Geya sekali lagi melirik Dharma dengan mata membeliak panik.
“Em … Mas, kalau kamu nggak mau makan disini kita ke tempat yang lain aja. Tempat biasa kamu makan,” ucapnya setengah berbisik.
Mobil mereka sudah lima menit terparkir di bahu jalan dan Dharma masih terus memandangi warung soto pinggir jalan yang teramat ramai itu.
“Kamu pernah makan di situ?” Dharma melipat tangannya di depan d**a—pose yang sering ia lakukan setiap kali sedang menilai sesuatu.
“Pernah.”
“Enak?”
“Enak.”
Kini, Dharma menatap Geya dengan ekspresi serius. “Kamu termasuk pelanggan tetap warung itu?”
Pertanyaan Dharma yang tak terduga membuat Geya harus berpikir keras terlebih dahulu. “Bisa dibilang begitu. Aku seminggu sekali pasti mampir.”
“Seriously?” Dharma menatap Geya tak percaya. “Lihat tempatnya, Ge!”
Geya mengedipkan matanya beberapa kali, menatap warung soto itu dengan serius. Memangnya ada yang salah?
“Tempatnya di pinggir jalan. Kokinya nggak pakai sarung tangan, mejanya tidak dibersihkan, bahkan dia naruh meja lesehan di trotoar. Bayangin seberapa banyak debu yang kamu makan,” cecar Dharma penuh emosi.
Geya yang mendengarnya sntak merutuki dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa dia lupa bahwa Dharma adalah seorang anak yang lahir dengan sendok emas di mulutnya. Seharusnya tadi dia bawa saja Dharma ke restoran-restoran hotel biar dia tidak cerewet.
“Ya udah, kita cari yang lain aja,” putus Geya.
Kening Dharma semakin berkerut dalam mendengarnya. “Kok jadi kamu yang arah sama saya? Seharusnya saya yang marah karena kamu mau saya makan bakteri-bakteri itu!”
“Loh? Siapa yang marahhh?” Geya melongo tak percaya. Bagaimana bisa pria super sensian ini menganggap dirinya marah?
Dharma berdecak. “Itu tadi kamu nyuruh saya cari yang lain aja pakai nada ketus.”
Geya sontak menarik napas dalam-dalam. Sabar ….
“Aku cuman ngasih opsi lain aja. Mas kan nggak suka sama warung ini karena kotor, ya kalau gitu kita cari yang lain aja. Restoran hotel mau? Kebetulan dekat sini ada hotel bintang lima,” jelas Geya dengan nada selembut mungkin agar tidak disalah artikan oleh Dharma.
“Nggak perlu. Saya sudah lapar.”
***
Dongkol.
Jika Geya hanya diberikan satu kata untuk menggambarkan perasaannya saat ini, maka dongkol-lah jawabannya.
Dengan penuh sensi, diam-diam dia melirik Dharma yang duduk lesehan di trotoar, menunggu pesanan mereka datang. Kalau ujung-ujungnya makan di sini, kenapa dia harus mengajak Geya debat dulu coba?
“Ck! Tempat kotor macam ini kok banyak yang beli sih,” kesalnya padahal baru semenit yang lalu mereka memesan makanan.
“Ya karena enak, Mas,” jawab Geya.
“Siapa yang nyuruh kamu jawab pertanyaan saya?” balasnya sinis, membuat perasaan Geya semakin dongkol saja.
Sepuluh menit berlalu, dua porsi soto akhirnya datang juga.
Geya dengan penuh semangat menyendokkan sambal ke dalam mangkoknya, lalu menambahkan sedikit kecap dan mengaduknya hingga kuah yang tadinya kuning berwarna agak kecoklatan.
Sedangkan Dharma, pria itu masih terus memandangi mangkuk sotonya dengan pandangan yang jelas-jelas tak suka.
"Kenapa, Mas?" tanya Aya heran.
Perasaan tadi perutnya berbunyi dan kini saat makanan sudah datang Dharma tak kunjung memakannya.
“Sebenarnya makanan macam apa yang kamu gemari ini, Ge?” tanyanya dengan wajah tak habis pikir.
Geya mengerjap heran. Kali ini, apalagi salahnya?
“Plating-nya zero banget. Lihat! Ini nggak ada estetikanya sama sekali. Di mana-mana plating soto itu ayamnya di taruh di tengah, ini kok main disebarin begini. Kayak bawang goreng aja.”
Geya sontak menyesal telah bertanya pada Dharma. “Udah … makan aja. Enak kok.”
Dharma masih terlihat ogah-ogahan menyentuh makanannya. “Dari penampilannya yang nggak meyakinkan gini saya jadi meragukan rasanya.”
Geya tak tahan untuk menahan decakannya. “Don’t judge the book by it’s cover. Ini bukan restoran bintang lima yang mengedepankan estetika. Toh, makanan dibuat untuk dimakan bukan dilihatin. Makan aja, kasihan itu perutnya udah bunyi dari tadi!"
Tebak siapa yang menghabiskan makannya duluan?
Yep, benar!
Bahkan Aya belum menghabiskan setengah porsinya, Dharma sudah memesan satu porsi lagi.
“Laper banget, Mas?” ejek Geya secara tersirat yang hanya dibalas dengan lirikan sinis.
“Ck! Orang tua itu memang. Sudah diperingatkan masih saja berani menguntit.”
Celetukan Dharma yang lebih terdengar seperti bisikan itu membuat Geya gagal menelan sotonya. Dengan sedikit terbatuk-batuk dia berkata, “Menguntit apa?”
Pertanyaan polos itu sontak mengundang tatapan sinis Dharma. “Kamu ini tadi di rumah orang tua itu dengar apa yang diomongin nggak sih?” kesalnya.
Geya menelan ludahnya dengan susah payah. “Orang yang disewa Papa buat nguntit kamu, Mas?” ucapnya sambil berdoa dalam hati apa yang diucapkannya tadi salah.
Dharma tak menjawab. Dengan gerakan samar, matanya beberapa kali melirik seorang pria berpenampilan seperti pedagang asongan yang berjarak tiga meja dari mereka.
“Itu beneran, Mas?” cicitnya dengan wajah panik. Selera makan Geya tiba-tiba saja hilang saat mengetahui mereka sedang dimata-matai.
“Kamu pikir saya suka bercanda sama pria bau tanah itu?” sinisnya yang langsung memangkas harapan Geya.
Dengan wajah pucat, dia menjauhkan mangkok soto, memilih untuk mengemut es batu saja sementara otaknya sedang berpikir keras.
Geya tahu sejak awal bahwa Ahmad adalah orang tua yang keras. Semua harus sesuai dengan isi kepalanya. Semua harus sesuai dengan aturannya. Semua harus berada di bawah kontrol tangannya.
He is a control freak. Kecenderungan itu dapat dirasakan Geya sejak pertama kali Dharma memperkenalkannya pada keluarga.
“Kamu salah satu anak penerima beasiswa dari yayasan saya, benar?” Ahmad membuka pembicaraan dengan suara kaku di tengah-tengah kegiatan makan malam.
“Benar, Om. Terima kasih banyak telah mempedulikan mahasiswa dengan ekonomi sulit seperti saya. Saya merasa sangat terbantu dengan adanya beasiswa dari yayasan,” ujar Geya dengan tampang seramah mungkin.
Saat itu yang dirasakannya saat melihat sosok Ahmad adalah rasa kagum yang teramat sangat.
Ahmad Adiwijaya membuat yayasan khusus untuk membantu para mahasiswa kedokteran yang membutuhkan biaya tanpa pamrih. Ahmad juga seorang legendaris spesialis jantung yang pernah menjadi dokter khusus presiden. Jurnal-jurnal yang diterbitkannya banyak menginspirasi dokter-dokter muda.
Singkatnya, Ahmad Adiwijaya adalah idola umum para sejawat dokter.
Namun, pandangan itu seketika hilang saat mendengar kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut pria paruh baya itu.
“Kamu miskin. Saya tahu kamu tidak mencintai Dharma. Tidak akan ada yang mencintai berandal itu. Saya tidak masalah jika kamu mendekati anak saya demi uang, tetapi setelahnya jangan harap kamu bisa lepas begitu saja.”
“Pa.” Dharma angkat bicara. Namun, sama sekali tak dipedulikan oleh Ahmad.
“Jika menikah nanti, tidak ada perceraian dalam aturan saya. Kamu menikahi Dharma demi uang, maka kamu harus merelakan seumur hidup kamu untuk bersanding dengan berandal ini.”
Geya menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan kenangan bertahun-tahun lalu saat dia masih berada di semester awal masa perkuliahan.
“Mereka juga nguntit aku, Mas?” tanya Geya dengan wajah super penasaran. Semoga saja ayah mertuanya itu hanya tertarik untuk memata-matai Dharma.
“Ya mana saya tahu. Makanya sekali-kali lihat suasana sekitar, jangan main HP aja.”