Rani Annida

1052 Words
            Lagi-lagi senja. Kali ini Ana tengah dalam keadaan fit. Semangatnya benar-benar telah tersulut. Ana yang sekarang sedang bertahta di balkon, sedang menghafal juz 28 bagian tengah.             Gadis berparas ayu itu tak pernah mengubah susunan hafalannya. Ia hafalan dulu, baru muroja’ah dari awal hingga hafalannya saat ini. Baru ketika semua itu sudah terlewati, atau paling tidak bibirnya meminta istirahat, ia akan menatap pemandangan sawah di kala senja hari. Meski pemandangan hanya itu-itu saja, sawah tempat hafalannya saat ini masih saja istimewa.             Sebenarnya bukan hanya pemandangan yang menahan Ana tetap hafalan di sawah ini. Ia masih penasaran dengan identitas si petani. Ya, Ana akui meski dia belum tahu nama si petani, si petani telah berperan banyak dalam kehidupannya. Sudah beberapa lama, Ana menunggu si petani untuk mengembalikan sampahnya ini.             Sebenarnya telah lama Ana ingin melemparnya. Tapi rasa-rasanya kurang puas kalau tak mengenai wajah si petani. Selain itu kesibukan di pesantren juga membuatnya lupa akan sampah ini. Hanya ketika ia mau hafalan-lah, ia ingat.             Eh, ngomong-ngomong kalau nggak salah, dulu si petani menulis deh. Apa jangan-jangan kertas ini ya? Ana berbicara pada dirinya sendiri.             Tanpa berpikir panjang ia pun membuka gulungan kertas itu.             Loh surat? tanya Ana sendiri ketika menyadari di dalam gulungan kertas itu terdapat gumpalan surat.             Ana membuka surat perlahan. Hatinya tak henti-hentinya menebak apa isi surat itu. Tapi ketika ia melihat siapa pengirimnya, jantungnya seakan berhenti berdetak. Panji?! Ana mengucek-ngucek matanya, memastika bahwa ia tak salah lihat. Berulang kali pun ia mengeja nama itu. Benar. Tidak ada yang salah dengan matanya. Surat ini benar-benar dari Panji. Darimana si petani mendapatkan surat ini? Atau mungkinkah dia adalah Panji? Deg. Ana benar-benar tak habis pikir dengan takdir Tuhan. Ia sudah berniat untuk melupakan pemuda itu. Apakah Tuhan ingin agar dirinya dan Panji bersama? Ataukah semua ini hanya cobaan belaka?             Berjuta bata yang telah Ana dirikan, roboh seketika. Kenangan menyakitkan itu kembali lagi. Air matanya mulai menetes kembali. Isi dari surat itu membuatnya yakin kalau Panji masih setia kepadanya. Mau tidak mau, sempat atau tidak, ia harus bertemu dengan si petani. ***             Mobil putih Fikri melesat jauh. Pemuda dengan rahang kokoh dan tubuh tegap itu menekan pedal gas secepat yang ia bisa. Pertemuan keluarga kali ini benar-benar tak tertuga. Ia sama sekali tak menyangka apa yang direncanakannya akan gagal total. Berulang kali ia telah menyusun skenario untuk bisa meraih apa yang dia mau, tapi fakta dan takdir menggariskan hal lain.             Pertemuan ini. Tamu itu. Kenapa harus sekarang. Dan kenapa ia baru tahu ini sekarang. Tak bisakah ia diberi tahu sejak dini, sebelum hatinya jatuh ke pelukan wanita lain?             “Alloh ... Alloh ... Alloh ... Astaghfirulloh ...,” desis Fikri berulang kali. Ia ingin segera mendinginkan kepalanya.             Sayangnya usahanya belum membuahkan hasil. Pikirannya tetap ingkar. Ia terus memprovokasi hati untuk terus mengingat bagaimana menyakitkan pertemuan hari ini.             “Bagaimana, Fik? Kamu sudah dekat dengan Rani, kan?” tanya seorang pria paruh baya.             Fikri menelan ludah. Bagaimana mungkin ia akan lupa dengan putri kiai satu ini? Dia putri terakhir dari pengasuh pesantren khusus santriwati. Pesantren milik ayahnya tergolong kecil, tapi santrinya bukan main. Semua santrinya paham dengan ajaran Jawa pun juga paham dengan agama. Keluaran dari sana menjamin santriwati yang berkeibuan tinggi.             Dulu waktu kecil, ia suka sekali datang ke sana. Pesantren yang unik, terpencil, namun begitu menenangkan. Di tengah hingar-bingar kota besar, pesantren itu mampu menerapkan kesederhanaan. Di pondok itu tidak menyediakan makanan, sehingga para santriwatinya harus memasak sendiri. Selain itu, santriwatinya pun dilarang membawa alat elektronik apa pun. Satu-satunya hiburan di sana hanyalah buku dan kitab.             Fikri ingat sekali ketika di sana, ayah Rani yang sering Fikri panggil dengan paman, menawarinya buah cokelat. Buah yang sulit sekali di dapat di daerahnya. Ia dengan lahap memakannya. Bahkan tak jarang Fikri kecil memanjat buah itu sendiri. Hal yang paling ia ingat adalah tentang lengkapnya koleksi buku di sana. Bisa berjam-jam dia menghilang di perpustakaan pondok itu hanya demi mencari buku cerita bergambar para pahlawan Islam.             “Kamu masih ingat kan. Dulu kamu dan Rani selalu bandel jika disuruh dari pohon. Dan kalau tetap dipaksa kalian akan melemparkan buku-buku yang sengaja kalian bawa naik,” tutur pria paruh baya itu lagi.             “Fikri masih ingat, Paman. Bahkan Fikri masih ingat betapa semangatnya Fikri ketika berjumpa dengan Rani.” Fikri tersenyum halus. Ia mengingat-ingat tentang dirinya yang diseret Rani masuk ke perpus. Gadis kecil itu dengan semangat menunjukkan buku bergambar yang sudah kumal. Lalu berkata betapa menyesalnya ia baru menemukan itu sekarang. Ia juga berkata kalau petualangan di dalamnya sangat mengasyikkan.             Dulu mereka sering membuat satu pondok geger. Rani selalu punya tempat yang asyik untuk membaca buku. Entah itu di pohon, di teras, atau pun di bingkai jendela. Sekarang saat sudah besar, Fikri geli sekali kala mengingat pondok menjadi kacau balau kala dirinya dan Rani berada di atas genteng demi mencoba suasana baru untuk bercerita. Tapi karena takut turun, akhirnya mereka malah menangis dan mengakibatkan warga berdatangan untuk membantu menurunkan mereka.             “Kamu tentu tak akan menyesal dengan keputusan kami untuk menjodohkan kalian, kan?” lanjut si pria paruh baya.             Seketika kenangan Fikri meledak. Ia sama sekali tak menyangka dengan kalimat yang keluar dari ayah Rani itu.             “Maksud Paman?”             “Abah, Umi, Paman, dan Bibi telah bersepakat untuk menjodohkan kalian Fik,” sambung ayahnya Fikri.             Fikri menatap tak percaya. Lalu apa maksud dari Umi membeli baju pengantin bersama Ana kemarin? Lalu mengapa Umi seperti suka pada Ana?             “Baju pengantinnya pun sudah Umi belikan kemarin. Bukankah begitu, Fik?” sambut Ibu Fikri dengan penuh kebahagiaan.             Pernyataan itu disambut dengan tawa oleh seisi ruang tamu, kecuali Fikri. Matanya masih penuh dengan pertanyaan ‘apakah ini, nyata?’. Hatinya sibuk meyakinkan diri bahwa ini hanyalah gurauan semata.             “Kamu pasti kaget. Bahkan Rani pun belum tahu masalah ini. Tapi paman yakin dia akan setuju.”             Fikri tak mampu berkata banyak. Ia pun memutuskan untuk melihat sendiri Rani sekarang. Bahkan ia baru sadar kalau Rani yang ia kenal dulu, sekarang mondok di pondoknya sendiri. Ia ingin sekali mengira kalau Ana adalah Rani. “Mungkin saja sekarang panggilannya di pondok berbeda. Siapa tahu kan? Toh, nama panjangnya Rani Annida.” Pikiran Fikri mulai menghubung-hubungkan pikiran tak jelas. Padahal di tangannya telah ada dokumen lengkap tentang Ana – gadis yang ia cintai. Tapi tangannya tak sanggup untuk membuka itu sekarang. Ia terlalu takut dengan kemungkinan yang ada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD