Moonbow dan Hati yang Senang

2366 Words

Ana kini hafalan di serambi masjid, bukan di balkon maupun di loteng. Meski berat, dia tetap meninggalkan balkon samping emperan sawah itu. Sayang, walau ia sudah melakukan sejauh ini, gadis mungil itu tetap belum menemukan kemantapan hatinya. Belajar memang mudah, tapi mempraktekan dalam hidup itu yang susah. Seekor nyamuk terbang mendekati Ana. Suara dengung terbangnya, seakan mengejeknya. Nyamuk itu tak menggigit dan terus-terusan terbang di ambang telinga gadis itu. Jika saja Ana telah menemukan kemantapan hatinya, suara nyamuk itu sama sekali tak membuatnya terganggu. Ia akan tetap khusuk dalam hafalannya. Tapi sekarang, ia benar-benar ingin membunuh nyamuk itu. Puak. Satu tepukan terdengar. Nyamuk itu lolos. Ana pun memanyunkan bibirnya. Kesal. “Hih. Kayaknya aku memang harus sowa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD