Ana dan rombongannya sampai di Palestina dengan selamat. Selama perjalanan Ana gemetar karena takut. Ya dia takut. Bahkan ada rasa menyesal begitu kakinya menginjak tanah Gaza. Walau keadaannya tenang, tapi ada beberapa puing-puing berserakan yang menandakan beberapa waktu sebelumnya sudah terjadi perang. Tapi ketakutan Ana sirna saat dia disambut dengan hangat oleh warga gaza. Dia berfikir, kenapa dirinya harus takut padahal dia baru saja tiba. Bayangkan saja warga Gaza yang sudah berada di sana sejak dulu. Dia tidak boleh takut. Dia tidak sendirian di sini. Setelah beramah tamah dengan warga Gaza, Ana dan rombongan lainnya di antar menuju rumah yang sengaja dibangun untuk para relawan Indonesia. Di rumah itu Ana disambut oleh perempuan. “Assalamualaikum, ukhti...” sapanya lembut lalu

