Mentari baru sepenggalah. Burung-burung terbang keluar dari peraduannya. Anak ayam bercicit, ribut mencari makan. Para petani bergegas menuju sawah. Di bahunya terdapat pacul. Tak terkecuali si petani yang hingga kini belum diketahui identitasnya. Ia berangkat ke sawah lebih pagi daripada petani lainnya. Hanya saja, ia pulang ketika waktu duha hampir usai. Petani yang sekaligus santri itu akan memulai rutinitas santrinya tepat ketika jam menunjukan angka sepuluh. Ia akan menanggalkan segala identitasnya yang berhungan dengan pertanian. Baru ketika asar, ia kembali ke sawah. Andai saja Ana mengetahui semua ini, ia pasti akan mengetahui siapa sejatinya petani itu. Sayang, Ana hanya bertemu dia kala senja menyapa. Petani itu tak mau meninggalkan sholat duha. Ia percaya bahwa sholat duha tak

