Selagi Ana datang mencari kepastian dari Panji, Fikri juga datang mencari kepastian dalam hatinya. Untuk pertama kalinya, ada wajah gadis yang bisa memalingkannya dari kitab yang ia baca. Kitab yang bertuliskan arab namun tidak ada harakatnya itu diam membisu. Halaman yang ada di sebelah kanan iri dengan halaman yang di sebelah kiri. Sebelah kiri penuh dengan makna, tetapi halaman sebelah kanan malah penuh dengan wajah Ana. Tiada lafaz yang sanggup memalingkan lamunan Fikri.
Lengkungan huruf ‘ba’ berubah menjadi senyum Ana. Titik yang ada di bawahnya berubah menjadi tai lalat di dagu wanita itu. Indah nian.
“Fik!” tegur Kiai Murtadlo.
Bahu Fikri seketika berguncang.
“Tak baik membaca kitab sambil melamun. Pengarangnya nggak bakal ridho,” lanjut sang kiai.
“Apa Abah dulu ndak pernah melamun saat membaca kitab?” Fikri menoleh, memperhatikan ayahnya yang tengah duduk. Diambilnya teh di depannya.
“Kamu ini, dibilangin orang tua, sukanya menghindar!”
Fikri tersenyum.
“Kamu sudah berumur tiga puluh, Fik. Apa yang kamu cari lagi dari kehidupan ini? Pesantren ini butuh penerus.”
“Abah-abah. Fikri kan sudah tidak mencari apa-apa. Fikri kan juga sudah bilang, menyerahkan segala urusan penerus itu kepada Abah.”
Kiai Murtadlo terbatuk. Ia tutupi mulutnya dengan sorban di pundaknya.
“Abah ingin kamu segera menikah dan menjadi pemuda yang Abah inginkan.”
Fikri memincingkan matanya. Lagi-lagi bacaan kitabnya terhenti. “Memang Abah ingin Fikri menjadi seperti apa?”
“Abah ingin kamu menjadi seperti Utsman bin ‘Affan.”
Fikri mengkerutkan dahinya. Baru kali ini ayahnya berkata demikian. Biasanya beliau berdoa agar Fikri menjadi seperti Rasulullah, berakhlak mulia, setia kepada agama, dan setia kepada orang tua.
“Maksud Abah?”
“Kamu tahu sendiri kalau Utsman bin ‘Affan menjadi menantu baginda nabi sampai dua kali. Dia satu-satunya sahabat yang digelari dengan dzun nur’ain, orang yang memiliki dua cahaya. Kamu bisa bayangkan sendiri, bagaimana Nabi sangat percaya kepada ‘Utsman hingga menikahkan dua putrinya kepadanya.”
Fikri menelan ludah. Sedalam apa pun ia mempelajari sejarah, ia tak pernah mendalami kisah Utsman itu. Dia hanya sepintas baca tanpa perlu repot dalam-dalam memikirkan kandungan makna di dalam kisah itu.
“Kamu pun bisa membayangkan bagaimana indahnya rumah tangga Ummu Kultsum sehingga Ruqoyyah mau menikahi kakak iparnya setelah Ummu Kultsum tiada.”
Fikri menutup kitabnya lalu menaruhnya di atas meja. Ia kini menatap lamat-lamat wajah ayahnya. Lelaki dengan tubuh tegap itu lebih tertarik dengan penuturan ayahnya.
“Utsman itu lelaki yang pandai menjaga pandangan. Tak sekali pun ia mau memandang wanita yang bukan mahromnya. Ia selalu menunduk. Ia malu diketahui Alloh tengah melakukan maksiat. Maka Abah ingin kini kau menjadi Utsman di pesantren ini.”
Kini Fikri menunduk. Jantungnya serasa berdetak sedikit lebih cepat.
Apakah Abah tahu kalau aku sering mencuri pandang? tanyanya pada dirinya sendiri.
“Besok kamu akan menikah. Dan jadilah seperti Utsman yang dikagumi oleh mertuanya.”
Fikri mengembuskan napas lega. Ternyata ayahnya tidak mengetahui hal yang sedang terjadi di hati Fikri.
Kiai Murtadlo menyeruput tehnya sekali lagi. Setelah itu beliau berkata hamdalah dan pergi, meninggalkan Fikri sendiri. Sebenarnya ia tak ingin mengganggu anaknya yang tengah belajar, tapi waktu kian menipis. Istrinya pun diam-diam telah menyiapkan acara. Kalau dia tidak menyiapkan Fikri, tentu semua itu akan percuma.
Kepergian ayahnya, memunculkan beribu pertanyaan di benak Fikri. Ia tak bisa lagi fokus membaca kitab kuning yang membahas tentang hukum fikih. Toh, sedari tadi ia memang tidak fokus. Fikri mengambil kitabnya. Tak lupa ia membatasi di mana halaman terakhir ia membaca.
Pokoknya aku harus segera memastikannya!
Fikri kembali melangkah ke halaman belakang. Dulu niatnya untuk ke sana memang tertunda gara-gara ada tamu. Tapi sekarang misi itu harus dilakukan segera. Ayah dan ibunya menghendaki adanya jodoh, maka Fikri pun harus bertindak.
***
Dari jendela, pemandangan padatnya kota jelas terlihat. Berpuluh-puluh motor hilir mudik menyalip Bus Trans Jogja. Meski padat, kota ini tak sampai macet. Lampu lalulintas yang hanya berjarak kurang lebih lima ratus meter, beroperasi dengan semestinya. Walau penumpang harus bersabar karena berkali-kali merah, tapi mereka juga disadarkan kalau nggak ada lampu lalulintas itu, kemacetan mungkin akan terjadi.
Sejauh mata memandang, hanya genteng dan genteng yang terlihat. Beberapa ada yang berwarna, namun kebanyakan biasa saja. Lukisan serta jembatan khas Jogja sangat mencolok, begitu indah nan unik. Dempulan warna hijau dan emasnya sangat menarik. Liukan besi yang sengaja dibuat khas kejawen, benar-benar eksotik. Ketika Bus Trans Jogja itu melewati Jembatan Sayidan, Alipeh dan Reni buru-buru mendekat ke jendela. Mereka ingin melihat sembari menikmati keindahan jembatan yang terkenal itu.
Sisi jembatan yang tersepuh cat putih mulus, sangat memukau. Kastil-kastil kecil yang melengkapi tepi jembatan, nampak sangat klasik. Terlebih papan nama yang bertuliskan “Jembatan Sayidan” yang di bawahnya terdapat terjemahan dalam aksara jawa, sungguh mengajak bernostalgia. Jembatan itu, seakan mengisahkan para pengunjung tentang gerbang kraton masa lalu.
“Andai bisa di sini bareng sama bebeb sembari nikmati senja. Aduh ... pasti romantis bangeet.” Alipeh mulai berkhayal.
“Gimana rasanya ya, kalau nikah di sana?” Reni ikutan berkhayal.
“Hem ... Gimana rasanya ya, kalau aku tinggalin kalian di sana? Terus nanti klontang-klantung nggak jelas kaya gelandangan.”
Alipeh dan Reni langsung menoleh ke Ana. Sinis. Bisa-bisanya ditemenin, malah berniat ninggalin.
Halte demi halte berlalu. Tepat ketika pemberhentian di Kotagede, ketiga santri itu turun. Mereka lalu berjalan menuju pondok, di mana Ana bertemu dengan pujaan hatinya untuk pertama kali. Tak tunggu lama-lama, mereka akhirnya masuk kawasan pondok. Di sana, aura kebebasan kota langsung lenyap begitu saja. Yang ada hanya santri bersarung, hilir-mudik membawa kitabnya.
“Iza, kan?” seorang santriwati memberanikan diri bertanya.
Ana mengangguk halus seraya mengingat-ingat nama santriwati di depannya. “Kamu ...?”
“Ihh masa lupa. Jahat deh. Aku Rara.”
“Ya ampun Rara si centil ....” Ana berteriak girang. Dia meloncat-loncat lalu memeluk Rara.
“Centilan kamu kali daripada aku,” protes Rara.
Sementara Ana bersuka cita dengan reuninya, Alipeh dan Reni malah salah tingkah. Mereka bingung mau melakukan apa. Pilihan satu-satunya ya melihat keakraban Ana dengan teman lamanya itu.
“Ra, perkanalkan ini teman-temanku dari pondok tahfidz. Yang ini Alipeh dan satunya Reni.”
Rara nyegir mendengar nama-nama sahabat Ana yang tak jauh beda dengan nama-nama temannya dulu di sini. Rara pun menjabat tangan Alipeh dan Reni. Dia tersenyum ramah. “Psst .... Ana nggak membuat kalian kapok kan?” bisiknya kemudian.
Spontan Alipeh dan Reni tertawa lalu kompak menggeleng.
“Tentu saja Ana membuat kami kapok dan dongkol berkali-kali,” tukas Reni kemudian.
“Heh ... kalian sukanya bicarain aku mulu. Kalau ngefans ngomong!” tandas Ana.
Mendengar perkataan itu, Alipeh, Reni, dan Rara diam seraya membatin dalam hatinya masing-masing.
“Nggak mungkin aku ngefans sama cewe super nyebelin kaya kamu, An.”
Lengang. Semilir angin menengahi pembicaraan keempat santriwati itu. Lambaian daun pisang di depan pondok, menyurutkan intonasi bicara mereka. Suasana yang tadinya riuh akan guraun mendadak menjadi kaku gara-gara Ana ingat tujuan dia datang ke sini.
“Ra, gimana kabarnya Panji?”