Ana sama sekali tak bicara. Sepanjang perjalanan dia hanya diam. Entah apa yang dia pikirkan semenjak mendengar kabar Panji. Aura Ana meredup. Ia yang biasanya ceria dan selalu menganggu ketenangan teman-temannya, sekarang hanya diam membisu. Ia berulang kali teringat akan kata Rara.
Waktu itu.
“Panji di mana?”
Rara diam seribu kata. Mulutnya bungkam, bingung hendak berkata apa.
“Panji di mana?” Ana mengulangi pertanyaannya.
“Panji ... eh ... Panji telah tidak ada di pondok, An. Setahun setelah kamu pergi, dia pun memutuskan untuk pergi.”
Ana merasa perjalannya sia-sia belaka. Gadis itu pun lunglai.
“Pergi? pe ... pe ... pergi ke mana dia?” tanya Ana sedikit gemetaran.
Rara menggeleng, “Tidak ada yang tahu, An. Bahkan Bu Nyai sama Pak Kyai pun tak diberi tahu. Dia memutuskan sendiri mau pergi ke mana.”
Informasi itu cukup membuat Ana terguncang. Fakta bahwa Panji pergi telah menutup harapannya. Telepon beberapa bulan yang lalu turut menjadi pemutus kemungkinan cinta Panji masih tersisa. Kisah kasih antara Ana dan Panji kini telah benar-benar berakhir. Kesetiaan menunggu kabar dari Panji, kini berubah menjadi benci.
Rasa sayang yang dari dulu tetap Ana pertahankan, kini gugur. Bahagia yang kian hari bertambah besar karena Ana sebentar lagi rampung menghafal Al-Qur’an, remuk begitu saja. Impian bahwa esok Panji akan datang dengan senyuman manis lalu meminangnya, hancur tak berbekas. Rasa berharap yang kian tinggi itu, kini tumbang.
Walau Ana, Alipeh, dan Reni kembali ke pondok tanpa ketahuan, Ana tak bisa tersenyum. Dia hanya berjalan, entah ke mana. Gadis itu ingin menyembunyikan matanya yang semenjak perjalanan mulai berkaca-kaca. Alipeh dan Reni berusaha menyusul, tapi Ana menghentikan mereka.
“Biarkan aku sendiri!” ujarnya.
Ana. Kesedihannya, kegalauannya, kekecewaannya, berbaur menjadi satu. Ia yang telah bertekad menjadi teratai, menangis tak bersuara. Air matanya menetes anggun dari atas. Ia yang bertengger di balkon samping sawah, sesenggukan sendiri. Hanya kalam ilahi yang bertalu-talu keluar dari bibirnya. Gadis manis berlesung pipi itu berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Wa lanabluwannakum bisyai’im minal-khoufi wal-juu’i wa naqshim minal-amwaali wal-anfusi wast-stamaroot, wa basysyirish-shoobiriin. Jika benar ini cobaan Ana yang paling berat, dia akan berusaha bersabar. Surat Al-Baqarah ayat 155 itu, tak mungkin Ana pungkiri. Gadis mungil itu percaya di balik semua kejadian yang begitu menyakitkan ini, pastilah ada hikmahnya. Tapi disaat gundah gulana melanda dirinya seperti ini, Ana jadi rindu dengan sentuhan lembut ibunya.
Ana ingat akan belaian halus dari tangan sang bunda. Kerap kali ia menghamburkan waktu bersamanya ketika malam telah muram. Mereka berdua duduk di undakan lantai teras rumah. Ana duduk di undakan pertama sedangkan ibunya di undakan ke dua. Gadis mungil berlesung pipi itu akan menyendehkan kepalanya di pangkuan ibunya. Lalu dengan lembut sang ibu mengusap kepala putrinya yang terbalut jilbab. Wajahnya sumringah. Garis mukanya terangkat. Sempurna sebuah senyum nan tulus mengembang.
“Yakinlah, Nduk! Allah selalu memberikan kebahagian untukmu, takdir-Nya selalu indah untukmu.”
Ketika berkata seperti itu, sang bunda selalu terpejam, menghayati perkataannya sendiri. Sungguh kata-kata yang indah. Angin pun berdesir halus ketika kata itu terujar. Bintang akan bersinar indah kala mendengarnya. Untuk itulah Ana selalu yakin bahwa titah Tuhan selalu berakhir baik. Tapi setelah kenyataan yang ia peroleh, untuk pertama kalinya ia ragu akan ucapan yang selalu ibunya tuturkan. Ia ragu kalau takdir Tuhan itu indah.
Apa bisa disebut indah? Ana telah berjuang mati-matian untuk tetap setia kepada Panji, tapi yang diperjuangkan? Di saat keraguan ini, Tuhan malah mendatangkan sosok lelaki lain di hidup Ana. Apakah indah jika sesuatu yang diperjuangkan malah tidak didapat?
Astaghfirulloh .... lirih Ana.
Gadis manis berlesung pipi itu membuka kembali buku tentang kakawin Arjunawiwaha, ajaran arif untuk para perindu cinta. Ia kagum betapa sabarnya Prabu Arjuna dalam menjalani tapa bratanya. Ia takjub akan kekukuhan hati beliau dalam menghadapi godaan para bidadari. Prabu Arjuna yang berhasil melewati segala cobaan dalam tapanya, akhirnya berhasil. Tujuan utamanya untuk mendapat panah pasopati terwujud.
Bacaan itu membuat Ana sadar. Jika ia memang benar-benar ingin bangkit dari kesedihan ini, ia harus benar-benar melupakan Panji. Ia harus seperti Prabu Arjuna yang tetap kokoh pendirian dalam tapa bratanya. Dengan menggapai tujuan utama Ana berada di sini, hatinya pasti akan tenang. Jika hal itu sudah tercapai, kebahagiaan mutlak dalam genggamannya.
Namun apakah gadis mungil itu sanggup? Petuah yang selalu ia dengar dari ibunya sudah ia ragukan. Motivasinya untuk cepat-cepat khatam telah pupus. Cintanya pun telah kandas. Pelita cinta yang selama ini telah meneranginya lenyap begitu saja, tanpa pesan apalagi alasan. Panji, satu-satunya motivasi Ana mondok di pesantren ini sempurna telah hilang. Lalu untuk apa ia berjuang kembali?
Ana sadar. Ia tak seteguh Prabu Arjuna. Ia pun tak sekuat Dewi Srikandi. Hatinya kini benar-benar goyah. Sekian lama ia meyakini bahwa takdir Tuhan itu indah. Sekian lama Ana tak pernah ragu akan petuah ibundanya. Dan sekarang. Pertama kali dalam hidupnya, Ana mengalami hal yang sangat tak ia duga. Takdir kehidupan benar-benar telah mempermainkannya. Kenapa Tuhan membuat ia jauh dari lelaki yang Ana cintai?
Tubuh Ana bergetar menahan sedih. Ia tak mau menangis. Namun matanya seperti berkhianat. Tanpa gadis itu sadari, wajahnya telah kebas. Sedetik. Dua detik, ia telah sesenggukan. Ana pun menekuk kedua kakinya. Ia benamkan segala kesedihannya.
Balkon yang menjorok ke sawah berubah menjadi sendu. Penghuni yang biasanya membacakan ayat suci, kini tengah terpuruk penuh luka. Sinar senja yang menyirami tubuh Ana, tak mampu menenangkan gadis itu. Bahkan angin laut yang mengalir lembut, pun tak mampu mengusir isak tangisnya. Balkon terasa sunyi, pilu.
Tarhim mulai menjamah udara. Gemanya menyelimuti bumi dengan nuansa ilahi. Senja yang kian memerah meniupkan keheningan. Takzim. Setiap hati yang beriman mulai bergetar, ingat akan tugas mereka di dunia. Tak terkecuali Ana. Seiring waktu, sesenggukannya kian mereda. Ia mulai sadar, percuma saja ia berdiam diri di sini.
Gadis mungil itu menepis semua air matanya. Ana berdiri menatap teratai yang tersepuh cahaya senja. Satu tujuan tanpa cabang, itulah prinsip gadis berparas ayu itu sekarang. Kebahagian masih banyak. Kebahagiaan bukan hanya bersama Panji, toh masih ada yang lain, terlebih ada Gus Fikri. Ana akan mencari maksud Allah mendekatkannya dengan gus itu.
Senyum ketegaran mulai kembali terbit di bibir Ana. Saatnya ia turun dan memulai aksinya. Andai saja si petani tahu ia menangis lagi, petani itu pasti akan mengejeknya. Ana tak mau itu terjadi.
Sebuah benda mendarat di tubuh Ana. Spontan Ana mengangkat kepala, melihat apa yang jatuh. Segulung kertas yang tergulung. Ana pun mengusap matanya. Ia langsung berdiri dan melihat siapa yang melempar. Sayangnya tak ada siapa pun di sana. Hanya lengang dan lengang. Hampa benar-benar hampa. Tak ada orang di sawah yang luas itu.
Ini pasti dari si petani. Awas saja nanti, akan kutipuk balik! geram Ana.
Ana mengambil gumpalan kertas itu, menggulungnya dalam ikatan sarung lalu pergi ke pondok. Akan ia kembalikan sampah ini ke si petani.
***
Secarik senyuman terlukis di wajah setiap orang. Tak terkecuali di wajah Ana. Ia yang kini telah memasuki juz 28. Satu juz lagi dan dia akan mendapatkan tiket untuk menjadi hafizah. Dulu hafalannya dimulai dari juz 30 lalu 29 baru kembali ke juz satu dan seterusnya. Ana tak tahu mengapa urutannya dibuat demikian. Ia hanya sendiko dawuh kepada guru-gurunya.
Karena juz ini adalah juz terakhir, semangat Ana menjadi tersulut. Berulang kali ia baca halaman demi halaman. Berulang kali ia mengulangi hafalannya. Setelah siap untuk disetorkan nanti malam, Ana mengulang hafalan yang lalu sampai hafalan yang baru saja ia selesaikan. Ia telah menggunakan metode hafalan seperti ini sudah sejak lama, dan alhamdulillah manjur.
Ya karena kali ini hujan, mau tidak mau Ana harus hafalan di masjid. Ia mojok sendirian. Kakinya menekuk dan badannya menyendeh ke tembok. Mata gadis itu terpejam sementara mulutnya komat-kamit, mirip seperti mbah dukun baca mantra. Suaranya merdu, membahana ke seluruh penjuru ruangan. Baginya hafalan dengan mengeraskan suara akan lebih mudah daripada hanya mendesiskannya.
Ketika Ana merampungkan muroja’ah-nya, ia akan sujud syukur. Jika ia hafalan di balkon, ia akan sujud syukur tepat ketika ia memasuki tempat yang bisa untuk sujud. Jika dia hafalan di tempat yang bisa untuk sujud syukur, ia akan langsung sujud syukur. Baginya setiap ia berhasil menghafal, itu adalah ridho dan rahmat Allah yang tiada bandingannya. Mungkin inilah takdir yang tetap indah bagi gadis berbadan mungil itu. Tapi hati kecil Ana masih mempertanyakan tentang kisah cintanya. Ia juga sudah kehilangan kemantapan niatnya. Hanya juz dua puluh delapan yang masih setia menyemangatinya.
“Ana!” seorang santriwati berteriak seraya berlari mendekatinya. Santriwati itu langsung mendorong tubuh Ana dan bersembunyi di belakangnya.
“Iih, kamu ngapain sih, Peh,” protes Ana karena tubuhnya didorong-dorong.
“Reni lagi ngamuk. Lindungin aku!” pinta Alipeh.
Tak lama kemudian, datanglah Reni dengan wajah merah. Ia bersungut-sungut murka.
“Alipeh!” lengkingnya.
Reni yang membawa sajadah, mencoba menyabet Alipeh. Sialnya dia terus-terusan menjadikan Ana sebagai tameng.
“Reni! Kok aku yang kena sih,” protesnya.
Segera Ana bangkit dan membiarkan perang di antara temannya berkecamuk.
“Terserah kalian mau ngapain, aku nggak peduli.”
Alipeh turut bangkit. Ia memasang kuda-kuda. Ketika Reni menghempaskan sajadahnya, Alipeh menerimanya dengan tangan lalu menariknya. Kaki kanannya beranjak naik ke pergelangan tangan Reni lalu menanggalkan pegangannya di sajadah. Jadilah sajadah itu beralih ke tangan Alipeh.
“Wah ... kamu hebat juga ya, Peh. Tapi aku masih punya senjata banyak.”
Reni mengeluarkan rotan.
“Reni ... ampun!” rengek Alipeh.
Ana yang melihat adegan langka itu, terkekeh-terkekeh sendiri. Baginya melihat teman-temannya bertempur bagai melihat film laga tiga dimensi. Keren sekali.
Alipeh yang memang tahu silat, berulang kali mengeluarkan jurusnya. Nahasnya setiap kali Alipeh menendang atau pun memukul, tangan atau kakinya terkenaa sabetan dulu. Tangan Reni yang sangat cepat sanggup mengimbangi jurus-jurus Alipeh.
“Mau ganti rugi nggak hah?!” hardik Reni.
“Nggak. Wafermu itu loh, heem ... seperti ada kelezatan di setiap sudutnya.”
Ana membatin, Jadi semua ini gara-gara sebatang wafer? Ya Allah ... ampunillah jiwa-jiwa mereka yang kelaparan.
“Apa yang sedang mereka lakukan?” sebuah suara menengahi kebisuan Ana.
“Entah. Aku hanya jadi penonton. Jika mereka telah selesai berkelahi dan ada yang menang, aku tinggal tepuk tangan,” Ana menjawab datar.
“Oooh gitu. Bagus kau ya!”
Tangan pemilik suara itu menjewer telinga Ana. Sontak Ana langsung menoleh. Ia kaget bukan main kala menyadari bahwa yang menjewernya adalah salah satu keamanan tersadis di pondok putri. Mba Devil.
“Hentikan mereka berdua!” suruhnya.
“Siap laksanakan, Mba.” Ana beringsut mendekati Alipeh dan Reni yang masih asyik melancarkan jurus-jurusnya.
Saat Ana mendekat, Alipeh langsung menjadikannya tameng lagi.
“An, please tolong aku!” pintanya.
“Yang bakal menolong kamu bukan aku, tapi ....” Ana memutar kepala Alipeh agar ia dapat melihat siapa yang telah berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya di depan pintu.
“Mba Devil?” Alipeh kaget bukan main.
“Wush ngawur.”
Menyadari ada yang tidak beres, Reni pun menghentikan gerakannya. Ia turut menoleh ke arah yang dilihat Alipeh.
“Mba Devil?” desisnya.
“Ana, Alipeh, Reni, sini kalian!” teriaknya.
Ketiga santriwati yang dipanggil mendekat. Mereka mulai gemetaran dan saling dorong.
“Pegang daun telinga temanmu, cepat!”
Tidak perlu disuruh dua kali, Ana dan teman-temannya melakukan apa yang diperintahkan. Saat semua sudah memegang telinga temannya, Mba Devi menjewer telinga Ana sehingga tangan Ana menjewer Alipeh dan Alipeh menjewer Reni.
“Kalian telah mengotori masjid dengan perkelahian aneh. Dan kamu Ana, kamu bukannya melerai malah cuma jadi penonton. Udah kabur dari pengajian, sekarang malah main kejar-kejaran di masjid. Kalian sadar sudah umur berapa kalian ha?” tegas Mba Devi.
Ana, Alipeh, dan Reni saling pandang. Mereka serasa tak percaya mendengar kabar itu.
“Kalian pergi ke mana saat pengajian?”
Seketika Reni dan Ana kelu. Mereka sama sekali tak berani mengaku.
“Kami males ngaji, Mba. Lagian ngaji lima kali sehari. Kalau ngenyangin perut sih mending, ini ngaji malah tambah jadi laper.”
“Ouh gitu. Karena kalian sudah melanggar, maka kalian kena tak-zi-ran.”
Baik Alipeh, Reni, dan Ana seketika lemas.
“Kalian harus mengangkut semua sampah di pondok ini, setelah itu kalian harus menghatamkan Al-Qur’an di teras pondok.”
Rasa lemas menjalar di setiap darah mereka. Tidak ada dalih lagi untuk menggugurkan takziran itu. Mereka terlanjur tertangkap basah.
Apesnya ketika takziran itu telah ditetapkan, hujan tiba-tiba berhenti. Sampah bukan hanya menjadi barang yang tinggal diangkat saja. Sampah yang telah terkena air hujan akan menjadi sampah basah yang bau dan super menjijikan. Belum lagi biasanya ada tahi kucing yang terselip di antara sampah-sampah itu. Iu.
“Kok kamu nggak ikutan bersihin sih, An?” protes Alipeh kala melihat Ana yang sibuk memandori dirinya dan Reni.
“Males. Ini sebenarnya kan hukuman kalian, aku kan cuma penonton.”
“Oooh gitu ya. Coba saja kalau Mba Devil tahu.”
Ana tergagap. Ia ingat betul tentang resiko melanggar titah Mba Devi. Bisa-bisa ia akan mati karena hukuman yang terlalu berat.
“Iya-iya deh, aku ikut bersihin.”
Ana melangkah lunglai menghampiri teman-temannya yang gaje.
Bau menyengat, udara yang lembab, dan lembeknya sampah, melengkapi penderitaan mereka. Belum lagi hewan-hewan penghuni sampah yang sangat menyebalkan juga ikut keluar.
“Nggak sama Ana, nggak sama Alipeh, dapetnya malapetaka mulu. Huh,” keluh Reni.
“Harusnya kamu bersyukur, Ren. Berkat kami tingkat kesabaranmu makin tinggi,” ceeletuk Ana.
“Iya, Ren. Aku pun bersyukur bisa kenal denganmu jadi perutku bisa kenyang.”
“Iih, sini kau, Peh. Akan kumasukkan sampah ini ke mulutmu!”
“Cukup! Kalian mau dihukum lebih berat?” cegah Ana.
“Aku minta maaf deh, Ren. Soalnya aku laper banget.”
“Lain kali kalau mau tinggal bilang. Jangan asal rebut, nggak sopan!”
“Nah gitu dong.”
Alipeh menjabat tangan Reni. Mereka berpelukan dan saling memaafkan. Ketika itu terjadi, Ana melihat Gus Fikri tengah lewat. Ia yang malu langsung mundur. Ia bersembunyi di belakang Reni dan Alipeh. Nahasnya dia yang terburu-buru menjadi terpeleset. Tapi ah masa bodo yang penting dia tidak ketahuan oleh pemuda tampan itu.
“Ada apa sih, An?” Reni berontak.
“Ssst ... kalian diam dulu!” bisik Ana.
Sesaat setelah Gus Fikri lewat, Ana bangkit. Entah kenapa ada sesuatu yang hitam menempel. Baunya sungguh tak asing. Warnanya hitam. Ternyata itu adalah tahi kucing.
“Tadi ada apa sih, An?”
“Tadi ada Gus Fikri. Untung aja ada kalian yang menutupiku, makasih.” Ana memeluk teman-temannya.
“Iiih ... Ana, kamu bau!” Alipeh keberatan.
“Kita kan teman, teman saling berbagi. Aku bau, kalian juga harus bau. Tadi aku jatuh sih, masa aku kotor sendirian. Hahaha.”
“Apa!!!” Reni kaget.
Sontak Alipeh dan Reni mendorong Ana sehingga ia terjatuh lagi. Tapi kali ini tak masalah. Toh ia sudah bau.
Merasa ada kotoran yang menempel di baju, Reni dan Alipeh berteriak histeris, “Ana!!!”
“Sudah-sudah, kita kan memang sudah kotor. Jadi lebih kotor nggak masalah, kan.”
“Hih, kukubur kau pake sampah!” Ancam Reni sembari membawa sampah.
Segera Ana mengambil plastik sampah. Ia jadikan plastik sampah itu sebagai tameng, sampah pun masuk ke plastik.
Hukuman malam itu berakhir aneh. Mereka setelah membuang sampah dan mandi harus mengkhatamkan Al-Qur’an. Masing-masing dari mereka mendapat lima juz. Mengkhatamkannya sih tak masalah. Yang jadi masalah adalah cocard dari kardus. Tulisan berbunyi “Saya Santri Ghoib yang Sering Kluyuran”, fix tulisan itu membuat mereka malu. Belum lagi dilihatin oleh temen-temen. Hadeh, kenangan yang sungguh memprihatinkan.Tapi yang paling penting tidak ada Gus Fikri di sini. Ana bernapas lega.