yang Mama tampilkan mampu menipu, tapi tidak kepada Ana.
“Mama tenang aja, Ana gak akan nikah secepet itu kok. Ana bakal nemenin Mama sampe puas dulu, baru nikah.”
“Ngomong apa sih kamu ini,” Mama menoel lengan Ana pelan yang membuat Ana merengut. “Mama malah pengen kamu cepet nikah, kamu tuh udah sepantasnya nikah. Liat temen-temenmu, udah pada gendong anak, kamu kapan?”
Ana memutar bola matanya. Kok kayak senjata makan tuan sih? Ana bilang seperti itu untuk menghibur Mama, tapi Mama malah mengungkit-ngungkit masalah kapan dia nikah.
“Kapan-kapan, Ma...” jawab Ana dengan malas-malasan.
“Kamu nih, kalo ditanyain soal nikah-nikah pasti jawabnya gitu. Gak baik perempuan gak menikah-menikah, nanti malah timbul perzinahan lho.”
“Ya kalo gak ada calon memangnya mau gimana lagi?”
Mama memajukan tubuhnya. “Tapi masa gak ada calon sih? Laki-laki satu yang nyantol hatimu... masa gak ada satu pun?”
Dan pertanyaan Mama langsung mengingatkan Ana pada Fernando. Fernando yang sedang tersenyum tampan ke arahnya. Astagfirullah hal adzim... Ana langsung memasukkan sendok berisi nasi yang sebelumnya menggantung karena teringat pria itu.
“Gak ada, Na?” desak Mama.
“Gak ada, Ma!” jawab Ana cepat.
“Apa perlu Mama yang cariin? Kayaknya Mama punya kenalan deh ibu-ibu yang anak laki-lakinya ganteng, mapan, dan siap menikah.”
Ana tersedak makanannya. Ana minum air putih di sebelahnya hingga tandas lalu memasang ekspresi marah. “Mama jangan aneh-aneh... ini bukan jamannya Siti Nurbaya.” Ana mengeluh. Jelas dia mengeluh. Hari gini... masih dijodoh-jodohin... nggak mau lah yaaa!
“Mau ini zaman Siti Nurhaliza, Siti Nurbaya, Siti Nur Azizah, atau Siti-Siti yang lainnya... intinya kalo susah nikah ya dijodohin. Daripada jadi perawan tua...”
Mata Ana dan Mama beralih fokus pada suara yang datang itu. Ana mendengus karena kakak laki-lakinya malah berkata seperti itu.
“Oh gitu... jadi mau ngejerumusin adeknya?” ketus Ana yang membuat Ilham, kakaknya terkekeh.
“Makanya kalo dikasih waktu buat milih sendiri ya dimanfaatin, bukannya dianggap angin lalu aja.”
“Ya namanya gak ada yang mau gimana lagi, Mas?”
“Kamu tuh dokter muda, cantik, berbakat, calon istri favorit pokoknya, tapi masa gak ada satupun?” Ilham menaikkan alisnya menggoda.
“Gak ada ya gak ada.”
Sang Mama terkekeh mendengar pertengkaran adik kakak yang jarang terjadi ini, tapi begitu terjadi akan membuat heboh.
“Mama juga sempet mikir gitu, Ham. Masa iya, anak Mama secantik ini gak ada yang deketin.” Curhat Mama. “Kira-kira, kamu punya kenalan gak? Laki-laki single, mapan, dan cocok dijadiin mantu?”
“Banyak, Ma... tapi ya gitu, Ana-nya susah kalo disuruh deket.” Kata Ilham tanpa memikirkan adiknya yang sekarang sudah gondok mendengar dialog aneh ini.
Sebelumnya mereka ngomongin apa sih kok bisa sampe ke pernikahannya?
“Eh Ma... Ana waktu itu kayaknya bicara tentang cowok deh... siapa sih? Dia kolega kita kok...” Ilham mencoba berfikir dengan keras. Wajah Ana langsung panik. Pikirannya langsung tertuju ke Fernando.
Please, jangan sebut nama Fernando!
“Oh ya... namanya Fernando Wijaya. Waktu itu Ana sempet bicarain dia dan Ana keliatan sebel deh. Kayaknya mereka ada something deh, Ma...” Ilham memprovokasi. Mata Mama yang sudah kepengen anaknya menikah langsung berbinar.
“Serius?”
Ilham mengangguk, tapi Ana menggeleng tegas. “Gak ada apapun antara aku sama Fernando, Mama jangan percaya Mas Ilham!”
“Bohong deh, Ma...”
“nggak, Ma... jangan percaya, Mas Ilham bohong!”
Ana bersikukuh dengan sikap keras kepalanya. Mama tersenyum menggoda.
“Ngeliat respon kamu yang kayak gini, Mama percaya Ilham.” Kata Mama yang langsung membuat Ilham bersorak senang. “Mama penasaran sama laki-laki itu... siapa namanya?”
“Fernando Wijaya.”
“Fernando... Wijaya...” Mama menganggukkan kepalanya. “Namanya aja ganteng, apalagi orangnya!”
Ana menghembuskan nafas muak. Ditutupnya telinganya. Dia tak mau mendengar, apalagi nama Fernando disebut-sebut dengan bahagianya oleh keluarganya.
***
Keluarga besar Ana sedang sibuk sekarang. Ada yang sibuk mondar-mandir, menata sesuatu, dan bahkan dandan. Ini hari penting. Ya, pernikahan yang dinantikan oleh keluarga besar Ana akan berlangsung hari ini. Kakak Ana, Ilham, akan menikah hari ini dengan pujaan hatinya.
Ana mendengus menatap kakaknya yang tampak gusar. Dari tadi mondar-mandir terus dengan raut wajah tak tenang. Mau nikah atau mau dihukum mati sih, Mas? tanya batin Ana yang jengah melihat kelakuan kakaknya.
“Duduk kenapa sih? Pusing aku ngeliatnya!” keluh Ana sambil mengedarkan tatapannya. Kamar kakaknya ini sudah disulap menjadi lebih romantis.
“Kamu gak ngerasainnya, dek, makanya bisa santai kayak gitu.”
Emang!
“Ya tapi gak sampe kayak gitu juga kali. Minimal duduk, biar gak capek. Jalan mondar-mandir gitu Cuma buang-buang tenaga.”
Ilham menuruti apa kata adiknya. Dia duduk dan mengatur nafasnya, mencoba menenangkan emosi yang meluap-luap karena sebentar lagi akan menikah.
“Nanti kalo kamu menikah pasti ngerasain!” Katanya bagaikan kutukan. Ana terkekeh. Dalam hati dia mengamini apa kata kakaknya. Dia perempuan normal, jadi wajar jika ada secercah harapan itu.
“Kamu tuh cantik, Na. Cuma sayang, susah sih dideketin. Cowok mau deketin aja takut,” Ana tahu ke mana arah pembicaraan ini.
“Jadi perempuan gak boleh jual murah, Mas.” Ana memberitahu.
“Tapi jangan kemahalan juga...” Ana hanya mengulum senyum miris. “Laki-laki single tuh kayak ibu-ibu rumah tangga, Na. Pengennya dapet yang paket komplit, tapi jangan yang mahal-mahal. Kalo kemahalan dia takut ngeliriknya, takut terlanjur suka tapi gak ada duitnya. Tapi kalo kemurahan males juga karena pasti sudah sering dilirik dan pasaran.”
“Mas ini ngomongin apa sih? Ngaco!” Ketus Ana menutupi sedih yang mulai menggelayutinya. Ilham sadar itu, tapi dia memilih mengabaikan dan melanjutkan nasihatnya.
“Sejauh ini kamu sempurna. Kamu dokter, kamu berhijab, pinter masak walau jarang masak, kamu juga pribadi yang menyenangkan kalo sudah bener-bener kenal. Kamu juga calon ibu yang baik, tapi sayangnya belom ada laki-laki yang beruntung dapetin adeknya Mas ini.”
Mata Ana mulai berkaca-kaca. Please, dia lebih memilih Mamanya yang menasehati seperti ini dibandingkan kakaknya. Dia tak bisa. Ana selalu cengeng dengan kakaknya. Sejak masuk SMA Ana berubah menjadi sosok yang pemendam. Dia menjadi lebih tertutup dan tak mau cerita padahal sebelumnya dia sangat antusias berbagi cerita dengan kakaknya. Apapun diceritakannya, bahkan hal sepele di sekolah pun tak luput.
Dan sekarang, ketika dia sudah sangat lama memendam sakit di dadanya, tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang memberikan motivasi ataupun solusi, dia ingin bercerita pada kakaknya. Menceritakan keluh kesahnya dan akhirnya mendapatkan dukungan dari kakaknya. Ana membutuhkan itu, tapi dia menahannya. Lagi dan lagi. Alih-alih menceritakan, Ana malahan memeluk kakaknya dari samping dengan air mata berderai.
“Kalo ada apa-apa cerita, jangan ditahan sendiri...” Kalimatnya menohok Ana, tapi gadis itu memilih menahannya.
“Mas jangan nikah yaa...”
Ilham melepaskan pelukan Ana. Dia terkekeh. “Ya gak maulah. Mas gak mau jadi perjaka tua!”
Ana memukul d**a kakaknya karena menanggapi kesedihan hatinya dengan guyonan. “Kalo Mas nikah yang jagain aku siapa?”
“Makanya Mas nyuruh kamu nikah, biar ada yang jaga.”
Ana melepaskan pelukannya dengan kasar dan memasang wajah galak.
“Oh gitu, jadi Mas udah gak mau jagain aku lagi? Udah capek jagain adeknya, hah?” ketus Ana yang justru terlihat lucu. Mata sembab habis menangis tapi berlagak galak.
“Bukan gitu...” Ilham merangkul kembali adiknya. “Mas gak akan bosen jagain kamu, tapi Mas takut adakalanya di mana Mas gak bisa jagain kamu, gak bisa sama kamu terus-terusan, nah disitulah kamu perlu laki-laki yang memang sepenuhnya akan ada buat kamu.” Ilham menjeda. “Kamu tahu, kan kalo Mas sebentar lagi bakal nikah? Mas akan menghabiskan banyak waktu Mas dengan istri. Mas gak akan melupakan keluarga kandung Mas, tapi memang itu kodratnya. Mas punya seseorang yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Makanya Mas sama Mama gencar nyuruh kamu menikah. Mama sama Ayah udah tua, gak ada yang tahu sampe kapan...”
“Mas kok ngomongnya gitu sih!”
“Itu kenyataannya. Semua yang hidup pasti akan meninggal, kamu gak bisa melarikan diri dari kenyataan itu, dek.”
“Tapi jangan diungkit-ungkit juga. Aku gak mau...”
“Makanya cepet nikah. Biar kamu ada yang jaga dan setelah itu Mama, Ayah, sama Mas bakal tenang.” Ilham tersenyum sambil mengusap punggung adiknya. Matanya menerawang masa depan yang indah. “Kalo masih ada waktu, kan kita bisa ngasih Mama sama Ayah cucu yang banyak, tapi kalo nggak, setidaknya mereka bakal tenang karena anak-anaknya udah bahagia dengan pasangannya masing-masing.”
“Ihh... ngomongin apa sih ini!”
“Ilham... Ana?”
Suara Mama yang khas langsung terdengar di telinga Ana. Dia menatap ke arah pintu, begitupun dengan Ilham, dan tak lama kemudian pintu terbuka. Menampilkan sosok Mama yang sudah siap dalam kebaya.
“Ya Allah kalian ini! Bentar lagi salah satu dari kalian tuh nikah, tapi masih bisa ya mesra-mesra kayak gini. Pokoknya setelah menikah Mama gak mau tahu, kalian gak boleh kayak gini lagi.”
Mama mengomel karena kelakuan adik kakak yang kelewatan ini. Semalam sudah mesra-mesraan, dan paginya menjelang akad juga mesra-mesraan. Meski kakak adik, tapi tetap saja jika ada yang melihat seperti ini pasti akan salah sangka.
“Jangan ngomel-ngomel, Ma. Aku nih mau nikah, masa diomelin.”
“Ya suruh siapa kelakuanmu kayak gitu!” sembur Mama. Ilham dan Ana terkekeh-kekeh. “Udah buruan, bentar lagi kita berangkat ke rumah calonmu.”
Jantung Ilham langsung berpacu dengan cepat saat Mama berkata. Sebentar lagi dia menikah. Sebentar lagi... dalam hitungan jam.
***
“Ya ampun... yang mau nikah siapa sih? Kok kayaknya auranya Ana lebih mencolok dibandingkan Ilham ya.”
Canda salah satu bibi Ana ketika Ana dan Ilham menuruni tangga. Ana menggelengkan kepala tak percaya. Bibinya ini satu komplotan dengan Mama yang ngebet dia cepet nikah. Di bawah sudah ramai sekali. Keluarga besar Ana berkumpul dengan rapi. Mereka sudah cantik-cantik dan juga ganteng-ganteng.
“Kenapa, Ham? Kok mukanya lesu gitu?” nyinyir salah satu Bibi Ana saat melihat tampang Ilham yang gundah gulana.
“Sakit ya? Haduuuhh, bisa gawat ini. Bisa batal pernikahan hari ini!”
“Sehat kan, Ham? Apa mau pernikahannya dibatalin dulu?” Celetuk salah satu bibinya yang langsung membuat Ilham merengut.
“Enak aja, gak boleh. Ya Allah, kalian kenapa sih kok gini? Tambah deg-degan nih lhoo.”
Seisi ruangan tertawa dengan jawaban Ilham. Mamanya hanya geleng-geleng kepala saja.
“Ya abisnya, tuh muka keliatan banget galaunya. Bentar lagi halal kok, jadi bisa deket-deket memuaskan diri.” Ruangan langsung heboh karena kalimatnya sedikit menjurus ke hal-hal aneh.
“Ciee yang nanti malam pertamaan!!”
Yang menggoda sangat bersemangat, yang digoda justru wajahnya merah padam menahan malu.
“Jangan gugup, Ham, biar nanti pas akad lancar. Kalo tiga kali kamu gagal ngucap ijab qabul, maka pernikahan harus ditunda. Kamu gak mau kan itu terjadi? Bisa-bisa gagal malam pertamaan, lho.”
“Ya kalo gagal tinggal gantiin Ana aja. Biar Ana yang nikah hari ini!”
Celetuk salah satunya yang langsung membuat mata Ana membulat. Dia?Jangan ngimpi deh
Semua tertawa bahagia dengan godaannya masing-masing, tapi dalam hati Ilham berdoa semoga hal itu terjadi. Ini pernikahannya.
“Siap nih? Ayo berangkat. Takutnya kena macet nanti.” Suara itu menghentikan keramaian. Semua diam dan langsung menganggukkan kepala menyetujui.
“Ya udah, yuk! Pengantin laki-lakinya udah ngebet banget, kasian!”
Ayah Ilham hanya menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja keluarganya ini.
***
Keluarga Ana sampai sekitar jam sembilan. Di depan gerbang rumah pengantin wanita sudah berjejer para tetua dari keluarga ini. Mereka berdiri dan akan menyambut keluarga mempelai pria.
Satu persatu masuk dan duduk dibangku yang disediakan. Semua melenceng dari dugaan Ana. Ana kira, begitu sampai akan langsung diadakan ijab qabul, semua selesai, lalu pulang. Tapi ternyata tidak seperti itu.
Ada sesi sambutan yang isinya basa-basi saja. Ougghh. Ana mengerang dalam hati. Dia tak suka acara seperti ini. Rumit, apalagi dengan dirinya yang memakai kebaya yang terlalu membentuk lekuk tubuh dan gatal dikulit. Dia tak betah.
Ana sudah ada rencana. Begitu acara di sini selesai, Ana akan langsung ke rumah sakit. Sttt, ini rahasia. Ana tetaplah Ana. Dia tak bisa mangkir dari rumah sakit hanya karena kakaknya menikah. Dilihat dari sisi etika, tindakan yang dia lakukan ini salah... tapi, mangkir dari rumah sakit juga salah. Apalagi hari ini dia punya banyak janji temu.
Tapi kalau seperti ini... sepertinya Ana akan telat. Entah seperti apa Mamanya akan memarahinya, itu urusan nanti, dipikirkan nanti juga. Ana duduk dengan tak sabaran di karpet yang disediakan. Acara utama akan segera dilakukan dan dia bisa segera pergi. Kembali bekerja dan bebas dari kebaya yang membuat gatal ini. Semua rombongan dari keluarga Ana duduk, begitupun dengan keluarga mempela wanita.
Ana menegakkan bahunya karena penasaran. Mana calon kakak iparnya? Ana penasaran mana perempuan cantik yang berhasil mengambil hati kakaknya itu. Ah, mungkin baru keluar setelah wali bilang sah.
Upacara sakral itu dimulai. Dimulai dengan doa dan diakhiri dengan doa pula. Ana menghembuskan nafas lega karena kakaknya berhasil mengucapkan ijab qabul dalam sekali tarikan nafas. Kakaknya sudah menikah, sudah tak akan seperti dulu lagi padanya. Antara bahagia dan sedih.
Semua mata memandang pengantin wanita yang sekarang sedang berjalan perlahan menuruni tangga. Ana ikut memperhatikan. Cantik. Pantas kakaknya begitu ngebet pengen nikah. Ana melirik kakaknya dan ternyata kakaknya itu tak sungkan-sungkan melihat istrinya. Dan dari matanya, Ana tahu kalau kakaknya menatap istrinya dengan pandangan jatuh cinta untuk ke sekian kalinya.
Ana ikut melow saat sesi pengantin saling tukar cincin, lalu dia sadar. Ini saat yang tepat untuknya kabur. Daritadi Mama terus mengikutinya, menjaganya agar tak kabur, dan sekarang saatnyalah pergi. Mamanya sedang melow.
“Ma... mau ke toilet...” bisiknya.
“Mau ditemenin gak?” Ana tersenyum. Ah, gampangkan?!
Ana menggeleng cepat. “Gak usah, aku bisa sendiri kok.”
“Ya udah, cepet ya, jangan lama-lama!”
Ana mengangguk mantap. Maaf, Mama!
Ana berjalan dengan santai ke arah yang sangat bertujuan kalau mau ke toilet. Karena kesantaiannya, sampai-sampai tak ada yang mencurigainya sama sekali. Semua orang masih terharu dengan momen sakral di dalam. Di luar lengah dan Ana bisa pergi begitu saja. Yeeaayy!
Tujuan Ana sekarang adalah rumah sakit. Ana tersenyum senang. Dia bahagia kakaknya sudah menikah dan dia juga bahagia karena berhasil lolos dari penjagaan Mamanya. Bahagianya. Rumah sakit... I’m coming!
***
Ana keluar dari rumah sakit dengan tergopoh-gopoh. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Belum terlalu malam, tapi Mamanya sudah heboh menyuruhnya pulang. Katanya untuk foto keluarga.
Ya juga sih, masa kakaknya menikah, tapi tak ada satupun foto yang ada dirinya nanti. No... No!
Untung gedung acara resepsi tidak jauh dari rumah sakit, makanya Ana bisa sampai secepat kilat. Dia ngos-ngosan dan langsung disambut dengan Vero yang tampak galak sekali.
“Lo nih, Naaaaa. Kakaknya nikah malah kerja. Ya ampu,. adek macem apa Lo ini, Na!” Ana menatap Vero dengan tatapan polos. Matanya berkedip beberapa kali tanpa menjawab. Dia memilih diam.
“Lo kelewatan, asli. Lo tahu Tante daritadi uring-uringan karena anak gadisnya milih kerja dihari spesial kakaknya. Lo masuk palingan langsung di gule sama Tante!”
“Ya urgent, Ver... “
“Urgent apaan?”
“Ya ada operasi mendadak gitu...”
“Lo kayaknya udah ambil izin deh kemaren, tapi kok hari ini bisa masuk?” Vero mengernyit bingung dengan kenyataan yang seharusnya, tapi dia berfokus lagi. “Kan dokter banyak, bukan Cuma Lo doang kali!”
Emang sih, tapi kan...
“Ya gak bisa pokoknya!” kekeuh Ana.
“Terserah Lo... terserah Lo...” Vero mengibaskan tangannya tak mau tahu. “Yang jelas sekarang Lo masuk karena sebentar lagi sesi foto bersama bakal dilakuin.”
“Oke, sip!” Ana bergegas berlari, tapi dicegah lagi.
“Lo mau pake apa?” Vero menatap penampilan dengan horor. Gak mungkinkan Ana masuk dengan jas dokternya. Apalagi ada sedikit noda darah.
Ana nyengir. Dia mengangkat paperbag yang dibawanya. “Kebaya gue pagi tadi, tenang aja!” Vero menghembuskan nafasnya lega.
“Ya udah, buruan masuk!”
Ana mengacungkan jempolnya. Vero menggelengkan kepala melihat Ana yang langsung lari kalang kabur menuju ruang ganti. Ada ya orang seperti itu.
***
Ana celingukan mencari Mamanya. Dia selesai berganti pakaian. Dia sudah memakai kebayanya yang tadi pagi dan juga hijab yang modern yang sedikit rumit.
Mama mana sih?
Matanya mengedar sambil sesekali menggaruk lengannya yang mulai gatal karena kebaya. Ah, dia menemukan Mamanya. Mamanya dan keluarga besarnya sudah di atas pelaminan. Mereka akan berfoto keluarga tanpa dirinya.
Dengan buru-buru, meski memakai kebaya, Ana melangkah cepat, bahkan bisa dibilang lari. Lari dengan kebaya bukanlah pilihan yang baik. Untung ruangan resepsi ini sudah mulai sepi, tak terlalu banyak orang yang menghalangi jalannya.
Ana berlari dan begitu terkejut saat ada tubuh besar yang tiba-tiba di depannya. Ana tidak bisa mengerem dan akhirnya dia menabrak. Kepalanya menabrak d**a pria itu. Dia langsung membekap bibirnya karena kaget.
Ya ampun, Ana... Lo bukan anak remaja labil yang bertindak sembrono.
Ana salah, tapi dia tak mau sepenuhnya disalahkan. Pria ini yang tiba-tiba menghalangi jalannya. Dia mendongak dan betapa terkejutnya Ana melihat sosok di depannya.
“Fernando?”
Laki-laki itu mengumbar senyum tertampan. Biasanya Ana akan acuh, tapi kali ini dia malah salah tingkah. Apa dia baru saja bertingkah bodoh di depan laki-laki ini? Ya ampun Ana... bodoh banget sih!
“Jangan lari-lari, kamu bisa jatuh... apalagi kamu pake kebaya.” Sebuah nasihat yang membuat jantung Ana berdiskoan. Ana meneguk ludahnya. Fernando sedang mengamatinya.
“Ah ya...”
“Ana!!”
Teriakan yang menggema membuat Ana sadar. Mamanya sedang menunggunya.
Ana mnangkupkan tangannya di depan wajah, lalu berujar, “Maaf...” detik berikutnya Ana sudah melesat menuju keluarga besarnya yang sudah menunggu di atas pelaminan.
Fernando memperhatikan. Dia tak suka Ana berlarian seperti itu, berbahaya. Makanya dia tadi mencegat Ana karena ingin mengingatkan. Tapi perempuan itu mengulanginya. Ah, dia juga tak suka Ana memakai kebaya itu. Cantik memang, tapi cukup membentuk lekuk tubuh yang membuat Fernando cemburu.
***
“Kenalkan, ini putri bungsu saya... Anastasia Maharani.”
Mama memperkenalkan Ana pada kolega bisnis keluarganya. Ana mengernyit tak suka karena kebanyakan laki-laki. Ana menangkupkan tangannya di depan d**a saat diajak bersalaman normal. Dia tersenyum dan orang yang mengajaknya bersalaman langsung sadar dan menarik tangannya dengan kikuk.
“Ini yang dokter itu ya? Cantik ya. Masih muda lagi.” komentarnya. Ana menyunggingkan senyum tipis.
Setelah sesi foto bersama keluarga, masih ada satu acara lagi. Acara ini hanya ditujukan pada kolega bisnis yang sangat penting. Yaitu makan malam bersama di restoran dengan private room. Hanya keluarga inti dan beberapa tamu undangan penting. Dan salah satunya ada sosok Fernando.
Ana agak canggung saat Mamanya mengenalkannya pada laki-laki itu. Mamanya pasti sengaja. Mama pasti tahu kalau Fernando Wijaya yang diungkit-ungkit waktu itu adalah sosok di depannya.
“Ana ya? Wah, cantiknya...”
“Makasih, Om.” jawab Ana pelan.
“Oh ya, kenalin ini anak Om. Namanya Fernando Wijaya.”
Ana mencoba menyunggingkan senyum sewajarnya, meski nyatanya bibirnya berkedut menahan tawa. Entah karena apa. Dia ingin bersikap biasa saja, layaknya belum kenal, tapi sayangnya Fernando menghancurkannya.
“Udah kenal, Pa. Dia dokter yang dikirim untuk pelayanan kesehatan perusahaan kemaren.”
“Wah, serius?”
Fernando mengangguki dan laki-laki tua itu tersenyum penuh makna ke arah Ana lalu ke arah ibunya Ana. Ana salah tingkah lagi.
“Udah yuk duduk. Sebentar lagi makanannya siap.” Mama Ana menuntun Ana menuju mejanya. Mejanya berbentuk bundar dan muat untuk diisi lima orang. Ada Ana, Mamanya, Ayahnya, Kakaknya, dan Kakak iparnya.
Begitu duduk, Ana langsung ditatap dengan tatapan tajam kakaknya. Dia mendengus. Adiknya ini benar-benar... menyebalkan. Bagaimana mungkin dia meninggalkan acara pernikahan kakaknya hanya untuk pekerjaan? Seolah-olah tak kerja sehari membuatnya tak mendapat gaji bertahun-tahun lamanya.
“Jadi ini yang namanya Ana, ya?” suara lembut itu membuat semua mata tertuju padanya. Salah, kepada Ana maksudnya.
Ana menggaruk pipinya lalu tersenyum tipis. “Iya, halo kakak ipar.” sapanya seramah dan seriang mungkin.
“Loh, kok canggung gitu sih? Kayak baru ketemu aja?” Celetuk salah satu kolega mereka.
“Jelaslah belom kenal. Pas lamaran mangkir, pas kunjungan keluarga mangkir, pas akad mangkir, pas resepsi mangkir juga. Gimana mau kenal?!”
Sindiran kakaknya begitu pas mengenai Ana. Gadis itu hanya bisa tersenyum malu-malu. Jujur saja, ini adalah first time Ana bertemu dengan istri kakaknya itu. Ada begitu banyak alasan Ana untuk tidak ikut acara-acara yang dibuat kedua belah keluarga. Tapi dia sangat merestui kakaknya menikah dengan kakak iparnya. Dia sudah suka dengan perempuan ini bahkan ketika kakaknya menunjukkan foto gadis itu di ponselnya.
“Urgent, Mas. Kalo pasienku pada meninggal gimana? Kan kasian...” Ana membela dirinya sendiri dan Ilham tak mau tahu sama sekali.
Makanan datang dan langsung dibagikan oleh pelayan. Lumayanlah untuk mengakhiri percakapan. Mereka makan dan sesuai etika makan, tidak ada yang bicara. Selesai makan barulah mereka mengobrol lagi.
“Ana ini udah ada yang punya atau masih single?” pertanyaan dari Papanya Fernando membuat Ayah Ana tergelak.
“Single. Ana susah sekali kalo disuruh menjalin hubungan yang serius, katanya masih betah di karir.” Ayah menjawab dengan santai. Khas kebapakan sekali.
“Karir mah jangan dikejar terus, gak ada habisnya. Anak saya ini juga gitu,”
Fernando tetap bersikap santai meski sekarang dirinya sedang dibawa-bawa dalam percakapan. Dia terlihat sedang mengelap sudut bibirnya dengan serbet.
“... Terlalu santai dan asik dengan karirnya, sampai lupa waktu untuk membangun rumah tangga.”
“Ya, Ana juga kayak gitu. Saya sama Mamanya sampe bingung gimana cara nasehatin yang paling efektif biar dia nurut.”
“Kalian berdua kayaknya cocok deh.”
Ana mendongak dan menatap Papa Fernando dengan tatapan tak percaya. Beliau barusan bilang apa? Aku cocok dengan anaknya? No! Ayah hanya menanggapi dengan gelak tawa, yang kemudian disusul oleh Mama, Kakak, lalu istrinya yang tersenyum malu-malu. Ana mulai tak suka.
“Kayaknya sih iya. Kalo kalian dijodohin, mau nggak?” celetuk Mama.
“Ma!” Ana mencubit lengan Mama yang ada di dekatnya. Mama ngaco!
“Saya gak keberatan kok, Tan.” sahut Fernando cepat dengan senyum misterius. “Anastasia Maharani, kamu single, kan? Saya tertarik sama kamu. Saya gak keberatan dengan perjodohan itu. Kamu gimana?”
Dan waktu seakan berhenti detik itu juga. Dia tak salah dengar, kan? Pria yang baru bertemu dengannya beberapa kali sudah menyatakan ketertarikannya? Astaga, mimpi buruk apa ini!
TBC