Malam semakin larut. Keramain lambat laun terseret ke dalam perut sunyi. Demi menantikan sebuah momen, di mana semua suara lenyap dan hanya menyisahkan nyanyian walet, Ana rela bergadang. Baginya kicau walet yang terbang di antara lampu penerang jalan, sungguh indah. Kicau burung yang terdengar di pagi hari tak pernah seindah kicau walet di tengah malam.
Di sini, di loteng masjid, Ana berdiri menatap semburat cahaya kuning lampu. Ketika malam semakin larut, Ana merasakan sebuah ketenangan yang luar biasa. Ketenangan yang mampu membuatnya ingat akan semua ayat-ayat Tuhan.
Di malam yang hanya beriramakan gemerisik angin serta desau halus binatang malam, Ana seakan menemukan dirinya bersanding dengan alam. Keindahan yang mengantarkan penyelesaian untuk sebuah masalah.
Kini hanya satu masalah di pikirannya. Kedekatan Gus Fikri dengannya semakin menjadi, di sisi lain Panji semakin menjauh. Jujur dia sangat senang bertemu dan dekat dengan keluarga dalem. Ana seakan-akan menemukan sisi kehidupan lain yang tidak pernah ia temukan di manapun. Tapi ... bersamaan dengan datangnya rasa nyaman itu, rasa sedih juga turut hadir.
Oh beginikah rasanya cinta yang digantungkan? Ingin rasanya Ana mengklarifikasi semuanya tentang cinta masa lalu itu. Apakah Panji masih sanggup bertahan menunggunya, ataukah dia sudah menyerah? Kenapa dalam percakapan telepon kemarin dia hanya meminta maaf? Pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab jika Ana bisa bertemu dengan Panji. Tetapi bagaimana caranya? Semua santriwati dilarang keluar apalagi keperluannya hanya untuk menemui seseorang yang bukan mahrom.
Ana ingat akan sebuah ayat.
“.... Wa may yattaqillaha yaj’allahuu makhroja.”
Allah pasti akan menunjukan jalan keluar. Jikalau memang belum ada jalan keluar, itu berarti ketakwaannya kepada Allah masihlah sangat kurang. Ana yakin Allah pasti akan membantunya. Allah sudah berjanji dalam firman-Nya di Q.S Al-Insyiroh. Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
Pandangan Ana teralihkan pada seorang laki-laki. Jika Ana tak salah liat, laki-laki itu mirip sekali dengan si petani pondok. Rasa penasaran mendorong Ana untuk memastikannya. Ia pun turun dari loteng masjid lalu mendekatinya. Ternyata dugaan gadis itu benar, sosok laki-laki itu adalah si petani. Ingin ia menyapanya, tapi tak mungkin. Ini sudah larut malam, nanti malah menimbulkan fitnah. Menyadari akan hal itu, Ana hanya memantaunya di balik gerbang.
Meski samar karena hanya diterangi sebuah lampu, Ana bisa melihat si petani tengah menyenteri sawah. Matanya awas mencari tikus. Setelah yakin tidak ada tikus, ia duduk menyendeh ke tembok pesantren. Tangannya bergerak seperti sibuk menulis sesuatu. Entah apa itu. Beberapa menit berlalu, petani itu mengangguk. Sedikit ia menengok ke Ana. Lantas kembali berbalik lalu kembali menyenteri sawahnya.
“Dasar petani, kapan sih kamu tidak membuatku penasaran? Udah identitasnya masih belum ketahuan, sekarang apa pula isi kertas itu,” gerutu Ana.
Ana pergi dari gerbang. Lain kali ia bertanya kepada si petani langsung tentang isi kertas itu. Ana yakin sekali kalau kertas itu diperuntukkan untuknnya. Sekarang sudah saatnya bagi tubuhnya untuk mendapatkan haknya. Ia pun segera ke kamar dan merebahkan tubuh. Jika matanya tak kunjung terpejam, ia tinggal ambil wudu lalu mengulangi hafalan. Niscaya kantuk akan segera tiba.
***
“Gimana kalau kita kabur, An?” usul Reni di suatu waktu.
“Ngawur, emang kamu pernah kabur?”
“Belum.”
“Kalau kabur sama orang yang nggak berpengalaman, pasti ketahuan. Nggak ah ....”
“Terus gimana cara nyusul Panji yang ada di pondokmu dulu?”
Ana terdiam, sibuk berpikir. “Nah kita ajak Alipeh aja. Dia kan jagonya kabur,” ujarnya.
“Yakin? Tapi nanti dia tahu semua masa lalu kamu loh.”
“Santai, itu bisa diatur.”
Sebuah keputusan gila, diambil Ana. Buku yang mengatakan bahwa “Jika ingin masalahmu selesai, maka kamu harus nekad.” cukup mempengaruhinya. Kali ini ia harus menemui Panji apapun konsekuensinya nanti. Pondok adalah rumah penuh aturan, kalian melanggar berarti siap menerima sanksinya.
Segera Ana dan Reni mencari Alipeh. Tak perlu lama-lama mereka mencarinya. Tempat yang paling mungkin dihuni oleh Alipeh adalah kamarnya sendiri dan pasti dia sedang melakukan hal yang selalu ia lakukan, semedi atau bahasa kerennya meditasi. Menurut Alipeh hal itu perlu dilakukan, tapi menurut Ana serta Reni hal yang dilakukan Alipeh itu horor.
Tak jarang ada yang memanggil Alipeh dengan sebutan “dukun perawan” namun Alipeh acuh tak acuh. Dia pernah berkata bahwa memperdulikan kata orang itu buang-buang waktu saja. Ketika Alipeh melakukan rutinitas “horor” nya, dia sama sekali tidak bisa diganggu gugat. Tapi masa bodo, Ana memerlukannya sekarang.
Benar saja. Ketika Ana dan Reni sampai, tangan Alipeh terjulur ke depan. Jarinya melentik, napasnya masuk-keluar. Ia seakan tak terganggu oleh bisik-bisik temannya yang sedang enak-enaknya ngrumpi soal oppa. Padahal Ana pernah diperingatkan Alipeh untuk tidak mengganggu saat ia sedang melakukan ritual ini. Saat itu Ana mengangguk, tapi tidak untuk saat ini?
“Peh-Peh ....” Ana berteriak seraya menggoyang-goyangkan tubuh Alipeh.
Reni juga melakukan hal yang sama. Hasilnya percuma, ia begitu tenang. Setelah beberapa percobaan, Ana pun berpikir. Dia mengingat-ingat apa yang paling Alipeh suka dan selalu mengajaknya untuk ikutan.
“Aha!” Ana menemukan ingatan itu.
Langsung saja dia mendekatkan bibirnya ke daun telinga Alipeh kemudian berbisik, “Alipeh ... ayo kabur!”
“Ayo!” sahut Alipeh seketika.
Reni memincingkan matanya. Dia keheran-heranan melihat tingkah aneh kedua temannya.
Tak tunggu lama-lama, rencana sedemikian rupa pun langsung digasak. Dengan adanya Alipeh - ahlinya kabur dari pondok, perencanaan tak berlangsung lama. Sayangnya, Ana tak yakin dengan dirinya sendiri. Ya ... meski dia cerewet, dia sangat khawatir dengan yang namanya hukuman.
“Ayolah! Kalau kabur itu nggak boleh plin-plan. Sekali kamu plin-plan, tamatlah riwayatmu. So ... kamu berani nggak?” tantang Alipeh. Alisnya naik-turun, khas dengan raut muka meremehkan.
Ana berpikir sejenak. Hati nuraninya menolak melakukan tindakan bodoh ini. Tapi hawa nafsunya pandai bermain kata.
“Tak apalah. Sekali-kali nakal kan wajar,” goda nafsu itu.
Seketika Ana nyengir. Karena ia kemarin mempelajari bahwa hidup memang harus seimbang, gadis manis berlesung pipi itu pun mengambil keputusan.
“Apapun resikonya, aku harus keluar.”
“Nice, terus kamu mau ikut nggak, Ren?”
“Kalian pergi, masa aku nggak ikutan sih.”
“Sempurna. Kita pergi sekarang.”
Ana dan Reni hanya menurut kepada ahlinya.
Perlengkapan kabur simpel saja. Mereka hanya membawa sejumlah uang. Rumus kabur juga simpel yaitu semakin mencolok penampilanmu, semakin cepat kamu ketahuan. Jadi yang diperlukan hanyalah uang dan teman. Namun tips ini tidak perlu dicontoh, karena unfaedah, terlebih bagi kalangan pesantren.
Bagi kalangan ahli seperti Alipeh, dia memiliki seribu jalan tikus untuk keluar dari pondok. Kali ini Alipeh memilih jalan kecil di antara dua gedung. Jalan itu tadinya berupa tangga darurat. Karena tangga darurat itu telah dirobohkan, maka jadilah jalan baru untuk keluar dari pondok ini. Jalan jadi-jadian ini langsung mengarah ke pekarangan yang tak terurus.
Sesaat sebelum kaki Ana melangkah pergi, ia menoleh. Gadis itu sekilas memandang pesantren barunya yang telah melukiskan kisah aneh. Kisah itulah yang hingga kini masih menggantung, membuat Ana terpaksa melakukan ini semua. Ia perlu klarifikasi dari Panji dan itu harus. Ana percaya, setelah perjalanan ini, ia akan menemukan sebuah kemantapan hatinya lagi.
Sedikit rasa khawatir berselimut di hati. Beribu pikiran yang bahkan belum jelas akan terjadi atau tidak, bercongkol di otaknya. Ana berusaha menyakinkan dirinya kembali. Berjuta kata positif, ia putar di otaknya. Reni yang melihat peluh keluar dari dahi Ana, memegang tangannya sembari menatapnya yakin. Seolah-olah dalam tatapan Reni teruntai kata bahwa acara kabur ini akan menjadi kunci pembuka masalah bukan malah sebaliknya.
Dalam kamus pesantren, rasa khawatir ketahuan itu hanya ada saat masih berada di kawasan pondok. Jika semeter saja sudah lewat dari area pesantren, maka hati kembali tenang. Perjalanan kabur akan berjalan mulus, asal tak ketahuan pengurus. Hal ini terbukti ketika Ana telah berhasil melewati zona pesantren. Wajah ketegangan tak lagi tampak di sana.
“Haha, akhirnya bisa keluar dengan aman. Sekarang kita ke mana?” Alipeh memandang Ana, bertanya.
“Antarkan aku ke Jalan Pramuka, sisinya biar aku yang urus,” pungkas Ana tegas.
“Ciee yang sedang mengejar cinta,” ledek Reni.
Ana memincingkan matanya seraya mendesis, mengingatkan bahwa rahasia yang ia beritahu kepada Reni tetaplah rahasia.
Perjalanan itu berlangsung menyenangkan, walau sebenarnya masih ada sedikit ketakutan. Menyadari akan hal itu, Alipeh mengajak kedua temannya bernyanyi sehingga rasa takut itu semakin sirna. Ketiga santriwati itu yang kini tengah menaiki prameks menuju Yogyakarta terlihat sumringah.
“Tunggu aku Kang! Aku akan membuat perhitungan dengamu nanti,” tukas Ana.
Semilir angin berdesakan masuk ke celah jendela. Sejauh mata memandang, hanya hamparan sawah yang terlihat. Lengking serine kereta, sesekali menyahut. Pemandangan yang ditawarkan oleh kereta jauh lebih mengasyikkan daripada pemandangan ketika di bus. Di sini tidak akan terdengar klakson saling bersahutan, erangan marah karena macet, deru motor yang berisik, dan sebagainya. Di dalam kereta hanya ada ketenangan yang menyambut sembari memandang indahnya pematang sawah.
“Kita mau ke mana sih, An?” tanya Alipeh.
“Ke suatu tempat.”
“Tempat itu juga ada namanya kalee.”
“Nanti juga kamu tahu.”
“Sabar Peh, kamu tahu sendiri kalau Ana itu super misterius,” sambar Reni.
Alipeh mutung. Kedua mulutnya menangkup menjadi satu, manyun.
Hening. Alipeh tertidur, mungkin lelah karena semalam menyiapkan rencana ini matang-matang. Beruntung mereka mendapati kusri kosong. Sedangkan Ana melamun, sibuk memikirkan apa yang nanti akan terjadi. Sudah tiga tahun lamanya, ia tak bertemu Panji. Apakah ia akan melepas semua kerinduannya? Ataukah memarahinya? Entahlah.
Bosan dengan perjalanan ini, Reni beralih mengusili Alipeh. Reni yang melihat Alipeh sedang terkantuk-kantuk seraya kepalanya mengangguk-angguk mengajukan pertanyaan.
“Apa kamu gila, Peh?”
Alipeh yang terpejam mengangguk membuat Reni ngakak dan mengulanginya lagi. Lamunan Ana terusik. Ia pun memperhatikan apa yang dilakukan Reni.
“Apa kamu suka ngupil, Peh?”
Alipeh mengangguk lagi. Kali ini Reni tertawa bersama Ana.
“Apa kamu suka kentut di sembarang tempat, Peh?” seloroh Ana.
Alipeh mengangguk lagi. Kelakuan jahil itu berlangsung hingga perut keduanya kesakitan.
Teng ... tong ... teng ... tong .... Bel stasiun melengking. Suara bel itu kemudian disambung oleh penyiar stasiun.
“Perhatian-perhatian, pemberhentian berikutnya di Stasiun Lempuyangan.”
Spontan Ana diam. Tujuannya telah berada di depan mata. Segera ia bangkit dan berjalan menuju pintu keluar, disusul oleh Alipeh dan Reni. Jika ini film, mungkin dapat dibayangkan bagaimana kerennya tiga santriwati ini.
Malangnya, kemudahan mencari kendaraan hanya sampai situ saja. Karena mereka tak mempunyai android, mereka tak bisa memesan ojek online. Tak berhenti di situ saja, mereka yang tak membawa uang banyak juga tak bisa naik kereta. Alhasil hanya satu cara pergi dari stasiun, minta pertolongan.
“Sana kamu saja yang tanya!” suruh Reni sembari mendorong bahu Alipeh.
“Kamu aja. Katanya mau jadi tour guide, ya harus berani lah,” elak Alipeh.
Sementara Alipeh dan Reni saling ribut untuk bertanya sesuatu kepada seseorang di bangku tunggu, Ana memutar otaknya. Ia mengingat-ingat angkutan umum yang sangat terjangkau serta bisa mengantarnya sampai Panji. Ketika ia melihat warna biru, ia ingat sebuah bus. Beberapa detik kemudian, gadis itu langsung menyambar kedua tangan kedua temannya.
Cukup lama mereka menunggu di halte. Tapi waktu itu genap bagi Ana untuk mempelajari peta yang tertera di sana. Jadi nanti ketika dia naik, ia tak akan salah turun.
“Ternyata kamu berani juga ya, An,” komen Alipeh.
“Ha?”
“Aku belum pernah kabur sejauh ini lho.”
“Kamu belum tahu sih, apa yang diinginkan Ana dari kota ini,”
“Emang apa? Kamu nyembuiin sesuatu dari aku ya, An?”
“Ssst! Diam dan cukup nikmati pemandangan saja!” suruh Ana sedikit ngegas.
Ana melotot ke arah Reni. Rahasia ini cukup hanya dia yang tahu. Alipeh yang mungkin mengaku bukan mulut ember, tidak perlu tahu.
Nuansa kota yang khas dengan aksara Jawa, membuat pikiran Ana berkelana. Ia ingat kembali waktu yang diberikan oleh bu nyai untuk bisa mengucapkan perpisahan kepada Panji, kepada temannya, dan kepada suasana di pondok itu. Meski niat bu nyai itu baik, tapi hati Ana tetap tak bisa menerimanya. Dan ketika itulah, ia benar-benar yakin bahwa dirinya mencintai Panji. Seorang anak angkat yang berkulit sehitam p****t panci, tapi semanis gula aren.